Misteri Danau Kelinci Hitam

Misteri Danau Kelinci Hitam
Bab 31 - Lukas Malcom


__ADS_3

Flash Back On


Arloji yang melingkar di tangan Lukas Malcom sudah menunjukkan pukul dua pagi. Lukas Malcom berjalan terhuyung-huyung masuk ke dalam rumahnya, sedikit mabuk dan pusing, namun Lukas terus berjalan menuju ke kamarnya, melewati ruang kerja Ayahnya yang pintunya sedikit terbuka.


“Ayah, sudah subuh begini, masih saja bekerja," gumam Lukas hendak masuk ke ruang kerja Ayahnya.


Namun langkahnya terhenti saat mendengar Sekertaris Ayahnya mengabarkan sebuah berita yang membuat hatinya berdetak kencang. Dia segera membatalkan niatnya untuk masuk ke kamar Ayahnya, malah mengubah arah tujuannya, menuju ke sebuah pondok kecil yang berada jauh dari rumahnya.


Pondok kecil dari kayu yang tampak kelihatan angker setelah menjadi sebuah tempat kejadian perkara pembunuhan. Lukas sedikit bergidik ngeri ketika melihat pondok kecil itu, apalagi saat ini, langit masih gelap dan sepi sekali. Untunglah cahaya bulan masih dapat memandunya mendekati pondok kecil itu.


Brukkk….


Lukas jatuh terduduk di depan pintu pondok kecil itu. Lalu dia menangis terisak-isak.


“Maafkan aku, seharusnya aku tidak membawamu ke pondok ini, menguncimu di pondok ini dan membuatmu tewas terbunuh. Maaf… maafkan aku. Sekarang beristirahatlah dengan tenang, pembunuhmu sudah meninggal," ucap Lukas di sela-sela tangisnya.


Krek… krek… krek… tiba-tiba terdengar suara mengerikan dari dalam pondok. Lukas menghentikan tangisnya dan menajamkan pendengarannya.


Krek… krek… krek… seperti suara kayu yang digaruk.


Bulu kuduk Lukas berdiri. Lukas langsung berdiri dan berlari kembali ke rumahnya. Sangat ketakutan. Dia berjanji tidak akan pernah kembali ke pondok itu lagi. Terlalu mengerikan.


Sementara itu di dalam pondok kecil itu, sebuah tangan berlumuran darah menggores tembok pondok sehingga menimbulkan bunyi krek… krek… krek menakutkan, menuliskan beberapa huruf di tembok.


HEFASIUS IS THE KILLER, LkM.


Flash Back Off


*


*


*

__ADS_1


Lukas Malcom sudah berada di sebuah bar mewah yang ada di kota S. Dia sudah memesan sebuah botol wine kesukaannya. Sebuah gelas kaca sudah kosong, namun dia belum menuangkan kembali isi botol wine ke dalam gelasnya. Lukas malah sibuk melirik arloji yang melingkar di tangannya.


“Pukul 19.50. Masih ada waktu 10 menit. Dia belum terlambat, aku yang  terlalu cepat datang," gumam Lukas yang sudah mulai resah. Dia lalu berdiri dan menuju ke toilet.


Bartender yang berada di depannya hanya menggeleng-gelengkan kepala, bingung melihat Lukas Malcom yang tidak bersikap seperti biasanya, datang seorang diri tanpa ditemani wanita ataupun sahabatnya, dan hari ini tampak begitu gelisah seperti ingin cepat-cepat bertemu dengan orang yang punya janji dengannya. Bartender itu kemudian melayani tamu lain yang memesan minuman.


Ting… ting… ting, pintu bar kembali terbuka dan dua orang pria dan seorang wanita masuk ke dalam bar. Menuju ke meja  Bartender.


“Selamat malam, Pak. Apakah Bapak melihat Tuan Lukas Malcom?" tanya Budi kepada Bartender yang sedang mengelap gelas kaca.


“Beliau tadi duduk di sini, Pak. Dan beberapa saat yang lalu, beliau pergi ke toilet," jawab Bartender itu.


“Di mana toiletnya, Pak?" tanya Hari pada Bartender.


“Lurus sampai ujung, lalu belok ke kanan, Pak," jawab Bartender memberikan arahan ke toilet.


“Terima kasih, Pak," jawab Hari dan Budi. Mereka berdua langsung bergegas cepat ke toilet, karena tak ingin kehilangan Lukas Malcom, mereka harus secepatnya mencari informasi tentang pembunuhan di pondok kecil dekat Danau Kelinci Hitam, sebelum Lukas Malcom menghilang tanpa jejak seperti Hera dan Athena.


