
"Hm...Jadi kau benar tak terlihat Nov?" Arsen bertanya pada Novian yang kini tengah duduk bersandar di sampingnya. Mereka berdua telah duduk di atas tempat tidur sambil menyandar pada ujung tempat tidur.
Setelah suasana awkward tadi mereka langsung memutuskan untuk duduk di atas tempat tidur saja. Daripada berdiri di depan cermin dengan suasana yang ehmm.
Novian yang mendengar pertanyaan Arsen pun menoleh.
"Sudah jelas dari apa yang tertulis di buku itu bukan?" Dirinya malah balik bertanya.
"Benar juga..." Arsen tampak berpikir.
"Ah coba kita buktikan." Arsen mengambil ponselnya di meja samping tempat tidurnya.
Setelah itu dia membuka layar ponselnya dan menekan icon camera. Lalu dia mendekat ke samping Novian dan berpose dua jari sambil senyum pepsodent. Kemudian dia menekan tombol selfie di ponselnya.
Cekrekk
"Ah benar, tidak ada gambarmu disana." Arsen tersenyum melihat hasil jepretannya.
"Ck, kau sengaja kan?"
"Hah? Sengaja apa maksudmu?"
"Sudah jelas saat selfie diriku tidak ada di camera, tapi kau malah tetap memotretnya." Novian ngeroll eyes.
Arsen yang ketahuan berbohong pun hanya senyum pepsodent menampilkan deretan giginya. Ya, dia memang sengaja melakukan hal itu. Dia hanya ingin mempunyai kenangan dengan Novian. Walaupun di foto itu hanya menampilkan wajah asli Novian bukan dirinya, dan hanya sendirian disana tidak ada siapapun di sampingnya dalam foto itu. Tapi setidaknya dia tau bahwa di foto itu adalah dirinya bersama Novian.
"Aku akan mencetak ini." Arsen tetap tersenyum melihat foto tadi. Novian yang melihat itu merasa malas dan ingin mengambil ponselnya dari tangan Arsen namun Arsen buru-buru menjauhkan tangannya. Kemudian dia menaruh ponselnya di meja agar tidak tergapai oleh Novian.
"Itu ponselku ngomong-ngomong." Novian menyindir Arsen sambil membenarkan duduknya. Dia kembali duduk seperti semula.
"Aku tau, tapi aku juga dirimu kan?"
"Ck...Buat apa sih di cetak, lagipula foto tadi hanya terlihat wajahku saja walaupun itu dirimu."
"Tak apa. Setidaknya aku tau bahwa dalam foto itu ada diriku dan dirimu." Arsen menjeda ucapannya. Kemudian dia melanjutkannya, "Uhmm anggap saja sebagai kenangan." Dia tersenyum ke arah Novian.
Novian yang mendengar itu sedikit tertegun. Apalagi saat melihat senyuman Arsen. Entah mengapa dia merasa bahwa senyuman Arsen indah. Dia baru tahu bahwa wajahnya bisa menampilkan senyum seindah itu.
Novian memalingkan wajahnya dari Arsen. Dia tersenyum tipis. Sangat tipis hingga tak terlihat. Lebih tak terlihat dari seekor kutu. Dalam beberapa hari terakhir dirinya melihat tingkah bodoh dan lugu Arsen membuatnya merasa nyaman. Entah dalam hal apa, tapi rasanya bersama Arsen berbeda saat bersama Ryan dan Zacky. Karena baginya, kebodohan Arsen sangat natural. Entah kenapa omnya menerima Arsen bekerja di kantornya dengan otak yang seperti itu.
"Uhm Nov, aku masih memikirkan maksud dari tulisan bahwa kita akan menemukan cara untuk melewati ini. Apa kau ada pemikiran?" Arsen membuka suara mengingat dirinya bosan dengan keheningan yang mereka buat.
Novian yang mendengar itu pun menoleh ke arahnya. Dia juga mulai berpikir dan mengingat kata-kata itu. "Entahlah, mungkin kita akan mengetahuinya nanti."
