Model Vs Ustadz

Model Vs Ustadz
12 - Kehilangan lagi


__ADS_3

Azam dan Harum berbeda asrama. Setelah mengantarkan Harum, Azam baru diantar ke asramanya. Ia mengambil ponselnya yang jarang ia gunakan dan langsung mengetik sesuatu di kolom pencarian.


"Berubahnya penampilan Atlanta membuatnya semakin terkenal dan memperbanyak fansnya."


Begitulah tulisan yang tertera di ponsel Azam. Lantas, Azam mengucek matanya berkali-kali. Atlanta benar-benar berbeda kali ini. Tidak lagi terlihat rambut tergerai, ataupun, baju serta celana ketat. Semuanya diganti dengan baju gamis yang panjangnya menyentuh lantai serta kerudung syar'i yang menjuntai sampai menutupi bokongnya.


Azam mengusap wajah Atlanta yang tersenyum riang di ponselnya. Ia sangat merindukan Atlantanya yang selalu membuatnya emosi. Azam rindu akan suara, tingkah, dan semua hal kecil lainnya yang pernah ia alami bersama Atlanta.


"Assalamualaikum," seseorang mengucapkan salam dan membuyarkan lamunannya.


Azam mendongak dan menjawab, "Waalaikum salam," sambil tersenyum ke arah orang itu.


Seorang lelaki dengan celana jeans hitam, baju kaos dan kemeja yang tak dikancing menatap Azam. Orang itu kemudian bertanya, "Azam, kan?"


Azam mengangguk dan ia lalu menaruh ponselnya ke dalam saku celananya. Setelah itu, ia mulai membereskan bajunya ke dalam lemari yang sudah tersedia di sana.


"Gilang," lelaki dengan kaos itu mendekati Azam dan mengulurkan tangannya.


Azam menerima uluran tangan Gilang, tetapi ia tidak mengatakan satu patah kata pun. Ia malah kembali merapikan bajunya dengan cuek.


"Lo... bisu?" tanya Gilang yang membuat Azam menoleh. "Atau, tuli?"


"Saya menjawab salam kamu kalau kamu lupa," balas Azam.


"Oh, kirain..."


"Kenapa kamu nanya gitu?" tanya Azam penasaran.


Gilang mengedipkan bahunya. "Lo nggak nyebutin nama lo."


"Kamu udah nyebut nama saya. Masih harus saya menyebutkan nama?" balas Azam sinis.


Gilang mengangguk-anggukan kepalanya. "Ternyata lo orangnya nggak suka basa-basi dan ... kaku."


Azam tetap tidak memperdulikan Gilang yang sok akrab dengannya itu dan terus membersihkan kamar mereka.


"Bantuin gue rapihin baju dong," pinta Gilang.


"Allah menciptakan tangan dan kaki kamu dengan sempurna, masih nggak mau kamu gunakan?" Azam menatap Gilang dengan dingin.


"Wih, santai aja. Gue, kan cuma bercanda," Gilang mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Alisnya ia naik turunkan sambil memperhatikan Azam dengan tampang mengejek. Setelah itu, ia menata baju dengan sembarangan. Benar-benar malas jika berurusan dengan namanya menata barang.


Langit yang cerah kini berganti dengan malam yang dihiasi bintang-bintang. Setelah melakukan shalat isya, Azam berniat untuk tidur karena tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Lelaki itu sudah mencoba mencari keberadaan Atlanta di internet, tetapi selain hasilnya nol, ia justru semakin merindukannya.


Azam memperhatikan Gilang yang tengah sibuk membaca koran dan beberapa majalah. Azam berpikir bahwa Gilang mungkin mengambil jurusan yang berhubungan dengan dunia hiburan. Di atas meja belajarnya tersimpan kamera yang mungkin ia pakai untuk memotret serta beberapa foto polaroid seseorang yang tidak dikenali Azam.


"Ngapain lo lihatin gue?" Gilang tersadar dan menanyakan sambil menatap Azam.


Azam menggeleng. "Ge-er."


