
"Bagaimana pria ini bisa tewas, Dok?" tanya Budi kepada Dokter lab forensik yang bertugas, Dokter Fefe.
"Jeratan tali selebar 1cm merusak jakunnya dan membuat luka yang cukup dalam di lehar pria itu," jawab Dokter Fefe sambil menunjuk leher korban yang terbaring di atas meja terbuat dari besi. Dokter Fefe kemudian menyibakkan kain putih yang menyelimuti tubuh korban, hingga dada korban terlihat. Lalu Dokter Fefe menunjuk lebam di bahu kanan dan kiri korban.
"Tulang bahu kanan dan kiri juga ada retakan, hal ini mungkin terjadi karena menghantam atau terhantam benda tumpul keras," tambah Dokter Fefe.
Budi mengernyitkan keningnya.
"Apakah ada kemungkinan korban bertengkar dengan seseorang sebelum tewas?" tanya Budi.
"Saya tidak menemukan luka lebam di wajah, perut dan dada korban. Lebam hanya ada di bahunya, sepertinya itu bukan luka karena akibat bertengkar dengan orang lain, tetapi mungkin karena berusaha mendobrak pintu. Karena ada kasus sebelumnya, bahu lebam seperti ini, karena korban disekap di dalam sebuah ruangan gelap, frustasi segera ingin keluar dari ruangan itu, sehingga korban terus mendobrak pintu sampai tulang bahunya retak," jawab Dokter Fefe sambil menunjukkan laporan forensik dan foto korban lain yang mempunyai lebam yang sama dengan mayat Satpam Agus Setiabudi (kasus yang ditanganinya sekarang).
Budi menghela nafas panjang dan menghembuskannya keras-keras untuk mengusir rasa bingung yang timbul di hatinya.
"Pak Budi, dua korban yang memiliki lebam di bahu ini sama-sama ditemukan di Danau Kelinci Hitam. Korban pertama ditemukan setahun yang lalu, di sebuah pondok kecil, di area Danau Kelinci Hitam, dengan luka jeratan yang sama seperti korban kedua. Saya menduga kedua korban ini dibunuh oleh pembunuh yang sama," tutur Dokter Fefe.
Budi membelalakan matanya.
"Kasus setahun lalu masih buram, polisi masih belum menemukan siapa pelaku kejahatan ini. Karena korban adalah seorang pria tanpa identitas. Sidik jari pria itu tidak terekam di negara kita, bahkan di negara lain. Tidak ada laporan kehilangan anggota keluarga / kerabat di manapun. Tidak ada bukti atau jejak apapun untuk mulai menyelidiki kasus ini. Hmm... kasus ini benar-benar buntu," jelas Dokter Fefe.
Jadi kasus pembunuhan setahun lalu masih belum terungkap, pembunuhnya masih berkeliaran dan membunuh lagi untuk kedua kalinya, batin Budi.
"Boleh saya minta hasil laporan forensik korban pertama juga, Dok?" tanya Budi cepat-cepat.
"Tentu, saya sudah melampirkan salinannya untuk Anda di dalam amplop ini. Pak Budi, untuk laporan hasil forensik pembunuhan Zeus Anthony dan Hefasius Anthony sudah diambil rekan kerja Anda, Linda. Jadi sudah beres semua ya...," ucap Dokter Fefe sambil menyodorkan amplop berisi laporan hasil forensik korban pertama dan kedua.
"Terima kasih banyak, Dokter," ucap Budi dan berpamitan kembali ke kantor polisi secepatnya.
__ADS_1
*
*
*
Budi segera menyerahkan hasil laporan forensik ke Pak Hendra, atasannya begitu dia bertemu Pak Hendra di ruangannya.
"Letakkan dulu di meja saya, Budi. Sekarang kamu ikut kami menuju ke apartemen Athena Anthony, surat perintah penangkapan Athena Anthony sudah keluar, dialah tersangka kasus pembunuhan kakak dan keponakannya, karena sidik jarinya ada di senjata yang dipakai untuk membunuh mereka berdua," perintah Hendra cepat-cepat pada Budi.
Hari dan Linda sudah bersiap dan segera mengikuti Hendra keluar dari ruangan. Budi terhenyak kaget mendengar penuturan Pak Hendra dan segera menyusul timnya, keluar ruangan dan masuk ke mobil polisi, meluncur ke apartement Athena.
"Aku takpernah menyangka kalau gadis itu tega membunuh kakaknya sendiri. Gadis itu terlihat sangat sedih dan terpukul sekali, sampai tidak bisa bicara dan berjalan. Lalu apa motifnya hingga tega membunuh kakaknya sendiri?," tanya Budi lirih.