Menurut Novian kata-kata itu mungkin memang akan mereka ketahui nanti. Jadi dia berusaha untuk tidaj terlalu memikirkannya.
"Sudah pukul berapa sekarang?" Novian menanyakan waktu pada Arsen. Pasalnya mereka terlalu asik mengobrol hingga lupa waktu. Benar saja, saat Arsen menoleh pada jam beker di samping tempat tidurnya disana sudah menunjukkan pukul setengah dua lebih dini hari. Tak terasa mereka sudah mendiskusikan ini selama dua jam.
"Tidurlah!" Novian menyuruh Arsen tidur. Dia juga sambil merebahkan dirinya.
"Tapi aku masih bel--" Belum sempat Arsen menyelesaikan perkataannya, namun sudah terpotong dengan ucapan Novian.
"Besok kau bekerja. Aku tidak ingin reputasiku di kantor lenyap karenamu."
Arsen yang mendengar itu pun langsung memanyunkan bibirnya. Ada apa dengan pemuda di sampingnya ini? Sungguh gila kerja. Arsen menggerutu sambil merebahkan dirinya juga. Dia menarik selimut dan membelakangi Novian. Ada-ada saja dengan anak itu.
Novian yang melihat itu pun perutnya tergelitik geli. Sebenarnya bukan itu maksud dia. Dia hanya tidak ingin Arsen kelelahan saja jika kurang tidur. Apalagi ini sudah dini hari. Kemudian dia pun juga ikut tidur dan membelakangi Arsen. Jadilah mereka tertidur saling membelakangi.
Sinar mentari pagi telat menelusuk masuk diantara celah gorden. Menerpa dua makhluk adam yang tengah tertidur pulas. Mereka berua tidur saling berhadapan. Mereka tertidur dengan nyenyak, namun salah satu diantara mereka terusik dengan sinar matahari yang menyilaukan mata.
Zacky. Dia adalah seseorang yang terganggu dengan sinar mentari. Perlahan dia membuka matanya. Terlihat di depannya sahabat baiknya tengah tertidur pulas. Ya siapa lagi kalau bukan Ryan. Dia memandangi wajah Ryan dengan seksama. Senyuman kecil terukir di bibirnya. Baginya, jika setiap pagi yang pertama bisa di lihatnya adalah wajah pangeran ini, itu sudah cukup baginya. Dia sangat menyayangi sahabatnya ini. Tapi sayangnya, dia tidak bisa terang-terangan memberi perhatian padanya.
Dia takut sahabatnya ini akan merasa risih dengan perhatiannya. Maka dia akan bertindak sebagaimana kasih sayang seorang sahabat untuknya dan berusaha menjadi pelindungnya. Dia mengangkat tangannya perlahan untuk menyentuh wajah Ryan. Namun, belum sempat dia tangan itu mendarat di pipinya sang empu malah membuka matanya.
"Mau apa kau?" Tanya Ryan tiba-tiba membuat Zacky gelagapan sendiri. Sial, dirinya tertangkap basah.
__ADS_1
"Ah tidak, tadi ada nyamuk di pipimu. Iya nyamuk." Zacky langsung mengibas-ngibaskan tangannya di atas pipi Ryan. Bertindak seolah-oleh sedang mengusir nyamuk. Setelah itu langsung menarik tangannya kembali.
Ryan yang melihat itu hanya berdehem mengiyakan perkataan Zacky. Kemudian dia bangun dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesaj dia keluar. Namun apa yang dilihatnya membuatnya kesal. Zacky malah tidur lagi dengan menyelimutinya hingga lehernya. Sungguh anak itu.
Kemudian dia berjalan ke arah Zacky dan menarik selimut yang di pakainya. "Bangunlah bodoh, ini sudah jam enam pagi. Cepatlah mandi, aku akan membuat sarapan."
Zacky yang merasa terganggu pun akhirnya membuka matanya dan berkata, "Masih pagi loh beb."
Kemudian dia menarik selimutnya lagi dari tangan Ryan. Ryan gemas dengan sahabat nya ini lalu dia menariknya lagi dengan kasar hingga membuat Zacky kaget.
