Missing Love

Missing Love
16


__ADS_3

Lizy menoleh ke belakang, dia melihat Yang berdiri tepat di belakangnya.


“Yang!!”


Lizy berlari menghampiri Yang, dia memeluk tubuh Yang dengan sangat erat, dia mengenggam erat tangan Yang dan menatap kedua matanya dengan tatapan yang sangat sedih.


“Yang, kenapa kamu menang?’ tanya Lizy


Lizy memegang kedua tangan Yang, dia menatap lekat pada wajah Yang dia melihat mata Yang bengkak dan wajahnya yang terlihat begitu sedih membuat Yang langsung memeluk erat tubuh Lizy.


“Lizy, aku sangat ingin memelukmu saat ini. Aku sedang sangat sedih, peluklah aku Lizy,” ucap Yang dengan sangat sedih.


Yang menangis tersedu-sedu, dia memeluk erat tubuh Lizy dengan erat, meluapkan semua perasaan sedihnya kepada Yang.


“Yang, ceritakan semuanya padaku. Apa yang terjadi denganmu, katakan padaku.”


“Lizy, aku sangat sedih. Aku tidak bisa bicara apapun aku hanya ingin memelukmu dengan erat, sayang.”


Lizy memeluk erat tubuh Yang dengan erat, dia memberikan tepukan ringan pada di punggung Yang dengan perlahan.


“Yang, masuklah. Aku akan membuatmu tenang.”


Lizy mengajak Yang pergi denganya masuk ke dalam rumahnya, dia tak melepaskan pelukan Yang.


“Yang, duduklah. Aku akan memberikan segelas teh untukmu,” ujar Lizy


Yang memeluk erat tubuh Lizy, meskipun pikirannya sangat kacau karena Liam.


“Bagaimana hubunganmu dengan Liam?” tanya LIzy


Yang terkejut saat Lizy bicara dengannya, “Mengapa kamu tahu tentang Liam?” tanya Yang dengan bingung.


Lizy hanya tersenyum, “Aku tahu karena aku menganggapmu sebagai kakakku,” ucap Lizy


Yang sangat terkejut, dia tercengang dengan ucapan yang dikatakan Lizy.


“Aku adalah calon suamimu, kenapa kamu mengatakan aku adalah kakakmu?” tanya Yang dengan bingung.


“Dih, aku jijik denganmu Yang. Aku ini masih wanita normal. TIdak mungkin aku menyukai seorang wanita,” ucap Lizy, melirik jijik pada Yang.


Yang benar-benar tercengang, dia sungguh terkejut dengan apa yang di katakan Lizy.

__ADS_1


“Lizy, mengapa dia bicara seperti itu? Aku adalah calon suamimu.”


Yang bicara dengan gugup, dia sangat terkejut entah darimana Lizy bertanya seperti itu.


“Yang, berhentilah bertanya. Aku sudah tahu semua tentangmu sayang,”


Lizy bicara dengan tegas, dia benar-benar membuat Yang terdiam dan tak dapat mengalihkan pembicaraan.


“Yang, berhentilah mengalihkan pembicaraan. Aku sudah tahu, semua tentangmu,” ucap Lizy.


Yang hanya menundukkan kepalanya dengan sedih, dia melihat Lizy menyentuh wajahnya dan menghapus airmatannya.


“Yang, jangan menangis. Tenang saja, aku akan membantumu untuk keluar dari jeratan ayahmu yang sangat licik itu,” ucap Lizy.


Yang menangis, dia memeluk erat tubuh Lizy dan membasahi tubuh Lizy dengan airmatanya.


“Lizy, maafkan aku.”


Yang menangis tersedu-sedu, dia memegang erat tangan Lizy.


“Yang, berhentilah menangis. Aku tidak suka melihatmu membasah baju baruku ini. Kamu tenang saja, aku akan membantumu untuk keluar dari jeratan ayahmu,’ ucap Lizy,


Yang terdiam, dia merasa cemas juga gelisah karena Lizy yang ingin membebaskan Yang dari zona cross dressing membuat Lizy secara otomatis menolak pernikahannya dengan Yang.


Lizy tercengang, mendengar apa yang di ucapkan Yang membuat hatinya bergetar hebat, dia sangat bingung dengan Yang.


