
Suasana rumah bernuansa putih abu-abu itu terlihat sangat elegan. Beberapa hiasan dinding dan porselen-porselen yang tertata rapi di setiap meja dan beberapa sudut ruangan. Bahkan di pojok depan ruangan terdapat rumah-rumahan kucing dan beberapa mainannya. Sebuah kasur oval yang terletak di sampingnya. Beserta sebuah pohon tangga dilengkapi kapas-kapas di atasnya sebagai tempat duduk kucing. Pemilik rumah ini sungguh menyayangi kucingnya.
Pringgg....
Bunyi piring pecah terdengar dari arah dapur. Terlihat seekor kucing tengah duduk di atas meja makan. Membuat pemiliknya yang tengah memasak menoleh. Menghembuskan nafas lelah akhirnya dia berjongkok untuk membersihkan pecahan-pecahan piring itu. Menyapu bersih pecahan kacanya agar tidak mengenai kaki saat berjalan di atasnya.
Sang pelaku pun hanya duduk manis melihat pemiliknya membersihkan pecahan piringnya sambil mengibaskan ekornya.
"Pluffy....Aku tau kau masih marah padaku sejak beberapa hari terakhir karena meninggalkan mu sendiri. Bukankah aku sudah minta maaf hmm." Rasa gemas untuk menepuk-nepuk kepala kucing itu bergejolak di hati Ryan. Sudah beberapa hari ini kucing manisnya itu merajuk karena selama sepekan dia menitipkan Pluffy di perawatan hewan.
Kucing itu hanya menanggapi dengan menekan-nekan dan menggerakkan kepalanya di bawah telapak tangan Ryan. Diikuti suara halus nya dan mengeong. Ryan tersenyum lalu mengelus-elus kucing manisnya itu.
Dirumahnya yang besar ini Ryan hanya tinggal dengan Pluffy. Orang tuanya sedang sibuk di Belanda mengurus bisnis keluarga. Sudah 5 tahun mereka berada di sana dan hanya pulang beberapa bulan sekali untuk mengunjunginya. Dia mempunyai adik perempuan bernama Eriza Martiza yang sudah berumur 17 tahun sekarang. Karena saat adiknya berumur 12 tahun dia ikut orang tuanya ke Belanda.
Bahkan di rumah yang sepi ini dia tidak mempekerjakan ART meskipun runahnya lumayan besar. Dia memiliki kemiripan dengan Novian, yang lebih suka mengerjakan sendiri. Jika mungkin saat dirinya lelah membersihkan rumahnya dia akan memanggil cleaning service setiap minggu.
Ting-nong...
Suata bel rumahnya berbunyi. Dengan sigap Pluffy berdiri dan meloncat kebawah. Kemudian berlari menuju pintu depan. Ryan mengikutinya dari belakang.
Begitu sampao di depan pintu dia membukanya. Namun begitu pintu terbuka dan tubuhnya langsung di tabrak oleh seoranh gadis remaja. Dia adalah adik kesayangannya. Mendapat pelukan mendadak membuatnya sedikit terhuyung ke belakang.
"Kejutan." Zacky yang entah dari mana muncul di depannya sambil membawa koper dan beberapa paper bag. Ya benar juga, Ryan terkejut untuk kedua kalinya dan membalas pelukan sang adik.
__ADS_1
Sedangkan Arsen dan Novian di tengah hati begini menikmati hiruk pikuknya jalanan kota dengan terik matahari yang membuat suasananya semakin panas. Terlebih lagi polusi udara karena banyaknya kendaraan bermotor berasap. Padahal di sepanjang jalanan telah di penuhi oleh pepohonan rindang dan tanaman agar membantu mengurangi polusi udara. Tapi rasio dengan banyaknya kendaraan tentu saja kalah besar.
Arsen yang tengah mengemudi melihat ke arah GPS mobil yang terpasang disamping kemudi. Mengikuti rute yang telah tersetel di dalamnya. Alamat di GPS itu di berikan Novian yang kini tengah duduk di sampingnya. Seklias Arsen melirik ke arahnya. Sebenarnya bisa saja Novian sebagai penunjuk arah tanpa menggunakan GPS. Tapi katanya melelahkan mengarahkan arah sepanjang jalan. Bahkan selama perjalanan pun mereka berdua tidak banyak bicara, padahal tempat yang di tuju adalah permintaan dari Novian.
Setelah satu jam mengemudi akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuan. Sebuah Yayasan Panti Asuhan Melati. Arsen melihat papan nama itu di depan gapura. Mengangkat alisnya dan menoleh ke arah Novian. "Jadi ke sini?"
"Hm...Keluarlah."
Setelah Novian berdehem dia keluar dan membuka pintu penumpang. Mengambil beberapa paperbag yang berisi mainan anak-anak. Sebelumnya mereka mampir ke sebuah toko mainan untuk membeli beberapa. Selama itu pula Arsen tidak banyak bertanya. Karena sudah jelas itu untuk anak-anak. Tapi dia tidak menyangka bahwa akan ke panti ini.
Novian menyerahkan hadiah-hadiah itu pada Arsen. Jelas saja, bagaimana jika benda-benda itu terlihat melayang di udara jika Novian yang memegangnya. Untung saja tempat mereka parkir sedang sepi. Bisa-bisa mobil mereka dikira dikendarai oleh hantu. Mereka telah bertukar identitasnya kembali. Lagipula ini sudah beberapa hari sejak malam pertama mereka secara tidak sengaja bertukar jiwa itu.
Arsen berjalan mengikuti Novian yang tengah melangkahkan kakinya lurus kedepan. Seolah-olah sudah hafal dengan jalan halaman panti ini.