"Mandi sekarang atau tidak perlu sarapan?!" Ucapan Ryan yang mengancam itu penuh penekanan. Membuat Zacky langsung tersadar dan segera pergi ke kamar mandi.
Ryan yang melihat itu pun geleng-geleng kepala dan tersenyum. Di dalam hatinya dia berkata, 'Hmm my fool childish.'
Dia hendak keluar namun teringat sesuatu. Lalu dia pergi ke arah kamar mandi dan berdiri di depannya. Lalu dia berteriak, "Ky, jangan lupa panggil Novian juga nanti untuk sarapan."
"BAIK." Zacky juga terdengar sedang berteriak di dalam kamar mandi menyahuti Ryan. Lalu Ryan pergi ke dapur untuk memasak sarapan pagi untuk mereka bertiga.
Setelah 30 menit Ryan bergelut di dapur akhirnya masakannya selesai juga. Dia menata meja makan dengan sarapan yang telah di siapkan di tiap piring. Ryan membuat sarapan sandwich dengan telur mata sapi dan beberapa sosis di piring mereka.
Tak lama kemudian Zacky dan Arsen menghampirinya. Mereka berdua duduk di kursi masing-masing.
Arsen dan Zacky yang mendengar ucapannya menoleh ke arahnya. Kemudian Arsen mengangguk sebagai tanda persetujuan. Berbeda dengan Zacky yang masih menatapnya sambil berpikir.
"Aku sepertinya juga akan kembali ke apartemenku malam ini. Beberapa hari ini tidak ada yang mengurus apart ku." Ucap Zacky setelah menelan makanannya. Ryan yang mendengarnya hanya berdehem setuju.
Berbeda dengan Arsen, entah apa gang di pikirkan anak itu. Dia mengunyah makanannya sambil melihat ke arah kamarnya di lantai atas sebrangnya.
Zacky yang menyadari tidak ada tanggapan dari Novian pun melihat ke arahnya. Mungkin saja dia hanya mengangguk seperti biasanya. Tapi ternyata tidak, dia sedang memandangi pintu kamarnya yang tertutup di atas sebrang sana.
"Nov.."
"Nov!"
"Novian!" Dua kali Zacky memanggilnya namun tak ada jawaban, akhirnya panggilan ketiga dia memanggil dengan keras sembari melempar sawi ke arahnya. Cara Zacky ternyata berhasil. Sang korban pun akhirnya menoleh ke arah tersangka yang melemparinya sawi.
"I-iya Ky? Ada apa?"
__ADS_1
"Kau kenapa Nov? Kenapa sepertinya kau sedang melamun?"
"Ah tidak apa-apa." Arsen berusaha tetap terlihat biasa saja agar tidak terlihat seperti orang linglung. Dia memakan sandwich nya lagi.
"Jadi bagaimana menurutmu Nov? Aku akan kembali ke apartemenku. Apa kau sudah sangat baik untuk tinggal sendiri?" Zacky menanyakan lagi pada Novian.
"Ya tentu saja. Aku sudah sangat sehat. Kalian tenang saja. Lagipula kalian sering menginap di sini kan? Mungkin kalian akan kemari lagi besok karena merindukanku." Arsen menjawab Zacky dengan semangat sambil melihat ke arah Zacky dan Ryan secara bergantian. Dia meyakinkan mereka berdua agar tidak mengkhawatirkan dirinya. Perihal kata-katanya yang mengatakan bahwa Ryan dan Zacky sering menginap itu karena sudah di ceritakan oleh Novian saat mereka bersama.
Ryan dan Zacky yang mendengar itu pun saling bertukar pandang. "Nov, kau sudah ingat?" Tanya Zacky padanya
"E-e...Iya sedikit, kurasa." Arsen menjawabnya sambil menggaruk tengguknya yang tidak gatal. Dia merasa tidak enak karena seperti orang yang sedang membodohi mereka perihal amnesianya.
"Tidak apa-apa, nanti juga kau akan mengingat semuanya." Kini Ryan juga ikut menimpali dengan senyuman hangat pada Novian. Dia turut senang karena sahabatnya-Novian, telah ada sedikit kemajuan mengenai ingatannya.
