
Arsen telah memutuskan untuk menjadi Novian. Lagipula jiwa tubuh ini entah kemana. Dia akan membiasakan dirinya dengan sebutan Novian mulai saat ini.
"Inget Sen, kamu adalah Novian. Ya, Novian Bagaskara. Ya aku Novian. Aku Novian. Aku Novian." Berkali-kali Arsen melafalkan kalimat itu untuk mensugesti dirinya sendiri bahwa dia adalah Novian.
Hari ini adalah kepulangan Arsen--ah tidak, Novian dari rumah sakit. Luna juga sehabis membereskan barang-barang Novian, dia mengurus surat kepulangan Novian di administrasi rumah sakit.
Sembari menunggu Luna, Arsen pun mengutak-atik ponsel Novian. Kali aja dia bisa menemukan sesuatu tentang kejadian ini. Namun percuma saja, di ponsel Novian tidak ada hal penting lainnya. Bahkan di galeri pun tidak ada satupun foto nya disana, hanya berisikan foto-foto lingkungan, pemandangan alam, hewan, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pekerjaannya. Lalu dia membuka media sosial Novian dimana disana dia hanya menemukan rentetan pesan dari wanita-wanita yang menggoda Novian. Mulai dari mengajak kenalan, jalan, diner, hingga hs. Tapi tidak ada satupun pesan dari wanita-wanita itu yang di gubris.
"Wah, ternyata Novian ini lumayan menarik kaum wanita ya. Tidak heran sih, wajahnya saja sudah maskulin seperti ini, apalagi udah sukses. Tapi sepertinya dia terlalu dingin, ckckck."
Belum puas rasa penasarannya mengutak-atik ponsel Novian, Arsen mengambil tas ransel di meja sampingnya. Namun belum sempat dia mmebuka tas tersebut, pintu terbuka dan menampilkan dua sosok pemuda tampan. Di sebelah kanannya seorang pemuda maskulin berjas rapi khas seperti pekerja kantoran, dan pemuda di sebelah kanannya hanya mengenakan kemeja dan celana panjang biasa, namun hal itu tidak mengurangi wajah tampannya. Di belakang kedua pemuda itu disusul oleh Luna.
Arsen dapat menebak bahwa kedua pemuda itu adalah sahabatnya. Mereka menghampiri Arsen dengan wajah sumringah.
"Ah bos, bagaima-- akh." Ucapan pemuda berjas itu terpotong saat menyapa Arsen. Arsen hanya menatapnya bingung. Pemuda itu menoleh ke arah Ryan yang telah menendang tulang keringnya, sambil memberikan kode.
"A-aa-aa iya...hai bos, kenalin aku Zacky, wakilmu di kantor dan kita sudah bersahabat sejak SMA." Hal itulah yang membuat Ryan menendang Zacky. Pasalnya Luna sudah menjelaskan sebelumnya kalau Novian amnesia, tapi tetap saja mulut bar-bar nya itu langsung nyerocos aja. Sungguh tidak sesuai dengan penampilannya.
Arsen hanya tersenyum dan mengangguk mendengar penuturan Zacky. Dia juga tidak tau harus berkata apa lagi, ini pertama kalinya dia bertemu sahabat dari pemilik tubuh ini. Lalu dia menoleh ke pemuda sebelah Zacky. "Dan aku Ryan, sahabatmu juga." Ryan tersenyum ke arah Arsen, dia senang akhirnya sahabat nya sudah sembuh.
"Eh, setahuku kecelakaan bos tidak terlalu parah, tapi kenapa sampai amnesia?" Zacky berbisik pelan di samping Luna.
"Hsstt ga parah gundulmu, buktinya dia ga sadar dua hari. Terus liat tuh kepalanya, kepalanya luka sampe ke dalam juga." Zacky mengangguk mengerti apa yang dijelaskan Ryan. Sepertinya Zacky adalah tipe orang yang banyak bicara, berbeda dengan Novian dan Ryan.
