
“Rose, darimana kamu dapatkan buku harian ini?” tanya Liam.
Rose terlihat sangat gugup, dia bingung jawaban apa yang harus dia berikan kepada Liam.
“Kau menguntit Yang?” tanya Liam.
Rose langsung menggeleng dengan tegas dan hendak memberikan jawaban yang sangat tegas kepada Liam.
“Aku bukan penguntit bahkan pencuri. Aku mendapatkan buku ini, karena aku mendapatkannya di dalam tong sampah. Dia membuangnya saat kamu memeluk tubuh hyun. Sudah jangan banyak tanya!! Ngomong-ngomong dimana Yang?” tanya Rose dengan sinis.
“Aku tidak tahu,” jawab Liam dengan jujur.
Rose langsung melemparkan tinjuan tepat di wajah Liam, dia memberikan tonjokan telak hingga membuatnya terjatuh ke belakang.
“Kau ini apa-apaan. Kenapa kau memberikan tinjuan padaku, Rose!!” sentak Liam dengan kesal, memegang pipinya yang berdarah
“Aku muak denganmu, kau bahkan tak tahu dimana kekasihmu. Kau memang sangat bajingan!” sentak Rose dengan keras.
Rose pun langsung pergi meninggalkan Liam yang sedang meringis sakit memegang pipinya yang berdarah
“Wanita itu, apakah dia mengikuti taijutsu atau yang lainnya?” tanya Liam, menyentuh pipinya yang terasa sangat sakit.
Liam memegang buku harian milik Yang, dia terduduk di tepi kasur dan membaca apa yang tertulis di buku harian Liam.
“Apa yang dia tulis?’ tanya Liam
Liam membuka buku harian milik Yang, dia membaca semua tulisan yang tertera di dalam buku tersebut dan semuanya berisi puisi dan harian tentang Liam.
“Yang?” kejut Liam, membaca buku tersebut
Tanpa buang waktu lagi, Liam segera mengambil jaketnya dan menemui kekasihnya yang sedang bersama dengan Lizy.
“Aku akan menemuinya sekarang,” ucap Yang.
Liam segera pergi menemui Lizy yang sedang bersama dengan Yang.
“Yang!!! Yang!! Luo Yang!!!” teriak Liam.
Liam mengetuk pintu rumah Lizy dan langsung mencari di mana keberadan Yang.
“Yang!!’ panggil Liam
Liam membuka pintu rumah Lizy, betapa terkejutnya Liam saat melihat Yang sedang melakukan perbincangan dengan Lizy.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Yang, menghampiri Liam.
Liam menatap Yang dengan tatapan tajam, dia langsung menarik erat tangan Yang dengan kasar.
“Ikutlah denganku,” ucap Liam, menarik tangan Yang dengan kasar.
__ADS_1
Yang langsung menghempas tangan Liam, dia menghentak tangan Liam dengan kasar.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku!! Jangan menarikku seperti ini, bajingan!” sentak Yang
Liam menoleh ke belakang, dia melihat Yang menatap matanya dengan tajam dan menoleh ke arah Lizy yang sedang diam dengan tatapan mata kesal.
“Lepaskan dia,Liam!” pinta Lizy,
Lizy berjalan menghampiri Liam, dia melepaskan tangan Yang yang di genggam erat Liam.
“Jangan menyentuh bahkan mendekatinnya!!” sentak Lizy, memberikan tatapan sinis pada Liam.
Lizy menyembunyikan tubuh Yang, di balik tubuhnya dan memberikan tatapan sinis juga tajam pada Liam. Melihat tindak yang dilakukan Lizy membuat Yang tersenyum senang karena dia dapat kembali membuat Lizy berada di pihaknya.
“Yang, masuklah ke kamar. Biarkan aku yang mengurus pria ini,” ujar Lizy.
Yang pun menuruti apa yang di katakan Lizy hal itu membuat Liam terganggu juga merasa sangat kesal.
“Yang!’ pnggil Liam.
Yang menoleh ke arah Liam, dia tersenyum sinis dan sedikit kelicikan terlukis di wajahnya.
“Maafkan aku. Tapi, Lizy adalah kekasihku jadi aku harus menuruti apa yang dia katakkan,” ucap Yang, seraya tersenyum licik.
“Ini sangat gila. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. tidak bisa, Yang adalah milikku!” gumam Liam, yang perlahan kehilangan punggung Yang.
