
Semilir angin menyapu jajaran pepohonan rindang. Menerpa dedaunan yang jatuh dengan keserasiannya. Malam yang indah ditemani dengan indahnya rembulan. Seakan cahayanya membawa kehangatan menggantikan mentari di siang hari. Butiran bintang pun turut menghiasi indahnya malam ini. Begitulah suasana malam di taman ini, dengan kemerlap lampu jalan dan kota, tak menutupi remang-remang lampu taman di sudut kota. Beberapa orang yang berkunjung ke taman juga terlihat menikmati malam yang hangat ini. Ada beberapa keluarga, pasangan remaja, dan beberapa pedagang.
Tak luput pula pada seorang remaja laki-laki yang tengah duduk menikmati malam ini. Ia terlihat sangat tenang dan damai, duduk dengan kaki bersilang di kursi taman sambil mendengarkan lagu menggunakan earphone nya.
Namun berbeda sosok seorang pemuda yang sedang berjalan lunglai menembus angin malam. Berjalan menyusuri trotoar dengan pandangan kosong. Mata sembab yang terus-menerus ia hapus air matanya. Berjalan kedepan namun terlihat tak bertujuan. Entah mengapa, disuasana malam ini, dimana banyak orang yang berbahagia, dia malah berjalan sendirian.
Entah mengapa pemuda tadi terus memperhatikan pemuda lain yang dia lihat tersebut. Perlahan-lahan pemuda itu berhenti setelah beberapa saat berjalan, saat menoleh ke arah kirinya dia tersenyum simpul. Ternyata pemuda itu sudah berada di jembatan. Perlahan dia mendekat ke pagar pembatas. Sambil tersenyum lalu dia berhenti. Matanya menatap kosong kedepan.
Lalu pemuda tadi sudah berada di samping pemuda itu sembari terus memperhatikannya dari jarak beberapa meter sekarang. Berdiri bersandar pada pembatas jembatan yang sama dengan pemuda itu. Entah mengapa dia sangat usil dengan urusan orang lain.
"Ibu maafin Kara karena gabisa memenuhi harapan dan impian ibu." Pemuda itu menoleh kearah pemuda yang sedang bermonolog sendiri itu. Ia berbicara sendiri dengan menatap lurus kedepan. Pandangannya sayu, dengan senyuman di wajahnya.
"Kara udah capek bu...Gada gunanya Kara hidup kalau gada ibu di sisi Kara." Dia mulai menangis. Kedua tangannya yang semula menganggur, kini mulai memegang pagar pembatas. Pemuda yang melihatnya pun hanya diam sambil memperhatikan, lagi pula pemuda di sampingnya terlihat sedih, namun tak sampai berniat loncat kan pikir pemuda itu. Lagipula ia juga tak berniat ikut campur, namun entah mengapa kakinya malah melangkah saja mengikutinya.
"Maaf bu, Kara juga udah capek sama kehidupan. Takdir juga suka becanda sama Kara. Kara pengen nemuin ibu disana." Dia trsenyum di tengah-tengah tangisnya.
Pemuda itu melangkah mendekat ke arahnya. Ia takut jika dugaannya benar, melihat dari kondisi dan semua kata-kata yang telah Kara ucapkan tadi. Ia berusaha memanggilnya namun Kara itu seperti tak mendengarnya. Dia terus saja menatap kedepan dengan pandangan kosong.
Begitu pemuda itu berada di sebelahnya, ia mencoba menepuk pundak Kara, namun sial entah kenapa tangannya menembus badannya. Kenapa bisa menjadi seperti ini. Apa yang terjadi padanya?. Ia terus mencoba untuk menepuk dan menyentuh tangan Kara namun nihil tetap tidak bisa. Ia juga sudah berusaha dan berteriak kepada Kara namun entah apa yang Kara alami hingga tidak mendengar. Atau mungkin hal itu adalah ia yang bermasalah. Sejak tadi juga keberadaan pemuda itu tidak disadari oleh Kara.
