MIRACLE (Next Di Fizzo)

MIRACLE (Next Di Fizzo)
EPISODE X


__ADS_3

Sebuah ruangan kosong yang gelap gulita. Namun, di sisi lain terdapat sebuah meja yang di terangi oleh lampu yang hanya mampu menerangi beberapa meter dari jarak tersebut. Remang-remangnya mampu membuat suasana di ruangan tersebut terasa mencekam. Bahkan seorang dewasa pun tak mampi berlama-lama di ruangan itu. Melihat bagaimana kondisi ruangannya yang sangat gelap. Mungkin saja meja di ujung sana hanya sebuah benda dengan keberuntungan kecil yang memliki lampu belajar. Atau mungkin saja hal itu sengaja dilakukan untuk hal tertentu.


Suara langkah kaki yang perlahan mendekati ruangan itu. Decitan pintu terbuka semakin membuat suasana di ruangan itu semakin terasa dingin. Perlahan langkah kaki itu mendekat ke arah meja yang di terangi oleh sebuah lampu belajar.


Dia berdiri menghadap dinding di atas meja tersebut. Wajahnya tidak terlihat karena arah cahaya lampu menghadap ke bawah, yaitu meja. Hanya sedikit remangan yang terpantul ke atas mengenai beberapa benda di sekitarnya. Terlebih wajahnya, namun tak terlihat jelas. Pria dengan tinggi rata-rata dengan bibir yang tipis dan menatap tajam pada dinding di depannya.


Dinding itu bukan hanya sebuah dinding kosong. Ada sebuah papan di sana dengan beberapa tempelan koran dan foto. Di sambung dengan beberapa garis merah yang di buat oleh benang-benang sutra.


"Kau, akan membayar perbuatanmu Novian Bagaskara." Suara pria itu terdengar dalam dan penuh penekanan. Terlihat bahwa nada itu penuh dendam. Dia tersenyum miring menatap tajam foto Novian di depannya. Kemudian dia menancapkan sebuah pisau di foto itu. Pikirannya hanya penuh oleh rasa kebencian yang mendalam terhadap Novian. Mengingat apa hang telah pria itu lakukan padanya.


"Kau, harus membayarnya!"


Arsen tengah menonton TV di ruang tamunya. Duduk bersila di atas sofa ditemani semangkuk popcorn yang dia buat sendiri. Dia memutar TV dengan volume yang tinggi. Seolah-olah dia merasakan dirinya sedang di bioskop dengan layar TV sebesar pintu rumahnya. Dia tidak peduli sekitarnya, toh Zacky telah kembali sehabis makan malam tadi. Jadi di rumah itu hanya tersisa dirinya dengan jiwa tanpa raga milik Novian.


Pria itu dari tadi hanya di kamarnya saja, tidak berniat untuk keluar. Maka dari itulah Arsen semakin jengkel. Apalagi pria kaku seperti Novian itu lama-lama tidak seperti pertama kalinya mereka bertemu saat Novian masih didalami cermin. Pria itu semakin banyak diam setelah dekat dengannya. Ah jadi benar, Novian juga pria kaku berhati es kutub. Seolah suara bising dari televisi tidak menganggunya sama sekali. Kamar di atasnya sangat sunyi dan tidak ada pergerakan apapun.


Beralih pada tayangan di televisi. Arsen menonton sebuah film western yang ditayangkan ulang. Sebuah film yang mengisahkan seorang prajurit dan perwira tentara yang sedang jatuh cinta. Film dengan genre seperti ini sudah biasa di tayangkan. Lagipula ini hanya hiburan. Tidak akan merugikan pemerintah.


Saat adegan ciuman diantara dua lelaki di film itu membuat rasa gejolak yang berbeda di hati Arsen. Dia bukan seorang fudanshi atau penggemar bxb bahkan fandom bl. Bahkan ini pertama kalinya dia menonton film boyslove. Karena menurutnya cerita di dalamnya bagus dan setiap film western mengandung makna tersirat. Hanya saja, dia tidak membenci kaum pelangi atau para fujoshi dan fudanshi. Baginya semua bentuk cinta di dunia ini sama. Tergantung setiap pribadi bagaimana menyikapinya. Cinta ya tetap cinta, tidak di bedakan oleh batasan apapun.

__ADS_1


Begitu lanjut pada adegan terpanas, dan saling membuka baju pada kedua pria itu mata Arsen melotot. Dia tidak menyangka nafsu antara pria dan pria sama saja dengan pria dan wanita. Popcorn yang akan di suapi ke mulutnya terjatuh dan degan sigap saat acara 21+ di mulai dia menutup matanya dengan kedua tangannya sambil berteriak, "Aaaaaa kalian terlalu manisss. Tapi aku tidak berani melihatnya, aaaaaa."


Suara teriakan Arsen melebihi suara TV nya. Membuat seorang pria yang tengah fokus bekerja di dalam kamarnya terganggu. Sudah cukup toleransinya dari tadi karena suara TV nya yang nyaring. Tapi sekarang malah di tambah dengan teriakan pria yang belum dewasa itu.


Novian menutup laptopnya dan berjalan keluar. Dia turun ke bawah untuk melihat apakah pria yang asik menonton itu sudah lelah berteriak yang kesekian kalinya atau tidak. Langkah kakinya menuruni tangga dan melihat pria di depannya tengah duduk di atas sofa sambil menutup matanya.