“Kau bilang apa? kekasihmu?” tanya Lizy seraya tersenyum sinis, melirik ke arah Liam.
“Semuanya memanglah sangat gila, tapi aku hanya bisa mengikuti alurnya saja dan tidak melakukan apapun,” ucap Yang, sangat prustrasi.
Yang menghela napasnya yang sangat berat dengan memegang dadanya, hatinya terasa sangat sakit.
“Hatiku sangat sakit. Bodoh sekali, kenapa aku tidak bisa membiarkan diriku untuk menangis, aku terlalu lelah untuk bersikap baik-baik saja,” ucap Yang dengan sangat sedih.
Tak lama kemudian, Lizy kembali mendatangi Yang. Dia melihat pria itu sedang menatap jendela dengan prustrasi dan membiarkan cahaya malam masuk ke dalam kamar Lizy.
“Yang, aku sudah bicara dengan Liam. Sekarang, pria itu ingin bicara denganmu,” ujar Lizy.
Yang tersenyum pahit, entah apa mereka bicarakan berdua.
“Yang, jangan melamun. Kau temui dia, kasihan menunggu diluar,” perintah Lizy.
“Kasihan? Kau masih memiliki perasaan kasihan untuknya, Lizy? Untuk seseorang yang ingin merebutku darimu?” tanya Yang, menatap Lizy dengan kosong.
Lizy menarik tangan Yang, dia mendorong tubuh Yang untuk keluar dari dalam kamarnya dan berjalan pergi menemui Liam yang masih menunggu di ruang utama.
“Pergilah!! Jangan membantah, dia ingin bicara denganmu,” ucap Lizy, memberikan perintah kepada Yang.
Yang melipat kedua tangannya di depan dadanya, menatap Liam dengan kesal.
__ADS_1
“Apa yang kau inginkan dariku, katakan!’ perintah Yang masih menatap Liam dengan sinis.
“Aku akan membawamu pulang,” ucap Liam.
Yang tercengang, dia tentu saja menolaknya
“Aku tidak mau. Aku sedang menghabiskan waktuku dengan calon istriku,” ucap Yang, seraya merangkul Lizy.
Lizy langsung menepis tangan Yang, dia kembali mendorong Yang hingga terjatuh ke pelukan Liam.
“Lizy,” ucap Yang terkejut
“Kau jangan gila, Yang!! Aku ini masih normal, bodoh!” ucap Lizy seraya menepuk-nepuk tubuhnya seakan menyingkirkan bekas rangkulan Yang.
“Aku akan membawanya pulang ke rumah. terimakasih, Lizy.”
Liam merangkul pundak Yang, dia menyeret Yang untuk pergi bersamannya.
“Singkirkan tanganmu, aku gerah!” ucap Yang, menepis tangan Liam
Liam semakin merangkul pundak Yang, bahkan memeluk tubuhnya dengan erat.
“Liam, apa kau bodoh!” ujar Yang, sangat kesal
Liam hanya tertawa dan semakin sengaja untuk memeluk Yang dengan erat.
“Aku tak ingin kehilanganmu lagi, aku akan membawamu pergi sekarang. Aku sangat bahagia dan bersyukur Lizy sangat baik,” ucap Liam
Yang berhenti di depan mobil yang di kendarai Liam, dia terlihat sangat keberatan ekspresi wajahnya terlihat sangat kesal dan menolak.
“Ayo, masuklah.”
Liam membukakan pintu mobil untuk Yang, dia tersenyum pada Yang dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam mobil.
“Yang, masuklah.”
Yang menolak, dia menggeleng dan tak mau masuk ke dalam mobil, “Aku bisa pulang sendiri,”
Liam tak habis akal, dia menggandeng tangan Yang dan mendorongnya untuk masuk ke dalam mobil.
“Masuklah,”
“Hei!! Aku tidak mau masuk,” ujar Yang, berteriak menolak.
Liam langsung mengunci pintu mobil dan memaksa Yang untuk tetap berada di dalam mobilnya.
“Kau ini senang sekali memaksa orang lain ya, bajingan!” kesal Yang, melipat kedua tangannya.
Yang hanya tersenyum, “Lizy sudah mengizinkanku untuk pergi denganmu,” ucap Yang.
__ADS_1
“Lizy mengizinkanmu, tapi belum tentu aku ingin kembali bersamu,” ujar Yang dengan kesal.