Perlahan Kara menanikkan kakinya ke atas pagar satu persatu. Pemuda itu mulai panik apa yang terjadi dan apa yang harus dia lakukan. Berkali-kali dia mencoba menarik tangan Kara tetap saja tidak bisa. Jalanannya juga entah mengapa tiba-tiba menjadi sepi. Ia menoleh ke kanan dan kirinya sepi sekali. Lalu dia mencoba berteriak juga orang di kejauhan sana sepertinya juga tak mendengar teriakannya.
"Ibu....Kara datang " Tiba-tiba saja Kara langsung melompat ke bawah sana.
"JANGANN......." Pemuda itu berteriak sekeras-kerasnya, dan berusaha menarik tangannya tapi semua terlambat, dan...
Bughhh
"Aduh sakit sekali." Seseorang mengaduh kesakitan. Melihat sekelilingnya, dan yah dia berada di kamar. Terjatuh di lantai dengan kondisi yang sudah dibanjiri keringat.
"Ah sial, ternyata tadi hanya mimpi. Tapi kenapa rasanya seperti nyata?" Pemuda itu hanya bergumam sendiri nya sambil membereskan kamar tidurnya yang berantakan. Dia sambil mengingat-ingat mimpi tadi, namun dia lupa wajah pemuda di mimpinya. Tapi dia ingat nama pemuda itu. Kara, pemuda di mimpinya menyebut dirinya sendiri sebagai Kara. Tapi entaj mengapa saat dia mencoba mengingat wajah Kara, ada sedikit perasaan sesak di dadanya.
"Perasaan ini? Ah bisa gila aku. Lebih baik aku mandi saja." Dia berjalan menuju kamar mandinya. Selang beberapa menit kemudian dia sudah selesai dan berganti pakaian. Setelah merapikan diri, dia memutuskan untuk ke dapur untuk sarapan. Namun, diruang tengah aku melihat papa dan mama sedamg mengobrol bersama kakak ipar.
__ADS_1
"Wah, Kak Bayu. Tumben pagi-pagi udah mampir, biasanya kakak tiap sore kesini" Dia menyapa kakak iparnya, Bayu lalu menghampiri mereka dan duduk bersama. Papa dan mamanya hanya tersenyum tanpa niatan mewakili Bayu menjawab sapaannya. Bayu saja hanya tersenyum, hmm miris sekali adik ipar ini.
"Dimana Kak Frey? Tumben ga ikut" Ia mencari keberadaan sosok kakak perempuan nya. Namun tak ia temukan. Lalu tiba-tiba ada yang menjewer telinganya dari arah belakang.
"Kamu pikir ini masih pagi? Hanya orang pikun yang memikir ini masih pagi. Coba lihat jam disana? Sudah jam 11 siang Arsen. Kamu ini sudah besar masih saja bangun siang"
Kak Freya datang sambil membawa makanan di tangan kanannya, sedangakn tangan kirinya masih sibuk menjewer telinga Arsen. Papa, mama dan Bayu hanya cekikikan tanpa berniat membelanya
"Paaa maaa liat Kak Freya, selalu saja menjewer ku." Adunya kepada papa dan mama sambil memanyunkan bibirnya sok imut. Papa mama hanya tersenyum.
"Sudah sudah Freya kasian Arsen, biarkan saja. Mungkin dia lelah makanya bangun siang. Lagipula dia mengambil cuti kerja karena kemarin dia kelelahan" Mamanya meyakinkan Freya agar melepas jewerannya.
Ya, Arsen mengambil cuti tiga hari karena kemarin setelah lembur ia terkena hujan dan jatuh demam. Demamnya hanya sehari sih, tapi ia beralasan sakit demam tinggi hingga cuti tiga hari. Alasannya adalah "Agar aku bisa beristirahat penuh dan bekerja penuh semangat." Papa dan mamanya heran mengapa mereka memiliki putra yang entah kenapa kelakuannya sangat di luar nalar. Padahal Freya tidak seperti itu, dan malah Freya sangat menjaga adiknya itu walaupun umur mereka tidak berbeda jauh, terlebih lagi dia seorang perempuan. Namun, ia sangat menyayangi Arsen.
