
Arsen tengah duduk di sofa ruang kerjanya sembari memainkan game Pou dengan khidmat. Dia memainkan fitur game bermain skateboard. Namun ada sedikit hawa intimidasi yang mengganggunya. Dia merasa sedang di perhatikan oleh seseorang di ruangan itu. Dia menjeda sebentar Pou-nya dan melihat pada pria yang tengah menatapnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Arsen dengan sedikit bingung.
Novian tetap menatapnya sedari tadi, dia duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan yang mengintimidasi. Sejak mereka sampai di kantor, Novian lah yang memeriksa dokumen-dokumen penting, sedangkan Arsen sibuk dengan ponselnya dan bermain fokus di sofa hingga lupa apa yang telah dia katakan pada Novian di rumah tadi pagi.
"Kau berhutang penjelasan." Jawab Novian dengan wajah yang datar.
Arsen mengingat-ingat hutang penjelasan yang mana?
Ah iya tadi pagi tentang Zacky dan Ryan. Dia lupa itu. Lagipula sejak tadi Novian hanya sibuk dengan berkas-berkasnya bukan? Ah akui saja ini memang Arsen yang pelupa.
"O-ohhh itu... Iya-iya maaf aku lupa." Arsen segera mematikan game Pou kesayangannya dan menaruh ponselnya di meja. Ponsel itu adalah milik Novian, tapi sejak di pakai Arsen ponselnya menjadi penuh dengan game. Novian berkali-kali memintanya tapi menurut Arsen sosok raga adalah pemilik sah nya. Ada-ada saja anak itu.
"Ah jadi begini, menurutku Zacky dan Ryan mengalami friendzone." Arsen menjeda ucapannya dan Novian yang mendengar itu hanya mengerutkan dahinya tapi dia masih tidak berkata apapun. Masih menunggu apa yang akan dikatakan Arsen selanjutnya.
"Selama beberapa hari ini sejak tingga bersama mereka, aku menyadari bahwa Zacky sangat memperhatikan Ryan. Tapi dia menutupinya dengan sikap kekanakannya. Entah dengan Ryan, aku tidak tahu bagaimana dengannya, dia tidak menyadarinya atau pura-pura tidak sadar saja. Pasalnya mereka sering beradu mulut. Apa kau tidak menyadari hal itu?" Arsen menjelaskannya dengan rinci. Novian yang mendengar itu juga semakin bingung.
"Tidak." Novian menggeleng menjawab pertanyaan Arsen. Dia memang tidak menyadari hal itu walaupun sudah berteman sejak lama.
"Apa mungkin di dalam pertemanan bisa timbul perasaan, terlebih lagi sesama jenis?" Novian bingung dengan apa yang telah Arsen jelaskan sedari tadi. Apa katanya? Zacky menaruh perasaan pada Ryan? Hey mereka berdua bersahabat bukan? Kenapa harus timbul perasaan?
Arsen yang mendengar pertanyaan Novian sedikit tercekat. Serius? Novian menanyakan perihal rasa? Sungguh batu pria itu. Pantas saja kisah cintanya tragis. Suka kok diam-diam ckck. Arsen geleng-geleng kepala.
"Hey balok kayu, zaman telah berubah. Apalagi sekarang peradaban telah maju dengan teknologi-teknologi canggih. Masalah cinta tidak memandang agama, status, gender, dan kasta. Misal menyukai segender masih ada cara untuk mendapatkan keturunan. Jadi hal itu sudah lumrah bodoh." Arsen menghembuskan nafasnya. Lelah dia dengan pemuda kayu di depannya ini.
"Ya aku mengerti, tapi mereka berdua teman bukan. Lalu kenapa Zacky..?
"Entahlah, alasan perasaan tiap orang kan beda-beda, kita tidak mungkin tahu isi hati mereka bukan?" Arsen mengendikkan bahunya.
"Aku tidak peduli. Pokoknya kita harus membuat mereka menyadari perasaan mereka masing-masing." Arsen mengucapkan itu sambil mengangkat tangannya di kepal dengan semangat dan tentu saja senyuman ceria di wajahnya.
