
Tidak terasa selama empat hari ini Arsen kondisinya sudah lebih membaik dari sebelumnya. Maka lusa dia akan pergi ke kantor sebagai Novian untuk pertama kalinya. Selama empat hari ini dia sibuk memikirkan bagaimana nantinya menjalani kehidupan disini. Ditemani dengan Novian dan kedua sahabatnya. Meskipun Novian sudaj menjelaskan semua dua kali tiga kali terkait pekerjaannya tetap saja Arsen masih sedikit ragu. Dia sungguh tidak menyangka dengan semua hal ini. Pekerjaan ini bukanlah bidangnya. Apalagi dia harus menjadi manager disana. Anggap saja sebagai pemimpin dalam tim bukan? Setidaknya itu yang dia ketahui selama enam bulan bekerja di hidupnya.
Dirumah Arsen dirawat dan di temani oleh Zacky dan Ryan. Mereka berdua sangat menjaga Arsen. Ya bagaimanapun mereka tidak tau bahwa di tubuh Novian adalah orang lain. Mereka hanya tau bahwa yang mereka rawat dan jaga adalah sahabat mereka yang sedang lupa ingatan. Selama mereka serumah pun, mereka tidak menyadari adanya keanehan pada Novian. Karena mereka menganggap wajar jika hal aneh terjadi berhubungan Novian lupa ingatan, menurut Ryan. Karena Zacky selalu saja melontarkan pertanyaan aneh perihal tingkah Novian. Luna pun setiap hari datang namun hanya sebentar saja. Hal itu sudah diingatkan oleh Zacky dan Ryan, jika Luna ingin menjenguk Novian hanya boleh sebentar saja, tidak boleh lebih dari tiga jam. Sungguh ketat bukan mereka berdua dalam menjaga Novian.
Selain itu, selama mereka bertiga tinggal seatap. Arsen juga melihat keanehan di antara keduanya. Zacky dan Ryan bertingkah seolah-oleh lebih dari sekedar sahabat. Saling memperhatikan satu sama lain walaupun sambil bertengkar. Sedangkan Novian? Dia baru sadar akan hal itu, sungguh selama bertahun-tahun mereka bersahabat Novian seperti tidak peduli dengan urusan hal yang berbau perasaan seperti itu. Tapi Arsen dapat melihat adanya kasih sayang di mata mereka bertiga. Arsen cukup senang dengan kehadiran mereka, setidaknya didunia yang tidak di kenalnya ini masih ada yang sangat memperdulikannya walaupun sebagai orang lain, dia merasa sangat beruntung.
Arsen berjalan menuju meja makan. Dia menghampiri Ryan yang sedang sibuk menata meja makan dengan makanan. Ryan melihat ke arah Arsen dan tersenyum.
"Duduklah, sebentar lagi ini akan selesai."
"Hm baiklah." Arsen tersenyum lalu duduk di kursi sambil memperhatikan Ryan yang sedang sibuk mondar-mandir.
"Dimana Zacky?"
"Mungkin sedang di kamarnya, sebentar lagi juga akan kemari." Arsen mengangguk mengerti dengan penuturan Ryan. Benar saja, perkiraan Ryan tepat sekali. Baru dua menit dia mengatakan Zacky akan muncul dan Tuhan mengabulkannya. Zacky telah muncul dengan wajah yang sumringah. Itulah Zacky, selalu ceria sepanjang waktu.
"Hei, apakah kalian sedang membicarakanku?" Zacky yang baru tiba langsung duduk di hadapan Arsen. Begitu Arsen hendak menjawabnya, Zacky angkat bicara kembali.
"Ah aku tau itu, kalian sangat merindukanku bukan, sehingga tidak melihatku sebentar saja kalian langsung memikirkanku." Mata Zacky berbinar melihat makanan yang tertata di meja. Dia tersenyum bangga dengan apa yang telah dia katakan. Dia sangat merasa bahwa kedua sahabatnya memang menyayanginya. Namun senyuman di wajahnya seketika hilang saat melihat Ryan menghampirinya.
