
- Di sebuah rumah mewah yang ada di pulau pribadi milik Hades Group-
Setibanya di kamar, Ares segera mandi dan mengenakan kemeja berwarna putih dan celana panjang warna biru tua. Dia segera bersantap malam walaupun jam di kamarnya sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Setelah selesai, dia keluar kamar dan menuju ke kamar Athena.
"Apakah dia sudah tidur?" tanya Ares pada Robert yang sedang membaca buku sambil duduk bersila di lantai, tepaf di depan kamar Athena.
"Sudah, Tuan. Maaf, saya mengisi waktu dengan membaca," ucap Robert sambil berdiri dan menunduk hormat pada Tuannya.
"Tak apa. Apakah dia baik-baik saja hari ini?" tanya Ares.
Robert mengangguk.
"Sepanjang hari ini, Nona menghabiskan waktu dengan bernyanyi sambil main piano lalau membaca buku di ruang kerja Anda, Tuan," tutur Robert.
"Apakah nyanyiannya merdu?" tanya Ares sambil tersenyum.
"Luar biasa, Tuan," jawab Robert tetap menjaga emosinya, agar tidak terlihat sangat kegirangan ketika menceritakan nyanyian Nona Athena siang ini. Suara yang begitu merdu dan sangat cocok menyanyikan lagu-lagu cinta yang menyentuh hati.
Ares tertawa melihat ekspresi wajah Robert yang tidak natural.
"Istirahatlah, Robert. Sekarang giliranku yang menjaga Athena," ucap Ares.
Robert mengangguk dan kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, Robert mengintip Tuannya masuk ke dalam kamar Nona Athena dan setelah itu Robert kembali duduk bersila di lantai, di depan kamar Nonanya dan melanjutkan bacaan bukunya.
Robert takingin Tuannya berjaga sendirian malam ini, karena dia sudah mendengar semua berita buruk yang baru saja terjadi dari David.
Walaupun akhirnya Robert tertidur sambil duduk bersila ketika hari sudah mulai subuh.
*
*
*
Athena mengerjabkan matanya perlahan. Dan kemudian membuka matanya lebih lebar. Dia merasa ada sebuah bayangan hitam berada di dekatnya. Athena sudah hampir berteriak keras karena kaget. Tapi bayangan hitam itu membekap mulutnya. Athena memejamkan matanya dan meredam ketakutannya dengan menangis terisak-isak.
"Maafkan aku."
Suara pria yang begitu hangat terdengar di telinga Athena. Athena segera membuka matanya dan melihat seorang pria tampang berambut coklat berada di samping tempat tidurnya.
Athena langsung berteriak sekeras-kerasnya.
"Kyaaaa..... Hantu....," jerit Athena dan kemudian dia pingsan di tempat tidurnya.
Brakkk... Robert membuka pintu kamar Athena dan segera berlari ke samping tempat tidur Nonanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Robert dengan mata melotot kaget.
"Sepertinya Athena pingsan saat melihatku," jawab Ares kecewa, duduk di samping Athena dan membelai rambutnya dengan lembut.
__ADS_1
"Apakah wajahku menyeramkan seperti hantu?" tanya Ares pada Robert.
Robert menggelengkan kepalanya.
"Nona pingsan karena mengira melihat Almarhum Tuan Hefasius. Tuan Ares memang sangat mirip sekali dengan Almarhum, hanya ini yang membuatnya berbeda, Tuan," jawab Robert sambil mengusap-usap dagunya.
"Iya, hanya dagu terbelah ini yang membuatku berbeda dari adikku," ucap Ares sambil menyentuh dagunya.
Robert tersenyum, menunduk hormat lalu pergi meninggalkan kamar Nona Athena.
Kasihan Nona Athena, dia benar-benar ketakutan sampai pingsan begitu, batin Robert.
Robert melirik jam tangannya sudah hampir pukul lima pagi. Robert segera kembali ke kamarnya, mandi dan kemudian membuka laptopnya, mulai bekerja.
*
*
*
Athena membuka matanya ketika sinar matahari masuk ke dalam kamarnya melalui pintu kaca yang ada di kamarnya. Athena menarik tangannya untuk mengusap matanya, namun tangannya tertahan sesuatu. Jantung Athena langsung berdetak kencang ketika melihat seorang pria berambut coklat menggenggam erat tangannya. Pria itu sedang tertidur sambil terus menggenggam tangan Athena.
Athena memberanikan diri untuk menyentuh rambut pria itu.
"Lembut...," gumamnya pelan dan jantungnya berdegup normal kembali.
Dia bukan hantu yang selalu datang di mimpiku, dia juga bukan hantu yang menerorku kemarin malam, batin Athena, tersenyum geli menertawai dirinya sendiri, saat mengingat kejadian semalam.
