
Azam berkali-kali melirik kertas di tangannya. Jelas, ia ragu menerima tawaran kuliah dari Kyai Sholeh. Kemarin, saat Azam baru saja selesai pengajian rutinnya, kyiainya tiba-tiba memberinya sebuah formulir pendaftaran kuliah di salah satu universitas di Jakarta.
Kesempatan ini sudah berkali-kali ia tolak, tapi kali ini ia harus memikirkannya dua kali sebelum kembali menolak tawaran ini. Ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa dengan cepat bertemu dengan Atlanta. Bukankah sekarang Atlanta berada di Jakarta? Berarti ini kesempatan yang bagus. Walaupun kenyataannya Jakarta begitu luas, Azam tidak peduli. Ia harus menepati janjinya untuk membawa Atlanta kembali ke pelukannya lagi.
Azam mengambil sebuah pulpen dan mulai mengisi formulir itu. Ia tersenyum puas saat formulir itu sudah terisi semua. Azam beranjak untuk membereskan baju-bajunya yang akan ia bawa ke Jakarta.
Saat ia mengambil baju ketiga, sesuatu terjatuh tepat di atas kakinya. Azam mengambil benda itu, menatapnya lalu membuka isinya. Sebuah cincin yang dulu diberikan Azam pada Atlanta. Ia menggenggam kotak itu erat. Azam yakin ia akan kembali bertemu dengan Atlanta secepatnya.
Atlanta kembali ke profesinya sebagai aktris majalah. Ia mengubah penampilannya menjadi lebih baik dan tertutup. Tidak ada yang berkomentar apapun tentang hal itu, toh Atlanta tetap terlihat cantik menggunakan pakaian apapun.
Saat ini, ia baru saja selesai pemotretan untuk majalahnya yang baru. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Benda pipih di tasnya Atlanta ambil, lalu membuka aplikasi Instagramnya. Ada satu postingan yang membuatnya tertarik, sebuah lagu yang sangat menggambarkan isi hatinya saat ini.
Lihatlah hatiku
Terluka dan semakin rapuh
Karena kamu
Kini jauh dariku
Apakah kau disana merindukanku
Tuhan tolong diriku
Aku tersiksa rindu
Biarku bertemu walau dalam mimpi
Karena ku tak sanggup lagi (tak sanggup lagi)
Aku tersiksa rindu
Atlanta membuang nafasnya pelan. Ia sangat merindukan Azamnya. Sedang apa ia sekarang? Apa Azam akan datang menemuinya? Azam memang pernah mengatakan tentang perasaannya, tapi Atlanta masih ragu karena ada Harum di antara hubungannya. Mungkin saja Azam belum melupakan Harum, kan?
"Inget Azam, ya?"
__ADS_1
Atlanta menoleh karena seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya. Seorang lelaki berkulit putih dengan mata hazel menatap putrinya dengan senyum manis di bibirnya. Ia adalah ayah kandung Atlanta. Papanya itu memang keturunan asli dari Eropa, lebih tepatnya Jerman, tapi ia sudah lama tinggal di Indonesia. Makanya, ia sudah lancar berbicara bahasa Indonesia.
"Mas Azam kangen sama aku, nggak ya?"
"Em... Kangen. Mungkin."
Atlanta memeluk papanya. "Aku kangen, Pa. Aku
nggak yakin Mas Azam bakalan susul aku."
Lelaki yang disebut papa itu mengerutkan keningnya. "Yakinin ajalah, Anta."
"Eh, tapi kok papa bisa tahu tentang Azam? Kan aku nggak pernah cerita." Atlanta mengurai pelukannya dan menatap papanya heran.
Sang papa tersenyum sambil mencubit hidung Atlanta. "Apasih yang papa nggak tahu? Papa tahu semuanya, tentang kamu, mama kamu, bahkan Azam. Papa juga tahu kamu bakalan dijual." Papa terdiam sejenak. "Papa mau langsung bawa kamu pergi saat itu. Tapi papa kalah cepat."
"Kalah cepat?" tanya Atlanta sambil menatap manik hazel papanya.
"Kamu keburu pergi dari rumah itu. Tahu-tahu kamu ada di pesantren dan bahkan sudah nikah. Putri kecil papa sudah dewasa, ternyata."
"Pa..., apa setiap rumah tangga pasti ada masalah?"
