
Novian dan Arsen tengah duduk di tempat tidur mereka. Saling berhadapan satu sama lain. Mencoba mencerna apa yang telah terjadi.
Novian melihat Arsen di hadapannya. Ternyata ini adalah wajah asli Arsen. Pemuda yang terlihat lebih muda darinya. Berkulit putih dengan bibir yang tipis dan berwarna merah peach. Tidak bisa di bayangkan saat Arsen tersenyum akan semanis apa.
"Jadi...." Arsen membuka suara tapi di gantung olehnya. Dia melirik kesana kemari seolah-olah sedang gugup. Tidak seperti biasanya, jika terjadi hal-hal di luar nalar seperti ini dia akan kaget dan heboh. Mungkin karena sudah biasa baginya.
Novian melihat Arsen yang menatapnya juga. Kemudian sebuah pemikiran terlintas di benak Novian. "Buku."
Setelah mengucapkan satu kata itu Novian langsung berdiri dan pergi ke lemarinya. Membuka dan mengambil sebuah buku yang dia selipkam diantara beberapa pakaian yang terlipat rapi. Kemudian dia kembali duduk di samping Arsen dan membuka buku itu. Arsen juga melihatnya bersama dengan Novian.
Begitu buku itu di buka, halaman yang semulanya kosong kini telah menampilkan beberapa tulisan.
'Disaat kalian membuka buku ini yang kedua kalinya. Kalian sudah menemukan cara bertukar tubuh.
Ya, cara itu adalah benar. Selamat untuk kalian berdua.
Itu artinya bahwa pemilik raga sudah menerima kehadiran jiwa di dunia ini. Dunia pemilik raga.
Tapi pergantian ini tidak akan bertahan lama setiap kalian melakukan tukar jiwa ini. Jika saat pertukaran jiwa kedua terlalu lama berada di luar, maka perlahan-lahan akan menghilang.
Pada pertukaran pertama ini akan di mulai 24 jam. Waktu itu akan terus berkurang seberapa sering kalian melakukan pertukaran ini.
Jadi pastikan saat bertukar kalian selalu ingat dengan waktu.
Sampai jumpa selanjutnya.'
Buku itu mereka tutup. Kedua mata Novian dan Arsen bertemu lalu terkunci bersama.
Arsen bergeming, "Terimakasih."
__ADS_1
Novian bingung dengan apa yang telah di ucapkan oleh Arsen. Dia mengerutkan alis disertai ekspresi wajah kebingungan seolah-olah dirinya bertanya maksud perkataan Arsen.
"Sudah menerimaku." Arsen tersenyum. Sangat manis sehingga membuat Novian terpana melihatnya. Benar dugaannya, bahwa bocah besar di depannya ini memiliki senyuman semanis buah Peach.
Entah mengapa Arsen sangat ingin mengucapkan kata terimakasih pada Novian. Karena sejak kedatangannya pada kehidupan Novian, pria itu baik pada Arsen. Meskipun Arsen memumpang tubuh pada Novian, tapi selama ini pria itu tidak pernah meributkan apapun.
Novian sedikit tergelak dengan ucapan Arsen. Dia menjawab sedikit canggung, "Itu hanya sebuah kecelakaan."
Arsen yang mendengar itupun bingung. Kenapa perkataan Novian sangat ambigu. Dia berterimakasih tapi malah di jawab hanya sebuah kecelakaan? "Hei, apa maksudmu? Perkataanmu seolah-olah seperti pria yang tanpa sengaja merenggut kehormatan seorang gadis."
Arsen menghela nafas, "Aku berterimakasih karena sejak awal kau baik padaku dan menerimaku."
Senyuman kembali terukir di wajah manis Arsen. Bahkan di bumbui dengan sedikit tawa karena menertawakan ketidaksinkronan Novian. Apalagi melihat wajah kaku Novian yang bertambah kaku hingga terlihat seperti balok kayu. Bahkan bisa di bayangkan wajah kaku itu terukir sedikit kerutan kegelisahan yang mampu menakut-nakuti anak kecil. Novian malu.
