
Sudah pukul sebelas malam namun Arsen tidak bisa tidur. Entah kenapa rasanya dia berat sekali ingin tidur. Padahal pikirannya bersih, jernih, dan kinclong. Tidak memikirkan apapun, tapi tidak bisa tidur. Dia berkali-kali mengubah posisi tidurnya tapi tetap saja tidak bisa. Dia hanya sibuk memandangi langit-langit kamarnya. Dia berpikir bahwa Ryan dan Zacky pasti sudah tidur. Sehabis makan malam tadi mereka sempat bersama di ruang tamu dan Ryan mengatakan bahwa dia sangat lelah dengan beberapa klien yang menjengkelkan pagi tadi. Maka dia tidak akan mengganggunya. Kalau Zacky, ah anak itu pasti sudah menempel di samping Ryan.
Kemudian Arsen ingat sesuatu. Novian. Ya Novian. Dia lupa bahwa terakhir kali mereka berbicara di kantor hingga saat ini dia tidak berbicara dengan Novian sedikitpun. Bahkan mengeluarkannya dari tas saja dia lupa. Lalu dia mengambil tas kerjanya dan mengeluarkan Cermin Novian dari dalam.
"Nov....Novian....Nov....Novian...." Dia memanggil Novian sambil menepuk-nepuk cermin itu. Dia rasa Novian sudah tertidur. Berkali-kali dia memanggil Novian namun tidak ada jawaban dari sang empunya.
Namun beberapa menit kemudian Novian muncul dengan wajah lusuhnya. "Ada apa? Baru ingat denganku saat bosan? Hmm?"
"Hehe tidak ada, aku hanya merasa bosan. Tidak bisa tidur."
"Mengganggu orang tidur saja." Novian mendengus, dia merasa kesal dengan Arsen. Dia lupa mengeluarkannya dari dalam tas hingga larut malam begini. Baru saat tidak bisa tidur Arsen baru teringat akan dirinya. Sungguh biadab.
"Kalau tidak bisa tidur minum kopi." Ucapan Novian berhasil membuat Arsen cengo. Apakah itu tidak terbalik?
"Apa kau tidak waras?"
"Sungguh, coba saja."
"Tidak-tidak, aku tidak mau, yang ada aku malah semakin terjaga sepanjang malam."
"Ya sudah terserah kau saja. Asal jangan menggangguku. Aku akan tidur lagi, sampai jumpa." Novian berjalan ke tempat tidurnya dan bersiap membaringkan tubuhnya, namun suara Arsen menghentikannya.
"Eh tunggu dulu, temani aku ingin mengambil segelas susu di bawah. Aku merasa haus."
Novian yang mendengar itu pun mengangguk dan mendudukkan dirinya. Entah mengapa dia tidak bisa menolak permintaan Arsen. Walaupun itu hanya hal kecil hatinya langsung saja menerimanya. Arsen berdiri dan berjalan keluar kamarnya untuk mengambil susu di bawah. Dia juga membawa Novian bersamanya. Begitu sampai di tangga, kaki kanan Arsen tidak sengaja menyandung kaki kirinya, membuatnya terjungkal ke depan namun untungnya dirinya segera memegang pagar tangga.
Tapi sayangnya Cermin Novian terlepas dari tangannya. Arsen yang melihat itu pun panik dan tangannya ingin segera meraih cermin itu namun pegangannya tidak seimbang sehingga membuatnya terjatuh kedepan. Dia hanya pasrah saja dan menutup matanya berharap jatuhnya tidak sakit. Namun hal itu tidak sesuai ekspektasi. Dia terjatuh diantara dua tangan kekar yang memangkunya. Arsen yang sadar pun membuka matanya perlahan-lahan. Dia terkejut dengan orang di depannya ini. Bagaimana mungkin? Dia Novian asli? Ada di depannya? Bukankah dia di dalam cermin? Ah iya iya cermin, dimana cermin itu?
Arsen segera turun, tidak menghiraukan pikirannya yang sedang kacau. Dia mencari cermin itu dan ternyata cerminnya ada di bawah lalu dia mengambilnya. Untung saka benda itu tidak apa-apa, tidak rusak atau retak sekalipun.