Atlanta menunduk. "Aku takut hubungan aku kayak mama sama papa. Soalnya, pernikahan aku sama Mas Azam kan--"
"Sstttt... Nggak boleh ngomong gitu, loh."
"Sebelum nikah sama aku, Mas Azam udah suka sama orang lain. Aku takut dia malah milih orang itu dari pada aku. Secara, aku dan Mas Azam menikah karena aku paksa."
"Jangan berfikir negatif gitu, ah. Nanti jadi kenyataan, kan nggak bagus."
Atlanta memukul lengan papanya. "Papa apaan, sih? Bukannya nyemangatin anaknya. Ini malah memperburuk keadaan."
Papa terkekeh pelan. "Bercanda, Honey. Mending sekarang kamu tidur. Kamu pasti capek, kan, abis pemotretan tadi?"
Atlanta mengangguk. "Oke. Terima kasih, Pa."
__ADS_1
Layaknya seorang raja, penguasa segalanya. Siang ini, di atas sana, sang surya bertengger manis. Sorotnya menyilaukan mata, cahayanya menembus angkasa, dan kepanasannya membakar semesta. Ah, lebay.
Sebuah mobil bermuatan tiga orang membelah padatnya jalanan ibu kota. Azam, Harum, dan seorang supir bayaran tengah menempuh perjalanan menuju asrama universitas di Jakarta.
Azam duduk di belakang dan matanya tak henti-hentinya menatap gedung-gedung pencakar langit di sepanjang jalan. Entahlah, mengobrol dengan Harum rasanya sangat membosankan. Tidak ada topik pembicaraan yang membuatnya tertarik dan ingin berlama-lama berbicara.
"Di sini panas banget ya, Mas." Harum, yang duduk di samping supir, memulai pembicaraan sambil melirik Azam yang tetap fokus ke jalanan.
Azam tidak menjawab dan hanya menoleh sebentar, lalu kembali ke jendela mobil yang menampakan pemandangan di luar.
"Mas, lihat deh ke sana! Itu ada badut. Ih, lucu banget."
Azam mengikuti arah telunjuk Harum. Kebetulan saat itu sedang lampu merah. Matanya terpaku ke tempat itu. Namun bukan badut yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan sebuah papan iklan berukuran besar yang dipajang di belakang badut itu. Azam sempat tertegun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, tapi apa yang ia lihat memang tidak berubah.
"Mas," panggil Harum lagi.
Azam menoleh.
"Ada apa sih, Mas?"
"Bukan apa-apa," balas Azam cepat. Ia bahkan tidak memandang wajah Harum barang sebentar.
"Bukan itu. Kenapa Mas Azam diem aja? Mas nggak suka ya kuliah bareng Harum?"
Kali ini, Azam menatap wajah Harum. Terpancar raut kecewa dari wajah cantik itu.
"Saya nggak pernah bilang itu, Ning."
Azam kembali menatap keluar jendela, mengabaikan Harum yang terus menunduk. Sekarang ia yakin bahwa tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mengukir namanya yang telah terhapus di hati Azam. Ada rasa bahagia saat mendengar kabar kalau Atlanta pergi meninggalkan Azam. Walaupun abinya sudah mengatakan bahwa Azam akan mendapatkan seseorang yang lebih baik, tetap saja Harum masih berharap pada lelaki itu. Saat mendengar Azam mau menerima ajakan untuk kuliah bersamanya, Harum merasa senang bukan main, tetapi rasa senangnya langsung sirna. Namanya yang tertulis di hati Azam memang sudah berganti menjadi nama orang lain dengan tinta permanen, mustahil bagi Harum untuk menghapusnya. Harum hanya bisa menghela nafas, ia benar-benar harus melupakan Azam jika tidak ingin terus menerus merasakan rasa cinta yang tak terbalaskan.
Azam fokus meneliti papan iklan tadi. Papan iklan itu kini lebih banyak dipajang di pinggir jalan seiring dengan berjalannya mobil yang ditumpanginya. Azam yakin dia ada di dekat sini. Ia sangat senang saat melihat papan iklan besar itu, keyakinannya tambah kuat bahwa ia akan bertemu lagi dengan Atlanta.
...*****...
...Terima kasih sudah menyukai ceritanya😊...
...Jika ada typo atau kesalahan penulisan, mohon diberitahu ya🙏🙏...
__ADS_1
...Jangan lupa memberikan suara dan komentar. Mau berbagi pun boleh, asal jangan menjiplak....