
Sebuah ruangan bernuansa putih dengan bau obat yang menjadi ciri khas itu. Ya, sebuah ruangan pasien di mana seorang pemuda berbaring disana. Tubuhnya yang tengah tertidur, dengan tangan kirinya yang di lengkapi selang infus. Kepalanya terbalut perban itu menambah kesan sedikit prihatin.
Tangan kanan pemuda itu tengah di genggam oleh seorang gadis yang juga tertidur menenggelamkan kepalanya. Rambut hitam legam miliknya menutupi wajah cantiknya. Sangat nampak sekali bahwa gadis itu menyayangi pemuda yang tengah terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit itu. Sejak kecelakaan yang menimpa pemuda itu dua hari yang lalu, gadis itu selalu menjaganya. Dia hanya pulang untuk berganti pakaian, dia berjaga di samping pemuda itu bahkan sarapan dia pun habiskan di rumah sakit.
Pemuda itu sedikit menggerakkan jari telunjuknya. Berusaha bergerak, namun rasanya masih sakit sekali. Dia perlahan membuka matanya. Mencium aroma obat-obatan, dan ruangan yang serba putih dia dapat menebak keberadaannya dimana sekarang. Namun, dia merasakan tangan kanannya berat. Lalu, sedikit dia menoleh ternyata ada seorang perempuan yang tengah memegang tangannya sembari tertidur dengan pulas. Dia tarik perlahan-lahan tangannya kemudian mengelus kepala perempuan itu.
"Aku tau Kak Frey sangat menyayangiku." Namun, sepertinya perempuan itu terusik dengan apa yang dilakukan pemuda itu, kemudian dia terbangun dan mendongakkan kepalanya. Pemuda itu kaget dan bertanya siapa dia.
"Kamu siapa?"
Wanita tersebut juga tersentak kaget, "Aku Luna Nov, masa kamu lupa sama aku."
"Luna siapa? Aku tidak mengenalmu."
"Aku Luna Novian, kita selalu main bersama sejak kecil."
"Tunggu kamu memanggilku dengan Novian? Novian siapa? Namaku Arsen."
Ya pemuda itu adalah Arsen, namun wanita di sebelahnya malah memanggilnya Novian? Sungguh Arsen semakin bingung dengan apa yang menimpanya. Seingatnya dia kecelakaan dan jatuh ke sungai saat ingin mengantarkan pesanan customer kakaknya. Tapi bangun-bangun dia malah di temani oleh seorang wanita yang bahkan tidak dia kenal, malah mengaku-ngaku sebagai teman kecilnya.
Arsen melihat sekelilingnya, mencari keberadaan papa mamanya beserta kakak perempuannya. Namun tidak ada orang lain selain wanita yang mengaku sebagai Luna itu. "Dimana kakakku? Papa dan mama juga, dimana mereka?"
"Kakak? Hey kamu tidak punya kakak, kalau papa mu sudah beristri lagi, terkait mamamu dia sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Apa kamu tidak mengingat semua itu? "
"Apa? Mama meninggal? Gausah ngeprank deh." Luna kaget, mengapa Novian tidak mengingat hal sepenting itu. Padahal Novian sangat sayang pada mamanya, bahkan dia tidak ingin mempunyai seoranh ibu tiri. Bahkan dia pergi dari rumahnya sejak ayahnya menikah lagi. Saat itu Novian masih di bangku SMA.
Arsen kaget bukan main, tapi dia juga tidak percaya. Karena sejak kecil dia dibesarkan orang tua nya yang masih lengkap, terlebih dia juga mempunyai seorang kakak yang sangat menyayanginya.
"Aku akan memanggil dokter dulu Nov." Luna segera keluar meninggalkan Arsen yang sedang sibuk dengan isi kepalanya. Apa semua ini? Dia tidak mengenal wanita tadi, dan siapa namanya? Ah ya Luna? Lelucon macam apa ini, dia sama sekali tidak mengenal Luna.
Luna kembali masuk ke dalam ruangan bersama seorang dokter. "Dokter, dia baru saja sadar. Tapi dia tidak mengingat apapun dokter."
__ADS_1
Dokter tersebut pun memeriksa Arsen. Lalu sang dokter keluar sembari mengatakan kepada Luna bahwa ada yang harus mereka bicarakan. "Dia sudah membaik, besok dia sudah boleh pulang. Hanya saja jika dia tidak mengingat apapun, mungkin dia amnesia. Mengingat bahwa benturan di kepalanya sedikit keras hingga menyebabkan luka dalam. Hal itu dapat mempengaruhi ingatannya."
"Apa dok, amnesia? Lalu berapa lama dia akan sembuh?"
