Minsugar

Minsugar
Hampir saja


__ADS_3

Seminggu berlalu, Keira merasa jauh lebih baik. Ia mulai bisa duduk dan tertawa saat beberapa orang menjenguk. Niken dan Dino datang hari ini, gadis itu harus mendengarkan mereka berdua marah-marah dulu selama lima belas menit karena ia baru memberitahu kabarnya justru ketika ia sudah akan pulang ke rumah.


"Keira! Jangan lakukan itu lagi, kami juga ingin ada di saat-saat operasi itu." Niken adalah wanita yang selalu mengkhawatirkan Keira, ah ralat, dia memang mengkhawatirkan banyak hal, termasuk penampilannya.


"Bagaimana bisa baru mengabari kami justru saat kau sudah akan pulang?" Dino mungkin adalah versi pria dari Niken. Hanya saja, kekhawatiran Dino biasanya lebih menjurus ke bidang akademik. Keira punya firasat, pria kurus berkaca mata itu akan menjadi lulusan terbaik tahun ini.


Melihat dua temannya itu, ia hanya menarik senyum lalu perlahan mengembuskan napas.


"Apa kalian tidak lapar? Di kulkas ada makanan enak. Tinggal dipanaskan." Keira sengaja mengalihkan pembicaan.


Ia menunggu reaksi mereka yang saat ini masih saling menatap dan menyenggol, berusaha untuk mempertahankan harga diri.


Dino menarik napas dan memutar bola matanya. "Ya! Keira, kau pikir kami aka---"


"Baiklah! aku lapar!" sela Niken yang entah sejak kapan sudah membuka isi kulkas.


Dino memutar bola matanya, pria itu mendesah kesal.


"Makanlah. Aku tidak mungkin bisa menghabiskan semua itu," ucapn Keira yang masih melihat Dino mempertahankan harga dirinya.


Pertahannnya tak berlangung lama karena Niken datang dengan menyuapkan sepotong kue ke mulut Dino.


"Kau harus merasakannya, ini enak sekali," Niken masih mengunyah.


Keira terkekeh pelan saat melihat kedua temannya itu pada akhirnya saling berbagi makanan. Ia pikir, ia akan terus memandangi teman-temannya jika saja pintu tidak terbuka dan seketika matanya agak melebar kala menemukan sosok David.


Kehadiran David membuat mereka semua mematung selama beberapa detik. Niken dan Dino langsung membungkuk tepat saat David tersenyum pada mereka.


"Vid? Bukannya kau bekerja?" tanya Keira heran.


David melangkahkan kakinya menuju Keira. "Aku ingat hari ini kau akan pulang. Aku harus mengurus semuanya sekarang." David menatap kedua teman Keira. "Maaf, aku mengganggu momen kalian. Tidak usah canggung padaku." melempar senyum seperti biasa.


David tampak santai membuka jasnya dan menyelampirkannya di punggung kursi.


"Apa kau sudah meminum obatmu siang ini?" tanya David sambil menatap Keira serius.


Gadis itu mengangguk pelan dua kali. "Iya. Aku sudah


meminumnya tepat waktu." Untuk urusan ini, David memang sedikit lebih serius, Keira anggap itu sebagai bentuk perhatiannya.


"Kei, kau harus melihat ini.."


Niken tiba-tiba saja menghampiri Keira dengan


antusias sembari menyodorkan layar ponselnya. Gadis itu mengambilnya dan matanya melebar, ikut antusias saat melihat foto brosur kedai bakso kesukaan mereka yang sebentar lagi akan membuka cabang di dekat kampus.


Tanpa sadar, Keira sampai menjilat bibir bawahnya. Ia menatap Niken antusias. "Kita harus ke sana setiap hari dan aku akan memes--."


Ucapan Keira terhenti ketika ponsel Niken diambil dari tangannya secara perlahan oleh David.

__ADS_1


Keira seketika terdiam, saat melihat David menatapi ponsel Niken dengan tatapan menilai. Tak sampai tiga detik, David mengembalikan ponsel itu ke tangan Niken lalu memberi Keira tatapan tegas.


"Tidak ada bakso dalam waktu dekat, Keira. Mie adalah salah satu makanan yang harus kau jauhi, apalagi jika itu instan. Aku melarangmu." ucapan David, sontak memudarkan keceriaan Keira dan Niken.


