
Setelah sarapan bersama Athena dan Robert, Ares segera beranjak menuju ruang kerjanya. Robert langsung berdiri, menggangguk hormat pada Athena, kemudian menyusul Tuan Mudanya.
“Bagaimana kasus Lukas Malcom? Apa pendapat polisi?" tanya Ares pada Robert setelah Robert masuk ke ruang kerjanya.
“Polisi menghentikan penyelidikan kasus pembunuhan tiga orang sekaligus. Pembunuhan seorang pria tanpa identitas setahun yang lalu, Satpam Agus (Satpam yang bekerja di rumah Zeus Anthony) dan Lukas Malcom. Karena kasus pembunuhan ini berkaitan dan penyelidikan kasus ini dianggap dapat meresahkan masyrakat jika terus dibuka, karena pelakunya bukan manusia, tapi hantu, Tuan," jawab Robert.
“Berkaitan? Bagaimana dapat berkaitan? Jelaskan!" perintah Ares.
Robert segera membuka tabletnya, kemudian memberikan laporan hasil forensik korban pertama, kedua dan ketiga.
“Semua korban dibunuh dengan cara yang sama, dicekik dengan tali dan ada lebam dan retak di bahunya. Tali itu tidak pernah ditemukan dan tidak ada sidik jari sama sekali di tempat para korban di temukan. Korban pertama dan kedua ditemukan di area Danau Kelinci Hitam. Hmm… Sebenarnya baru-baru ini, polisi menemukan sebuah kalimat aneh yang tertulis di dinding pondok, tempat kejadian perkara korban pertama. Hefasius is the killer, LkM. Dan saat polisi ingin menemui Lukas Malcom untuk dimintai keterangan, korban sudah meninggal di dalam toilet.”
“Hefasius is the killer? Apa-apaan itu? Siapa yang berani mengukir kalimat aneh seperti itu di dinding pondok?" tanya Ares sedikit marah.
“Polisi belum sempat menyelidikinya, Tuan. Dan sekarang kasus ini ditutup. Lagipula Tuan Hefasius juga sudah meninggal, Tuan," jawab Robert.
“Perlihatkan foto korban pertama yang ditemukan di pondok, Robert," perintah Ares.
Robert segera menggeser layar tabletnya dan kemudian menyerahkan tabletnya kepada Ares.
Ares segera memeriksa foto korban pertama di tablet Robert dan alisnya bertaut. Robert yang melihat reaksi Tuannya berusaha menahan keinginannya untuk bertanya lebih jauh.
“Aku pernah melihat dia. Tanda lahir berwarna merah di pelipisnya. Aku tidak dapat melupakannya karena tanda lahir itu sangat unik, bentuknya mirip sebuah lubang kecil. Dan pria itu adalah seorang lintah darat yang pernah datang ke Indonesia setahun yang lalu, menemui Hefasius untuk menagih semua hutang-hutangnya karena kalah dalam perjudian di Macau," ucap Ares.
Robert terhenyak kaget.
“Saat itu Hefasius datang ke kantorku ditemani pria itu dan Lukas Malcom. Hefasius ingin aku membantunya melunasi semua hutangnya, tapi aku menolak dengan tegas. Dan aku tidak tahu bagaimana kelanjutan kabar mereka," kata Ares lagi.
“Tuan… sepertinya tulisan di dinding pondok itu benar," ucap Robert gemetar.
Ares segera bangkit dari kursinya.
“Cari Athena sekarang juga," perintah Ares pada Robert.
Ares dan Robert segera berlari keluar dari ruang kerja, menuju kamar tidur Athena.
*
__ADS_1
*
*
Athena memutuskan pergi ke ruang kerja Ares untuk mengambil beberapa buku bacaan, setelah berjalan-jalan di pantai.
Sekarang Athena sudah berada di depan pintu kaca yang memisahkan ruang kerja Ares dengan pantai.
Ruang kerja itu kosong, Kak Ares dan Robert sudah keluar dari sini rupanya, batin Athena.
Athena menarik pintu kaca itu.
“Tidak terkunci," ucap Athena kemudian menggeser pintu kaca dan masuk ke dalam ruang kerja Ares. Athena melepaskan alas kakinya sebelum masuk karena khawatir butir pasir akan mengotori lantai ruang kerja Ares.
Athena segera berjalan ke rak buku Ares dan membaca beberapa judul buku yang ada di dalam rak. Tiba-tiba saja, pintu kaca itu menutup keras, dan gorden bergerak cepat menutup pintu kaca. Cahaya matahari yang masuk ke dalam ruang kerja tiba-tiba menghilang, kegelapan datang dengan sangat mengerikan.
