
Kini Arsen dan Zacky telah berada di depan pintu kantor nya. Mereka berdua telah berpenampilan rapi dengan setelan jas yang sama-sama berwarna gelap, menambah kesan wibawa pada diri mereka. Beberapa orang yang melihat nya pun memandang dengan tatapan kagum. Terlebih lagi dengan penampilan Novian yang lebih baru. Orang-orang merasa bahwa dia telah lebih hidup setelah cuti.
Sebelum masuk, mereka harus scan wajah mereka ke alat protektor di samping pintu. Selain untuk absen karyawan, alat tersebut juga langsung terhubung dengan pintu otomatis. Jika sudah terdeteksi bahwa orang tersebut adalah karyawan maka akan langsung terbuka, lalu untuk keluar masuk kantor juga tersedia alat proteksi badan yang sesuai dengan para karyawan.
"Wahh Ky, aku tidak menyangka bahwa kantor kita punya alat super canggih seperti ini." Arsen memandang alat protektor tersebut dengan wajah penuh takjub. Dia meraba-raba mesin tersebut tanpa berhenti menganga. Orang-orang yang lewat pun melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Apakah dia orang baru yang tidak pernah melihat mesin ini? Atau dia orang desa?
"Bukan hanya kantor kita, tapi setiap perusahaan di Indonesia mempunyai alat-alat canggih seperti ini. Bahkan toko-toko kecil saja punya alat protektor pembeli." Arsen yang mendengar penuturan Zacky akhirnya merutuki dirinya sendiri. Dirinya terlihat bodoh bukan? Salahnya sendiri kemarin saat dirinya keluar bersama Ryan dan Zacky tidak memperhatikan sekitar. Bahkan dia tidak sadar dengan protektor di cafe blue kemarin.
Mereka berdua akhirnya memasuki kantor lalu di sambut dengan baik oleh para karyawan yang lain. Saat dirinya berjalan menuju ruangan yang telah di arahkan oleh Zacky dirinya mendapat sapaan dari setiap karyawannya. Hal itu membuat Arsen merasa canggung sendiri. Dia terburu-buru untuk memasuki ruangannya. Di atas pintu depan ruangan terdapat tulisan 'General Manager' yang berarti itu adalah ruangannya.
Arsen memasuki ruangannya diikuti oleh Zacky. Arsen melihat sekelilingnya penuh takjub. Terdapat meja didepannya dan di meja tersebut ada label nama bertuliskan 'GM: NOVIAN B.' yang dia yakini bahwa itu adalah mejanya yang akan dia tempati.
"Baiklah Nov, kau sudah sampai di ruanganmu dan aku akan kembali ke ruanganku sendiri. Kau ingat apa yang telah ku jelaskan kemarin di rumah kan?" Sebelum pergi Zacky menanyakan perihal yang telah dia jelaskan kemarin di rumah bersama Novian. Dia takut sahabatnya itu menjadi seperti orang bodoh. Pasalnya dia tidak memberi tahu karyawan yang lain bahwa Novian sedang kecelakaan. Dia hanya memberi tahu mereka bahwa Novian sedang cuti karena urusan keluarga.
Arsen mengangguk dan tersenyum. Tapi sebelum Zacky membuka pintu, dia menoleh kembali ke arah Arsen lalu bertanya, "Kalau butuh sesuatu kau bisa memanggilku. Telepon di sampingmu itu langsung terhubung dengan ruanganku." Setelah mengatakan itu Zacky pun keluar untuk kembali ke ruangannya.
Sepeninggalan Zacky, Arsen duduk di kursinya. Dia masih bingung akan melakukan apa disana. Ini hari pertamanya kerja namun sudah menjadi atasan bagi karyawan. Di mejanya juga tidak ada dokumen apapun yang harus dia cek. Akhirnya dia mengeluarkan cermin Novian dari dalam tas nya.
"Hmm." Novian berdehem lebih dulu. Dia tau bahwa orang di depannya ini akan membawanya saat bekerja. Tadi pagi saja sudah ribut bahwasanya Novian tidak ingin ikut ke kantor karena malas. Lagipula dia tidak bisa melakukan apapun disana. Dia hanyalah sebuah cermin, ingat itu.
