
Athena berlari sangat kencang, menyusuri sebuah lorong gelap dan panjang, dia menoleh ke belakang, melihat seseorang pria berbaju hitam masih terus mengejarnya, pria itu terlihat sangat menyeramkan dan mengancam kehidupannya. Matanya menyiratkan kebencian dan kemarahan, seperti ingin membunuhnya jika dirinya berhasil tertangkap.
Jantung Athena terus berdegup kencang, seperti ingin keluar dari tubuhnya dan pergi menyelamatkan dirinya sendiri. Keringat dingin takhenti-hentinya mengalir deras, membasahi pakaian yang dikenakannya malam ini, tapi dia tidak peduli dan terus berlari ke depan menyusuri lorong, tanpa tahu apa yang ada di depannya, berusaha sekuat tenaga supaya lolos dari kejaran pria itu.
Cahaya... di manakah kau berada? Bulan, bintang atau lampu, kenapa kau menghilang bak ditelan bumi?
Kenapa... Kenapa pria itu mengejarku dan ingin membunuhku? Memang apa salahku padanya? batin Athena bingung.
Sudah jangan banyak berpikir lagi...
Lari, lari dan teruslah berlari, Athena...
Sebelum pria itu mendekat dan berhasil menangkapmu.
Tiba-tiba ada sebuah cahaya redup di depannya dan beberapa saat kemudian dia sudah berada di akhir ujung lorong panjang nan gelap itu, dia melihat ada sebuah mobil mewah berwarna biru di sebuah jalan yang diterangi sebuah lampu redup. Athena berusaha melihat apakah ada orang di dalam mobil itu? Dan dia melihat ada seorang pria sedang duduk di balik kemudi.
Tanpa pikir panjang, kaki Athena melangkah mendekati mobil itu.
Aku harus meminta pertolongan pria yang ada di mobil itu. Lebih baik naik ke dalam mobil itu, minta pria tersebut untuk segera mengemudikan mobilnya keluar ke jalan raya, mencari tempat lebih terang, menurunkanku di sebuah minimarket yang buka 24 jam, daripada harus terus berlari seperti ini, batin Athena.
Dia sudah berlari cukup jauh, kakinya capek, nafasnya tersengal-sengal, detak jantungnya terlalu cepat, keringat dingin sudah mengucur deras, jika aku terus memaksakan diri untuk terus berlari, pasti sebentar lagi aku akan pingsan dan pria yang mengejarnya dengan mudah dapat menangkap dan membunuhnya, batin Athena mendiagnosa dirinya sendiri.
Namun... apakah pria itu adalah orang baik-baik atau jangan-jangan adalah komplotan penjahat yang mengejarnya? Jika dia penjahat juga, tamatlah riwayatku, batin Athena.
Resiko gagal atau berhasil kabur dari kejaran seorang pria adalah 50 dan 50. Jadi Athena memberanikan diri mendekati mobil biru itu, membuka pintu mobil, segera masuk dan duduk di dalam mobil yang tidak terkunci pintunya. Athena segera mengatur nafasnya, agar dapat mulai berbicara.
"Tuan... Tuan... Bantulah saya, bawa saya pergi ke minimarket yang buka 24 jam yang ada di jalan raya. Saya dikejar oleh seorang pria. Tolonglah saya, Tuan... Saya mohon...Tolonglah saya...," ucap Athena sambil memohon-mohon penuh harap.
Pria yang duduk di sampingnya lalu menoleh.
"Kyaaaa...," teriak Athena sangat keras sekali.
Pria di sampingnya...
__ADS_1
Wajahnya sangat mirip dengan pria yang mengejarnya, matanya, hidungnya, rambut cokelatnya.
Semuanya sangat mirip.
Hanya saja sinar mata pria itu lebih lembut, hangat dan menentramkan hati, bentuk dagunya juga berbeda, ada belahan dagu yang membuat wajahnya jadi terbingkai lebih menawan dan ada sebuah luka kecil di alis kanan.
Walaupun pria itu kelihatan baik, tapi Athena tidak mau mengambil resiko, dia segera membuka pintu mobil, ingin secepatnya keluar dan kembali berlari, namun pintu mobil terkunci dan pria itu mencondongkan diri ke arah Athena, perlahan-lahan. Makin lama makin mendekat. Membuat Athena makin ketakutan dan gugup.
"Siapa kau? Kenapa wajahmu sangat mirip dengan pria yang mengejarku?" tanya Athena sambil mengangkat tangannya, siap mendorong pria itu jika makin mendekatinya.
Tapi pria itu tidak menjawab pertanyaannya, malah tersenyum hangat dan berkata "Aku akan menolongmu."