"Untuk waktu nya saya juga tidak tau, hal itu tergantung seberapa kuat tekadnya dan kehendak-Nya. Bisa saja dalam hitungan minggu, atau bahkan bisa dalam hitungan bulan. Coba saja bantu dia mengingat hal-hal yang dapat membantu ingatannya."
"Baik dokter, terimakasih."
Luna kembali ke dalam menemani Arsen. Dia duduk lalu menatap Arsen cukup lama. Sang empu yang ditatap pun bertanya dengan alis terangkat.
"Gapapa Nov, kamu lupa. Itu hanya sementara, kedepannya aku bantu kamu inget semuanya. Jadi namamu adalah Novian, Novian Bagaskara. Untuk selebihnya nanti kamu bisa menanyakannya perlahan-lahan padaku."
Arsen bingung dengan apa yang dikatakan Luna. Dia hanya terdiam menanggapi pernyataan Luna. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Dimana ponselku?"
"Oh itu, mungkin ada di dalam tasmu. Sebentar aku ambil dulu." Lalu Luna beranjak pergi ke sofa dimana sebuah tas ransel berwarna hitam berada. Lalu dia mengambilnya dan memberikannya kepada Arsen.
Arsen menerima tas itu. Lalu membukanya dan mencari-cari dimana ponselnya berada. Dia mendapatkannya, namun itu bukan poselnya. Dia bertanya kepada Luna itu ponsel siapa, tentu saja Luna menjawab dengan yakin bahwa itu adalah ponselnya. Masa bodo dengan semua itu, tanpa pikir panjang Arsen membuka ponsel tersebut, ternyata ponsel itu tidak tersandi apapun. Dipikirannya dia hanya ingin pulang dan bersama dengan keluarganya.
Tapi sebelum dia melakukan sesuatu yang dipikirkanya itu dia kaget melihat pantulan wajahnya di layar ponsel. Lalu dia membuka kamera untuk melihatnya lebih jelas, dan yah dia semakin tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Itu bukan wajahnya, tapi wajah orang lain yang dia yakini adalah wajah Novian. Jadi, ini adalah tubuh Novian? Tapi Arsen menempati tubuh Novian? Keajaiban apalagi ini, sungguh sulit di percaya.
Tapi jika dia menempati tubuh orang lain? Bagaimana dengan tubuhnya sendiri? Jika jiwanya tidak berada di tempatnya apakah tubuhnya yang asli sudah mati? Atau sedang bertukar jiwa dengan Novian ini? Ah entahlah, Arsen akan mengeceknya sendiri di rumahnya nanti.
Arsen mengetikkan sebuah nomor di ponsel tersebut lalu menelfonnya. Tapi hanya terdengar suara operator "Mohon periksa kembali nomor tujuan anda." Arsen kembali mengecek nomor tersebut, tapi nomornya benar. Lalu dia menelfon kembali. Kali ini tidak ada yang salah, hanya saja nomor yang dia panggil tidak aktif. Bagaimana bisa nomornya sendiri tidak aktif. Ah mungkin saja mati karena kecelakaan itu pikirnya. Dia kembali menghubungi nomor yang lain, mulai dari nomor papanya, mamanya, kakaknya bahkan Bayu sang kakak ipar juga tidak bisa di hubunginya. Lalu dia menelfon telepon rumahnya. Masuk, namun tidak ada yang menjawabnya. Arsen menyudahi acara memanggilnya. Lagipula nanti juga orang tuanya akan mencarinya.
"Lun, bisa anter aku ke suatu tempat?"
"Hm, boleh. Tapi setelah kamu sembuh. Untuk sekarang kamu istirahat dulu. Kata dokter kamu baru bisa pulang besok. Nih, makan dulu." Luna menghampiri Arsen dengan buah-buahan yang sudah di potong di tangannya. Arsen hanya mengangguk pasrah saja. Lagipula dia juga sedikit sakit jika terlalu banyak bergerak. Dia memakan buah-buahan yang dibawa Luna, cacing diperutnya keroncongan meminta makan.
"Lun, sudah berapa hari aku ga sadarkan diri?"
"Terhitung sejak kamu kecelakaan sih sudah dua hari hingga sekarang." Arsen mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengunyah apel di mulutnya.
__ADS_1
Tanpa sengaja, Arsen melihat sebuah kalender di meja dekat sofa di sudut ruangan. Dia kaget bukan main. Dalam kalender tersebut tercetak besar dan tebal sebuah angka ya g menurutnya sangat di luar nalar. Bagaimana tidak, disana tertulis angka 2043.
"Luna, sekarang tahun berapa?" Arsen ingin memastikan ketidakpercayaan yang terjadi padanya.
"Hah? Serius? Aku ga percaya kamu hilang ingatan sampai seperti oranh bodoh yang tidak ingat tahun. Tentu saja sekarang tahun 2043." Cecar Luna menatap heran ke arah Arsen. Karena setahu dia orang amnesia tidak sampai sebegitunya kan? Ah itu pikirnya.