"Oh iya bos, kau tidak perlu khawatir tentang pekerjaan di kantor. Aku sudah mengurusnya, dan aku sudah mengajukan cuti mu ke atasan selama satu minggu. Cukuplah untukmu beristirahat, ya ngga Yan?" Nah kan, benar kalau Zacky ini banyak bicara. Dia saja berbicara sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ryan, membuat Ryan memutar bola matanya malas. Luna hanya tergelak geli melihat tingkah sahabat Novian itu.
"Kau kan akan pulang hari ini Nov, jadi biarkan kami berdua mengantarmu pulang oke." Arsen tersenyum menanggapi perkataan Zacky. Beruntung Novian memiliki mereka yang selalu ada untuknya. Setidaknya 10 tahun Novian, dia tidak sendirian.
Akhirnya mereka bertiga mengantar Novian ke rumahnya setelah mereka sibuk mendengarkan omong kosong Zacky. Bahkan selama perjalanan pun, Zacky tidak henti-hentinya berbicara, bahkan sering kali mengganggu Ryan hingga mereka berdua beradu mulut. Arsen dan Luna pun tertawa geli melihat tingkah sahabatnya.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di pelataran sebuh rumah minimalis dengan dua lantai. Arsen yakini bahwa itu adalah rumah Novian. Terlihat dari apa yang dikatakan Zacky bahwa mereka telah sampai. Arsen keluar dari mobilnya dengan tatapan takjub melihat rumah di depannya. Dia tidak menyangka, seorang pemuda yang saat menginjak umur 16 tahun hidup sendiri mampu mempunyai rumah sederhana seperti ini.
Mereka berempat akhirnya masuk ke dalam rumah. Arsen tidak menjadi terheran-heran lagi, pasalnya di rumah tersebut saat memasuki lantai bawah nuansanya hanya berwarna putih dan abu-abu saja seperti tak bernyawa karena tidak ada apa-apa lagi selain meja dan sofa, serta beberapa gantungan figura. Tapi tidak ada satupun foto Novian, ckckck Novian ini tidak tau caranya menikmati. Di sana hanya terdapat satu kamar dan ruang tamu. Lanjut ke lantai atas, hanya terdapat satu kamar, yaitu milik Novian sendiri.
"Baiklah Nov, ini adalah kamarmu. Kamu bisa beristirahat disini, jika ingin apa-apa panggil kami. Kami tidak akan pulang dulu, kami akan di bawah." Jelas Ryan kepada Novian dan diangguki oleh Arsen.
"Aku akan membuatkan kalian jus." Luna keluar untuk membuat minuman di dapur.
Tersisa lah mereka bertiga di kamar Novian. Ryan duduk di tempat tidur Novian, berbeda dengan Zacky yang masih berdiri menatap Novian.
__ADS_1
"Uhmm Nov, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Kalau bisa kau jangan terlalu dekat dengan Luna. Aku tau kau tidak ingat apa-apa, tapi perlahan kau akan ingat apa yang membuatmu menjauhinya." Zacky mengatakan itu sangat serius. Arsen menatap Ryan pun ternyata juga sama, Ryan mengangguk menanggapi pernyataan Zacky.
"Tapi sepertinya Luna sangat perhatian padaku. Dia selalu merawat dan menjagaku di rumah sakit. Setidaknya selama aku tidak sadarkan diri, menurut para perawat Luna sangat menjagaku." Setidaknya yang Arsen dengar dari para perawat dan suster di rumah sakit itu benar menurut apa yang dia lihat.
"Yaa karena itu bodoh." Kini Ryan angkat bicara.
"Hah?" Arsen bingung. Pasalnya Luna memang sangat perhatian pada Novian.
"Ah sudahlah, kau masih bodoh, nanti juga akan mengerti." Zacky keluar dari kamar Novian. Disusul Ryan yang mengekorinya. Arsen makin bego dan bingung dengan ucapan kedua sahabat Novian itu. Ah bodoh lah dengan itu semua. Lebih baik Arsen istirahat. Biarkan saja tiga orang itu di rumahnya nanti juga akan pulang sendiri.