Gadis itu masih belum menyangka. "Tap-tapi--,"


David menarik napas berat, lalu melirik ke Niken dan Dino yang masih setia dengan makanannya. "Aku minta maaf, tapi jika kalian benar-benar temannya, kuharap kalian juga menjaga Keira. Kita tahu, bahwa sekarang yang menjadi priotitas adalah kesehatannya. Aku sangat mengharapkan kerjasama kalian," ucap David sembari sedikit membungkukkan badan.


Niken dan Dino jadi bingung harus bersikap seperti apa. Pada akhirnya, Niken menarik senyum canggung lalu mengusap belakang kepala. "Ah, baiklah. Maafkan aku, harusnya juga aku berpikir demikian." Niken membungkukkan badannya. "Aku akan menjadi teman yang baik untuk Keira. Kami akan menjaganya, benar, kan?" Niken menatap Dino.


Dino buru-buru menelan apa yang ia makan dan langsung membungkukkan badannya juga. "Be-benar.


Jangan khawatir."


Sementara itu Keira hanya menarik napas panjang. Ia tidak tahu pasti apa yang ia rasakan saat ini, ia pikir, David benar tetapi cara dia mengungkapnya kurang tepat. Jika seperti ini, Keira yakin, Niken dan Dino akan menjadi semakin canggung dengan David.


••••


Kadang-kadang, Keira khawatir dengan David.


Gadis itu tahu David punya banyak pekerjaan yang sebenarnya sangat susah untuk ditinggalkan, tetapi dia masih menyempatkan diri untuk mengurus keperluan Keira. Ia khawatir jika nanti dirinyalah yang justru membenani David. Ia sudah berusaha meyakinkan David bahwa ia bisa melakukannya sendiri. Dia hanya perlu memberikan kunci rumahnya pada Keira, tapi David bersikeras karena sangat tidak ingin membuat Keira mengangkat barang-barang berat saat pindah.


Keira tidak pernah punya niat untuk berdebat dengan David, karena ia sangat menghormati setiap keputusan David. Jadi, ia juga seakan tidak bisa menolak saat pada akhirnya David meminta Keira untuk menetap di rumahnya. Padahal, sebenarnya, apartemen Keira sedikit lebih dekat dengan tempat David bekerja. Tapi, David sepertinya yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.


Rumah David bisa dibilang berada di kawasan yang cukup tenang, ia membutuhkan tempat tinggal yang seperti itu agar bisa tetap berkonsentrasi dalam pekerjaannya, meski pun sedang di rumah.


Keira sudah pernah ke rumah David beberapa kali, jadi saat pertama kali Keira ke rumah David, ia sudah tidak terkejut lagi


"Tidak di sini lagi."


"Dipecat?" tebak Keira spontan.


David yang baru meletakkan koper Keira terkekeh. "Tentu saja tidak, aku memintanya beristirahat sejenak, kudengar anaknya sudah akan masuk ke sekolah, dia selalu gelisah dan kurang konstrasi dalam bekerja. Mungkin juga dia punya masalah lain. Kurasa dia perlu waktu." Setelah meletakkan koper, David mendekati Keira, mengulurkan tangan untuk mengusap bahu kanan Keira. "Kau tenang saja,


aku akan mencari asisten. Aku tidak bermaksud


membuatmu mengambil alih pekerjaan rumah."


Sejujurnya, Keira tidak berpikir demikian. Ia malah berpikir bahwa David tidak akan mencari asisten rumah tangga baru karena itu bisa dijadikan kesempatan untuk waktu privasi mereka berdua.


"Aku juga bisa mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Tidak perlu mencari asisten baru." Akhirnya Keira mengatakan itu.


Ia melihat David mengerutkan kening, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Pada akhirnya pria itu menarik napas lalu berkata. "Mari membicarakan ini lain waktu. Aku masih punya beberapa hal yang harus kukerjakan malam ini. Kita bisa mencari waktu yang tepat untuk diskusi tentang hal-hal seperti ini. Tidak apa-apa, kan?"


Keira hanya mendengarkan dan mengangguk dengan penjelasan yang ada. Tanpa sadar, ia menguap, karena memang ini sudah malam, meski belum terlalu larut. Selang beberapa detik, ia melihat David terkekeh samar lalu tangannya yang semula di bahu Keira kini mengusap kepala gadis itu lembut.


