Model Vs Ustadz

Model Vs Ustadz
08 - Kebenarannya


__ADS_3

Pagi sekali saat Azam dan Atlanta sedang membereskan rumah, keduanya dikejutkan dengan seorang lelaki bertubuh besar mengetuk pintu rumahnya. Mengetahui itu, Atlanta langsung masuk ke kamar untuk bersembunyi. Tak lupa juga ia memberi tahu Azam agar jangan mengatakan keberadaan Atlanta pada lelaki kekar itu.


Wajah Atlanta mengatakan bahwa ia tidak berbohong. Maka dengan cepat Azam segera menyetujuinya. Azam membuka pintu dan berbohong tentang keberadaan Atlanta. Beruntung orang itu percaya. Ia langsung berbalik kembali ke mobilnya meninggalkan area pesantren.


"Ada yang mau kamu jelasin?" Azam melontarkan pertanyaan yang sebenarnya lebih pantas untuk disebut perintah.


Atlanta perlahan keluar dari kamar dan duduk di sofa sambil menunduk dalam-dalam. Ia harus memberi tahu Azam sekarang. Karena mau bagaimana pun juga Azam adalah suaminya. Walaupun ia belum sepenuhnya mengakui hal itu.


"Kamu kenal sama mereka?" tanya Azam lagi. Ia berdiri di hadapan Atlanta sambil berkacak pinggang.


"Aku... Aku kenal sama orang itu. Aku juga kenal sama orang yang ada di dalem mobilnya."


Azam menghela nafasnya panjang lalu memijat pangkal pelipisnya. "Terus?"


"Orang yang badannya gede itu bodyguard di rumah aku. Dan dua orang di mobil itu.... " Atlanta tampak ragu untuk mengatakannya. Ia bahkan menggigit bibir bawahnya untuk menetralkan detak jantungnya. "Mereka ... orang tua aku. Itu mama dan ayahku."


"Kalau mereka keluarga kamu, kenapa kamu nggak mau temuin mereka? Kenapa kamu malah sembunyi dan nyuruh saya bohong?"


Atlanta mendongak menatap wajah Azam yang terlihat kesal.


"Kamu nggak ngerti."


"Saya emang nggak ngerti karena kamu nggak pernah bilang apa-apa sama saya."


Atlanta menunduk kembali. Ia harus benar-benar siap untuk ini. "Mereka ke sini mau nyari aku karena.... " Atlanta menghela nafasnya. "Maaf, Zam."


Dahi Azam mengkerut bingung. Kenapa Atlanta harus meminta maaf?


"Maaf aku bohongin kamu. Kamu boleh benci aku, Zam. Aku memang pantas untuk dibenci."


"Ngomong yang bener! Maksud kamu apa ngomong kayak gitu?!" Kesabaran Azam sudah habis sekarang.

__ADS_1


"Aku bohongin kamu. Aku bohongin semua orang. Sebenarnya aku nggak tersesat. Aku emang sengaja kabur dari rumah karena... karena orang tua aku mau jodohin aku sama temen mereka. Dia malah lebih pantes aku sebut kakek. Dia kakek-kakek yang punya banyak wanita. Makannya aku nggak mau." Atlanta terdiam sejenak. "Aku kabur dan nggak sengaja nemuin tempat ini. Aku manfaatin kamu buat sembunyi dari mereka karena kamu satu-satunya orang yang nggak tertarik sama aku. Aku pikir aku akan lebih mudah pergi nantinya. Karena kita sama-sama nggak saling menyukai." Atlanta kembali mendongak menatap wajah Azam.


Azam mendengus. Ia kecewa mendengar ini. Tapi rasa yang tumbuh dalam hatinya sudah tidak bisa ia hapus kembali. Rasa itu sudah menempel permanen di tempat yang seharusnya.


"Ternyata ini nggak semudah yang aku bayangin. Maaf, Zam. Maafin aku. Terserah kamu mau bentak aku, tampar aku. Aku rela asal kamu maafin aku. Aku cuma takut. Tapi ketakutan aku ini malah merugikan banyak orang."


Azam tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia langsung pergi keluar rumah meninggalkan Atlanta yang terisak. Azam butuh waktu untuk menenangkan dirinya.


Masih ingat foto yang dikirim mama Atlanta? Itu adalah foto gapura pondok pesantren yang ditempati Atlanta sekarang. Dan kalian tahu apa artinya? Itu adalah sebuah kode untuk Atlanta agar segera bersiap karena mamanya itu akan menjemputnya. Makannya Atlanta langsung bersembunyi ketika orang suruhan orang tuanya datang.