"Oh iya, mobilmu sedang di bengkel Nov, besok akan ku antaran kemari, dadahh." Muka Zacky muncul di samping pintu. Ah anak itu, dia kembali hanya untuk mengatakan keadaan mobilnya saja. Lalu Zacky turun dan Arsen menutup pintunya, kemudian berjalan kearah tempat tidur.
Arsen duduk di tempat tidur. Melihat sekeliling kamar dia sedikit takjub dengan isi kamar Novian. Disana terdapat sofa dan meja kerja, lalu lemari berukuran sedang, kemudian ada kamar mandi di samping lemari itu. Dia melihat tas ransel milik Novian yang tak sempat dia buka di rumah sakit tadi. Dia membukanya, di dalamnya hanya terdapat charger, power bank, beberapa dokumen, dan cermin. Cermin? Seorang pemuda dewasa membawa cermin wanita di tas nya? Apalagi bentuk cermin ini berbentuk bulat dan yah sedikit usang. Untuk apa Novian memiliki cermin usang ini, padahal dia bisa saja membeli yang baru. Kemudian Arsen ingat cerita Luna bahwa Novian pergi dari rumahnya juga membawa barang milik ibunya, mungkin saja cermin ini juga peninggalan ibunya. Arsen menaruh barang-barang tersebut di mejanya.
Sementara di ruang tamu Novian, kedua sahabatnya sudah duduk santai di sofanya. Luna menghampiri mereka sembari membawa tiga gelas jus di tangannya. Zacky yang melihat itu langsung saja menyambar satu gelas jus nya dengan alasan haus. Ryan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya ini.
"Aku akan membawakan jus ini untuk Novian." Luna menaruh satu gelas jus untuk Ryan dan dia hendak pergi ke kamar Novian tapi di cegah dengan Ryan.
"Aku harap, kamu jangan terlalu dekat dengan Novian. Meskipun dia amnesia bukan berarti kamu bisa memanfaatkan kesempatan ini Lun." Ryan menatap Luna dengan serius, sementara dengan Zacky? Anak itu hanya mendengarkan saja sambil menikmati jus nya, lagipula apa yang di katakan Ryan itu benar.
"Aku tau, tenang saja aku hanya ingin menjaganya. Aku tidak bermaksud apapun padanya. Lagi pula aku hanya menganggap nya teman saja tidak lebih. Aku juga merindukan masa kecilku dengan Novian, dan Novian yang dulunya ceria." Luna mengatakan itu sambil menatap Zacky dan Ryan bergantian. Lalu dia hendak melanjutkan langkahnya, tapi terhenti oleh suara Zacky.
"Dia ceria sebelum kematian mendiang ibunya. Tapi di balik perubahan sikapnya yang menjadi tertutup dan dingin itu, kau juga ikut andil di dalamnya Luna." Ucapan Zacky berhasil membuat Luna terdiam. Ucapan Zacky memang tidak salah. Di balik perubahan sikap Novian Luna juga ikut andil di dalamnya.
"Apa kau belum cukup minum satu gelas bodoh?" Ryan melihat itu gemas dengan tingkah sahabatnya ini. Bagaimana bisa dia meminum dua gelas jus sekaligus, sehaus itukah dia? Sedangkan Zacky hanya nyengir dengan tampang watados. Bisa-bisanya disaat serius seperti ini dia bertingkah aneh.
"Lagi pula Novian sedang istirahat, sudahlah tidak perlu mengganggunya. Lebih baik kita istirahat disini. Lun bergabunglah bersama kami, mungkin kita bisa memainkan suatu permainan." Zacky bertingkah seoerti anak kecil. Sungguh di usianya yang sudah hampir menginjak kepala tiga itu masih saja kekanak-kanakan. Ryan hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Uhm tidak terimakasih. Lebih baik aku ke kantor untuk urusan pekerjaanku. Kalian lanjutkan saja. Aku akan kembali kesini lagi besok." Luna segera mengambil tas nya lalu pergi dari rumah Novian. Sepertinya dia sadar bahwa jika Novian ingat kembali atas apa yang telah dia lakukan tujuh tahun yang lalu, mungkin Novian tidak akan membiarkannya menjaga Novian di rumah sakit.