Kemudian dia beralih menatap sosok Novian didepannya. Dia menganga tidak percaya, dia memegang wajah Novian dan meraba-rabanya seolah-olah dia adalah makhluk asing baginya.
"Ini beneran Novian?" Tangan Arsen tidak henti-hentinya meraba-raba wajah Novian. Namun kemudian tangannya di hentikan oleh tangan Novian.
"Sudah cukup meraba dan melecehkannya?" Wajah Novian datar menatap Arsen yang mengerjap-ngerjapkan matanya.
__ADS_1
"I-ini Novian?" Arsen masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Menurutmu?" Novian melepas tangan Arsen yang di pegangnya. Lalu dia mengambil buku yang ada di bawahnya dan membersihkannya.
"B-bagaimana bisa kau berada disini? B-bukankah kau berada di cermin ini?!" Arsen sedikit gelagapan sambil menunjuk cermin di tangannya, dia masih sedikit tidak percaya dengan apa yang di depannya.
"Aku juga tidak tahu kenapa. Uhmm, coba lihat, pukul berapa sekarang." Novian tampak tenang. Dia berusaha agar tetap cool. Lagipula kejadian seperti ini, yang sudah menimpa mereka berdua sudah tidak asing baginya. Namun entah kenapa Arsen malah seperti orang bodoh.
Sedangkan Arsen melihat ke arah kamar tamu yang di tempati oleh Ryan dan Zacky. Tidak ada respon apapun dari kamar mereka. Sepertinya mereka sedang tertidur pulas sehingga tidak mendengar apa yang sudah terjadi. Lagipula cermin itu jatuh tidak sampai pecah, jadi suaranya tidak terlalu keras. Apalagi Arsen yang tidak jatuh menyentuh lantai.
Arsen melihat ke arah jam dinding, terlihat jam sudah menunjukkan pukul 23:30. Novian juga ikut melihat jam yang di lihat oleh Arsen. Kemudian dia mengajak Arsen untuk ke kamarnya saja. Tidak baik kan malam-malam begini membuat suasana menjadi heboh di rumahnya.
Begitu mereka berdua masuk ke dalam kamar, Arsen langsung terduduk di tempat tidurnya. Sedangkan Novian, dia duduk di meja kerjanya.
"Bagaimana menurutmu tentang kejadian ini?" Novian membuka suara. Dirinya menatap Arsen ya g juga tengah menatapnya.
Arsen sedari tadi semenjak di bawah dia berpikir keras. Kenapa bisa ada kejadian seperti ini? Kenapa juga Novian bisa keluar dari cermin itu? Dia kembali mengingat apa yang ditanyakan Novian tadi. Jam, iya jam. Kejadian tadi tepat pukul setengah dua belas malam. Setidaknya, Arsen menggunakan logikanya sekarang. Tidak seperti tadi yang terlihat bodoh.
"Jam. Iya jam, kejadian tadi pukul setengah dua belas tepat. Apa karena itu?"
"Kupikir juga begitu. Tapi jika memang benar, lalu kenapa sejak seminggu yang lalu tidak pernah seperti ini?" Novian mengingat-ingat malam-malam sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini. Jika memang benar kejadian seperti ini akan terjadi setiap malam tepat pukul setengah dua belas malam tapi kenapa malam-malam sebelumnya tidak terjadi bukan.
"Itu buku apa Nov?" Arsen bertanga kepada kepada Novian. Menghiraukan pikirannya yang tengah sibuk. Novian yang mendengarnya melihat ke tangannya yang sedang memegang buku tersebut lalu mengankatnya kedepannya.
"Ah ini, kelihatannya buku diary. Aku menemukannya di dalam cermin. Tapi tidak ada tulisan apapun didalamnya."
"Kenapa bisa ikut bersamamu keluar dari sana?" Tanya Novian.
"Entahlah. Kenapa ini bisa ikut bersamaku." Novian kembali berpikir bahwa dua hari yang lalu dia menemukan buku itu di rak dalam cermin itu. Namun entah mengapa buku itu bisa ikut bersamanya.
Tiba-tiba terbesit dipikiran Arsen. "Ah mungkin saja buku itu ada sebuah petunjuk." Dia segera berdiri dan menghampiri Novian. Novian mengerutkan keningnya.