Kini pandangan Arsen teralihkan pada tangga. Langkah kaki yang dia dengar membuatnya mengalihkan pandangannya. Dilihatnya Novian sudah rapi dengan setelah jas menuruni tangga. Ryan dan Zacky? Tentu saja mereka benar-benar tidak dapat melihatnya. Arsen melihat Ryan dan Zacky untuk memastikannya, dan ternyata memang benar. Apa yang terjadi semalam dan apa yang telah tertulis di buku itu memang benar.
Arsen melihat Novian dan memberi kode padanya untuk bertanya apa yang ingin dia lakukan dan kemana. Novian yang melihat itu masih sedikit bingung dan akhirnya mengerti.
"Aku akan ikut ke kantor bersamamu. Cepatlah!" Dia menjawab kode yang Arsen berikan. Lalu dia berjalan ke arah sofa untuk duduk dan menunggu Arsen.
Arsen yang melihat itu hanya diam mengangguk saja. Lagipula semua keputusan berada di tangan Novian kan? Rumah, kantor, teman, semuanya adalah miliknya. Bahkan tubuh saja Arsen menumpang raga padanya. Dia hanya mengendikkan bahunya dan segera menghabiskan sarapannya.
Mereka bertiga telah menyelesaikan sarapannya. Zacky langsung ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor bersama Novian. Sedangkan Ryan kini sedang membereskan meja makan dan mencuci piring. Lalu Arsen, dia telah kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan barang-barangnya. Kemudian turun kembali untuk menunggu Zacky dan Ryan siap berangkat juga.
Dia duduk di sebelah Novian. Namun, tak lama kemudian Ryan yang sehabis mencuci piring mendekat ke arahnya.
"Nov, nanti aku akan langsung pulang saja. Aku tidak akan makan malam di sini bersama kalian. Tapi aku tadi sudah memasak lebih banyak untukmu makan malam. Mungkin saja si bocah itu masih disini malam nanti." Ryan mengatakannya sambil melihat ke arah kamarnya, yang dia maksud bocah itu adalah Zacky. Dia jadi teringat sewaktu sarapan Zacky hanya memberitahu bahwa akan kembali ke apartemen nya hari ini. Tapi tidak mengatakan dengan jelas sebenarnya langsung sehabis kerja atau masih kembali untuk barang-barangnya.
Tidak masalah bagi Ryan maupun Zacky untuk pulang pergi lebih dulu atau terakhir kali di rumah Novian. Mereka berdua telah di beri kunci rumah Novian karena seringnya mereka ke sana. Untuk memudahkan mereka agar tidak selalu mengetuk bahkan menekan bel rumah, maka dari itulah Novian memberikan mereka kunci. Arsen mengetahui itu karena telah di beritahu oleh Ryan dan Zacky sewaktu mereka akan tinggal bersamanya.
Arsen yang mendengar itu hanya tersenyum. Dia merasa bahwa Ryan ini cukup tsundare. Karena dia seringkali melihat Ryan ini sering marah pada Zacky, ya walaupun sementara mereka bertengkar. Tapi selama beberapa hari saja bersama mereka, dia dapat merasakan adanya kasih sayang diantara keduanya. Lihat saja, dia masih peduli dan khawatir pada Zacky di belakangnya kan.
"Hm baiklah." Arsen tersenyum menanggapi apa yang di katakan Ryan. Ryan pun masuk ke kamarnya untuk membersihkan dirinya dan bersiap.
Novian sedari tadi hanya diam saja menyimak keduanya. Lalu dia menatap bingung pada Arsen setelah apa yang dikatakan pemuda di sampingnya itu.
"Lihatlah. Apakah kau tidak menyadarinya?"
"Menyadari apa?" Novian mengerutkan keningnya. Begitu Arsen akan menjawab Novian sebuah suara pintu terbuka terdengar dan menampilkan Zacky yang sudah sangat siap dan rapi. Zacky menutup pintu dan berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Nanti saja ku beritahu." Arsen berbisik pada Novian agar suaranya tidak terdengar oleh Zacky.