Gilang tertawa dan Azam memilih untuk tiduran di kasur. Di asramanya, setiap kamar diisi oleh dua orang dan mereka diberikan sebuah ranjang tingkat dan dua meja belajar. Melihat Azam yang tidur di kasur bawah, Gilang tidak bisa menerima. Ia tidak ingin tidur di atas rungan.

__ADS_1


"Eh, ngapain lo tiduran di situ?" tanya Gilang.


Azam tidak menjawab. Ia malah tidur membelakangi Gilang dan mengabaikannya.


"Azam!" Gilang menunda pekerjaannya dan langsung mendekati Azam. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Azam agar temannya tersebut segera pindah ke kasur atas.


"Azam pindah!" Gilang memegang bantal Azam dan memukulinya.


Azam tetap mengabaikan Gilang dan bertahan di kasur bawah. Tapi, semakin diabaikan, Gilang semakin keterlaluan. Gilang merengek seperti perempuan di depan Azam. Azam merasa risih dan bangun untuk menatap Gilang dengan kesal, namun Gilang tersenyum penuh upaya.


"Tukeran ya?" bujuk Gilang untuk yang ke sekian kalinya.


"Nggak!!" tolak Azam tetap memejamkan mata dan membelakangi Gilang.


Gilang menyunggingkan bibirnya ke bawah. "Ih, Azam, ayo tukeran." Tidak menyerah, Gilang terus menarik-narik tangan dan bajunya agar membuat Azam semakin risih.


Azam menutup telinganya sambil mendesis kesal. "Oke, oke. Kita tukeran, tapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya? Buruan!"


"Saya tidak mau lagi mendengar kamu manggil 'lo-gue'. Kalau saya masih dengar kamu bicara seperti itu, jangan harap kamu bisa tidur di kasur bawah."


"Tapi...."


Azam mengajak Gilang untuk segera berhenti dengan menggelengkan kepala, tetapi Gilang tetap keras kepala.


"Oke, oke. Aku mau," kata Gilang akhirnya.


"Bagus."


...*****...


Adzan subuh sudah berkumandang sejak lima belas menit yang lalu tapi seseorang berbadan besar berkaos putih masih saja bergelung di tempat tidurnya.


"Lang!" Azam menggoyangkan tubuh Gilang agar mau bangun. Namun, Gilang tetap terlelap.


"Kalau nggak bangun juga saya siram kamu seperti sebelumnya."


Ya, sudah seminggu keduanya tinggal bersama di kamar ini. Selama itu, Azam mencari keberadaan Atlanta, tetapi tidak berhasil menemukannya. Mungkin sudah ditakdirkan Azam untuk selalu berhubungan dengan orang yang malas. Dulu Atlanta, sekarang Gilang. Namun, Azam tetap sabar. Toh, ia akan mendapatkan pahala jika terus berbuat baik kepada orang di sekelilingnya.


"GILANG!" Suara Azam meninggi. Azam benar-benar kehabisan kesabaran. Azam pergi ke kamar mandi yang tersedia di kamar dan membawa segayung air.


Setelah kembali ke kamar, Azam melihat Gilang sudah berdiri dan meregangkan tubuhnya.


"Ngapain bawa-bawa gayung, Zam?" Gilang pura-pura tidak tahu.


"Buat ngasih minum gajah yang masih tidur. Tapi sekarang gajahnya udah bangun. Sekarang, gajah ayo pergi ke kamar mandi untuk mempersiapkan shalat subuh berjamaah," Azam menyebut Gilang sebagai "gajah" karena tubuhnya yang besar.


Entah mengapa Gilang selalu menuruti perintah Azam. Mungkin Azam memiliki kekuatan rahasia yang bisa menaklukkan orang-orang. Buktinya sekarang Gilang sedang menuju kamar mandi. Namun baru saja kaki besar Gilang melangkah ke kamar mandi, ia kembali menghampiri Azam sambil menengadahkan tangannya membuat dahi Azam mengkerut bingung.