“Yang, ada apa denganmu?” tanya Lizy dengan bingung


Yang hanya menangis tersedu-sedu, dia memeluk erat tubuh LIzy.


“Aku mohon jangan tinggalkan aku, Lizy. Aku sangat sedih jika kamu meninggalkanku, meskipun kamu normal bisakah kita menikah?” tanya Yang, memohon.


“Apa maksudmu, aku tidak mencintaimu dan aku normal, tapi aku menikah denganmu?” tanya Lizy, sangat bingung.


Yang menatap kedua mata Lizy, dia memegang tangannya seraya memohon kepada Lizy.


“Aku mohon, aku akan menjadi semua yang kamu inginkan.”


Lizy hanya memeluk erat tubuh Yang, meskipun Yang merasa ada sesuatu yang sangat aneh dengan Lizy.


“Darimana dia mengetahui hal itu. Siapa yang memberitahukan rencana ini?’ tanya Yang di dalam hatinnya.

__ADS_1


Berada di tempat lain, Liam sedang merenung melihat pada tempat tidur yang sudah berantakan akibat pergulatan panas mereka.


“Aku tahu, dimana tuan putriku sekarang. Sial!! Aku sangat benci dengan keadaan ini, rasannya ingin sekali aku memeluk erat tubuhnya dan menahan dirinya untuk tetap bersama dengannya,” ucap Liam, mengengga, erat kalung yang dia kenakan.


Liam mengambil jaketnya, dia hendak meninggalkan kamarnya dan mengambil Yang kembali bersama dengannya.


“Aku harus membuat alasan untuk mengambil Yang kembali bersama denganku,” ucap Liam.


Pada saat Liam ingin pergi meninggalkan kamarnya, tubuhnya tertahan karena seorang wanita yang ada di depannya.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Liam, kepada sepupunya.


Rose menatap kedua mata Liam, seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia menatap tajam mata Liam.


“Pria bodoh, kau memang sangatlah bodoh dan tidak tahu apapun tentang kekasihmu sendiri, bajingan!” ucap Rose,


Liam tersenyum miring, dia sangat bingung melihat Rose yang menatapnya tajam juga ekspresi wajah yang terlihat sangat kesal.


“Aku tidak mengerti, apa yang kau katakan,” ucap Liam, membalas ucapan Rose.


Rose menampar pipi Liam sangat keras, membuat Liam meringis sakit pada pipinya.


“Kau tidak tahu tentang masalalu Yang?” tanya Rose


“Apa yang kau katakan, masalalu Yang?” tanya Liam.


“Pria bajingan!! Kau pria bodoh yang sangat mengesalkan!!” ucap Rose, bicara dengan kasar pada Liam.


“Aku tidak mengerti maksudmu, apa yang kau katakan. Aku berada di sekolah yang berbeda dengan Yang. Bagaimana bisa aku tahu tentang masalalunya!” tanya Yang dengan sangat kesal.


Rose sangat kesal, dia langsung melemparkan sebuah buku harian milik Yang, dengan sangat kasar.


“Bajingan!! baca semua itu, kau harus mengingat semua tentang masalalu jika kamu sangat ingin hidup bersama dengannya. Aku hanya ingin memberikan peringatan padamu, untuk tidak menyalahkan Yang atas semua kesalahan ini,” ucap Rose, dengan tegas,


Setelah melemparkan buku harian milik Yang ke arah wajah Liam dengan kasar.


“Pria bajingan sepertimu, seharusnya membaca semua ini. Agar otakmu itu kembali terbuka!” ucap Rose sangat kesal.


Liam terdiam memegang buku harian tersebut dan mengusap cover buku tersebut dengan telapak tangannya, merasakan tubuh tersebut dengan sangat lembut.


“Aku akan pergi, tapi kau harus ingat untuk tidak membuat kesalahan lagi dan jangan menyalahkan Yang atas semua ini. Jika kau berani sampai menyalahkannya aku akan menyakitimu,”

__ADS_1


Rose memberikan ancaman kepada Liam, tapi dia mendapatkan tatapan curiga dari Liam.


“Rose, darimana kamu dapatkan buku harian ini?” tanya Liam


__ADS_2