Sudah lama sejak panti ini berdiri, tapi tidak kesan apapun di benak Arsen. Karena dia tidak pernah pergi ke yayasan seperti panti asuhan. Apalagi panti ini.
Sejak dirinya datang kesini, terlihat beberapa perubahan dengan kota ini. Memang tidak banyak perubahan yang terjadi. Tapi beberapa teknologi canggih kini telah mendominasi disini. Saat sibuk melihat-lihat panti ini dia tidka sadar bahwa Novian telah membawanya ke taman. Tanpa sadar banyak anak-anak yang telah menabrak kakinya dan memeluknya. Arsen yang kaget sontak langsung melihat ke bawah.
"Kak Vian kenapa lama tidak ke sini? Kami sudah rindu sekali dengan Kak Vian." Ucap anak kecil yang berusia sekitar 6 tahun. Memeluk paha Novian-Arsen. Arsen menoleh ka arah Novian yang sudah berada di sampingnya. Herannya Novian hanya diam saja. Malah berjalan di kursi taman yang berjarak sekitar 5 meter darinya. Sebuah lengkungan di matanya membuat sedikit senyuman terukir di bibirnya. Mengerjai Arsen cukup lucu baginya.
Arsen yang melihat Novian tengah berpangku tangan sedikit mencebikkan bibirnya. "Uhmmm maaf ya, Kak Vian beberapa hari ini sibuk dengan pekerjaan kakak." Arsen menunduk sembari mengusap pucuk kepala anak kecil di yang memeluk pahanya. Arsen memang jarang berhubungan langsung atau bermain dengan anak kecil. Namun sikapnya sangat penyayang. Jadi dia bisa dengan mudah berinteraksi dengan mereka.
Beberapa anak yang lain hanya berdiri dan mengelilinginya. Namun, ada satu anak kecil laki-laki yang duduk di ayunan sana tanpa memperdulikan kedatangan Arsen.
__ADS_1
"Lihat Kak Vian bawa apa buat kalian?" Arsen tersenyum dan mengangkat kedua tangannya yang sedang membawa beberapa paper bag. Anak-anak di bawahnya mendongak ke atas dan tersenyum kegirangan. Akhirnya mereka semua sibuk dengan mainan masing-masing. Merasa dirinya sudah aman dia menoleh ke kursi samping dimana Novian tadi duduk. Berniat untuk menghampirinya. Namun pria itu sudah tidak ada di tempatnya. Matanya menyapu taman dan melihat Novian tengah berdiri di samping anak kecil yang sedang sendirian. Mengayunkan ayunannya dengan perlahan sambil menatap lurus kedepan.
Arsen menghampirinya. "Kenapa dia?" Dirinya sudah berdiri di samping Novian. Entah anak itu menyadari keberadaanya atau tidak, dia tetap menatap lurus ke depan. Dilihat dari tingginya, perkiraan Arsen terhadap anak ini mungkin berusia 5 tahun. Hampir sama dengan anak-anak yang lain.
Arsen mencoba memegang bahu anak kecil itu, tapi dia tetap tidak menoleh pada Arsen. "Lihat, Kakak bawa apa?" Arsen mengangkat tangannya yang masih memegang satu paper bag. Namun anak itu masih tidak bergeming. Bahkan dengan wajah yang di tekuk tanda bahwa anak itu sedang marah.
"Sudahlah, dia sedang marah. Mungkin karena aku beberapa hari ini bahkan lebih dari tiga minggu tidak kesini jadi dia marah." Novian tiba-tiba membuka suara. Sambil menatap anak kecil itu.
Arsen melihat bocah kecil itu. Lalu dia duduk di ayunan sebelahnya. Melihat kearahnya lalu berkata, "Ohh jadi pangeran kecil ini sedang marah?" Ucapannya di abaikan. Miris.
"Dia Arka. Panggil dia Arka." Novian membuka suara lagi.
"Ohh jadi Pangeran Kecil Arka ini benar-benar marah sama Kak Vian. Baiklah tidak masalah." Novian melotot mendengar perkataan Arsen. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu. Dia berniat membujuk atau semakin membuat Arka marah.
"Sebenarnya Kak Vian sangat sibuk dengan pekerjaan Kakak. Tapi ketahuilah kakak cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan kakak hari ini karena teringat Arka. Makanya kakak disini sekarang. Dan lihat, apa yang kakak bawa buat Arka." Arka sepertinya sedikit bergeming. Namun Arsen dan Novian tidak menyangka bahwa Arka akan beridiri dan langsung memeluk Arsen. Ternyata bujukannya yang tidka berkualitas ini juga berguna.
"Arka sangat merindukan Kak Vian huuhuuu." Ternyata Arka menangis di pelukan Arsen. Arsen yang merasakan pelukan erat dari Arka membalas pelukannya sambil menepuk-nepuk punggung Arka. Pelukan itu sangat erat terlihat Arka tidak mau melepaskan pelukannya.
"Diantara yang lain, Arka adalah sosok yang paling menyendiri. Dirinya jarang bermain dengan yang lain. Maka dari itu setiap aku kesini aku selalu menghiburnya dan menemaninya agar dia sedikit ceria. Dia adalah anak yang malang, baru berusia dua bulan dia sudah berada di depan gerbang panti menangis di tengah malam." Novian sebentar menghembuskan nafasnya.
Arsen mengusap-usap punggun Arka selama mendengarkan cerita Novian. Arka yang malang, baru berusia dua bulan saja dia sudah di terlantarkan oleh orang tuanya.
Merasa tidak ada pergerakan lagi pada Arka. Nafasnya teratur di dalam pelukan Arsen. "Arka sepertinya sudah tertidur."
__ADS_1
"Ya sudah, ayo bawa ke dalam."