Novian yang melihat itu sedikit terkejut lalu berkata, "Sebaiknya tidak perlu ikut campur urusan orang lain!"
"Mereka bukan orang lain, tapi mereka adalah sahabat mu, keluarga mu." Arsen mengatakannya dengan serius dan menatap manik mata milik Novian membuat sang empunya sedikit salah tingkah.
"Terserah mu saja." Setelah mengatakan itu Novian kembali sibuk melihat berkas-berkasnya. Sudahlah, dia diam saja lagipula apa yang dikatakan Arsen benar. Tidak ada salahnya membantu bukan?.
Selama ini yang selalu ada untuknya adalah kedua sahabatnya itu. Ryan dan Zacky telah ada dan menemani hidupnya hingga saat ini. Salah memang jika dia menyebut orang lain. Karena mereka sudah seperti keluarga. Bahkan saudara sendiri tidak akan sebaik mereka.
__ADS_1
Tok tok tok ~~~
Suara ketukan pintu terdengar menusuk pendengaran Novian dan Arsen. Mereka berdua menoleh ke arah samping pintu dan melihat layar yang menampilkan wajah sang pengetuk. Wajah seorang pemuda berkacamata dengan raut yang sedikit cupu menurutnya. Ah dia lebih cocok menjadi mahasiswa kupu-kupu menurut Arsen. Arsen tidak tahu siapa dia, yang dia tahu bahwa dia adalah salah satu karyawannya. Sedangkan Novian tahu siapa itu kemudian menyuruh Arsen untuk menyuruhnya masuk.
Pria itu pun masuk sambil membawa dokumen di tangannya. Dia yang melihat managernya duduk di sofa pun menghampiri dan berdiri di depannya.
Arsen yang melihat itu
"Pak, besok pers di hotel xxx akan di mulai, dan Eric yang bertanggung jawab untuk wawancara disana tidak bisa menghadirinya pak. Pagi ini saya mendapat surat bahwa dirinya sedang cuti sakit. Lalu, siapa yang akan menggantikan dia pak?"
Arsen yang mendengar itu masih diam dan melihat ke arah Novian. Biasanya masalah seperti ini tidak perlu sampai ke telinganya bukan. Lalu kenapa pemuda di depannya ini sampai memberitahukan hal yang sudah seharusnya di selesaikan sendiri?
"Rehan, dan dia. Akan ku suruh Zacky untuk bersama mereka berdua besok." Kata Novian sambil menunjuk karyawan yang tengah berdiri di hadapan Arsen. Arsen yang mendengarnya pun mengangguk mengerti dan mengcopy-paste ucapan Novian tadi. Lalu pemuda itu mengerti dan segera keluar dari ruangannya.
Novian kembali fokus pada berkas-berkasnya di depannya. Arsen memandangi wajah Novian ya g tengah fokus. Rahang yang kuat. Mata elang yang sangat tajam. Hidung yang mancung dengan tulangnya yang tinggi. Bibirnya yang tipis. Ah semua itu membuat Arsen kagum. Meskipun semua itu ada di tubuhnya saat ini. Tapi melihat jiwa pemiliknya dengan aksen dan karakter yang sesungguhnya itu adalah hal yang sangat berbeda. Bahkan tanpa sadar Arsen tersenyum memandang sosok pria jangkung di meja sana.
Novian yang merasa di perhatikan membuka suara, "Sudah puas pelecehannya?" Dia mengatakan nya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkasnya.
Arsen kaget dengan kata yang di gunakan Novian. Apa katanya tadi 'pelecehan'? Hey Arsen hanya memandanginya bukan melecehkannya. Sungguh kata-kata itu tidak cocok dan terlalu menuntut.
"Hey kata-kata mu tidak benar sama sekali. Aku tidak melecehkanmu, aku hanya melihat saja okey? Hanya melihat itu saja." Arsen memutarkan matanya. Nada judesnya sangat jelas bahwa dirinya tidak menerima kata tuduhan Novian.