“Semoga belum terlambat," ucap Budi sambil membuka pintu bilik toilet nomer satu.


“Kosong…," ucap Budi sedikit kesal karena pintu bilik terbuka dan dia tidak menemukan Lukas di dalamnya.


“Ya ampun…," pekik Hari sambil menutup mulutnya. Matanya terlihat membulat lebar terus menatap ke dalam pintu bilik toilet yang terakhir.


Budi segera berlari mendekati Hari. Dan mulut mereka berdua menganga lebar.


“Sial, sekali lagi kita terlambat," ucap Budi setelah melihat Tuan Lukas Malcom terduduk di lantai toilet dengan mata melotot mengerikan dan lehernya ada bekas jeratan tali seperti dua korban sebelumnya. Budi segera menelepon kepolisian dan ambulance untuk mengurus jenasah Lukas Malcom.


*


*


*

__ADS_1


Ares Anthony sedikit terlambat datang ke bar, tempat dia dan Lukas Malcom akan bertemu dan berbicara tentang kasus pembunuhan yang menjadi treding topic beberapa hari ini. Mobil Ares terhenti karena parkiran bar sangat ramai sekali, bahkan tampak beberapa orang berkerumun di sekitar mobil ambulance yang ada di depan pintu bar.


“Ada apa, David?" tanya Ares pada Sekertarisnya.


“Sebentar, Tuan. Saya akan bertanya kepada orang yang ada di sekitar sini lebih dahulu," ucap David, melepaskan seat beltnya, membuka pintu dan keluar dari mobil.


Ares menunggu di dalam mobil dengan perasaan tidak tenang. Sepertinya telah terjadi peristiwa mengerikan jika sampai ambulance dan banyak polisi berjaga di depan bar.


David berlari-lari kecil dan segera masuk ke dalam mobil.


“Manager bar mengatakan bahwa Tuan Lukas Malcom tewas terbunuh di toilet, Tuan," ucap David sedikit resah dan cemas.


“Bagaimana bisa? Seorang pembunuh masuk ke dalam toilet dan membunuhnya? Sangat tidak masuk akal sekali," ucap Ares karena pukul delapan malam adalah waktu di mana bar mulai ramai, sungguh nekat sekali pembunuh itu jika masuk ke dalam toilet bar untuk membunuh Lukas.


“Harap tunggu sebentar, Tuan. Saya sedang mengunduh video rekaman cctv yang dipasang di toilet bar," ucap David sambil terus memperhatikan tabletnya.


“Done," ucap David lalu memberikan tabletnya pada Ares.


Ares segera menekan tombol play dan video rekaman cctv toilet bar segera terputar.


Nampak Lukas Malcom masuk ke dalam toilet, mencuci tangannya di wastafel dan kemudian merapikan rambutnya. Lalu tiba-tiba dia jatuh terduduk di lantai, dan kemudian seperti terseret masuk ke dalam bilik toilet paling ujung. Pintu bilik toilet kemudian tertutup keras sampai bilik terlihat bergetar di layar tablet. Setelah itu video rekaman cctv berubah menjadi abu-abu putih, seperti ada gangguan gambar di kamera.


Ares mengambil nafas dalam dan menghembuskannya dengan keras. Tayangan video kembali seperti semula. Ares memperhatikan pintu bilik paling ujung. Masih belum terbuka. Dan beberapa menit kemudian dua orang pria masuk ke dalam toilet, salah satunya membuka pintu bilik toilet paling ujung dan kemudian temannya menoleh, segera menuju bilik pintu paling ujung juga. Lalu salah satu dari pria itu menelepon, menghubungi pihak berwajib.


“Aneh sekali… Bagaimana Lukas tewas di dalam bilik toilet paling ujung, sementara tidak ada siapapun di dalam toilet saat itu?" tanya Ares cemas.


David segera mengambil tabletnya dan memutar video rekaman cctv. Mulutnya ternganga tak dapat berkata apapun. Kengerian dan ketakutan terbias dari matanya.


“Ayo kita pulang, aku harus ke pulau pribadi malam ini juga. Sepertinya Athena dalam keadaan bahaya. Aku harus menjaganya malam ini," ucap Ares cemas karena sepertinya pembunuhan Lukas bukanlah pembunuhan yang dilakukan oleh manusia, tapi oleh suatu mahluk tidak kasat mata.


David segera mengemudikan mobilnya menuju ke Mansion dan mengantar Tuan Mudanya masuk ke helicopter menuju pulau pribadi milik keluarganya.


 

__ADS_1


__ADS_2