Berjalan mendekati TV Novian langsung mematikan TV tersebut. Arsen yang berniat mengintip adegan itu berniat membuka sedikit celah diantara jarinya. Namun, begitu dia membuat celah tayangan di depannya sudah mati dan suara tiba-tiba menjadi sunyi. Menampilkan sesosok pria di depannya yang tengah menatapnya.


Arsen menurunkan kedua tangannya dan melihat dengan kesal ke arah Novian.


"Kenapa kau mematikannya. Baru saja aku akan melihat adegan manisnya."


Arsen membeku mendengar penuturan Novian. Dirinya terciduk menonton tapi sambil menutup mata. Aduh buyung jika tahu akan seperti ini dia tidak akan menutup mata. Tapi, jujur saja Arsen belum pernah menonton hal yang lebih dari sekedar ciuman. Padahal dilihat dari umurnya yang sudah menginjak masa dewasa dan melewati masa remaja seharusnya tidak takut akan hal ini. Tapi, selain mimpi basah pada masa pubertasnya dia tidak pernah menyeleweng tindakannya. Arsen adalah pemuda yang baik, yang selalu di takut-takuti akan dosa oleh kakaknya. Dia hanya di beritahukan dan diberikan edukasi tanpa harus melihatnya secara langsung. Menurut kakanya agar adik kesayangannya itu tetap polos dan menjadi anak yang baik.


"Ya-ya aku-aku...Ah sudahlah. Lebih baik kau kembali bekerja saja sana. Hush hush..." Mata Arsen kesana kemari mencari alasan agar dirinya tidak malu. Namun dengan cepat dia mengalihkan perhatiannya agar Novian ini bisa kembali ke kamarnya.


"Lihatlah, sekarang sudah pukul berapa!?" Novian mengangkat dagunya agar Arsen menoleh ke arah jam dinding yang tergantung manis didinding sebelah kanannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak terasa dirinya menonton sudah terlalu lama. Baginya hanya terasa beberapa menit saja sejak menonton dari tadi.


Arsen mencebikkan bibirnya. Dia merasa apa yang dikatakan Novian ada benarnya. Sekarang sudah waktunya tidur dan besok mereka harus ke kantor.

__ADS_1


Menaruh semangkuk popcorn di meja dengan langkah sedikit di seret Arsen berjalan ke arah tangga.


"Dia pikir dia siapa? Sudah seperti bibi tua saja." Arsen bergumam sendiri sambil berjalan.


Sebelum sampai di tangga, dia merasa bahwa dirinya haus. Dia berhenti dan berbalik. Tanpa dia ketahui bahwa Novian telah mengekorinya dari belakang. Begitu dia berbalik dia menabrak Novian sehingga membuat keseimbangan keduanya tidak teratur. Dorongan dari tubuh Arsen sedikit membuat Novian kaget alhasil membuat keduanya terjatuh.


Posisi keduanya saat ini sungguh terlihat seperti seorang putri jatuh di atas tubuh pangeran. Tangan Arsen bertumpu di bidang datar dada Novian. Tatapan keduanya sangat dalam. Manik mata Novian bertemu dengan manik mata Arsen. Tatapan itu terkunci selama beberapa detik. Namun, karena merasa canggung akhirnya Novian mendorong Arsen untuk berdiri.


Begitu Novian berusaha untuk bangun dengan tangannya yang bertumpu pada lantai tiba-tiba terjatuh kembali karena tangannya licin. Arsen yang tengah berusaha juga terpengaruh dengan sedikit pergerakan yang dibuat oleh Novian juga membuat dirinya jatuh sepenuhnya di atas bidang dada Novian.


Sedetik kemudian keduanya membelalakkan matanya. Bukan karena jatuh mereka yang kedua kalinya yang membuat mereka kaget. Tapi hasil akhir dari seni jatuh mereka membuat keduanya terdiam. Kedua tangan Arsen bertumpu di sebelah kepala Novian. Namun, wajah mereka berdua tidak berjarak satu mili pun. Bibir mereka berdua menyatu. Ah seni jatuh yang tidak sengaja ini membuat mereka saling berciuman secara tidak sengaja. Oh, bukan berciuman, lebih tepatnya kecupan yang tidak sengaja.


Hitungan detik telah berlalu sepuluh kali. Ya, satu detik kemudian keduanya terburu-buru bangun dan berdiri karena suasananya semakin canggung. Novian dan Arsen buru-buru berdiri dan masing-masing mereka membetulkan pakaian mereka.


Disini Arsen yang sangat merasa canggung. Karena ulahnya membuat mereka harus saling mengecup secara tidak sengaja. Dia merutuki dirinya sendiri.


Mereka berdua berdiri diam sambil menatap ke bawah. Tidak ada yang saling membuka suara. Namun, menyadari ada sesuatu yang aneh di dalam diri mereka, mereka langsung menatap satu sama lain.


Keduanya saling pandang dengan alis yang berkerut di wajah mereka. Secara bersamaan mereka sontak tidak percaya. Keduanya saling menunjuk satu sama lain.

__ADS_1


"Kau?"


__ADS_2