"Sudahlah, makan saja ini. Kau terlalu banyak bicara." Ryan menyumpalkan roti di mulut Zacky dengan gemas. Arsen yang melihat itu hanya tergelak geli. Seperti inilah pemandangan yang Arsen liat selama seatap dengan mereka. Dia merasa nyaman di dunia ini bersama mereka. Walaupun hanya dalam hitungan hari, tapi momen indah dan kasih sayang mereka yang di berikan pada Arsen. Walupun kurang hadirnya sosok orang tua, tapi setidaknya ada mereka di sisinya. Ah Arsen jadi rindu papa dan mamanya, juga kakak perempuan kesayangannya. Apa mereka juga merindukan Arsen?
Ryan duduk bergabung bersama mereka berdua. Merekapun mulai menyantap sarapannya. Ryan melihat kearah Arsen. "Lusa kau akan kembali bekerja Nov. Apa kau sudah membaik?" Arsen hanya mengangguk menanggapi Ryan.
"Tenang saja, kan ada aku yang selalu bersama Novian. Tenang saja akan ku jaga seperti anak sendiri." Zacky mengangkat-angkatkan alisnya ke arah Arsen dan Ryan secara bergantian. Arsen tertawa di tengah akan menyantap suapannya, tapi berbeda dengan Ryan. Dia malah mendelik ke arah Zacky sehingga membuat Zacky langsung tutup mulut dan melanjutkan makannya.
"Ya memang benar ada Zacky. Kau akan bersama dengan Zacky, berangkat dan pulang bersama dengannya." Zacky yang mendengar itupun mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak kecil yang sedang kegirangan.
Selesai mereka sarapan Ryan mulai membereskan meja makan dibantu Zacky. Arsen ingin membantu mereka tapi mereka berkali-kali melarangnya karena dia dianggap pasien di rumahnya sendiri, padahal luka di tubuhnya tidak terlalu parah. Dia hanya luka memar dan memang terluka di bagian kepalanya sih, tapi itu tidak masalah bukan? Setiap harinya Arsen hanya makan tidur dan minum obat saja, pasal pekerjaan rumah sudah diurus oleh Ryan dan Zacky. Selama itu pula Arsen pun gak berniat untuk sekedar keluar jalan-jalan mencari udara segar. Ya pasalnya dia juga asing dengan tempat nya itu bukan. Bisa-bisa dia tersesat nantinya.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi ke kamar dulu." Arsen berpamitan kepada Ryan dan Zacky yang sibuk membereskan meja makan. Keduanya menoleh dan tersenyum mengangguk. Arsen pun segera bangun dari kursinya dan melenggang pergi ke kamarnya.
"Psst psstt Yan...Bukankah Novian belakangan ini sedikit aneh? Yaaa aku tau dia amnesia, tapi belakangan ini dia selalu berdiam diri di kamarnya saja. Kecuali untuk sarapan dan minum obat saja. Mungkin kita bisa mengabaikan ingatannya yang tidak baik, tapi kebiasaan tidak mungkin luput bukan? Biasanya sekalipun dia ada pekerjaan, dia akan mengerjakannya bersama kita saat kita menginap bersama bukan?" Zacky angkat bicara. Dia merasakan perubahan di dalam diri Novian sedikit berbeda. Mungkin dia lupa ingatan sementara. Tapi kebiasaan tidak bisa hilang bukan?
"Wajar saja, dia kan sedang hilang ingatan, bisa saja dia lupa dirinya." Ryan berusaha berpikir positif. Meskipun yang dikatakan Zacky ada benarnya. Tapi Ryan tetap berpikir positif bahwa itu adalah pengaruh amnesia yang di derita Novian. Sedikit perubahan perilaku menurutnya hal wajar saat mereka lupa siapa dirinya sendiri.
"Tapi--"
"Sudahlah kau selalu saja mempermasalahkan hal itu, lebih baik kita fokus pada penyembuhan Novian. Lukanya memang sudah membaik, tapi ingatannya belum kan?" Ryan memotong apa yang akan dibicarakan oleh Zacky. Dia mencoba membuat sahabatnya itu tetap berpikir positif. Pasalnya tidak ada pun pikiran positif yabg ada di benak Zacky. Apalagi dia selalu menanyakan hal yang sama kepada Ryan.
"Baiklah." Zacky tersenyum ke arah Ryan. Senyuman yang sulit diartikan.