Novian menghentikan acara membacanya dan menatap Arsen. "Oh baiklah. Koreksi lagi, lebih tepatnya memandangi. Benar?"
"Ah diamlah." Arsen salah tingkah. Dirinya langsung menyandarkan dirinya pada sandaran sofa dan mengambil ponselnya untuk melanjutkan game Pounya.
Novian yang melihat itu tak menghiraukannya lagi. Dia kembali fokus. Tanpa di sadari oleh siapapun Novian tersenyum tipis. Sangat tipis.
Berbeda dengan Ryan. Kini dia sedang sibuk di restorannya. Mengecek akun pengeluaran dan pemasukan duang konsumsi untuk kepentingan dapur. Memeriksa dengan teliti berbagai macam data bahan-bahan yang tercatat.
Dia memeriksa buku akun itu tidak seperti bos pada umumnya yang akan duduk di dalam ruangan dengan ditemani secangkir kopi. Tidak, Ryan berbeda dengan yang lain. Dia duduk di restorannya, meja paling pojok. Pakaian casual yang dia pakai dengan kaos biru dan celana panjang putih. Memakai sepatu sneaker putih. Dengan cake Mactha mix Choco yang tertata rapi dimeja bersama segelas Cold Mactha.
Pria penyuka Matcha itu tidak terlihat seperti pria dewasa yang tengah bekerja. Tapi lebih terlihat seperti remaja laki-laki yang baru saja menginjak masa pubertas di bangku kuliah. Tapi hal itu tidak mengurangi stylenya dan sifatnya di mata para wanita. Dia tetap terlihat keren dan yah cool. Tatapannya yang dingin membuat para wanita yang melihatnya mengurungkan diri untuk mendekatinya.
Seorang pria dengan setelan lengkap. Memakai jas berwarna navy dengan sepatu kulit hitam yang mengkilap. Dia berjalan ke arah dimana Ryan berada. Lalu dengan santainya pria itu duduk di depannya tanpa permisi kemudian meminum segelas Matcha miliknya.
Ryan yang melihat segelas matchanya di minum hingga tandas oleh oranh didepannya ini hanya menghelas nafas. "Setidaknya permisi dulu."
Pria di depannya ini hanya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. "Hehehe aku haus kawan."
__ADS_1
Ryan hanya memutar bola matanya malas. Setelahnya dia menyodorkan cake nya ke depan. Tanpa perlu basa-basi langsung diterima oleh sang empu dan dimakan olehnya.
"Kenapa kau kemari di jam kerja?"
"Oh ayolah...Aku hanya mampir, baru saja aku menyelesaikan tugas untuk mengawasi anak magang berlatih lapangan di pers." Dia menjeda sebentar kalimatnya. Lalu kalimat yang selanjutnya dia katakan mampu membuat Ryan melemparkan bolpoin ke arahnya.
"Sebenarnya aku merindukanmu."
"Cukup Zacky, leluconmu tidak membantu pekerjaanku. Lebih baik kau kembali saja. Kalau tidak Novian akan mencarimu." Ryan mengusir Zacky dari hadapannya dengan tangan yang di lambaikan seolah mengusir kucing dari halaman.
Ya pria itu Zacky. Dia seringkali menghampiri Ryan saat dia di restoran ataupun di cafe nya. Entah ada alat GPS apa pada anak itu sehingga tahu kebenarannya. Padahal sebelum datang Zacky tidak mengatakan apapun ataupun bertanya dimana keberadaan. Zacky tiba-tiba muncul seperti tamu tak di undang. Seperti kata pepatah, dia seperti jailangkung yang datang tak diundang dan pergi tak diantar.
Ryan sudah lelah dengan semua alasan yang di berikan anak itu. Dia selalu saja ada alasan di balik kedatangannya. Tapi satu hal yang tidak pernah berbeda setelah dia beralasan, yaitu "aku merindukanmu". Oh Dewi Fortuna, bagaimana bisa kau memiliki makhluk seperti dia. Tapi Ryan cukuo senang dengan Zacky. Baginya kejahilan temannya ini mampu mewarnai hari-hari kosongnya yang abu-abu.