Gilang menyadari kebingungan Azam dan berdecak, "Kalau Anda terus memegang gayungnya, bagaimana saya bisa mandi, Tuan Azam yang terhormat?" Gilang sengaja menekankan kata 'Tuan Azam yang terhormat' di akhir kalimatnya.

__ADS_1


Baru menyadari jika ia masih memegang gayung, Azam segera memberikan gayung itu pada Gilang. Temannya itu langsung masuk kamar mandi dan melakukan apa yang Azam suruh.


Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah, Azam keluar dari kamar. Karena hari ini tidak ada jadwal kuliah, ia ingin mencari keberadaan Atlanta. Sedangkan Gilang, ia kembali pada kesibukannya selama seminggu ini yaitu membaca koran dan majalah seperti yang biasa dilihat Azam.


Saat Azam keluar kamar, ia melihat sebuah postingan menarik di ponselnya. Ini menunjukkan tanda bahwa ia tidak perlu jauh-jauh untuk mencari informasi.


Postingan itu berupa video. Tanpa berpikir panjang, Azam langsung memutar video itu. Di dalamnya, Atlanta sedang diwawancarai oleh beberapa wartawan. Ia tampak sangat cantik dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Ia akan pergi ke bandara dan melanjutkan karirnya di Jerman hari ini.


Mendengar itu, Azam segera membuka pintu dan bergegas masuk untuk bertanya pada Gilang. Azam ingat Gilang pernah membaca banyak koran dan majalah. Ia yakin temannya itu tahu tentang dunia hiburan.


"Lang!" teriak Azam.


Gilang yang sedang mendengarkan musik lewat earphone-nya langsung mendongak. Ia mencopot earphone-nya lalu mengangkat dagunya menandakan bahwa ia bertanya apa yang Azam perlukan darinya.


"Kamu tahu video ini diambil di mana?" tanya Azam sambil menunjukkan video yang ia putar tadi.


"Ini live streaming, bukan?" tanya Gilang.


Azam mengangguk cepat.


"Atlanta ya? Kamu kenal dia?" tanya Gilang.


Azam berdecak. "Banyak tanya! Buruan, Lang!"


Meski masih penasaran, Gilang meraih ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Azam yang langsung dijawab dengan anggukan kepala. Setelah mengucapkan terima kasih, Azam berlari menuju tempat yang ditunjukkan oleh Gilang sehingga membuat kening Gilang mengkerut bingung.


"Kenapa, sih, dia?"


...*****...


Gedung lima belas lantai di depannya dilihat oleh Azam mulai dari atas hingga bawah. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum memasukkan kaki ke dalam gedung dan menghampiri meja resepsionis. Azam memberanikan diri untuk bertanya pada seorang perempuan yang sepertinya sebagai penjaga meja.


"Maafkan saya," ucap perempuan itu membuat dahi Azam mengkerut bingung. "Atlanta telah pergi ke bandara."


"Bandara?" tanya Azam.


Perempuan itu mengangguk. "Baru saja berangkat."


"Makasih, Mbak."


Azam berbalik dan berlari menuju jalanan. Beruntung, taksi datang tak lama kemudian dan langsung membawa Azam menuju bandara untuk menyusul Atlanta. Ia tidak boleh kehilangannya lagi.


...*****...


Azam turun dari taksi dan segera berlari masuk ke bandara, mencari keberadaan Atlanta. Ia berlari kesana kemari mengelilingi bandara sampai kehabisan tenaga. Tapi percuma, pesawat menuju Jerman baru saja lepas landas dari landasan pacu. Azam menarik rambutnya karena frustasi. Ia tidak mungkin menyusul Atlanta ke Jerman. Apa artinya ini jika ia tidak akan bertemu dengan Atlantanya lagi?


"ATLANTA!!!" teriak Azam.


...*****...


...Terima kasih sudah membaca cerita ini😊...

__ADS_1


...Jika ada typo atau kesalahan penulisan, mohon diberitahu πŸ™πŸ™...


...Jangan lupa untuk memberikan vote dan komentar ya. Silakan berbagi cerita ini, asalkan jangan plagiat.


__ADS_2