
"Sekarang sudah pukul 23.30, apakah pria di layar monitor cctv nomer tujuh itu ketakutan dan melakukan hal-hal aneh lagi?" tanya Pria Berseragam Hitam A pada rekannya.
"Tidak, dia baik-baik saja. Lihat dia hanya sedang duduk meringkuk di pojok ruangan. Dia tidak gemetar ketakutan, syukurlah. Aku kasihan sekali melihat kondisinya, makin hari, terlihat makin stress ketakutan begitu," jawab Pria Berseragam Hitam B.
"Iya, entah mengapa Tuan mengurung pria itu di sana. Apa kesalahannya sampai Tuan memperlakukannya seperti itu? Apakah dia sudah membuat Tuan marah besar?" tanya Pria Berseragam Hitam B sambil geleng-geleng kepala.
Srrrttt.... Tiba-tiba layar monitor cctv nomer tujuh bermasalah, buram dan berwarna putih abu-abu.
"Hei... ada apa ini? Kenapa hanya tampilan gambar layar monitor cctv nomer tujuh saja yang rusak?" tanya Pria Berseragam Hitam A bingung, dia langsung mengetuk-ngetuk layar monitor cctv nomer tujuh, berharap setelah diketuk, tampilan gambarnya kembali seperti semula.
"Sepertinya hantu itu datang dan merusak tampilan gambar cctv," ucap Pria Berseragam Hitam B bergetar ketakutan. Wajahnya sudah pucat pasi, tangannya langsung menggenggam erat baju rekan kerjanya, agar tetap berada di sampingnya, karena dia sangat ketakutan.
"Hush... jangan ngaco kamu ya... ini cuma error sesaat, sebentar lagi juga akan normal kembali," jawab Pria Berseragam Hitam A mulai khawatir dan panik, tapi tetap berusaha tenang di hadapan rekan kerjanya.
"Apakah kita perlu melapor dan minta ijin pada Tuan dulu sebelum masuk ke kamar pria itu? Sepertinya kita harus mengecek pria itu sekarang, aku khawatir terjadi sesuatu pada pria itu, aku takut sebelum mendapatkan ijin dari Tuan, pria itu sudah tewas dibunuh hantu," ucap Pria Berseragam Hitam B.
"Kita tunggu dulu lima menit, kalau masih error, kita langsung cek ke lokasi saja," putus Pria Berseragam Hitam A.
"Baik, pukul 23.45 batas waktunya."
"Semoga pria itu baik-baik saja."
Srrrttt....
__ADS_1
Gambar layar monitor ccrv nomer tujuh tiba-tiba kembali menyala. Kedua Pria Berseragam Hitam segera mendekatkan mata mereka ke layar monitor untuk melihat bagaimana kondisi pria yang ada di sana. Dan tiba-tiba dari layar monitor keluar sebuah tangan berdarah ingin mencekik leher mereka.
"Aaaa....," teriak kedua Pria Berseragam Hitam itu kaget, segera mundur dan menjauhi layar monitor. Napas mereka tersenggal-senggal, mereka kaget bukan kepalang, karena tiba-tiba muncul hal mengerikan di luar dugaan mereka. Wajah mereka berdua terlihat sangat syok berat seperti baru saja melihat hantu. Pria Berseragam Hitam B memejamkan matanya, mengelus-elus dadanya dan mengatur napasnya. Sementara Pria Berseragam Hitam A kembali melihat layar monitor itu lagi, tangan berdarah itu sudah hilang.
"Hilang... tangan berdarah itu sudah hilang. Menakutkan sekali... Dan Oh My God...," ucap Pria Berseragam Hitam A makin ketakutan saat melihat pria yang ada di ruangan yang terekam kamera cctv nomer tujuh, tergeletak di lantai dengan mata terbelalak ketakutan.
"Gila... ini sudah gila. Kita harus ke ruangan pria itu sekarang. Lihat... dia sudah tewas mengenaskan," ucap Pria Berseragam Hitam A lagi dan menarik rekan kerjanya untuk segera menemaninya mengecek kondisi pria itu. Mereka kemudian berlari menuju ruangan bawah tanah gedung sayap kiri dan segera menuju ke kamar pria itu. Pria Berseragam Hitam A segera menekan sandi untuk membuka pintu kamar dan kemudian menekan dan menarik gagang pintu kamar.
"Oh My God...," ucap Pria Berseragam Hitam B saat pintu kamar dibuka, dia langsung menutup hidungnya, karena udara yang tercium saat membuka kamar itu sangat amis dan anyir sekali, seperti berbau darah. Padahal dia tidak melihat darah sama sekali di sana, hanya seorang pria tergeletak tak bergerak di lantai.