"Sudah dong Nov marahnya." Arsen berusaha membuat Novian berhenti marah padanya. Novian hanya memutar matanya malas.
"Sungguh aku terkejut dengan semua ini. Alat-alat canggih yang waahhh sungguh di luar nalar. Di tahun 2023 masih tidak ada yang seperti ini." Arsen mulai berbicara selayaknya orang yang baru pertama kali melihat semua yang ada di depannya. Tapi hal itu memang pertama buatnya bukan? Sedangkan Novian masih setia mendengarkan dengan malas.
Tiba-tiba Arsen teringat sesuatu. "Ah tunggu-tunggu aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Novian hanya berdehem menanggapi Arsen. Dia heran dengannya, Arsen semakin cerewet dan banyak bicara seperti Zacky setelah beberapa hari bersama.
"Perusahaan ini kan perusahaan media cetak. Nah di tahun yang sudah canggih ini apakah masih ada orang yang ingin membaca koran?"
"Hey, tahun boleh bertambah dan alat boleh semakin canggih. Tapi budaya kita dalam membaca harus di tingkatkan bukan. Apalagi para orang tua yang gemar membaca koran masih banyak." Novian geram dengan Arsen ini. Mentang-mentang dunia sudah canggih malah berfikir bahwa tidak ada yang ingin membaca berita di koran. Lebih parahnya lagi dia hanya berpikir bahwa Herrera Times adalah perusahaan media cetak saja? Ohh pikirannya dangkal sekali pemirsa.
"Satu lagi Arsen, perusahaan ini bukan hanya mencetak berita saja. Tapi juga menayangkan berita dan pers sangat mendukung kita mengerti?" Arsen mengangguk dan tersenyum kikuk. Pasalnya dia memang tidak tau tentang semua ini. Lagi pula dia hanya pemuda yang menggeluti dunia sastranya menjadi editor yang baik bukan. Padahal dulunya dia disuruh belajar dari surat kabar dulu sebelum menjadi editor buku di perusahaan om nya. Jangan heran dengan pekerjaannya yang hanya lulus SMA sudah menjadi editor buku. Arsen sangat menggemari dunia sastra tapi malas belajar sastra, aneh bukan. Tapi itulah Arsen, dia berpikir bahwa dirinya sudah pintar. Dia malah meminta pada om nya untuk mengajari tentang seluk-beluk editor dan pelajaran dasar. Alhasil karena omnya tau bahwa Arsen berbakat, dia angkat saja sebagai editor junior di perusahaannya. Jalan orang dalam sungguh magic bukan.
"Satu lagi Nov, menjadi manager tidak muda, apalagi kau dulunya hanya lulusan SMA bukan? Apakah kau melewati jalur orang dalam sepertiku?" Arsen tersenyum nakal menggoda Novian.
"Aku tidak sepertimu bodoh." Novian menjedanya sebentar.
__ADS_1
"Aku menjadi manager karena usahaku sendiri. Aku mengikuti pelatihan jurnalisme non formal, dan kebetulan perusahaan ini menerima persyaratan selain lulusan sarjana. Lalu, selama aku bekerja disini prospek kerjaku bagus menurut atasan. Jadilah ini posisiku." Lanjutnya kemudian membuang nafasnya. Sungguh menjelaskan hal seperti ini membuatnya lelah. Arsen hanya ber-oh ria saja. Dia telah malu sebelumnya mengira bahwa Novian jalur orang dalam bekerja disini.
Tok tok tok
Tiba-tiba saja sebuah suara ketukan pintu di ruangannya terdengar. Arsen menyuruhnya masuk dan ternyata dia adalah Zacky, selaku asistennya. Dia masuk sambil membawa beberapa berkas dokumen di tangannya.
"Nov, ini membutuhkan tandatangan mu, kau bisa mengeceknya lebih dulu." Zacky menyerahkan beberapa dokumen tersebut dan membacanya. Zacky menunggunya sambil berdiri di depannya. Tanpa sengaja matanya di alihkan oleh cermin Novian di meja. Oh Dewi Fortuna Arsen lupa menyembunyikan cermin itu.
"Tumben sekali kau membawa cermin Nov, itu cermin wanita kan? Kenapa juga sudah usang." Arsen terkejut mendengarnya. Dia gelagapan, segera dia sebelum menjawab Zacky dia segera menandatangani berkas-berkas tersebut dengan cepat.
