
Akhirnya Athena tiba di Jalan Cempaka, sebuah jalan kecil di dekat apartementnya, jalan yang sepi dan jarang dilalui. Pengemudi kendaraan bermotor dan pejalan kaki lebih memilih melewati Jalan Mawar karena jalan itu lebih besar, lebih ramai dan lebih hidup, dipadati oleh beberapa toko, cafe, restoran kecil yang berhias cantik dengan aneka dekorasi modern dan tatanan lampu yang mempercantik keindahan malam.
“Hmm… sudah selarut ini tapi masih saja ramai, semuanya masih buka dan masih banyak pengunjung," ucap Athena sekilas melihat hiruk pikuknya Jalan Mawar saat hendak berbelok ke Jalan Cempaka dan membandingkannya dengan kesunyian Jalan Cempaka, remang-remang dengan lampu redup dan tidak ada satu kendaraan atau manusia yang ada di jalan itu, kecuali dirinya.
“Sepi sekali… menakutkan," ucap Athena mengusir rasa ketakutannya lalu mengeluarkan ponsel dari saku coatnya, menyalakan flash light di ponselnya sekaligus memeriksa apakah ada pesan baru dari orang yang akan menolongnya.
Ting… ting… ting…
“Duh… ngagetin aja deh," ucap Athena pelan dan melihat sebuah pesan baru tiba-tiba masuk di ponselnya.
“Mobil biru di dekat box telpon umum," ucap Athena pelan, lalu menoleh dan melebarkan mata ke segala penjuru arah, mencari sebuah mobil berwarna biru di jalan Cempaka, tapi belum nampak sedikitpun tanda-tanda kehadiran mobil atau manusia di jalan ini.
Athena kembali berjalan lagi setelah merapatkan coatnya, sambil mengingat-ingat di mana letak box telpon umum yang ada di jalan Cempaka. Sepertinya dia masih harus berjalan sekitar 1 km lagi. Dan Athena mulai merasa dirinya sedikit lelah dan mulai mengantuk. Pasti efek obat penenang yang diminumnya sudah mulai bekerja. Athena mulai menyesali kecerobohannya, kenapa dia minum obat itu sebelum datang ke Jalan Cempaka, seharusnya dia mengajak Mbak Puput atau Bi Marni untuk menemaninya datang ke jalan ini. Tapi sudah terlambat untuk menyesali semuanya. Athena terus melangkah dan mencari di mana mobil biru itu berada.
Semakin cepat aku menemukan mobil itu, melihat hasil forensik dan mengetahui kebenarannya, semakin cepat aku dapat pulang dan beristirahat di kamar nyamanku, batin Athena.
“Itu… itu dia mobil birunya," ucap Athena senang saat melihat sebuah mobil mewah berwarna biru tua berada di dekat box telepon umum.
Syukurlah, batin Athena dan mempercepat langkahnya menuju mobil biru itu berada.
Dan setelah Athena berada beberapa meter dari mobil biru itu, seorang pria berpakaian serba hitam dan memakai topi hitam turun dari mobil. Pria itu mengatur posisi topi hitamnya, sehingga Athena tidak dapat melihat wajah pria itu di bawah redupnya sinar lampu jalan Cempaka. Athena menghentikan langkahnya dua meter dari pria itu, mengawasi pria itu dan menunggunya berbicara.
__ADS_1
“Masuklah ke dalam mobil dan aku akan membawamu ke tempat yang lebih terang agar kamu dapat membaca laporan forensik dengan baik," ucap pria itu dengan suara yang menyejukkan hati.
Tidak ada nada paksaan dalam suaranya, membuat jantung Athena yang berdetak kencang dan rasa takut mulai merayap masuk ke jantungnya, perlahan sirna. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Athena, kemudian dia masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
Sudah kepalang tanggung, sudah bertemu dan berbicara dengan orang tak dikenal di jalan yang sepi ini, jika pria ini benar-benar bermaksud kurang baik terhadapnya, pasti dia sudah disergap dan diculik, tapi dengan sopan pria ini mengajaknya ke tempat yang layak untuk berbicara lebih lanjut, batin Athena. Athenapun mengangguk, kemudian memberanikan diri masuk ke dalam mobil pria itu.
