MIRACLE (Next Di Fizzo)

MIRACLE (Next Di Fizzo)
EPISODE XIII


__ADS_3

Arka tertidur nyenyak di dalam pelukan Arsen. Mungkin saja anak ini kelelahan. Arsen menggendongnya dan membawanya ke dalam panti di bimbing oleh Novian. Begitu mereka berdua sampai di depan pintu, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam panti. Terlihat dari tampilannya wanita itu kira-kira berumur 50 tahun-an, tebakan Arsen. Wanita itu tersenyum dan berhenti di depan Arsen.


"Novian...Apa kabar nak? Sudah lama kamu tidak kemari, apa semuanya baik-baik saja?"


Arsen yang mendengar pertanyaan dari wanita itu melirik Novian di sampingnya, seolah meminta kejelasan. Novian yang peka pun kemudian berkata, "Dia ibu panti, Bu Narmada."


Arsen ternsenyum dan mengangguk. Dirinya yang sibuk menggendong Arka dengan kedua tangannya memindahkan semua beban Arka ke tangan kirinya, dan tangan kanannya dia buat untuk bersalaman dengan Bu Narmada. "Aku baik-baik saja bu. Hanya saja belakang ini pekerjaanku di kantor sangat padat sehingga tidak kemari selama tiga minggu terakhir ini."


Bu Narmada tersenyum, "Syukurlah kalau begitu." Matanya melihat Arka yang tengah tertidur di gendongan Arsen tersenyum. Kemudian dia berkata, "Arka sangat merindukanmu. Selalu bertanya kapan kau akan datang. Bahkan dirinya terkadang tidak mau makan. Tapi selalu ku bujuk bahwa kau akan datang nanti. Anak kecil mempercayai apapun. Aku kasihan padanya."


Arsen dan Novian yang mendengr itu pun sedikit kaget. Arsen mengelus punggung Arka dengan sayang.


"Baiklah dia sudah tertidur. Bawalah ke kamarnya, aku akan keluar sebentar." Setelah mengatakan itu Bu Narmada tersenyum ramah dan keluar. Hal itu di balas anggukan dan senyuman oleh Arsen.


Kemudian Arsen membawa Arka ke kamarnya di bimbing Novian. Novian sudah hafal dengan tempat ini. Langkah kakinya seperti tidak ada halangan untuk melangkah ke depan berbelok dan berbelok. Hingga akhirnya sampai di depan kamar. Begitu mereka masuk, Arsen melihat bahwa kamar ini sedikit luas. Beberapa tempat tidur susun berjejer rapi. Novian melangkahkan kakinya ke tempat tidur di paling belakang di ikuti oleh Arsen. Novian menyuruh Arsen untuk meletakkan Arka di tempat tidurnya. Tempat tidur Arka tidak seperti yang lain. Tempat tidur biasa tanpa tempat tidur lain di atasnya. Sebut saja solo.


Setelah menidurkan Arka dan menyelimutinya. Arsen melihat ke arah Novian yang tengah duduk di tempat tidur anak lain di samping Arka. Dia bertanya, "Kau tidak besar disini, tapi kau sering kemari?"


Novian menatapnya dengan diam seperkian detik, lalu menjawabnya, "Ibuku yang di besarkan disini. Ibuku sering kesini bahkan setelah menikah. Sejak kecil aku sering dibawa kesini oleh ibuku."


Arsen yang mendengar itu mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Lalu dia ingat satu hal. Dengan mengumpulkan sedikit keberanian berhati-hati dia lontarkan sebuah pertanyaan. "Jika ibumu dan panti ini sangat dekat. Lalu mengapa sepeninggalan beliau kau tidak kemari?"


Novian terdiam cukup lama. Menyadari Arsen sepertinya salah bicara, dia merapatkan bibirnya.


"Maaf, tidak perlu kau jawab juga tidak apa-apa."