Entah mengapa, ia jadi gugup dan malu sendiri karena saat menguap tadi, ia benar-benar sangat spontan. "Maaf, efek obat. Aku jadi cepat mengantuk."


"Aku tahu, tapi, sebelum kau tidur..." David secara perlahan menarik Keira ke dalam pelukannya. Rasanya hangat dan sangat nyaman. Ia selalu suka setiap kali ia bisa menghirup aroma maskulin pafrum David dari sela-sela leher pria itu. "Aku ingin seperti ini." David sangat hati-hati, tak ada tekanan, sangat lembut, seolah tubuh gadisnya adalah benda yang mudah pecah. Mungkin dia masih takut akan bekas oprasi Keira.

__ADS_1


Selang beberapa detik dalam pelukkannya. Keira


menyadari satu hal yang justru membuatnya sedih. David punya kebiasaan memeluk Keira saat dia akan pergi.


"Vid, kau akan pergi malam ini?" tanya Keira masih


bersandar dalam pelukannya.


Mata Keira memejam, merasakan David menarik napas lalu mengangguk samar. "Aku meninggalkan beberapa pekerjaan tadi, aku harrus menyelesaikannya sebelum malam"


"Tidak bisakah dikerjakan di rumah saja?" tawar Keira spontan.


"Kei.." David mengurai pelukan, tatapannya tampak sedih karena melihat gadisnya sedikit cemberut. "Aku janji, besok saat kau terbangun. Kau akan melihatku


di sampingmu." Kedua tangannya mengangkup kedua pipi Keira, tatapannya mengalirkan kehangatan yang nyata.


Keira dengan senyuman tipis. "Ya, baiklah. Aku


tidak apa-apa."


David menyunggingkan senyum lega, lalu mendekatkan waiahnya. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Keira, dan ia sudah bisa menebak bahwa selanjutnya adalah sebuah ciuman lembut yang tercipta.


Itu bukan ciuman pertama mereka, ciuman pertamanya tepat hari dimana David membawa ia kekantornya.


Keira selalu suka setiap kali David seperti itu, caranya menarik pinggang gadisnya agar merapat kepadanya. Caranya mencium gadis itu yang tak pernah terlalu memaksa. Ia suka bibir pria itu, ia suka bagaimana sensasi mint berci*man yang selalu dibawanya pada momen mereka.


Keira menyukai juga bagaimana terkadang pria itu memberi jeda untuk ciuman mereka, hanya untuk saling menatap selama beberapa detik, lalu tersenyum, sebelum akhirnya mencium Keira lagi.


"Dav-- ucapan Keira terputus oleh ciuman lagi, ia bermaksud menghentikan karena ia pikir ini sudah terlalu lama dan ritmenya jadi berbeda.


Ada gairah yang terasa.


Tidak. Tidak sekarang


Keira lantas memberanikan diri untuk mengalihkan wajah ke samping, hingga bibir David berakhir di pipinya.


Detik itu seperti membeku.


Mereka sama-sama mengatur napas. Bisa ia rasakan, David yang paling bekerja keras untuk mengatur deru dan degupnya. Sementara, ia juga tidak bisa menahan pipinya yang panas karena malu.


Satu tarikan panjang napas David terdengar bersamaan dengan dia yang mulai menjauhkan dirinya. "Maaf. Aku--," David mengusap belakang kepalanya. "Aku harusnya mengendalikan diri."


Keira juga mengatur napasnya dan berusaha tenang. Ia mencoba tersenyum sebisa mungkin. "Boleh aku tidur sekarang?" ia menggigit bibir bawahnya, sambil memejam.


Tapi, ia dengar David malah berdehem. Sepertinya pria itu juga salah tingkah. "Tidurlah, aku akan pergi jika kau sudah masuk ke kamar."


Seketika Keira mengangguk, sedikit membungkukkan badan dan segera melangkah menuju ke kamar. Ia tak membuang waktu untuk segera menutup pintu, menyandarkan punggungnya di pintu sambil memegangi dada.


Keira tidak membayangkan, rasanya bisa seperti ini.

__ADS_1


Ia berusaha mengatur napas, dan baru bisa tenang saat samar-samar ia dengar suara langkah kaki yang menjauh, hingga suara mesin mobil yang dinyalakan untul meninggalkan rumah.


Ah, nyaris saja.


__ADS_2