Untuk memastikan apa yang dikatakan Luna benar, Arsen mengecek ponselnya untuk melihat kalender di ponsel itu. Ternyata memang benar bahwa sekarang adalah tahun 2043. Lalu, jika memang benar, apakah dia mengalami perjalanan waktu ke masa depan? Sepuluh tahun kemudian?
Baiklah, sepertinya Arsen harus menerima apa yang terjadi padanya saat ini. Dia akan menerima identitas barunya dan akan mencari tahu apa yang terjadi nanti. Sekarang Arsen sedang butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadk padanya saat ini.
"Bisa jelasin tentang Novian? Um.. maksudnya aku."
Luna menatap Arsen lalu tersenyum dan mengangguk. Dia mulai menjelaskan siapa itu Novian. Mulai dari namanya dan tentang keluarganya. Luna hanya menjelaskan hal-hal yang dia ketahui saja.
Novian Bagaskara, seorang pemuda berumur 25 tahun. Hidup sendiri dan sudah mandiri sejak dia di bangku SMA. Waktu itu dia masih berumur 16 tahun. Dia bekerja keras untuk menafkahi dirinya sendiri. Saat keluar dari rumahnya dia tidak membawa sepeserpun uang dari ayahnya. Dia hanya membawa barang-barang peninggalan ibunya dan beberapa barang berharga lain yang sengaja ibunya tinggalkan untuknya. Lalu dia bekerja mulai dari part time hingga full time saat dirinya lulus. Selama 7 tahun dia bekerja sebagai jurnalis, akhirnya dia menjadi jurnalis terkenal. Lalu dia menjadi manager di perusahaan tersebut. Dia bisa menghidupi dirinya sendiri dengan kerja kerasnya, dia dapat membeli rumah dan mobil. Itu semua adalah hasil keringat Novian sendiri.
Arsen sedikit kagum dan iba kepada Novian setelah mendengar cerita tentangnya dari Luna. "Lalu, apa alasanku untuk keluar dari rumah?"
"Untuk itu kamu tidak memberitahuku. Kamu cuma bilang kalau ayahmu penyebab kematian ibumu." Jelas Luna sembari mengankat bahu. Dia tidak terlalu mengerti alasan Novian pergi dari rumahnya. Walaupun mereka berteman sejak kecil, namun sejak keluarga Novian pindah mereka tidak terlalu dekat seperti dulu lagi. Apalagi sejak kematian ibunya Novian. Pemuda itu berubah menjadi lelaki yang sangat tertutup kepada siapapun.
Arsen mengangguk mengerti. Kemudian Luna pun melanjutkan ceritanya tentang teman-teman Novian. Bahwa Novian mempunyai dua orang sahabat saat SMA dulu. Salah satunya dia bekerja dengan Novian dan sekarang menjadi wakilnya di perusahaan. Mereka berdua berkuliah lebih dulu berbeda dengan Novian yang telah bekerja sejak dia SMA. Lalu Novian menerima salah satu sahabatnya yang bernama Zacky sebagai wakil manager. Lalu untuk sahabat nya yang lain, yang bernama Ryan kini sukses membuka sebuah restoran yang lumayan terkenal di kota.
Kedua temannya bukan tidak menjenguk Novian ke rumah sakit. Justru mereka adalah orang pertama yang mengetahui bahwa Novian masuk rumah sakit dan segera bergegas menemuinya dan membantu mengurus semua prosedur rumah sakit. Hanya saja hari ini kedua sahabat Novian sedang disibukkan dengan pekerjaan, makanya hanya Luna saja yang menjaga Novian.
"Luna, kamu bisa kembali beristirahat. Lagipula aku sudah sembuhkan. Besok juga sudah bisa pulang. Kamu pulang saja istirahat, kamu bisa kembali besok untuk mengantarku pulang kan."
"Tapi kamu sendirian disini."
"Sudah gapapa, aku juga ingin istirahat kok."
"Hmm baiklah, kalau begitu aku akan kembali besok."
__ADS_1
Arsen menatap Luna sambil tersenyum padanya. Luna pun membereskan barangnya lalu keluar. Dia berpikir bahwa Luna snagat perhatian pada tubuh yang dia tempati. Dia yakin bahwa Luna memiliki perasaan terhadap Novian. Jika tidak bagaimana mungkin Luna akan seperhatian itu padanya.
Ah sudahlah, urusan orang lain tidak perlu dia pikirkan. Lagipula dia tidak ada urusannya dengan dunia disini. Dia harus mencari cara bagaimana caranya dia kembali ke tubuh aslinya dan pulang ke tahun sebenarnya dia tinggal.