"O-oh." Novian hanya berkedip saja sambil meremat buku yang di pegangnya.
Tanpa menoleh Novian menjawabnya dengan tenang, "Tentu saja, setidaknya sekarang kita berteman."
Arsen kaget mendengar jawaban Novian yang tanpa pikir panjang dia menyetujuinya. Padahal disini pihak yang di rugikan adalah Novian, karena semua yang dia miliki harus dipinjam Arsen untuk hidup disini sebelum menemukam cara dia kembali.
"Tapi dengan satu syarat." Novian mengangkat kepalanya dan menoleh menatap Arsen.
"Jangan melakukan hal-hal buruk selama kau menggunakan identitas ku." Sedikit senyuman miring tersungging di bibir Novian.
Pelototan mata kini berada di wajah manis Arsen. Hal itu membuat Novian semakin tergelitik. Tapi dia tahan.
"Hei, apa kau pikir aku penjahat mesum keliling? Atau seorang pencuri? Atau bahkan seorang psikopat sadis yang menculik orang untuk di kukiti?" Arsen merenggut kesal. Apa-apaan katanya jangan melakukan hal buruk, dia pikir Arsen seorang penjahat yang tanpa sengaja menjelajah waktu untuk bertobat saja.
Novian tersenyum mendengar ucapan memburu dari Arsen. "Tenanglah, aku hanya bercanda. Aku tahu kau orang yang baik." Ya dia hanya menggoda Arsen sedikit. Dia tahu bahwa Arsen tidak akan berbuat sesuatu yang buruk. Pria itu adalah pria yang baik. Selama berminggu-minggu saja dia tidak menyalahgunakan identitas Novian.
__ADS_1
"Kau." Arsen yang tadinya hampir marah sekarang berubah menjadi sedikit kesal. Tangannya yang sedari tadi berpangku pada tempat tidurnya kini dia gunakan untuk sedikit mendorong Novian, sehingga membuatnya sedikit terjungkal. Akhirnya mereka tertawa bersama dengan menikmati momen yang sedikit berkesan bagi mereka.
Di waktu yang sama, bukan hanya mereka berdua yang belum tidur di larut malam begini. Zacky, pria itu tengah berguling-guling tidak jelas di tempat tidurnya. Dia tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap kali dia memejamkan mata, selalu saja tidak bisa. Pikirannya entah kemana. Kemudian dia mengambil ponselnya dan melihat jam ternyata sudah pukul sebelas malam dan dia masih saja dengan mata terbuka. Ini bukan pertama kalinya bagi Zacky begadang, karena sering kali dia begadang untuk pekerjaan yang belum selesai. Lalu untuk begadang tidak jelas seperti ini rasanya baru pertama baginya. Padahal ketidakjelasan tidak bisa tidurnya ini bukan pertama kalinya. Dia selalu menolak setiap kegelisahannya selalu ada satu masalah yang mengganjal di hatinya.
Dia menaruh ponselnya kembali lalu berkata dengan menghembuskam nafas lelah, "Hmm sudah bertahun-tahun aku menyukainya. Kapan dia akan menyadarinya. Ryan...Ryan... Apa sikapku kurang jelas? Ah tapi....Aarrggghhh Ryan sialan."
Zacky mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Sudah bertahun-tahun dia menyukai sahabatnya itu. Tapi karena alasan persahabatan dia tidak bisa begitu gamblangnya menyatakan perasaan. Jika dia menyatakannya entah apa yang akan terjadi. Bisa saja Ryan menerimanya. Bisa saja Ryan memakluminya. Atau bisa saja yang paling buruk Ryan akan menganggap Zacky tidak waras dan mengakhiri persahabatan yang telah bertahun-tahun mereka bangun.