Apakah aku mulai menyukai Athena hingga aku ragu dan tak ingin menangkapnya? batin Budi.
"Iya... Tapi semua bukti mengarah pada gadis itu, Budi. Kita tangkap dulu gadis itu, lalu kita interogasi lebih dalam lagi. Mungkin ada beberapa hal yang dia sembunyikan dari kita saat interogasinya dulu," ucap Hendra penuh wibawa.
Mobil polisi berhenti di depan lobby apartement. Hendra, Budi dan Linda turun terlebih dahulu, sementara Hari memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang disediakan. Linda segera menuju receptionist, menjelaskan semuanya dan meminta receptionist untuk menghubungi pihak management apartement agar mendukung penangkapan Athena Anthony karena apartement ini bukan apartement biasa, tapi apartement kaum elite yang tidak bisa seenaknya ditembus polisi. Setelah ijin didapat, pihak kepolisian langsung naik ke lantai tujuh, tempat apartement Athena berada. Budi menekan tombol bel apartement. Dan beberapa saat kemudian, seorang pelayan berbicara lewat sebuah alat yang dipasang di luar pintu apartement
"Selamat siang, ada keperluan apa bapak-bapak datang ke apartement kami?" tanya pelayan.
"Kami dari kepolisian ingin bertemu Nona Athena Anthony," jawab Hendra.
"Maaf, Nona Athena tidak ada di apartement saat ini, Pak. Silahkan masuk, jika bapak-bapak dari kepolisian ingin menunggunya," ucap pelayan.
Klik... Pintu apartement terbuka.
__ADS_1
Hendra dan Budi saling berpandangan. Tim dari kepolisian segera masuk ke apartement.
"Kemana Nona Athena Anthony pergi?" tanya Hendra kepada pelayan yang membukakan pintu apartement.
"Saya kurang tahu, Pak. Silahkan duduk dulu, saya akan memanggil kedua pengasuh Nona Athena," jawab pelayan segera masuk ke dapur untuk memanggil Bi Marni dan Mbak Puput.
Setelah kedua pengasuh itu datang, tim kepolisian segera menjelaskan duduk perkara kedatangan mereka ke apartement Athena.
"Apakah kalian berdua tahu kemana Nona Athena pergi?" tanya Budi pada kedua pengasuh Athena.
Mereka menggelengkan kepala dan kemudian mengambil secarik kertas yang ada di atas meja dan memberikannya kepada polisi.
Jangan khawatir, aku cuma pergi keluar sebentar saja, itulah pesan terakhir yang ditulis Athena.
"Jadi kalian berdua juga tidak tahu kapan Athena akan kembali ke sini?" tanya Hendra.
"Maaf, Pak. Kami tidak tahu. Kami berdua sudah menelepon Nona, tapi nomer handphonenya tidak aktif. Kami juga khawatir terjadi sesuatu pada Nona saat membaca pesan itu, kami langsung menghubungi orang tua Nona di kota B, tapi Nona juga tidak ada di sana," jawab Mbak Puput resah.
"Nona, semoga kamu baik-baik saja," ucap Mbak Puput lagi.
"Bapak Ibu Polisi, maafkan saya sebelumnya, tapi apakah kalian semua sudah menyelidiki kasus ini dengan baik? Nona Athena itu sangat baik dan penyayang, dia tidak mungkin membunuh kakaknya sendiri. Saya sendiri yang merawatnya sejak dia kecil, saya benar-benar mengenal sosoknya dari kecil. Saya yakin sekali, Nona bukanlah seorang pembunuh, Pak Polisi," ucap Bi Marni sambil menangis.
"Bibi, kami hari ini datang untuk menjemput Athena Anthony dan meminta penjelasan darinya. Jika memang dia tidak terbukti bersalah, kami pasti akan melepaskannya setelah 48 jam. Jadi mohon kerja samanya, Bi," ucap Budi.
"Kalau begitu, kami minta ijin untuk masuk ke kamar Athena, memeriksa dan mengambil beberapa barang milik Athena," ucap Hendra.
"Baik, Pak. Silahkan masuk ke kamar Nona, kami tidak akan menghalangi kerja Pak Polisi, tapi tolong selidiki kasus ini dengan baik, Pak. Segera temukan Nona dan bebaskan Nona jika memang dia tidak bersalah," ucap Bi Marni menunjuk pintu kamar Athena.
__ADS_1
"Budi, lekas periksa kamar Athena. Hari dan Linda, cepat cek cctv apartement, kapan Athena pergi dari apartement", perintah Hendra.
"Siap, Pak," jawab tim kepolisian serempak.