
Suara itu mengagetkan Arsen dan Novian. Arsen segera mendudukkan dirinya sembari menggeser cerminnya di bawah selimut. Dia menoleh ke arah suara, ternyata itu adalah Zacky dan Ryan yang sudah berdiri di depan pintu.
"Ah tidak ada, aku tidak berbicara dengan siapapun. Mungkin itu hanya imajinasi mu saja Ky." Arsen berusaha tenang agar tidak terlihat bahwa dirinya sedang gugup sekarang. Zacky dan Ryan hanya saling pandang, dan akhirnya Zacky mengiyakan ucapan Novian. Mungkin benar itu hanya halusinasinya saja.
"Kami kemari untuk memastikan kau sudah istirahat atau belum, dan memastikan mungkin kau butuh sesuatu."
"Kami berdua ingin pergi mengambil barang-barang kami Nov. Kami akan menginap disini untuk menjagamu beberapa hari kedepan. Apa kau butuh sesuatu? Di dapur tidak ada apapun yang bisa di masak, jadi kami sembari ingin mampir belanja bahan makanan nanti." Zacky menimpali ucapan Ryan.
"Ah tidak terimakasih. Nanti kita makan masakan rumah saja." Arsen tersenyum kepada mereka berdua. Mereka pun mengangguk dan menutup pintunya lalu pergi.
"Huffttt untung saja tidak ketahuan." Arsen mengambil cermin di bawah selimut nya, dan menampilkan Novian dengan wajah datarnya.
"Untuk apa kau menyembunyikanku? Lagi pula mereka tidak bisa melihat atau mendengarku, mungkin nanti mereka hanya menganggapmu gila."
"Dianggap gila pun itu dirimu, bukan diriku. Ini kan tubuhmu." Ucapan Arsen berhasil membuat Novian bungkam. Arsen pun tersenyum kemenangan.
"Ngomong-ngomong siapa namamu? Dari tadi kita hanya sibuk bicara namun aku tidak tau siapa namamu dan dari mana asalmu."
"Hm baiklah. Namaku Arseno Chandra Yudha. Umurku baru 20 tahun dan aku berasal dari tahun 2023."
"Apa? 2023? Masa lalu? 10 tahun yang lalu? Bagaimana mungkin?"
"Maka dari itulah aku mengatakan bahwa tidak mudah untuk kembali ke tubuhmu. Karena aku saja berasal dari masa lalu. Jika di hitung-hitung aku lebih tua 5 tahun dari mu. Jadi kau harus sedikit hormat padaku bocah." Arsen tersenyum mengejek untuk mengerjai Novian. Sedangkan Novian hanya memutar matanya malas.
"Ah aku tidak peduli. Aku hanya ingin segera keluar dari cermin sialan ini."
"Kau pikir aku tidak ingin cepat kembali? Aku sudah mulai merindukan omelan mamaku dan jeweran kakak kesayangku ya." Novian mengendikkan bahunya tidak peduli. Lalu Arsen bersuara lagi.
"Ku rasa kau merupakan pria yang cukup cuek dan dingin. Tapi dari tadi sepertinya kau terlalu banyak bicara hahah." Arsen terawa setelah menyelesaikan perkataannya.
"Tapi aku kagum dan salut dengan mu bocah, kau mampu berjuang sendirian hingga sukses seperti ini. Mereka mengira aku sebagai dirimu dan sedang amnesia, jadi bisa kau ceritakan padaku tentangmu?" Mendengar ucapan Arsen itu, Novian mengangguk. Lagi pula Arsen akan menggunakan tubuh dan identitas nya selama disini. Dia juga tidak ingin reputasinya hancur karena pemuda tua di depannya itu.
Novian mulai menjelaskan semua tentang dirinya. Dari kelahirannya, masa kecilnya, masa sekolahnya, bahkan kematian mamanya. Dia juga menceritakan bagaimana dia bekerja dulu hingga menjadi manager di tempat kerjanya. Tapi Novian tidak menjelaskan alasan dia meninggalkan rumahnya, apakah benar hanya karena ayahnya menikah lagi?
"Eh tunggu-tunggu tentang hal umum itu aku sudah mengetahuinya sebagian besar dari Luna. Sekarang jelaskan apa alasan mu meninggalkan rumah, tidak mungkin hanya karena ayahmu menikah lagi bukan?" Arsen menyela penjelasan Novian.
"Itu urusan pribadiku."
"Ck, baiklah. Tapi setidaknya jelaskan tentang Luna sebenarnya siapa dia. Kenapa Zacky dan Ryan menyuruhku untuk tidak terlalu dekat dengannya."
__ADS_1
"Ya begitulah. Luna adalah teman masa kecilku. Kami dulu adalah tetangga, sampai aku berumur 8 tahun aku pindah rumah sama ayah dan ibuku. Kami jadi jarang bertemu. Sampai setelah SMA kami bertemu lagi. Kami berteman seperti biasanya namun tidak sedekat dulu. Kemudian aku jatuh hati pada seorang gadis waktu kelas tiga SMA. Aku tidak tahu bahwa Luna ada perasaan padaku dan menyatakan cintanya, namun aku tolak karena aku menyukai gadis lain. Entah kenapa Luna bisa tahu gadis itu padahal aku tidak bercerita pada siapapun. Hal itu membuat Luna nekat untuk membully gadis itu. Aku tidak mengetahui bahwa Luna sering membully nya secara diam-diam selama satu tahun dan itu membuat gadis yang kusukai bunuh diri. Itulah alasanku menjauhi Luna hingga saat ini."