Kini Arsen tengah duduk di tempat tidurnya sembari sibuk memandangi cermin di tangannya. Berharap yang di tunggunya segera menampakkan wajahnya. Tapi yang di tunggu pun tak kunjung menampakkan dirinya.
__ADS_1
"Nov, Novian. Kau dimana, keluarlah." Arsenpun memanggilnya karena sudah lelah menunggu orang yang sangat tidak peka lingkungan itu. Akhirnya yang di panggilpun menampakkan dirinya.
"Apasih, mengganggu saja." Novian menggerutu dengan wajah jengkelnya. Padahal dia tengah menikmati mimpi indah di dalam sana, tapi terganggu oleh suara Arsen.
"Ya temani aku mengobrol lah. Satu-satunya orang disini yang bisa ku ajak berbicara secara terbuka kan hanya dirimu."
"Kau bisa bersama Ryan dan Zacky ngomong-ngomong. Jika kau hanya mengobrol denganku disini, bisa-bisa mereka nanti mencurigaimu."
"A-aku hanya merasa sedikit canggung dengan mereka." Arsen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Biasakan saja. Nantinya bukan hanya dengan mereka kau akan beradaptasi. Tapi dengan kehidupan kantorku. Coba saja mulai membiasakan diri, mengerti?" Novian berusaha meyakinkan Arsen. Bukan Arsen tidak akrab dengan Ryan dan Zacky. Dia hanya berusaha mencari topik dengan Novian. Entah mengapa dia sangat ingin mengobrol banyak bersama Novian. Arsen pun hanya mengangguk agar tidak memperpanjang ceramah Novian.
Cukup lama mereka saling terdiam akhirnya Arsen buka bicara kembali."Oh iya ngomong-ngomong, kamu tidak makan selama di dalam cermin itu? Apakah kamu tidak lapar?"
Novian yang mendengar pertanyaan random itu pun juga sedikit tersadar bahwa dirinya memang tidak pernah makan apapun di cermin itu. "Ah iya, seharusnya manusia butuh makan bukan? Tapi selama aku disini aku tidak pernah merasa lapar dan ingin makan sesuatu."
Dia juga cukup heran selama ini dia tidak memikirkan hal itu. Di dalam cermin itu memang tidak ada apa-apa. Disana hanya sebuah ruang kosong yang hanya di lengkapi meja, tempat tidur, dan beberapa rak berisi buku-buku seperti perpustakaan. Namun tidak ada makanan, hanya sebuah teko berisi teh dan gelas disana. Novian hanya meminum itu saja setiap harinya, dia tidak merasa lapar sedikitpun. Dia disana hanya membaca buku, tidur, dan minum, itu saja. Apa karena sekarang dia hanya setengah manusia? Ah tentu tidak, mungkin saja iya. Ah sudahlah persetan dengan hal itu, Novian tidak ingin tambah pusing.
Arsen dan Novian pun terdiam cukup lama. Tidak ada salah satu diantara mereka yang membuka bicara. Alhasil Arsen memutuskan untuk pergi keluar mengajak Ryan dan Zacky jalan-jalan dan meninggalkan cermin Novian di bawah selimutnya. Memang kurang ajar Arsen itu. Semenjak dia pertama kali tau bahwa Novian pemilik tubuhnya itu berada dalam cermin usanh itu, dia memberi julukan 'Cermin Novian' padanya. Ada-ada saja Arsen ini.
Dia ingin merefresh otaknya kembali. Sepertinya otaknya mulai buntu selalu berdiam diri di rumah dan tidak kemana-mana. Sekalian saja dia juga bisa semakin mengenal sahabat Novian dari sudut pandangnya sendiri.
Sementara Novian, dia bosan di saat dirinya tidak mengantuk malah di tinggal oleh Arsen. Setidaknya bawa dia kan? Mungkin orang lain tak bisa melihat dan mendengar nya, tapi dia bisa melihat dan mendengar orang lain bukan? Baiklah, mungkin Novian akan menjalani rutinitasnya membaca buku di temani dengan teh sambil menunggu Arsen.