Setelah Athena duduk dengan nyaman di dalam mobil mewah itu, pria itu kemudian memutar sebuah lagu klasik piano yang lembut, mencairkan suasana canggung di antara mereka berdua. Athena lalu memejamkan matanya sesaat dan mengatur napasnya agar tidak gugup. Beberapa saat kemudian suara mobil mulai menderu dan membawa mereka berdua keluar dari Jalan Cempaka.
Dan saat Athena membuka matanya, dia sudah berada di sebuah tempat yang jauh dari apartementnya.
*
*
*
Ares kembali melirik Athena, gadis itu sudah terlihat nyaman dan santai setelah lagu kesayangannya diputar. Ares kemudian menyalakan mobilnya akan membawa Athena ke Mansionnya. Athena tidak banyak bicara sepanjang perjalanan. Ares lalu meliriknya lagi dan mendapati Athena sudah tertidur pulas di sampingnya. Ares tersenyum geli melihat Athena, bagaimana bisa gadis itu tertidur di samping orang asing yang tidak dikenalnya, benar-benar gadis ceroboh. Ares kemudian menekan pedal gas mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus kesunyian malam menuju Mansionnya. Begitu gerbang Mansionnya terbuka, Ares segera masuk ke halaman Mansion dan parkir di depan pintu utama. Keluar dari mobilnya dan menemui dua Sekertarisnya.
“Robert, apakah helicopter sudah siap?" tanya Ares pada Sekertarisnya.
“Sudah siap di hangar, Tuan. Apakah Tuan sudah siap untuk pergi sekarang?" tanya Robert.
__ADS_1
“Sebentar, seseorang akan ikut dalam penerbangan kali ini. Tapi rahasiakan semuanya dengan baik, jangan sampai ada orang yang tahu selain kalian," ucap Ares kemudian kembali ke mobilnya, membuka pintu dan menggendong seorang gadis yang sedang tidur menuju hangar.
Robert dan David yang melihat tindakan Tuan Mudanya hanya geleng-gelang kepala dan segera menyusul Tuan Mudanya menuju ke hangar untuk naik helicopter menuju sebuah pulau pribadi Hades Group.
*
*
*
Flash Back On
Krek…krek…krek…
“Jangan… tolong jangan ganggu saya, maafkan saya… Saya mohon… Setelah saya keluar dari ruangan ini, saya berjanji untuk memberitahu siapa pembunuh Anda, Tuan," ucap seorang pria ketakutan setiap mendengar suara krek.. krek… krek. Tapi suara krek… krek… krek… itu terus terdengar, tidak berhenti setelah pria itu melontarkan sebuah janji.
“Kenapa? Kenapa Tuan selalu menakut-nakutiku? Apakah Tuan menginginkan hal lain? Apakah Tuan ingin saya mengembalikan semua uang yang sudah saya terima karena menutupi kasus pembunuhan Tuan?" tanya pria itu sambil terus memejamkan matanya, menutup telinganya, meringkuk di pojok ruangan, tidak berani bergerak dan semakin ketakutan mendengar suara krek…krek…krek yang makin keras dan nyaring di telinganya.
“Cukup… cukup… tolong lepaskan saya, Tuan. Saya akan lakukan semua keinginan Tuan. Tolong… tolong bantu saya keluar dari ruangan ini, Tuan. Saya sudah tidak tahan lagi. Jika Tuan tidak mau membantu saya, saya juga tidak dapat membantu Tuan. Saya sudah berusaha semampu saya untuk keluar dari tempat ini," ucap pria itu ketakutan yang mendadak berdiri dan hendak berlari ke sudut ruangan yang lain, menghindar dari bunyi krek… krek…krek yang mengganggunya. Tapi kakinya terasa berat dan tak dapat melangkah. Dia melirik kakinya dan tangannya terulur berusaha menarik kakinya supaya dapat berlari, namun matanya malah melihat sebuah tali melilit kakinya bergerak naik ke pahanya, kemudian ke perutnya, terus naik hingga melilit lehernya.
“Aaaa… aaa…. Lepaskan leher saya, Tuan. Aaaa…. Saya mohon, jangan cekik saya, Tuan," ucap pria itu sambil berusaha menarik tali itu agar lepas dari lehernya. Tapi lilitan tali itu makin erat dan kuat, meremukkan jakunnya dan terus menjeratnya hingga dia terjatuh dan tidak bernafas lagi.
__ADS_1