Demi menutupi perasaannya maka dari itu dia sering bertingkah konyol di depannya. Tapi pada dasarnya Zacky memang seorang pria yang masih merasa muda dan kekanak-kanakan. Sudah sering didalam candaannya dia selipkan kebenaran tentang perasaannya. Mungkin karena dirinya sering bercanda jadi Ryan menganggap hal itu sudah biasa. Mungkin ini salahnya karena telah menaruh perasaan pada sahabatnya sendiri.
"Ryan sialan selalu saja mengganggu waktu tidurku." Begitu dia berkata seperti itu, dia langsung membalik tubuhnya untuk tengkurap. Menghadap ke bawah dengan memejamkan mata yang dipaksa lalu menarik sebuah bantal untuk menutupi kepalanya. Mungkin cara itu bisa membawanya ke alam mimpi.
Saat ini Novian telah berdiri dari duduknya setelah momen sedikit tawanya bersama Arsen. Dia berjalan melangkahkan kakinya ke arah lemari untuk menyimpan kembali bukunya. Selama itu dia berpikir bahwa selama ini dirinya sedikit berubah. Menjadi sedikit terbuka dan bisa bercanda? Padahal hal itu hanya akan spontan dia lakukan saat bersama Ryan dan Zacky. Itu pun karena ulah Zacky yang melebihi batas maksimum kekonyolan seorang pemuda. Apa karena Arsen telah hadir dalam hidupnya?
Hei bagaimana mungkin? Arsen baru beberapa hari berada dalam hidupnya bahkan belum genap sebulan pun. Ya Novian akui bahwa kehadiran Arsen memang membuat suasana di rumahnya menjadi hidup dengan dihiasi beberapa porselen dan hiasan-hiasan yang menggantung di dinding setiap sudut ruangan. Novian sempat protes tapi mengingat hal itu, dimana dia telah membuat kehangatan diantara persahabatan mereka Novian mengurungkannya. Lagipula itu tidak merugikannya.
Novian merasa bahwa Arsen telah membuat identitas baru baginya diantara dua sahabatnya. Karena baginya kedua sahabatnya adalah orang yang selama ini selalu ada untuknya baik suka maupun duka. Arsen membuat hubungan dan ikatan persahabatannya menjadi lebih hidup. Dimana hal itu sulit dilakukan oleh Novian sendiri.
Sesaat setelah kembali ke tempat tidurnya Novian melihat Arsen dan berkata, "Tidurlah, apa kau tidak mengantuk? Besok masih harus ke kantor."
"Ah iya...Tapi tubuh kita?" Pertanyaan itu sedikit tercekat di lidah Arsen. Entah mengapa rasanya sangat canggung baginya. Mengingat bagaimana cara mereka menukar jiwa dan apa yang telah tertulis dalam buku itu membuat Arsen bergidik ngeri. Seolah-olah mereka akan sering melakukan tindakan yang intim ini dari waktu ke waktu.
Bukan hanya Arsen, Novian pun tak kalah juga merasa canggung. Apalagi setelah pertanyaan itu membuatnya mengingat kejadian tadi. Matanya bergerak ke kiri dan kanan seolah mencari jawaban yang pas, dan akhirnya terlontar kata-kata, "Uh- besok saja. Lagipula masih 24 jam. Sekarang tidurlah, selamat malam."
Setelah berkata demikian Novian langsung merebahkan dirinya di samping Arsen. Menyelimuti dirinya dan menghadap ke samping untuk membelakanginya. Segera menutup matanya agar cepat tertidur. Meskipun isi kepalanya berputar-putar sebuah pertanyaan dan pernyataan yang menjadi satu.
Arsen yang melihat itu sedikit tergelak dalam hatinya berkata, "Tidak apa, mungkin Novian rindu dengan tubuhnya, hahaha."
Akhirnya dia juga merebahkan dirinya. Menoleh pada Novian dan berkata, "Selamat malam." Diakhiri dengan senyuman sebelum berbalik memunggungi Novian dan memejamkan mata indahnya.
__ADS_1