"A-ah bukan apa-apa, ini hanya cermin peninggalan ibuku saja." Arsen menyerahkan kembali dokumen yang telah di tandatanganinya dan segera memasukkan cermin itu ke dalam laci meja nya. Novian hanya mendengus kesal karena telah dimasukkan ke dalam laci begitu saja oleh Arsen. Zacky hanya mengiyakannya lalu keluar dari ruangan Novian.
"Hufffttt untung saja " Arsen bernafas lega Zacky tidak mencurigai apapun. Dia kembali mengambil cermin Novian di lacinya.
"Bodoh." Begitu dia melihat Novian dirinya langsung menerima makian.
"Apa kau tidak ada alasan lain? Kau bilang itu peninggalan ibuku? Oh God.....Zacky dan aku bersahabat sejak SMA, mana mungkin dia tidak tau setiap barang berhargaku." Novian mendengus setelah mengatakan itu. Karena memang benar dia tidak pernah menyembunyikan apapun dari Ryan dan Zacky, kecuali itu masalah pribadi yang menurutnya sangat pribadi.
"Kau sendiri tidak bilang." Arsenpun tak kalah cemberut. Pasalnya dia memang tidak tahu akan hal itu. Novian belum memberitahunya keseluruhan bukan? Maka jangan salahkan Arsen.
Tidak ingin pusing sendiri memikirkan itu, Zacky segera merogoh sakunya mengambil ponselnya untuk menghubungi Ryan.
"Halo, Yan."
"Ada apa menghubungiku di saat jam kerja?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Hmm, apa?"
"Apa kau pernah melihat cermin tua yang di bawa Novian?"
"Cermin tua? Tidak pernah, kenapa?"
"Aku melihatnya tadi, dia bilang bahwa itu milik mendiang ibunya. Tapi selama ini tidak pernah kelihatan bukan?"
__ADS_1
"Mungkin saja itu memang benar."
"Tapi-"
"Sudahlah jangan menggangguku bekerja."
Bip-----
Ryan memutuskan panggilan secara sepihak. Zacky mendengus kesal dengan apa yang di lakukan oleh Ryan. Lalu dia menaruh poselnya di meja. Dia kembali memikirkan hal tadi. Apa mungkin memang benar? Novian sengaja tidak memperlihatkan cermin itu bertahun-tahun karena merasa paling berharga? Ah sudahlah, pikirkan saja nanti, saat ini dia sedang sibuk untuk mengurusi pekerjaannya.
Hari sudah sore dan jam sudah menunjukkan pukul 16:00 WIB, itu tandanya bahwa jam kerja telah selesai dan waktunya bagi Arsen pulang. Dia segera mengemas barang-barangnya, tak lupa juga dia memasukkan Cermin Novian ke dalam tasnya. Dia berdiri dan berniat untuk ke ruangan Zacky. Tepat saat dia hendak membuka pintu, Zacky telah muncul di depannya. Mereka pun pergi menuju parkiran.
"Ah Nov, apa kau ingin mampir ke suatu tempat atau butuh sesuatu untuk makan malam nanti?" Zacky bertanya pada Arsen sesaat setelah sampai di depan mobil mereka. Arsen belum menjawabnya sampai mereka masuk ke dalam mobil.
"Kurasa tidak perlu, bukankah kita punya bos restoran terkenal di rumah?" Arsen tersenyum mengatakan itu, Zacky yang mengertipun akhirnya tertawa, bahkan Arsen juga tertawa dengan apa yang dia katakan.
"Hahah pasti dia sedang bersin disana."Zacky mengatakannya tak luput dari tawanya. Sambil menghidupkan mobil merekapun keluar dari pelataran tempat parkir dan bergegas pulang.
Sementara di sebuah restoran, terdapat seorang lelaki yang sedang berdiskusi dengan beberapa karyawan di sana. Siapa lagi kalau bukan Ryan. Namun tiba-tiba dia- "Hacchhiiwww~" Ya dia bersin.
"Ah pasti ada yang sedang mengutukku sekarang." Dia bergumam sendiri sambil mengusap hidungnya yang sedikit gatal akibat bersin tadi.
__ADS_1