"Ayo, kita cek pria itu!" ajak Pria Berseragam Hitam A yang sudah masuk lebih dahulu ke dalam kamar sambil membawa tongkat hitam berukuran 40cm.
Pria Berseragam Hitam B lalu mengeluarkan tongkat serupa dari ikat pinggangnya, untuk berjaga-jaga jika ada seseorang berusaha menyakiti mereka berdua. Ia berjalan pelan di belakang rekan kerjanya, sambil terus mengawasi kondisi sekitarnya.
"Pria ini sudah tewas," ucap Pria Berseragam Hitam A lalu meletakkan jemari tangannya di mata pria itu, dan menutup matanya yang terbelalak.
"Ayo kita keluar sekarang. Kita hubungi Tuan setelah kita di luar kamar," ucap Pria Berseragam Hitam B cepat-cepat berdiri dan keluar kamar. Rekan kerjanya segera menyusul.
"Kunci lagi pintunya," perintah Pria Berseragam Hitam B begitu mereka berdua sudah di luar kamar. Pria Berseragam Hitam A segera menekan tombol "lock" di mesin pengunci pintu.
Pria Berseragam Hitam B segera menelepon Tuannya.
"Selamat malam, Tuan. Ada kabar buruk, Tuan... Emm... emm... Pria di kamar nomer tujuh tewas, Tuan. Kami tidak tahu apa yang sudah terjadi, layar cctv tiba-tiba rusak beberapa menit dan setelah kami cek, pria itu sudah tewas mengenaskan. Apa yang harus kami lakukan, Tuan? Apakah kita harus lapor polisi?" tanya, Pria Berseragam Hitam B.
__ADS_1
"Jangan... Buang saja mayatnya di danau yang ada di belakang rumah. Kerjakan dengan rapi, jangan sampai ada yang tahu dan aku akan memberikan bonus besar untuk kalian," jawab Tuannya
Mulut Pria Berseragam Hitam B menganga lebar setelah mendengar perintah Tuannya.
"Ba... Baik, Tuan. Akan kami laksanakan sekarang," jawab Pria Berseragam Hitam B terbata-bata, kemudian menutup teleponnya karena Tuannya sudah terlebih dahulu mengakhiri panggilan teleponnya.
"Apa kata Tuan?" tanya Pria Berseragam Hitam A penasaran.
"Sekarang cepat buka pintunya dan kita buang mayatnya ke danau belakang. Kerjakan semuanya dengan benar maka kita akan dapat bonus besar," ucap Pria Berseragam Hitam B gemetar.
"Gila... ini sudah gila. Aku tidak mau membuang mayat itu ke danau. Kita bisa dituntut hukuman pidana," jawab Pria Berseragam Hitam A.
"Ya, tapi kalau kita tidak membuangnya, kita juga akan bernasib sama seperti pria ini. Mana yang kau pilih? Membuangnya atau kita berdua akan menjadi penghuni baru kamar ini setelah kamar ini kosong?" tanya Pria Berseragam Hitam B bergetar ketakutan.
"Ayo kita buang ke danau belakang," jawab Pria Berseragam Hitam A ketakutan dan segera menekan sandi pintu kamar itu lagi. Mereka berdua segera bergegas masuk, mendekati mayat itu.
"Kau pegang bagian kakinya, aku akan angkat bagian kepalanya," ucap Pria Berseragam Hitam A pada rekan kerjanya.
"Baik," ucap Pria Berseragam Hitam B sambil memegang kaki pria itu.
"Satu.. dua... tiga... angkat!" perintah Pria Berseragam Hitam A sambil mengangkat kepala mayat itu.
Mereka berjalan sambil terhuyung-huyung, dan terus keluar dari kamar menuju danau yang airnya selalu berwarna hitam. Mereka menerobos rumput-rumput kering yang menjulang tinggi. Memasukkan mayat itu ke dalam sebuah perahu boat kecil yang ada di pinggir danau, menyalakan mesin perahu boat dan membawa boat itu pergi agak jauh dari rumah dan kemudian melempar mayat itu ke danau, meninggalkannya begitu saja, dan segera kembali ke rumah. Mereka berdua akhirnya dapat bernafas lega setelah semua tugas mereka selesai dan melihat dua buah amplop tebal berisi banyak uang sudah berada di atas meja mereka.
__ADS_1
Flash Back Off