__ADS_1


"Aku tidak ingin merepotkan Bu Narmada. Terlebih tidak ingin menggunakan hubungan Ibuku dengan panti ini untuk tinggal disini. Apalagi dimata publik statusku mempunyai seorang ayah. Sebenarnya begitu Bu Narmada mendengar kematian ibuku dia mencariku dan menyarankanku untuk tinggal disini bersamanya. Tapi aku tidak mau merepotkannya jadi aku mengontrak dan bekerja sampingan. Selain itu Bu Narmada sering mengirimiku uang, walaupun aku tidak mau tapi dia selalu ada cara agar aku menerimanya."


Arsen tak menyangka bahwa Novian akan seterbuka ini padanya. Respon Novian dan jawabannya di luar dugaan Arsen. Padahal Arsen sudah siap dengan tatapan tajam Novian dan kata-kata dinginnya. Tapi ini?


"Kau hebat, jika aku di posisimu belum tentu aku sekuat dirimu. Tapi apa kau tidak berencana untuk berdamai dengan ayahmu? Lagipula ini sudah 10 tahun Nov." Arsen bertanya padanya. Mungkin ini terlalu privasi dan terlihat terlalu ikut campur urusan orang lain. Tapi mulut Arsen langsung saja menanyakan apa yang isi hatinya katakan.


Begitu mendengar kata 'ayah' membuat perubahan ekspresi di wajah Novian.


Saat ini suasana dapur sedikit horor. Ryan menatap adiknya penuh dengan tatapan intimidasi. Snagat menakutkan. Seolah-olah mata Ryan hampir keluar.


"Sekarang katakan, Iza. Kenapa kau datang tiba-tiba?!"


Iza melotot tidak percaya dengan pertanyaan yang di lontarkan kakaknya itu. "Apa kau sungguh kakakku? Apa-apaan pertanyaamu? Seolah tidak senang melihatku disini, apa kau tidak merindukanku?"


Mendengar Eriza yang berceloteh karena pertanyaan konyol Ryan membuat Zacky yang sedari tadi diam terkikik geli. Dia bertindak seolah-olah pemandangan di depannya ini adalah sebuah drama komedia antara adik dan kakak. Kikikan Zacky terdengar di telinga Ryan membuatnya menoleh.


Zacky memilih diam dna menikmati makanannya. Dia membiarkan kakak beradik di depannya saling melepaskan rindu.


"Sttt kak sabar tenang... pertanyaanmu begitu banyak. Akan ku jawab satu persatu. Pertama, aku kemari untuk melanjutkan sekolahku disini. Kedua, kenapa aku bersama Kak Zacky karena aku tidak ingin kau tau bahwa aku akan kemari jadi sebelum berangkat aku sudah menghubungi Kak Zacky. Ketiga, aku tidak menghubungi karena takut kau melarangku. Keempat, Ayah Bunda tidak tau aku kemari." Setelah menjawab secara detail dan panjang lebar Eriza tersenyum dan minum. Mengambil nafas sebanyak-banyaknya karena dia menjawabnya dengan cepat. Zacky memberikan senyuman dan acungan jempol ke arah Eriza. "Hebat."


"Tunggu, jadi Ayah Bunda tidak tau kau kemari?" Ryan sepertinya terkoneksi dengan rentetan jawaban Eriza dan merasa ada yang mengganggu pikirannya.


Eriza memutar bola matanya dan menjawab dengan malas, "Itu karena kau. Bukannya meneruskan bisnis keluarga malah mendirikan restoran. Jadi Ayah menuruhku belajar bisnis di Belanda untuk membantunya. Tapi aku tidak mau, jadi aku beralasan pergi liburan dan diam-diam kemari." Ryan hanya geleng-geleng kepala.


Eriza menyantap makanannya dna merasa bahwa masakan kakaknya benar-benar enak. "Hmm pantas saja kau mendirikan restoran. Masakan Kakak sangat enak."