*
*
*
"Sungguh mengagetkan sekali," ucap Athena berusaha menenangkan dirinya. Menarik napas panjang, menghembuskannya dan menghapus keringat yang membasahi keningnya dengan punggung tangan.
"Syukurlah, itu hanya mimpi," ucap Athena pelan.
Athena masih sering bermimpi dikejar-kejar akan dibunuh hantu atau seorang pria, selalu dan selalu saja menghantuinya sejak peristiwa berdarah terjadi di rumahnya. Dan tidak berangsur membaik walaupun sudah berkonsultasi ke psikiater lain, Dokter Monic, karena Dokter Roy memperpanjang cuti liburannya dan masih belum tahu kapan kembali ke Indonesia.
"Dokter Roy, cepatlah kembali," gumam Athena pelan, lalu membuka laci mejanya dan meminum obat yang diresepkan psikiater barunya. Obat ini adalah obat yang membuatnya lebih tenang dan dapat beristirahat kembali. Semacam obat tidur dosis tinggi, tepatnya.
Ting... Ting... Ting
Sebuah pesan masuk ke handphonenya. Athena melirik handphone yang ada di nakas, layarnya menyala sekejab dan kemudian meredup kembali.
"Sudah semalam ini, kok ada telepon dan pesan masuk ya? Mungkin itu telepon dan pesan penting," gumam Athena, meraih handphone dan mengecek siapa orang yang baru saja meneleponnya. Ternyata nomor asing tak dikenal. Lalu Athena mengecek pesan yang masuk ke handphonenya.
"Jika kamu ingin tahu siapa pembunuh Zeus Anthony, datanglah ke jalan Cempaka sekarang juga."
__ADS_1
Athena terkesiap kaget membaca pesan aneh itu. Pesan itu berasal dari nomor tak dikenal yang baru saja meneleponnya.
"Polisi saja belum berhasil menemukan pembunuhnya, bagaimana bisa orang lain tahu siapa pembunuh kakak, kecuali pengirim pesan ini adalah pembunuhnya? Huh... untuk apa aku menemui orang itu? Maaf, saya bukan gadis bodoh yang dapat ditipu olehmu," ucap Athena kesal.
Ting... Ting... Ting...
Sebuah pesan kembali masuk.
"Besok siang, polisi akan menangkapmu karena mereka menduga kamulah pembunuhnya. Sidik jarimu ada di senjata yang digunakan untuk membunuh korban. Temui aku sekarang. Hanya AKU YANG DAPAT MENOLONGMU"
"Kamu pasti berbohong lagi," ucap Athena mulai sedikit ketakutan dan gugup. Athena kembali mengingat-ingat kejadian pagi itu, dia tidak menyentuh pistol itu sama sekali setelah melihatnya tergeletak di tempat tidurnya. Jadi bagaimana mungkin sidik jarinya ada di pistol itu?
Hmm... Tapi bisa saja pembunuhnya meletakkan pistol itu di tangannya, agar sidik jariku ada di pistol itu dan kemudian pembunuh itu pergi. Dan jika memang benar demikian, sudah pasti besok, polisi akan menangkapku.
Athena lalu membalas pesan di handphonenya.
"Apa buktinya?"
Athena lalu menekan tombol "Kirim" dan menunggu balasan pesan itu.
Ting.. ting.. ting... Pesan kembali masuk ke handphonenya.
"Bukti forensik ada di tanganku. Kamu bisa mengeceknya sendiri jika kau takpercaya."
"Kak Zeus, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus pergi menemui orang ini atau tidak perlu mempercayai perkataan, tidak usah menghiraukan peringatannya? Kakak... seandainya semua ini tidak terjadi, aku akan selalu hidup bahagia bersama Kakak, bukan dalam kebingungan dan ketakutan esok akan ditangkap polisi karena dituduh membunuh Kakak yang sangat kusayangi," tanya Athena sedih hingga air matanya berlinang.
Mimpi... mimpi itu sudah memberikan petunjuk bahwa akan ada seseorang yang akan menolongnya dan setelah dia terbangun dari mimpinya, benar-benar ada seseorang yang ingin menolongnya. Lalu kenapa sekarang dirinya ragu?
Sebenarnya apa yang harus dilakukannya sekarang?
Ya, pertama-tama Athena harus mengetahui kebenaran siapa pembunuh Kak Zeus sekaligus menguji kebenaran mimpinya.
Athena kemudian memberanikan diri turun dari tempat tidurnya. Mengambil blazer outer coat (sejenis jaket panjang) warna pastel yang ada di lemarinya, keluar dari kamar dan pergi ke jalan Cempaka untuk menemui orang yang akan menyelamatkannya.
__ADS_1