
Klontang….
Terdengar bunyi keras, sepertinya bunyi benda dari logam dan sangat berat yang jatuh ke lantai. Membuat Ares terbangun dari tidurnya.
Suara berisik apa ini? Kenapa sepagi ini terdengar suara berisik dari dapur? Suara benda jatuh, suara pisau yang dipakai untuk memotong daging dan sayuran, suara kompor yang menyala, serta suara pria dan wanita berbicara dengan akrab, penuh tawa dan canda.
Ares menarik bantal yang ada di sampingnya, menutup kepalanya dengan bantal empuk. Ia tidak suka mendengar semua suara kesibukan di dapur dan keakraban percakapan kedua orang itu. Tapi tetap saja suara itu masih terdengar olehnya. Huh… Dinding kamarku perlu direnovasi, aku harus segera menyuruh Sekertarisku untuk memasang peredam suara di kamar ini. Ares akhirnya memutuskan untuk bangun dan keluar kamar, ingin menegur kedua orang yang sudah mengganggu tidurnya.
Saat Ares membuka matanya, dia terkejut dengan keadaan sekitarnya. Ia benar-benar tidak mempercayai pandangannya. Sebuah kamar cukup luas dengan dinding berwarna biru muda, lemari kaca berisi semua koleksi lego yang telah dirakitnya saat masih kecil, berada di samping tempat tidurnya. Lalu semua aksesoris berbau Star Wars dari poster, pedang, boneka sampai kostum tokoh Star Wars kesukaannya teratur rapi di sudut kiri kamarnya. Lemari bajunya yang kecil. Meja belajar kecil. Semua perabotan di sini serba kecil, tidak sebesar perabot yang dimiliknya di Hades Mansion.
Ares menggosok-gosok matanya, bagaimana bisa semua ini terjadi?
Kamar ini… kamar ini bukan kamarnya, saat dia tidur tadi malam.
Kamar ini… adalah kamarnya saat dia masih berusia 7 tahun, kamar yang ada di apartement Papa Zeus.
Lalu Ares melihat dirinya sendiri. Tangan dan kakinya mengecil begitupula tubuhnya.
Ares terhenyak kaget, ia mengenakan sebuah piama tidur biru bergambar Doraemon.
“Mimpi… apakah ini mimpi?" gumam Ares kebingungan. Ia segera mencubit lengan tangannya untuk mengetes apakah ini mimpi atau bukan. Sakit… Ia dapat merasakan lengan tangannya sakit, jadi pasti ini kenyataan. Tapi bagaimana bisa dia kembali menjadi Ares berumur 7 tahun? Sangat tidak masuk akal sekali. Apakah dia baru saja masuk ke laci meja milik Doraemon dan pergi ke masa 20 tahun lalu? Ares menggeleng-gelengkan kepalanya. Pemikiran yang konyol sekali.
Tapi bagaimana bisa, seorang pria dewasa, 27 tahun, terjebak dalam tubuh anak kecil berusia 7 tahun?
Ares kembali mendengar percakapan dari luar kamarnya. Ia menoleh, ia pernah mendengar suara kedua orang itu. Ares segera mengingat-ingat kembali, suara siapakah yang sedang berbicara itu?
“Papa dan Kak Mutiara," pekiknya kaget. Ia segera berlari keluar kamar untuk membuktikan apakah tebakannya benar.
Brak… Dia membuka pintu kamar, terlalu bersemangat hingga membuat dua orang yang ada di hadapannya terdiam kaget. Mereka memandangi Ares lekat-lekat. Bangun tidur kok langsung membuka pintu sekeras itu.
Dan… tebakan Ares benar 100%. Ares melihat Papa dan Kak Mutiara berada di ruang makan. Papa tampak masih sangat muda dan tampan, rambutnya tidak berwarna kelabu, nampak segar dan begitu bahagia, sedang duduk di ujung meja makan.
Kursi roda… dimana kursi roda Papa? Tak ada, Ares tak melihat kursi roda di sekitar Papa.