"Wahh buku ini benar-benar usang." Dia membolak-balik buku itu ternyata sebuah buku catatan. Tapi sudah sangat usang. Dia melihat judul di buku itu bertuliskan 'Miracle'. Tapi saat dia membuka buku itu tidak ada tulisan apapun di dalamnya. Dia membuka lembar demi lembar namun tetap saja kosong, tidak ada tulisan disana. Dia membawanya ke meja untuk di lihat lebih jelas, meneranginya pada arah cahaya tapi tetap saja tidak ada apapun.
Akhirnya Novian menyerah. Dia menutup buku itu dan meninggalkannya di mejanya. Lalu berjalan lagi ke rak-rak buku untuk mencari buku lain. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Arsen. Pemuda itu sedang keluar bersama dua sahabatnya. Dia berharap pemuda itu tidak membuat tubuhnya lecet.
"Ku harap dia menjaga tubuhku dengan baik."
Di tempat lain kini Arsen berada bersama Ryan dan Zacky. Kini mereka sudah berada di cafe blue. Ketika Arsen mengajak mereka berdua keluar, mereka juga bingung akan kemana. Jadilah Zacky mengusulkan untuk ke cafe blue, mungkin saja itu bisa membantu ingatan Novian kembali. Pasalnya cafe blue ini selalu menjadi tempat mereka bertiga nongkrong sejak SMA.
"Apa kau ingat cafe ini Nov?" Zacky membuka obrolan mereka. Arsen pun menatap kearahnya dan menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, kau akan mengingat nya mulai sekarang. Ini adalah tempat yang selalu menjadi tempat kita bertiga menghabiskan waktu bersama." Ryan memegang pundak Arsen.
__ADS_1
"Selain cafe ini dan tempat kerja kita, kurasa tidak ada lagi tempat-tempat yang bisa membantumu Nov. Kau sangat tertutup." Zacky menjeda ucapannya sebentar lalu melanjutkannya.
"Tapi tidak apa, setidaknya amnesiamu bisa membuatmu berubah menjadi sedikit ceria dan terbuka."
"Ya, kau benar Ky. Tapi seberubah apapun kau Novian, kami berdua akan selalu menjadi sahabat terbaikmu dan selalu di sampingmu." Ryan menimpali ucapan Zacky. Lalu mereka bertiga tersenyum. Bukankah Novian sangat beruntung memiliki mereka.
"Aku sangat bahagia memiliki kalian. Aku merasa aku adalah manusia paling beruntung di dunia ini." Ya benar Arsen sangat merasa beruntung bisa berada di lingkungan Novian yang penuh kasih sayang dari kedua sahabatnya ini. Dia tersenyum ke arah Zacky dan Ryan secara bergantian.
"Ah sudah-sudah kenapa pembahasannya malah menjadi melow begini." Zacky ingin segara acara melow ini berakhirpun akhirnya buka suara. Setelah itu dia menyeruput secangkir moca latte nya dengan nikmat. Arsen tersenyum melihat itu kemudian buka suara.
"Oh iya apa kalian berdua punya pacar?" Arsen mengangkat alisnya lalu melirik Ryan dan Zacky bergantian.
Ryan hanya menggeleng, "Wanita itu merepotkan." Lalu dia meminum kopinya. Arsen beralih menatap Zacky.
"A-aku tidak punya. Sebenarnya bisa saja aku memiliki banyak gadis. Tapi aku sudah menyukai seseorang cukup lama." Zacky sedikit melirik ke arah Ryan yang sedang sibuk meminum kopinya. Arsen yang melihat itu hanya tersenyum mengerti.
"Baiklah aku mengerti." Tidak masalah bagi Arsen jika harus berteman dengan seseorang yang belok bukan? Lagipula cinta tidak memandang gender, dunia juga sudah berubah. Dia harus membicarakan ini dengan Novian. Bagaimana mungkin Novian tidak tau hal ini bukan? Ya mungkin Ryan saja juga tidak sadar melihat dari sikapnya. Tapi apakah Novian tidak sadar akan hal itu?
Tanpa mereka bertiga sadari, ada seorang di pojok meja sana yang sedang memperhatikan mereka. Dia melihat ke meja Arsen lalu bergumam sendiri.
"Akhirnya aku menemukanmu setelah tujuh tahun lamanya."
Pemuda itu menyeringai sambil menyeruput segelas jusnya.
__ADS_1