“Kyaaa….," Athena berteriak keras karena dia sangat ketakutan.
Dan tiba-tiba buku-buku yang ada di dalam rak melayang di udara, membentuk sebuah lingkaran dan berputar keras mengelilinginya. Athena jatuh terduduk di lantai, meringkuk ketakutan dan menangis histeris. Dia berusaha melindungi dirinya dari pusaran buku-buku tebal yang dapat melukai dirinya.
“Athena… cepat buka pintu ini," pekik Kak Ares dari luar ruangan.
“Kakak, tolong aku.”
Brak… brak… pintu ruang kerja didobrak keras agar terbuka, tapi pintu itu terlalu kuat dan tidak mudah dibuka paksa.
“Nona, apakah kau baik-baik saja?" tanya Robert sangat cemas.
“Tolong aku… cepat tolong aku…," pekik Athena ketakutan karena melihat sebuah bayangan hitam tiba-tiba berada di depannya saat dia menengadahkan wajahnya.
Bayangan hitam itu semakin mendekat dan kemudian perlahan bayangan hitam itu berubah menjadi seseorang yang dia kenal.
“Hefasius," jerit Athena lagi.
Wajah itu menyeringai dengan sangat menakutkan, membuat wajah tampannya terlihat seperti seorang pembunuh. Tangannya terulur ke depan dan mencekik leher Athena. Mencekik dengan sangat keras dan membisikkan kata “Mati Kau… Mati Kau… Lebih baik kau mati.”
Athena tidak dapat bernafas, tangannya berusaha mengusir tangan Hefasius yang mencekiknya, tapi tangan Hefasius tidak dapat disentuh oleh tangannya, seperti menyentuh udara kosong.
__ADS_1
Tangan yang dapat dilihat mata, tapi tak dapat disentuh. Hantttuuu… Hefasius adalah hantu, batin Athena.
Pikiran Athena kembali teringat pada kejadian malam pembunuhan. Pria yang berusaha membunuhnya malam itu memliki wajah yang sama dengan hantu yang ada di depannya. Athena menjadi semakin panik, takut dan akhirnya dia pingsan karena sangat ketakutan.
Semua buku yang melayang di udara tiba-tiba jatuh ke lantai, menimbulkan suara gaduh.
“Nona… Nona… Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Robert cemas sambil terus berusaha masuk ke ruangan. Semua usaha sudah dilakukannya, mendobrak pintu berkali-kali, sampai bahunya sakit, tapi pintu ini masih belum terbuka.
Tubuh Athena yang pingsan kemudian terangkat perlahan dari lantai menuju ke eternit ruangan.
Prang… Pintu kaca tiba-tiba pecah.
Ares segera masuk ke ruang kerjanya lewat pintu kaca yang sudah dipecahkannya dengan kursi yang ada di depan ruang kerjanya.
Dan mata Ares melihat tubuh Athena ada di atas eternit tiba-tiba terjatuh dengan cepat ke lantai. Ares segera berlari untuk menangkap tubuh Athena sebelum menyentuh lantai.
Brukkk…. Ares berhasil menangkap Athena. Ares merasakan tangannya sangat kesakitan saat tubuh Athena jatuh dengan keras ke tangannya. Badan Ares menjadi tidak seimbang, dan akhirnya Ares jatuh tersungkur bersama Athena.
Dug… kepala Athena terantuk ke lantai.
“Maaf…," ucap Ares perlahan, sambil berusaha duduk dan menarik tubuh Athena ke dalam pelukannya.
“Athena… Athena… buka matamu, Athena…," ucap Ares sambil menggosok-gosok pipi Athena, tapi Athena tetap pingsan. Ares lalu meletakkan Athena ke lantai dan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang telah melukai Athena. Sebuah bayangan hitam tiba-tiba bergerak cepat dan kemudian menghilang.
“Tuan… Nona… apakah kalian baik-baik saja?" tanya Robert sambil menyibakkan korden yang menutupi pintu kaca, sinar matahari segera masuk ke ruangan, menerangi ruangan sekaligus memperlihatkan betapa pora porandanya ruangan ini. Pecahan kaca dan buku tersebar di mana-mana. Dan nampak Tuannya sedang terduduk di depan Nonanya yang pingsan, lalu menggendong Nona dan keluar dari ruang kerjanya melalui pintu kaca.
“Panggil Dokter Fefe kemari, Robert," perintah Ares cepat.
Robert segera menghubungi Dokter Fefe dan memintanya bersiap di Hades Mansion, karena helicopter sudah menunggunya untuk membawa Dokter Fefe ke pulau pribadi milik Hades Group.
__ADS_1