Dialah Arseno Chandra Yudha seorang pemuda berumur 20 tahun. Terlahir sebagai anak kedua di keluarganya. Memiliki tubuh yang tinggi, berkulit sawo matang pada umumnya, beralis tebal, bermata elang dengan warna mata cokelatnya. Ia bekerja sebagai editor di sebuah perusahan media cetak selama beberapa bulan terakhir. Namun sebelum dia bekerja disana, dia berkuliah di sebuah universitas ternama di kotanya. Hanya saja dia berkuliah selama satu semester. Aneh bukan? Ya, menurutnya kuliah membuatnya lelah berpikir. Baginya dia sudah pintar jadi tidak perlu berkuliah. Bekerja sesuai hobinya itu lebih baik dan menguntungkan menurutnya.
"Halah, cuma demam aja kok sampai cuti. Lebay banget kamu dek." Ucap Freya sambil duduk setelah menaruh kue di atas meja.
"Hust, kamu ini meskipun cuma demam juga bisa bahaya kalau di biarkan." Mamanya membela Arsen sembari memakan kue. Ia tersenyum lembut. Bahagia sekali mempunyai orang tua yang pengertian seperti mamanya.
"Biarin, wleeee." Arsen menjulurkan lidahnya kepada Freya, sepertinya kakaknya itu semakin kesal hingga melempar remahan kue kepadanya. Papa dan mamanya hanya tersenyum. Lalu, sedetik kemudian mereka tertawa bersama. Yah, memiliki keluarga yang hangat dan harmonis memang impian setiap orang.
"Oh iya, papa tanya sekali lagi. Apakah kamu yakin dengan pilihan kamu ini? Kamu tidak menyayangkan satu kuliahmu, padahal kamu sudah kuliah satu semester." Cecar papa pada Arsen, dia mama dan Freya yang juga menatap Arsen menunggu jawabannya.
"Oh ayolah pa, aku yakin sendiri dengan pilihan ku. Lagipula pekerjaan yang aku pilih juga merupakan hal yang apa aku sukai. Kuliah hanya membuatku lelah memikirkan tugas, yang penting aku sudah memiliki pengalaman kuliah meskipun hanya satu semester." Jelas Arsen kepada papanya, mama dan Freya juga menatapnya dengan penuh pengertian.
"Yasudah kalau itu memang pilihan kamu dan terbaik buat kamu. Kami sebagai keluarga akan selalu mendukungmu Arsen." Ucap mama sambil tersenyum kepada Arsen, begitu juga dengan Papanya dan Freya.
"Arsen mau makan dulu deh, Arsen laper dari tadi cuma dapet jeweran dari Kak Freya." Sedetik kemudian ia langsung ngacir ke dapur, karena dia tau bahwa kakak perempuannga itu pasti sedang bersiap menjewernya lagi jika ia tidak cepat-cepat pergi.
Baginya menggoda kakak perempuannya sangatlah lucu. Hal itu sudah seperti kesehariannya jika sudah bersama kakak perempuannya. Sehingga seringkali setiap kakaknya berkunjung dengan suaminya selalu saja dibuat kesal oleh Arsen. Tapi dibalik itu dia juga menyayangi kakak perempuannya. Menurutnya Freya adalah sosok mama kedua baginya. Sejak kecil jika orang tuanya tidak ada, Freya lah yang merawatnya. Namun perhatian kakaknya sekarang sudah teralihkan dengan keluarga barunya dimana Freya harus mengurus suaminya. Freya dan Bayu menikah muda, dan mereka masih belum berencana untuk memiliki buah hati, karena mereka masih disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Beruntunnya keluarga di kedua belah pihak menyetujui keputusan mereka.
Di tengah-tengah sibuknya Arsen melahap makanannya, sang kakak menghampiri nya dan duduk di depannya sambil membawa sebuah paper bag.
__ADS_1
"Dek, bisa tolong bantu kakak nggak?"