Atlanta adalah seorang yang broken home. Ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Mama dan ayahnya selalu saja mengurusi kepentingan mereka masing-masing. Bahkan mereka memaksa Atlanta untuk sekolah permodelan karena penghasilannya yang terlampau besar.


Atlanta sebenarnya tidak pernah tertarik untuk sekolah di tempat seperti itu. Tapi apalah daya jika orang tua yang meminta. Ia terpaksa harus meninggalkan keinginannya untuk menjadi seorang desainer.


...*****...


Azam membuka pintu rumah dengan pelan dan menutupnya tanpa menimbulkan suara. Ia melihat Atlanta tertidur di lantai dengan posisi meringkuk dan mata sembab. Ia berjongkok di depan istrinya itu dan menyingkap rambut yang menutupi wajahnya. Azam merasa bersalah karena ia tidak mengatakan apapun saat pergi tadi.


Azam merasa iba melihat Atlanta dengan keadaan seperti itu. Hidupnya penuh tekanan dan dihantui rasa takut yang besar. Azam menggendong Atlanta dan menidurkannya di kamar. Saat akan beranjak pergi, Azam mendengar Atlanta memanggil namanya. Ia mengurungkan niatnya itu dan kembali duduk di samping Atlanta.


"Ada apa?" tanya Azam.


Bukannya menjawab pertanyaan Azam, Atlanta malah menangis. Ia duduk lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ssstt... " Azam menarik Atlanta ke pelukannya sambil mengusap pundaknya untuk memberikan ketenangan.


"Kenapa kamu baik sama aku, Zam? Kenapa kamu masih peduli sama aku? Aku udah jahat sama kamu. Aku fitnah kamu. Aku manfaatin kamu. Aku--"


"Karena saya nggak bisa berhenti peduli sama kamu. Saya udah terlanjur cinta sama kamu, Atlan."


Atlanta berhenti terisak dan menjauh dari tubuh Azam.

__ADS_1


"Tarik kata-kata itu, Zam. Kamu nggak boleh cinta sama aku!" teriak Atlanta.


Azam menggeleng pelan. "Nggak bisa."


"Nggak!" Kini giliran Atlanta yang menggeleng. "Kamu bohong, Zam. Kamu bohong!!"


"Atlan... " Azam hendak memeluk Atlanta kembali. Tapi tangannya segera ditepis kasar oleh perempuan itu.


"Pergi, Zam. Aku nggak mau lihat muka kamu."


"Atlan, apa saya harus teriak biar kamu percaya sama saya?"


Atlanta memalingkan wajahnya. Air matanya tidak berhenti bercucuran sedari tadi. Hatinya memang mulai mengakui Azam sebagai suaminya tapi ia tidak menyangka Azam merasakan hal yang sama dengannya. Ia tidak ingin ini terjadi. Karena hal ini akan mempersulit dirinya untuk pergi.


"Saya anggap diamnya kamu berarti iya. SAYA MENCINTAI KAMU ATLANTA PUTRI HALWANISA DAN SAYA BERJANJI AKAN MENJAGA KAMU DENGAN SEGENAP JIWA RAGA SAYA. SAYA BERJANJI AKAN TETAP MENDAMPINGI KAMU DIKALA SENANG MAUPUN SUSAH."


Atlanta menoleh. "Zam, pliss jangan kayak gini."


"SAYA CINTA KAMU DAN SAYA BERJANJI TIDAK AKAN MENINGGALKAN KAMU APAPUN YANG TERJADI."


"AZAM!!" Nafasnya memburu. Dadanya tidak berhenti naik turun. "Aku benci sama kamu, Zam. Jadi stop cinta sama aku. Kamu nggak boleh cinta sama aku."


Azam malah tersenyum mendengar ucapan Atlanta. Ia memeluk Atlanta walaupun Atlanta tetap berontak. "Saya juga benci sama kamu, Atlan. Benar-benar cinta."


...*****...


...Benci \= Benar-benar Cinta...


...Makasih udah suka sama ceritanya😊...


...Kalo ada typo atau kesalahan penulisan mohon tegurannya ya🙏🙏...

__ADS_1


...Jangan lupa vote dan commentnya. Mau share juga boleh asal jangan di plagiat....


__ADS_2