__ADS_1


"Tidak perlu menyuapku dengan pujian. Aku akan bilang pada Bunda." Ryan mengambil ponselnya dan bersiap untuk menelfon sang Bunda. Tapi tangannya di pegang oleh sang adik. Menatapnya penuh harap agar kakaknya mengurungkan niatnya.


"Kakak....Ayolah ku mohon. Aku tidak menyukai dunia bisnis itu. Sama seperti Kakak yang juga tidak menyukai bisnis kan, Kakak malah mendirikan usaha sendiri. Ayolah kak mengertilah yayaya..." Eriza mengedip-ngedipkan matanya menampilkan puppy eyes andalannya. Dia tau bahwa kakanya sangat menyayanginya, maka dia akan dengan mudah lukuh dengan rengekan Eriza.


Ryan yang lengangnya di guncang-guncang oleh sang adik hanya menghela nafasnya. Melihat wajah adiknya ini rasanya sungguh ingin melemparnya ke tepi laut. Akhirnya dia menaruh kembali ponselnya.


"Hmm baiklah jika begitu. Tapi kau harus belajar dengan benar disini mengerti?"


"Uhm." Eriza mengangguk mantap. Melihat Zacky di depannya dan tersenyum penuh kemenangan. Keduanya ber tos ria di hadapan Ryan.


Kedekatan Eriza dan Zacky sudah terjalin sejak Ryan bertemu Zacky di bangku SMA. Saat Zacky bermain di rumah Ryan, Eriza secara spontan mengakrabkan diri pada Zacky. Seolah-olah dia mempunyai dua kakak laki-laki yang menjaganya. Namun hal itu membuatkannya berpisah jauh dengan kedua kakaknya karena ikut orang tuanya ke Belanda. Tapi sekarang dia sudah kembali dan bersama kedua kakak laki-lakinya lagi.


Bukan berarti kedekatan antara Eriza dan Zacky melebihi sebuah pertemanan dan kasih sayang kakak adik seperti Ryan dan Eriza. Hubungan mereka murni pertemanan seperti Ryan dan Zacky. Eriza memang menyayangi kakaknya sehingga selalu menempel padanya. Maka dari itulah dia dan Zacky juga semakin lengket seperti kakak beradik.


"Sudah kalian berdua. Oiya, lalu kau akan berencana melanjutkan dimana sekolahmu?" Ryan menyakannya pada Eriza.


"Uhm di sekolah kakak yang dulu." Eriza menjawabnya dengan mantap.


"Baiklah, besok kita kesana untuk mengurus kepindahan mu."


"Ah tidak-tidak jangan besok. Beri aku istirahat seminggu dulu. Perjalananku sungguh melelahkan." Raut wajah Eriza dibuat melas mengharao belas kasihan. Dia merentangkan kedua tangannya setelah itu dia berdiri dan berlari secepat kilat ke lantai dua. Begitu sampai di tangga, dia berhenti dan melihat ke arah Ryan, "Kakak baik deh." Setelah mengatakannya Eriza memberi flying kiss pada Ryan dan melanjutkan larinya menuju kamarnya. Dia sudah sangat rindu kasur empuknya selama 5 tahun ini.


Tinggallah hanya Ryan dan Zacky di meja makan ini. Mereka berdua terdiam cukup lama. Sedari tadi Zacky tidak selesai menikmati makanannya. Dia sangat menikmati momen komedi di depannya sedari tadi.


"Hei Ky, kenapa kau menurut pada bocah itu. Kenapa kau tidak menghubungiku hm?"

__ADS_1


"Aku hanya menurutinya. Lagipula Iza menghubungiku kemarin. Katanya tidak ingin kau tau, jadi aku diam saja." Zacky mengendikkan bahunya seolah-olah dia tidak bersalah. Tapi memang dia tidak bersalah. Dia hanya menuruti keinginan adik temannya ini.


__ADS_2