"Bagaimana bisa? Di dalamnya saja tidak ada tulisan apapun." Dia berusaha memberi tahu Arsen. Tapi anak itu seolah tidak mendengarkannya lalu mengambil buku itu dari tangan Novian. Dia menghidupkan lampu di meja kerjanya. Dia meletakkan buku itu, diikuti Novian yang tengah berdiri di belakangnya ikut melihatnya. Arsen membuka buku itu, di halaman pertama memang kosong, tapi dia seolah tidak memperdulikan hal itu. Tapi saat dia membalik pada halaman kedua ada tulisan di sana.
"Kenapa bisa?" Novian terkejut melihat tulisan itu. Bagaimana bisa sekarang sudah ada tulisannya. Padahal sejak dia membuka buku itu tidak ada tulisan apapun di dalamnya. Lalu kenapa sekarang bisa ada?
__ADS_1
Arsen membaca tulisan tersebut, begitu pula dengan Novian yang di pikirannya sudah terbesit rasa penasaran.
'Jika kalian sudah bisa membaca tulisan ini, itu tandanya kalian sudah bersama. Kalian mengalami keajaiban seperti ini karena kalian memang telah di takdirkan.
Kalian pasti sedang bertanya-tanya bukan kenapa bisa terjadi hal seperti ini? Kalian akan mengetahuinya sendiri nanti. Seiring berjalannya waktu kalian pasti akan mengerti tentang semua hal ini.
Pertama kalian memiliki kebaikan dalam diri kalian. Rasa khawatir satu sama lain untuk saling menolong di antara kalian itu ada. Maka dari itu salah satu di antara kalian di dalam cermin akan bisa keluar dari dalamnya. Simpan cermin ini karena suatu saat pasti akan di butuhkan oleh kalian.
Kalian akan melawati ini bersama mulai saat ini. Tapi ingatlah ini,
"Sesosok jiwa tetap seperti angin, terasa namun tak kasat mata. Berbeda dengan raga yang memanjakan mata."
Tapi akan ada cara bagaimana kalian akan melewatinya.'
Novian dan Arsen yang membaca itu mengangguk-angguk mengerti. Tulisannya hanya sampai begitu saja? Arsen membolak-balik halaman-halaman selanjutnya tapi tidak ada, semuanya kosong. Arsen menatap Novian, begitu pula dengannya.
"Sudah, seperti ini? Apa kau mengerti Nov?"
"Kurasa, ya..." Novian terlihat berpikir, kemudian pikirannya terbesit sesuatu.
"Kemarilah." Novian meraih tangan Arsen dan membawanya kedepan cermin di lemarinya.
Begitu mereka sampai Novian langsung melihat pantulan mereka di depan cermin.
"Lihatlah!" Novian menyuruh Arsen melihat pantulan mereka juga di depan cermin.
"Apa?"
"Maksud dari tulisan di buku itu."
"Maksud?" Arsen bingung dengan apa yang dikatakan Novian. Tulisan yang baru saja mereka baca bukan hanya satu kalimat saja kan?
"Lihatlah, kita terlihat sama. Namun, ragaku di tempati oleh jiwamu. Jadi, meskipun aku sudah kembali ke dunia ini, tapi aku akan tetap tak terlihat oleh orang lain karena aku hanya sebuah jiwa tanpa raga."
"Ohhh...... Jadi, meskipun aku dapat melihatmu tapi orang lain tidak? Karena kau sama saja seperti hanya sebuah roh?" Arsen otaknya mulai terkoneksi dan dia sambil manggut-manggut, mengingat kembali apa yang tertulis di buku.
__ADS_1
Novian yang mendengar itu mengangguk dan berdehem. Namun tanpa mereka sadari tangan Novian masih memegang tangan Arsen sedari tadi.
Novian menyadari bahwa tangannya masih menggenggam sesuatu. Dia sedikit melirik ke bawah dan ternyata dia masih setia memegang tangan Arsen. Lalu dia melepaskan tangannya tersebut dan membuat Arsen sedikit kaget. Novian dan Arsen kini sedikit canggung terlihat mereka salah tingkah.