Sedangkan Kak Mutiara, ia terlihat sangat cantik dengan balutan dress sifon warna merah muda. Dia masih sama seperti yang ada dalam ingatan Ares. Sinar matanya selalu berbinar indah, wajah ceria penuh senyum manis dan rambut panjang yang tergerai indah. Dia sedang menata hidangan di meja makan.
Dan… Mereka berdua sedang tertawa riang dan saling balas menggoda satu sama lain, saat Ares masih berada di kamar. Pemandangan yang tidak pernah dilihat sebelumnya.
“Papa… Kak Mutiara…," gumamku pelan.
Merekapun tersenyum hangat pada Ares.
__ADS_1
“Sudah bangun, teman kecilku?" tanya Kak Mutiara hangat.
“Selamat pagi, putra mahkotaku," sapa Papa dengan lembut.
Jantung Ares langsung berdetak kencang saat mendengar Kak Mutiara bertanya, Papa mengucapkan salam dan memanggilku Putra Mahkota, panggilan kesayangan untuknya saat dia masih kecil.
Ini bukanlah mimpi, tapi bagaimana bisa aku bertemu Papa dan Kak Mutiara di sini? Bukankah Papa sudah meninggal dan Kak Mutiara entah pergi kemana sampai aku merindukannya? batin Ares.
Ares terdiam dan tidak bergerak, kepalanya sibuk memikirkan bagaimana cara keluar dari kejadian aneh ini? Jika ini mimpi, cepatlah terbangun, dan jika ini halusinasi, cepatlah tersadar, begitulah jawaban yang muncul di kepalanya.
“Kenapa bengong, teman kecil? Ayo, kemarilah. Kakak sudah menyiapkan Spaghetti Bolognese dengan extra cheese banyak, fried chicken dan French fries. Ayo dimakan mumpung masih hangat, teman kecil," ucap Kak Mutiara penuh perhatian.
Ares lalu memandang meja makan yang sudah penuh dengan aneka makanan kesukaan Papa dan dirinya. Kak Mutiara selalu memasakkan makanan permintaan atau kesukaan kami berdua setiap kami datang ke vila. Dan pagi ini, Kak Mutiara memasak makanan kesukaannya di dapur apartement.
Aneh sekali… hidungku menyukai wanginya masakan Kak Mutiara, bahkan perutku meronta lapar ingin segera menyantap hidangan itu. Padahal Ares yakin, setelah ia beranjak dewasa, ia sudah tak pernah lagi menyentuh fried chicken dan french fries lagi karena semua makanan itu selalu mengingatkannya pada masa kecilnya, masa di mana dia selalu kesepian, sedih dan penuh harapan menunggu dijemput dari Hades Mansion oleh Papa. Dan dia berusaha melupakan masa kecilnya dengan susah payah.
Lalu kenapa sekarang hatinya terasa ringan, tidak lagi merasakan kesedihan, kesepian seperti yang dialaminya dulu? Apakah karena sekarang aku sudah memaafkan Papa dan sudah bertemu kembali dengan Kak Mutiara yang kurindukan? Atau perlahan, pikiranku berubah menjadi seorang anak polos berusia 7 tahun?
Entahlah… dunia ini sangat aneh sekali.
Lalu aku harus bagaimana sekarang?
Akhirnya Papa berjalan ke arah Ares, membungkuk di hadapannya agar pandangan Papa sejajar dengan pandangannya dan dapat berbicara dari hati ke hati.
Ares menganggukkan kepalanya cepat-cepat.
“Gendong aku, Papa. Aku sangat merindukanmu," ucap Ares yang tiba-tiba mulai berlinangan air mata.
Papa tampak sangat terkejut melihat Ares menangis, tapi Papa tidak banyak bertanya, Papa langsung memeluk Ares dalam dan membiarkan Ares menangis keras untuk melepas rasa rindunya.
Kak Mutiarapun segera mendekati kami berdua, berlutut di lantai dan ikut memelukku.
Pagi ini, Ares melepaskan semua beban yang ada di hati dan ingin memulai kembali merajut kenangan masa kecil yang indah dan bahagia.