Arsen menatap Freya sambil mengunyah makanannya, "Bantu apa kak?"
"Bisa tolong anterin pesanan pelanggan kakak nggak? Deket sini kok gak jauh-jauh banget. Makanya kakak sekalian bawa kesini."
"Kenapa gak Kak Frey aja yang nganterin kalo deket?" Arsen memutar matanya malas. Jika memang alamat pelanggannya dekat, kenapa tidak sekalian di antarkan saja tadi sekalian, malah menyuruhnya yang enak-enak nyantai di rumah.
"Ya kakak tadi lupa dek. Ayolah dek bantuin kakak, lagian kamu juga cuti kan? Sekalian diluar cari udara segar kek."
Arsen mendenguskan nafasnya, "Eleh kalo ada maunya aja manggilnya 'dek-dek-dek', coba kalo gada maunya pasti main jewer telinga. Gak ah gamau, Arsen males."
Lagipula, ini sudah hampir tengah hari udara segar dari mana coba? Malah yang ada hanya udara yang tercemar.
"PAPA MAMA ARSEN GAMAU BANTUIN FREYA" Freya teriak-teriak mengadu kepada papa dan mamanya.
"ARSEN BANTUIN KAKAKMU, LAGIPULA KAMU CUTI SEKALIAN CARI UDARA SEGAR DILUAR." Freya tersenyum kemenangan. Mamanya diluar sana mendukungnya.
"Lopyu deh adek kesayangan kakak."
Freya langsung ngacir keluar tanpa memperdulikan sumpah serapah dari adiknya itu. Arsen menjadi jengkel sendiri dengan acara makannya. Disaat dia malas keluar ada saja yang membuatnya harus keluar rumah.
Dengan malas Arsen menyudahi acara makannya dan bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dirasa sudah pas dia segera keluar dari rumahnya untuk mengantarkan pesanan pelanggan kakaknya. Rasanya dia ingin sekali berkelahi dengan kakak jahilnya itu. Tapi sudahlah, dia masih ada rasa takut dengan Bayu sang kakak ipar.
Arsen melihat alamat yang di tulis Freya di kertas. Lalu memasukkan nya kembali ke dalam sakunya. Dia berjalan ke garasi dan mengeluarkan motornya. Dia lebih memilih menggunakan motornya daripada memakai mobil, walaupun cuaca sedang panas, tapi dia lebih ingin cepat sampai tanpa terkendala macet.
Motor yang Arsen pakai adalah motor kesayangannya. Bertahun-tahun dia menggunakan motor nya itu dan merawatnya seperti anak sendiri, seperti malika. Hingga di beri nama dengan sebutan "Nanda". Ya sedikit feminin namanya untuk motor ninja besarnya, tapi menurutnya itu membuat kesan kalem pada motornya itu.
Arsen mengendarai motornya dengan kecepatan standar. Meskipun dia memiliki motor sport, tapi menurutnya keamanan lebih penting bukan? Lagipula menjadi kurir pribadi kakaknya tidak membuatnya rugi, ya meskipun sedikit jengkel.
Disaat Arsen menikmati angin dicampur panas pada siang itu, tiba-tiba saja ada sebuah truk dengan kecepatan tinggi dari arah depannya. Terlihat truk tersebut seperti kehilangan kendali atau terjadi rem blong. Arsen yang menyadari hal itu langsung memenggokkan stir motornya, namun naas, Arsen sedikit telat hingga truk tersebut menyerempet nya dan membuatnya terpental kesamping dan terjatuh ke sungai berhubung tempat kejadian yang dia alamai tadi di sebuah jembatan.
Arsen terjatuh ke sungai tersebut. Karena ketinggian jembatan itu, saat Arsen terjatuh kepalanya membentur batu dibawah sungai sana. Hal itu membuatnya semakin kesusahan untuk berenang ke permukaan air. Namun, sedikit demi sedikit Arsen kehilangan kesadaran.
__ADS_1
"Pa, Ma, Kak Frey...Ar-Arsen pergi..."