"Kisah cinta diam-diam yang tragis. Kasihan sekali gadis itu. Siapa namanya? Apakah kau sering ke makamnya?"
"Namanya adalah Briana Fritzi. Ya aku selalu mengunjunginya setiap hari minggu. Aku masih belum bisa melupakannya, dan aku merasa kepergiannya juga merupakan kesalahanku."
"Hey itu bukan salah mu dan juga bukan sepenuhnya salah Luna. Itu sudah menjadi takdirnya."
"Aku harap begitu." Novian menghela nafasnya. Berharap bahwa apa yang di katakan Arsen itu benar.
"Lalu kau, apa kau tidak punya kekasih di tempatmu?" Kini Novian yang bertanya pada Arsen.
"Aku tidak ada waktu untuk memikirkan cinta. Aku hidup di tahun 2023, jadi aku masih berumur 20 tahun disana, aku lebih suka memikirkan pekerjaanku."
"Halah." Arsen menatap kesal pada Novian. Ternyata Novian ini juga menjengkelkan ya. Dia tarik kembali kata-kata nya bahwa Novian itu cuek dan dingin, halah basi.
"Sudahlah Arsen aku mengantuk. Kita bicara lagi besok." Novian tiba-tiba menghilang dari cermin itu. Arsen hanya melihat pantulan wajahnya saja.
"Loh heh heh Novian, jangan pergi dulu. Ah bocah sialan." Arsen memanggil Novian sambil menepuk-nepuk cermin usang itu. Tapi Novian tidak muncul lagi. Entah kenapa dengan anak itu. Menjengkelkan sekali bukan Novian ini.
Karena kesal Arsen yang di tinggal tiba-tiba oleh Novian akhirnya dia juga memutuskan untuk tidur juga. Lagi pula tidak ada gunanya berdiam diri seperti orang bodoh di sana menunggu Novian kembali.
"Ky, jika kau hanya duduk dan melihatku seperti itu, lebih baik kau pergi ke ruang tamu saja." Entah kenapa Ryan lelah dengan sahabatnya ini. Sudah tidak membantu malah menjadi mandor di atas meja. Ya Zacky memang tidak bisa memasak. Diantara mereka bertiga hanya Ryan dan Novian yang bisa memasak, itulah mengapa dia bisa membuka sebuah restoran hingga menjadi terkenal di kota, dan Novian, ya karena dia hidup sendiri maka dari itu bisa memasak. Zacky tidak mau belajar memasak dengan alasan 'Ah ada Ryan, biar dia saja yang memasakkan ku.' Sungguh menjengkelkan bukan.
"Ah tidak ada yang menarik di ruang tamu, karena yang menarik ada disini." Zacky mengedipkan sebelah matanya kepada Ryan, yang di kedipkan pun hanya memutar bola matanya malas. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Zacky untuk bercanda dengannya sejak dulu. Pantas saja Zacky tidak pernah berkencan dengan wanita. Sepertinya mereka terlalu takut pada Zacky yang terlalu agresif.
"Sungguh rasio usia dan tingkah laku yang sangat sumbang." Ryan hanya fokus memotong sayurannya.
__ADS_1
Zacky menatap Ryan dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia tersenyum tipis sembari mengunyah apelnya. "Aku sengaja melakukannya."
"Melakukan apa?" Ryan tak mengerti maksud Zacky tiba-tiba mengatakan itu.
"Ah tidak ada. Lupakan saja." Zacky turun dari meja makan dan beralih duduk di kursi sembari memainkan poselnya. Ryan yang mendengar itu hanya mengedikkan bahunya, dia hanya fokus pada masakannya.
"Ku harap ingatan Novian bisa cepat pulih." Celetuk Ryan tiba-tiba.
"Bukankah bagus jika Novian tidak ingat apapun? Dia bisa melupakan semua yang dia alami, dan bisa melupakan Briana kan."
"Tapi dia lupa dengan kita bodoh. Apa kau mau dia dekat dengan Luna?"
"Ah benar juga, entahlah aku hanya berharap Novian baik-baik saja dan bisa segera keluar dari bayangan masa lalunya." Zacky kembali fokus pada ponselnya dan mengunyah apelnya.
Tidak sadar sudah 30 menit Ryan memasak akhirnya selesai juga. "Ky, panggil Novian kesini makanannya sudah jadi."
"Jalan saja sendiri." Zacky tidak peduli dan terus memainkan poselnya.
"Baiklah, kau tidak perlu makan." Ryan mendekatkan wajahnya pada Zacky.
__ADS_1
Wajah Zacky memanas. Aduh jantungnya mulai tidak aman.
"Ba-baiklah kanjeng. Ampun." Dia segera berdiri dan berlari untuk memanggil Novian. Ryan yang melihat itu pun tersenyum kemenangan. Di balik senyumannya itu penuh arti. Entahlah itu hanya Ryan yang tau.