Tapi… eits… sejak kapan ya Papa dan Kak Mutiara mesra, akrab seperti sepasang kekasih? Bahkan Kak Mutiara berani memelukku dan Papa sehangat dan sedalam ini? Sepertinya ingatan masa kecilku takpernah sekalipun mengingat Papa dan Kak Mutiara sedekat dan seakrab ini. Karena Papa adalah Tuan Muda pemilik vila, tempat Kak Mutiara bekerja. Apakah Oma dan Opa tahu kalau Papa dan Kak Mutiara sedekat dan seakrab ini? Ares segera menghentikan tangisnya, keluar dari pelukan Papa dan Kak Mutiara, berjalan mundur dan melihat mereka lagi.
Papa lalu berdiri tegak, mengulurkan tangannya untuk membantu Kak Mutiara berdiri dari lantai.
Dan hei… perut Kak Mutiara sudah membulat besar.
Kak Mutiara sedang mengandung.
__ADS_1
Ares menepuk pipinya. Sakit…. Benar… ini bukan mimpi, ini real… nyata…
Papa lalu maju dan langsung menggendong Ares, menduduknya di kursi yang ada di balik meja makan. Papa benar-benar menuruti keinginannya untuk menggendongnya.
Ares tertawa bahagia dalam gendongan Papa.
"Makasih, Papa," gumam Ares pelan lalu mencium pipi Papanya setelah duduk di kursi.
Ares lalu menatap piring spaghetti yang ada di hadapannya. Bingung, apakah makanan ini benar-benar dapat kumakan? Apakah makanan ini nyata dan dapat disantap?
Lalu Kak Mutiara segera menyodorkan garpu kepada Ares ketika Ares masih saja bengong menatap piring spaghettinya, supaya Ares segera menyantap Spaghettinya. Ares menerima garpu itu, lalu mengaduk-aduk spaghettinya dan memberanikan diri, menggulung spaghetti di garpunya dan memasukkannya ke mulut.
Yum... Dia merasakan lezatnya pasta yang dimasak al dente berbalur dengan saus tomat dan daging cincang yang lembut. Ares hampir tidak mempercayai semua ini, makanan yang dimakannya benar-benar nyata, bisa ditelan dan sangat enak, persis seperti ingatannya masa lalu.
“Enak? Makan yang banyak, teman kecilku," ucap Kak Mutiara.
Ares mengangguk dan segera menghabiskan spaghettinya agar dapat segera menyantap fried chicken dan french fries yang sudah lama tidak pernah dimakannya.
Kami semua sarapan dengan tertib dan hening tanpa banyak bicara.
Setelah selesai makan, Papa kemudian mengajakku duduk di sofa menonton tv. Sementara Kak Mutiara membereskan meja dan mencuci piring. Setelah menyelesaikan tugasnya, Kak Mutiara duduk di sebelah Papa dan Papa membelai perut Kak Mutiara dengan lembut. Kak Mutiara membalas Papa dengan seulas senyum lembut.
Ares memperhatikan semua tindakan Papa dan Kak Mutiara, mereka berdua terlihat saling mencintai.
Papa lalu menoleh ke arah Ares.
“Ares, jagalah adikmu dengan baik. Sayangi dia dan lindungi dia selamanya. Papa dan Kak Mutiara akan sangat berterima kasih padamu, jika kamu mau menjadi Kakak yang baik untuk putri Papa dan Kak Mutiara," pinta Papa lembut.
*
*
*
“Akhirnya, ingatan masa lalu yang kukunci dengan rapat karena trauma, terbuka. Sebuah rahasia terpendam ada di balik semua ini," gumam Ares pelan.
Tersadar dan kembali di waktu dan tempat dimana Ares berada sebelumnya.
Berada di dalam sebuah mobil, tengah malam, di pinggir sebuah jalan dengan penerangan sangat redup, sedang menunggu seorang gadis yang baru saja diteleponnya.
Ares menghela nafas panjang saat melihat gadis itu menghampiri mobilnya.
__ADS_1
"Akhirnya kau datang, Athena," gumam Ares sekali lagi.