Athena kembali memejamkan matanya, mengingat-ingat foto Ares dan Hefasius yang ada di pigura foto silver milik Kak Zeus, yang sekarang tersimpan di dalam laci mejanya di apartement. Kedua keponakannya benar-benar bagai pinang dibelah dua. Semua orang yang tidak mengetahuinya pasti mengira bahwa keponakannya itu kembar, padahal selisih umurnya 8 tahun. Athena kembali tersipu malu. Baru kali ini dia bertemu dengan Ares, selama ini Athena hanya melihat keponakannya dari foto di pigura foto, media sosial dan internet.
Ares yang terkenal sebagai pebisnis muda, penerus Hades Group. Dan Hefasius yang terkenal sebagai Selembgram tampan.
Athena menunggu hampir sejam, akhirnya Ares membuka mata, bangun dari tidurnya dan tersipu malu pada Athena, karena terus menggenggam tangan Athena sejak semalam.
"Selamat pagi, Ares," ucap Athena malu-malu.
"Apakah aku harus memanggilmu Kak Ares?" tanya Athena canggung ketika melihat Ares mengangkat alisnya tanda kaget mendengar salam Athena. Dan Athena melihat jelas sebuah luka kecil di alis kanan Ares.
Ares tersenyum manis, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku karena tidak sopan, Kak Ares," ucap Athena sambil menunduk.
"Hei... Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, karena sudah membuatmu pingsan semalam. Maafkan juga lusa kemarin, aku sudah membuatmu menangis juga," pinta Ares sambil tersenyum manis menunjukkan lesung pipinya sebelah kanannya.
"Oh, Kak Ares juga memiliki lesung pipi di kanan. Jadi perbedaannya ada tiga ya, Kak? Dagu terbelah, luka kecil di alis kanan dan lesung pipi?" tanya Athena lagi, lalu terdiam kaget, tidak percaya. Mimpi Athena tentang orang yang mau menolongnya, juga memiliki dagu terbelah.
Deg... Jantung Athena berdetak kencang.
Mimpinya terlihat sangat nyata sekarang.
"Apakah Kak Ares adalah pria di jalan Cempaka?" tanya Athena pelan.
__ADS_1
Ares menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku tidak memberitahumu sebelumnya," ucap Ares.
"Terima kasih, Kak. Sudah banyak menolongku. Aku senang mempunyai Kakak yang bersedia menolongku. Bagaimana perkembangan kasusnya, Kak? Apakah sudah selesai?" tanya Athena cemas.
Ares menggelengkan kepalanya.
"Setelah sarapan, aku akan menceritakan semuanya padamu. Sekarang mandilah dulu, kita bertemu lagi di meja makan, okay?" ucap Ares.
*
*
*
Pertemuan Athena dan Ares berjalan lancar, tidak seperti bayangan Ares, dimana Athena akan bersedih jika mengetahui siapa Ares sebenarnya, karena Athena sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi selama ini.
Syukurlah, jika memang sudah tiba saatnya, aku akan berterus terang padanya. Semoga dia dapat memaafkanku, batin Ares.
*
*
*
Athena terkesiap kaget setelah mendengar semua berita yang disampaikan Ares, apalagi tentang Lukas Malcom. Kelihatan sekali tangan Athena gemetar dan tubuhnya menggigil ketakutan. Ares segera memeluk Athena dengan hangat.
"Tidak usah takut, aku akan selalu menjagamu," ucap Ares sambil membelai rambut Athena dengan lembut.
Robert yang menyaksikan semua kejadian itu dari jarak jauh terkesiap kaget. Tuannya memeluk seorang gadis, sebuah moment langka yang harus diceritakan pada David, rekan kerjanya.
"Dasar tukang gosip," ucap David di telepon sambil tersenyum lebar.
*
*
*
Semua anggota tim kepolisian Z hanya melongo kaget saat melihat rekaman cctv toilet bar yang dikunjungi Lukas Malcom. Semuanya tidak berani berkomentar macam-macam lagi, karena hal ini sudah di luar kemampuan kepolisian.
Kring.... kring... kring...
Telepon berbunyi keras.
Semua orang yang ada di ruangan meeting terlonjak kaget dan memaki-maki bunyi telepon yang tiba-tiba berdering saat mereka sedang ketakutan.
Hendra segera mengangkat telepon itu dan bergegas pergi ke ruangan Kepala Kepolisian Z.
"Pak Lucius Malcom baru saja menelepon, kasus pembunuhan setahun lalu, Satpam Agus dan anaknya lebih baik ditutup saja. Kau tahu sendirikan alasannya, Hendra. Tutup rapat berita ini, jangan sampai tersebar keluar dan meresahkan masyarakat," perintah Kepala Kepolisian.
__ADS_1
"Siap, Pak," jawab Hendra tegas lalu pamit kembali ke ruangannya.