"Eh, kenapa kesannya kita seperti tidak tau berterimakasih ya. Padahal dia yang menggantikan kita menjaga Novian di rumah sakit saat kita disibukkan pekerjaan. Dia juga terlihat benar-benar tulus pada Novian."
"Jika dia memang tulus, maka biarkan saja tidak apa-apa. Lagi pula dia juga cukup menyakiti Novian dulu. Kurasa dia sudah berubah."
"Wah Yan, kali ini kau memihakku."
"Aku tidak memihakmu bodoh, ini hanya kenyataannya saja. Biarkan saja Luna sering-sering kemari mengunjungi Novian. Siapa tahu nanti setelah Novian sembuh, dia bisa melupakan masa lalunya yang buruk dengan Luna. Lagi pula kejadiannya sudah cukup lama, ku yakin Novian juga bisa segera melupakannya."
"Kelihatannya Luna memang benar-benar berubah Yan."
__ADS_1
"Ku katakan tadi juga apa bodoh." Ryan sangat gemas dengan Zacky ini. Dia menyentil dahi Zacky dengan gemas. Zacky tidak menerima apa yang dilakukan Ryan akhirnya dia membalas perlakuan Ryan. Mereka terus saja saling sentil dan berakhir bergurau dan bercanda bersama.
Berbeda dengan Arsen, sedari tadi dia sibuk mencari beberapa hal yang mungkin bisa membantunya. Tapi nihil dia tidka menemukan apapun yang menurutnya bisa membantunya. Di meja kerja Novian juga tidak apa-apa selain berkas kerja. Kemudian dia membuka laci meja tersebut, tidak apa-apa juga selain sebuah buku harian. Mungkin itu milik Novian.
Arsen membuka buku tersebut, di dalamnya hanya terdapat cerita-cerita nya tentang dia dan ibunya. Tidak disangka seorang lekaki cuek itu juga punya sifat feminim seperti perempuan yang bercerita pada buku diary. Tidak ada lagi isi di dalamnya yang bisa mengalihkan Arsen. Dia kembali menaruh buku diary itu di laci lalu berjalan menuju tempat tidurnya. Namun saat dia ingin mengambil ponsel di mejanya tanpa sengaja dia menyenggol barang-barang yang tadi dia letakkan secara acal di mejanya.
"Ck akh orang sialan mana lagi yang berulah?!" Terdengar suara laki-laki disana. Tapi saat Arsen mencari sumber suara dia tidak melihat siapapun di sekelilingnya. Dia berpikir bahwa itu mungkin Zacky yang menjahilinya, tapi suara itu berbeda. Dia mulai berpikiran aneh-aneh tentang kamar Novian ini. Apakah itu suara hantu, oh ayolah Arsen hanya ingin kembali di kehidupannya yang sebenarnya.
"Hey bodoh, apa kau mendengarku. Aku disini, dibawah. Lihatlah!"
Sekali lagi Arsen mendengar suara itu lalu melihat kebawah sana. Hanya beberapa barang yang di senggol tadi. Tapi melihat ke arah cermin usang itu sepertinya ada yang aneh disana. Dia seperti melihat bayangan yang bergerak di dalam cermin tersebut.
Arsen mengambil cermin itu lalu dia melihat bayangannya di dalam sana. Tentu saja jelas wajah dari pemilik tubuh ini. Tapi yang membuatnya aneh, di dalam cermin itu wajahnya tidak bergerak sama sekali, tidak mengikuti bayangannya. Padahal dia melakukan beberapa gerakan saat melihat cermin itu.
