
Yang memaksa tangan Liam untuk menyingkir dari pinggangnya, mereka berdua saling bersitatap. Yang menatap kedalam mata Liam, yang menggambarkan kesedihan yang mendalam juga penyesalan yang selalu menghantuinnya.
“Pergilah dariku sekarang, Liam. Jangan mengangguku lagi, aku sangat muak melihatmu!!!” ucap Yang dengan ketus.
Liam tersenyum licik, dia melakukan siasat agar dirinya dapat masuk ke dalam rumah Yang. Pria itu memegang perutnya dan berpura-pura meringis kesakitan.
“Ouch, perutku sakit sekali. Demi tuhan, perutku sakit sekali,” ucap Liam
Mendengar suara rintihan Liam, membuat Yang langsung membanting pintu dengan sangat keras dan membiarkannya untuk masuk.
“Masuklah, tapi janji jangan berisik, jangan manja dan jangan mendekatiku!!” ancam Yang, seraya menunjuk ke arah Liam.
Liam mengeluh kesal, dia menundukkan kepalannya dan masuk ke dalam rumah Yang. Dia melihat rumah itu terlihat tak terlalu memiliki banyak barang-barang, tak seperti rumahnya yang di setiap sudut di lengkapi banyak sekali barang.
“Rumahmu sangat sepi, tak ada barang apapun Apakah kau tidak suka berbelanja?” tanya Liam.
“Tidak. Aku tidak sepertimu yang senang sekali memboroskan uangmu.”
Liam duduk di atas bangku sofa yang rasanya sangat nyaman dan lebih lembut dari miliknya.
“Aku tahu sekarang, kau ini memang tak suka banyak barang di rumahmu tapi kau akan beli barang-barang apapun yang kau inginkan dengan harga dan kualitas yang sangat tinggi,’
“Daripada aku harus membeli puluhan barang tapi sama sekali tidak memiliki kegunaan,” ucap Yang, mengejek Liam.
Liam melihat Yang melepaskan rambut palsunya dan menampilkan wajahnya yang sangat cantik dan rambut panjang juga melepaskan ikatan pada dadannya membuat dada besarnya itu kembali timbul. Liam tercengang, dia ternganga melihat dada Yang. Wajahnya langsung mendapatkan lemparan rambut palsu Yang.
“Bajingan!! jangan menatapku seperti itu, sialan kau!” Yang bicara dengan sangat ketus.
__ADS_1
Liam hanya tersenyum, dia berjalan mendekatI Yang dan menatap lekat kedua mata Yang dengan mata menggoda miliknya.
“Sepertinya, sudah sangat lama kita tidak saling bertemu ya,” ucap Liam, mengusap pelan tangan Yang.
Yang langsung memukul kepala Liam dengan kasar, dia bahkan tak terpikirkan untuk melakukan hal itu kembali.
“Bisa kau jauhkan otak mesum itu dariku? Aku jijik mendengarnya!”
“Hatiku sangat sakit, ucapanmu benar-benar sangat kasar sekali padaku, sayang.”
“Bajingan, aku bukan sayangmu!!”
Yang menguncir rambutnya, dia berjalan pergi ke kamar dan di ikuti Liam. Saat menyadari Liam membuntuti dirinya, Yang melipat kedua tangannya dan memasang ekspresi wajah yang sangat kesal dan muak.
“Apa yang kau inginkan! Kenapa kau mengikutiku ke sini, jawab!!” sentak Yang
“Kau ingin mandi, kau bsa menungguku hingga selesai mandi. Tak perlu susah payah untuk masuk ke dalam kamarku seperti seorang mesum gila,”
‘BIcaramu sangat kasar, bisakah kamu melembutkan sedikit bicaramu?” tanya Liam berusaha untuk membujuk Yang.
“Tidak!! Sekarang pergi kau dari kamarku sana!!” Yang mendorong-dorong tubuh Liam dia mengusir Liam untuk pergi dari kamarnya.
“Kau sangat kejam Yang. Bahkan tak membiarkanku untuk menunggumu mandi di dalam agar kita cepat selesai dan kamu bisa mengobatiku,”
“Jangan harap!! Lagipula, kau tidak sakit jadi untuk apa aku memberikan obat untukmu. Sudah, jangan berpura-pura hanya untuk mendapatkan perhatian dariku. Bukan iba aku malah muak denganmu, jangan bicarakana hal itu lagi.”
Liam kembali diam dan duduk di bangku sofa, dia berusaha memberikan setumpuk alasan untuk meminta perhatian kepada Yang namun tetap saja Liam tidak dapat mengambil perhatian dari Yang.
__ADS_1
“Aku sangat sedih sekarang, kamu tak ingin berbagi perhatianmu kepadaku,” ucap Liam, sangat sedih.
Yang hanya menoleh ke padannya seraya tersenyum sinis, dia tak memberikan jawaban apapun kepada Liam.
“Ayolah Yang, jangan menghukum aku seperti ini. Aku tak tahu dimana kesalahanku, kenapa kamu ingin sekali memberikan hukuman padaku?” tanya Liam, memeluk erat tubuh Yang.
“Melepaskan pelukanku atau aku akan mengusirmu dari dalam rumahku dan kau tidak akan kembali entah sampai kapan itu,” ucap Yang, memberikan ancaman pada Liam.
“Jahat sekali istriku ini, jangan bersikap seperti ini sayang. Katakan padaku, bagaimana caranya untuk mendapatkan kesempatan kedua darimu,” tanya Liam, berusaha untuk membujuk istrinya.
“Jauhi aku dan berikan aku waktu, apakah aku masih mencintaimu ataukah tidak,” ujar Yang dengan ketus.
Liam melepaskan tubuh Yang, dia tak mau bersikap egois dan memilih untuk memberikan wakt kepada istrinya untuk berpikir apakah masih ada cinta yang tersisa untuknya ataukah tidak.
“Baiklah, aku akan mematuhi perintahmu sayang,”
Liam segera pergi dari rumah Yang, dia meninggalkan istrinnya teta berada disana dengan tatapan matannya yang terlihat sangat sedih.
“Apakah aku terlalu sadis kepadanya?” tanya Yang.
Yang menatap punggung Liam dengan tatapan nanar, merasakan hatinnya sangat sedih saat dia harus berpisah dengan suaminnya.
“Aku tidak sadis, tapi ini harus aku lakukan demi membuatnya tersadar bahwa cinta sejati pasti akan kembali. Biarkan aku yang mencarimu dan mengejarmu, berikan aku sedikit waktu.” ucap Yang.
Sejujurnya, Yang merasakan hatinnya sangat sakit tapi dia harus membuktikan kepada hatinya jika Liam adalah takdirnya maka dia akan kembali.
“Semua yang sudah kamu berikan kepadaku, sangatlah menyakitkan.”
__ADS_1