
Sedang berdiri di tepi jalan dengan mata yang menatap ke arah jalan dengan mobil yang berlalu lalang.
“Berengsek kau Yang!!” teriak Liam
Liam langsung berlari dia mengambil tangan Yang dan langsung menariknya hingga mereka berdua terjatuh ke atas jalan.
“Kau ini apa-apaan sih!! Siapa yang ingin bunuh diri, aku sedang menghisap rokok, bajingan!!” ucap Yang, dia langsung menyingkir dari tubuh Liam dan menjauh dariny.
Liam memegang bahu Yang, menatap kedua matanya dengan tatapan penuh rasa takut yang terpancar dari dalam matannya.
“Lain kali jangan berbuat macam-macam, bodoh!!! Kau tidak tahu, bagaimana perasaanku padamu!! Kau ini sangat bodoh, bagaimana jika mobil itu menabrakmu, huhh!!”
Yang menghempaskan tangan Liam, membalasnya dengan kalimat sentakan.
“Lalu apa pedulimu!! Apa aku harus berpura-pura bahagia setelah aku tahu suamiku bersetubuh dengan istri kakakku!!”
“Tapi itu semua hanyalah rencana yang kita susun bersama, Yang.”
“Tapi apakah harus bersetubuh? Haruskah? Katakan saja jika kau mencintainnya, bajingan!!”
“Aku tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu!! Aku hanya mencintaimu, Luo Yang!!”
Liam bicara setengah berteriak, airmatannya seketika mengalir. Tapi, hal itu tak menghiraukan Yang dia tetap bersikukuh dengan pendapatna.
__ADS_1
“Bagaimanapun juga. Aku tak peduli apapun alasanmu, aku hanya tahu kalau kau mencintai Hyun!”
Liam terdam, sudah cukup lelah baginya untuk berteriak meyakinkan perasaan Yang kalau dia hanya mencintai Yang.
“Aku akan memberikanmu waktu, sampai kamu sendiri yang menyadari arti cintaku bagimu, Yang.” ucap Liam, menatap mata Yang sebelum wanita tomboy itu pergi meninggalkannya.
Yang melangkahkan kakinnya pergi meninggalkan Liam, dengan memeluk erat tubuhnya sendiri dia tak menghiraukan tatapan mata Liam yang terus menatap kepergiannya.
“Bahkan, jika kau memohon padaku. Aku tidak akan menghiraukan dirimu, aku sudah cukup lelah dengan semua omong kosong itu, Liam.”
Liam hanya menatap nanar pada punggung Yang, berjalan pergi kembali ke tempat masing-masing dan sama-sama tak peduli.
“Kau munafik Yang. Aku tahu, hatimu hanyalah untukku,”
“Aku sebenarnya, memikirkan tentang Yang. Karena aku tahu, semua ini salahku. Aku yang sudah membuat kesalahan di antara Yang dan Liam,” ucap Hyun, merasa sangat tak enak.
Lim memegang tangan Hyun, dia membuat gadis itu sedikit tenang melalui genggaman erat tangannya.
“Jangan salahkan dirimu sendiri, Hyun. Lagipula, kamu tidak bisa disalahkan karena saat itu kamu bimbang dan berpikir kalau suamimu adalah Liam,” ujar Lim.
Hyun hanya terdiam dengan sangat sedih, dia memegang erat tangan Lim dengan airmatannya yang mengalir. Lim menghapus airmata Hyun, dan memberikannya senyuman lembut.
“Jangan sedih, aku paham bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi, kamu tidak bisa menyudutkan dirimu sendiri. Tenang saja, mereka pasti memiliki cara untuk membuat hubungan mereka kembali membaik,” ucap Lim, tersenyum pada istrinya.
__ADS_1
Hyun mengangguk, “Terimakasih Lim. Maaf, aku sudah merusak rencana makan malam romantis kita,” ucap Hyun, menundukkan kepalannya dengan sedih.
Lim tersenyum dan mengangguk, “Sudah, ayo kita lanjutkan makan malam kita,”
Chapter 2
Yang kembali pulang ke rumahnya, dengan matanya yang membengkak dan ekspresi wajah yang sangat kecewa juga sedih.
“Yang,”
Seseorang memeluk erat pinggang Yang dari belakang, dia bukan Lizy karena ukuran tubuhnya yang besar. Pria itu semakin memeluk erat pinggang Yang dan menghirup aroma tubuh menyegarkan Yang dengan menyandarkan kepalannya di pundak Yang.
“Tubuhmu sangat wangi, aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Yang, kumohon maafkan aku,’
“Liam menyingkir dariku, aku tidak ingin menjadikan hal ini sebagai permasalahan baru lagi. Aku mohon, pergilah dariku Yang, jangan bersikap seperti ini,” ucap Yang, da mulai sedikit luluh seteah mendengar suara lembut Liam.
“Tidak bisakah kamu berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki diriku dan hubungan kita? Aku memohon padamu, Yang.”
Yang terdiam, dia tetap bersikap angkuh dan mengingat semua kesalahan yang dilakukan Liam.
“Tak bisakah kamu ingat sedikit saja kenangan yang pernah kita ukir bersama, Yang?” tanya Liam.
“Diamlah, aku muak denganmu. Berikan aku waktu,” pinta Yang
__ADS_1