"Hey, apa yang kau pikirkan? Ini aku Novian, pemilik dari tubuh yang kau diami itu. Apa yang kau lakukan dengan tubuhku?" Arsen semakin cengo dengan pertanyaan yang Novian lontarkan.
"Serius? Justru aku yang bertanya padamu. Kenapa aku bisa kemari, bahkan memasuki tubuhmu. Lalu kau, apa yang kau lakukan di dalam cermin? Ilmu sihir apa yang kau mainkan?"
"Bagaimana aku tau, aku juga tidak mengerti bagaimana aku bisa memasuki cermin sialan ini. Saat perjalanan ke kantor tempatku bekerja aku memungut cermin ini dijalan. Lalu, saat aku dalam perjalanan pulang aku mengalami kecelakaan. Bangun-bangun aku sudah berada disini. Aku sudah berkali-kali berteriak untuk memberitahu Luna dirumah sakit saat tubuhku itu sedang tidak sadarkan diri. Aku juga berusaha memberi tahu Ryan dan Zacky tapi mereka selertinya tidak mendengarku, padahal jelas-jelas mereka yang membawa tas ranselku. Sepertinya hanya kau yang bisa melihat dan mendengarku disini." Ucap Novian panjang lebar membuat Arsen semakin melongo. Dia dibuat kaget dengan dua hal sekaligus. Pertama dengan kehadiran pemilik tubuhnya yang berada di dalam cermin. Lalu kedua, perkataan Novian yang sangat panjang membuatnya berpikir dua kali bahwa Novian adalah seorang lelaki cuek dan dingin.
"Hey, apa yang kau pikirkan?" Arsen tersadar dengan perkataan Novian.
"Ah tidak-tidak, banyak pikiran di kepalaku tapi itu nanti saja, yang jelas sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya kita kembali."
"Aku tidak mengerti dengan semua ini."
Arsen memikirkan beberapa kemungkinan yang mungkin. "Bagaiman kalau kita bertabrakan?"
Ide gila Arsen membuat Novian melongo. Tapi menurut Novian ide itu mungkin berhasil. Jadi Arsen berusaha memukulkan cerimin itu di kepalanya. Tapi tidak terjadi apa-apa pada mereka. Mereka mulai memikirkan ide-ide konyol. Seperti Arsen menabrak tembok sambil memeganh cermin. Mencium cermin itu walaupun dengan perasaan jijik karena mereka berdua adalah sesama jenis. Mencoba fokus dan melatih batin yang tidak tau mantra apapun. Tapi percuma saja, semua yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil apapun.
"Ah, sudahlah aku lelah Nov. Apalagi tubuhmu ini masih sedikit sakit-sakitan setelah kecelakaan. Kita bisa memikirkan caranya nanti, biarkan aku istirahat dulu."
Arsen merebahkan dirinya di tempat tidur. Sungguh, hal ini melelahkan baginya. Dia lelah fisik dan pikiran, ini lebih melelahkan daripada memikirkan plot cerita saat merevisi tulisan penulisnya.
"Hey hey apa yang kau lakukan? Bangunlah, ayo pikirkan cara lain."
"Ah diamlah, aku sedang pusing. Kita istirahat saja dulu. Lagi pula menurut ku ini tidak semudah yang kau pikirkan. Aku saja berasal dari tahun yang berbeda Nov. Lebih baik kita saling memperkenalkan diri saja dulu, menurutku saling mengenal bisa membuat kita lebih mudah berkomunikasi."
"Memang kau berasal dari tahun berapa?"
__ADS_1
"Sungguh itu yang kau tanyakan? Bukankah etika perkenalkan itu di mulai dari sebuah nama?" Novian hanya memutar bola matanya malas. Sungguh, ini sudah di luar nalar. Terlebih lagi, sejak kapan dia suka berbicara panjang lebar. Hey sungguh ini bukan Novian yang dingin dan malas bicara.
"Kau sedang berbicara dengan siapa Nov?"