"Ah lupakan saja pria tua itu. Lagipula dia selalu berdiam diri di ruangannya. Restorannya cukup ramai ya hari ini." Zacky melihat ke sekelilingnya. Walaupun restoran Ryan memang ramai setiap harinya, Zacky hanya mencari topik saja dengannya. Lagipula ramai tidaknya seperti tidak akan terpengaruh pada Ryan. Melihat kondisi keluarga mereka yang lumayan berada di kelas atas. Ya menurutnya begitu.
Tanpa sengaja matanya menangkap sosok wanita yang tengah bercengkrama dengan seorang laki-laki. Wanita itu mengenakan setelan kemeja dan sedikit tampilan wah, seperti model baru yang naik daun. Jarak meja mereka cukup dekat, sekitar berjarak lima meja pelanggan. Zacky mengenali wanita itu. Dia adalah Luna. Dengan setelan kerja Luna terlihat sedikit lebih dewasa.
"Yan, bukankah dia Luna. Mengapa dia disini bersama pria? Apakah itu pacarnya?"
"Aku sudah mengetahuinya. Lalu, tidak perlu ikut campur urusan orang lain mengerti!" Ryan menjawabnya sembati melihat buku akunnya. Dia sudah mengetahui bahwa ada Luna di sana tapi dia tidak menghiraukannya. Lagipula itu bukan urusannya.
"Tidak. Akhir-akhir ini aku tidak pernah melihatnya di sekitar Novian. Lalu kita bertemu dengannya disini itu membuatku sedikit kaget."
"Lebih tepatnya melihat. Bukan bertemu." Ryan mengoreksi kata-kata yang Zacky ucapakan. Karena memang benar mereka hanya melihat, bukan bertemu. Kedua kata tersebut sangat berbeda.
Terlihat Luna selesai berbincang dengan laki-laki di depannya. Kemudian mereka berdiri. Namun, sepertinya Luna menyadari keberadaan Ryan dan Zacky kemudian dia menghampiri mereka berdua. Tidak lupa diikuti laki-laki tersebut.
"Hai Ryan, hai Zacky." Luna menyapa keduanya secara bergantian. Merasa disapa pun akhirnya Ryan dan Zacky melihat ke arah Luna sambil tersenyum dan berkata "Hai" pada saat bersamaan.
"Bagaimana kabar kalian berdua? Lalu Novian, dimana dia?" Luna menanyakan keberadaan Novian karena dia tidak menemukan sosoknya di antara dua pria itu.
"Biasa. Baginya ruang kerja adalah tempat ternyamannya." Zacky menjawabnya.
"Oh iya Luna. Mengapa akhir-akhir ini aku tidak pernah melihatmu?" Zacky bertanya kembali.
"Ah ya, aku disibukkan membantu pekerjaan ayahku. Lalu perkenalkan dia adalah Fahmi. Calon suamiku." Ryan dan Zacky sontak terkejut mendengar hal itu. Fahmi mengulurkan tangannya me arah mereka berdua dengan senyuman hangat.
"Kami akan menikah bulan depan. Jangan lupa hadir ya. Oh iya dan sampaikan salamku juga pada Novian. Aku permisi dulu, aku ada pertemuan hari ini." Luna tersenyum kemudian melangkahkan kakinya pergi. Begitu pula dengan Fahmi, calon suaminya juga mengekorinya dari belakang.
__ADS_1
Zacky menatap punggung kedua calon pasutri itu hanya geleng-geleng kepala dengan heran. Luna sudah melepaskan Novian? Ah benar saja, apalagi sudah bertahun-tahun lamanya.
"Lihat, sekarang kita bertemu, bukan melihat." Zacky tersenyum kemenangan setelah mengatakan hal itu. Dia masih mengingat apa yang telah Ryan koreksi tadi pada kata-kata nya. Tapi Ryan tidak menghiraukannya. Dia hanya tersenyum.