
Adzan shubuh sudah berkumandang sejak lima menit yang lalu. Seorang laki-laki berdiri di depan sebuah pintu sambil terus mengetuknya pelan.
“Atlanta!” panggil Azam, tapi Atlanta tak juga membuka pintu.
Karena kesal Azam mengetuknya semakin kencang, dan akhirnya ketukan itu berubah menjadi gedoran yang mengganggu telinga Atlanta.
Ceklek!
Pintu terbuka menampakkan sosok Atlanta yang berpenampilan jauh dari kata rapi. Rambutnya acak-acakan, tanktop dan hotpantsnya pun sudah sangat kusut. Melihatnya membuat Azam geleng-geleng kepala, tidak habis pikir dengan tingkah istrinya itu.
“Ngapain, sih? Masih gelap, nih. Ngantuk,” ucap Atlanta tanpa membuka matanya.
Azam berdecak. "Mandi. Habis itu shalat shubuh berjamaah.”
“Shalat mulu perasaan. Kemaren, kan udah.”
“Itu shalat isya, Atlan,” balas Azam gemas. “Sekarang beda lagi. Ayo cepet.” Azam menarik tubuh Atlanta menuju kamar mandi dan mendorongnya masuk ke dalam situ.
“Nggak mau mandi, ah. Dingin.” Atlanta menahan pintu yang hendak Azam tutup.
“Nggak mau tahu. Dua menit.”
Atlanta berdecak namun tak urung menuruti perintah suami menyebalkannya. Azam menunggu di dekat pintu kamar mandi. Entah apa yang ia lakukan. Yang pasti ia hanya ingin berdiri di situ. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar mandi, membuat Azam menoleh dengan cepat ke arah pintu yang tertutup itu.
Bruk!
Terdengar suara rintihan dari dalam sana. Azam yang mendengarnya langsung menggedor pintu dengan gusar.
“Atlan, kamu nggak apa-apa?”
Tidak ada jawaban.
“Menjauh dari pintu!”
Brak!
Azam melihat Atlanta sedang terduduk sambil memegangi lututnya yang berdarah. Ia langsung menghampiri istrinya dan berjongkok di depannya.
“Ngapain pake jatuh segala, sih?” tanya Azam yang langsung ditatap tajam oleh Atlanta.
“Aduh, banyak tanya! Kalo mau nolong nggak usah banyak cingconb deh! Sakit nih lutut gue!”
Tanpa berkata apa-apa lagi Azam langsung menggendong Atlanta menuju sofa ruang tamu lalu mengambil kotak P3K untuk mengobati lukanya.
“Pelan-pelan!” bentak Atlanta saat Azam terlalu kencang menekan lukanya.
Bukannya minta maaf Azam malah semakin menekan luka di lutut Atlanta membuat sang empu berteriak kencang dan memukul kepala Azam.
“Lo tuh apa-apaan, sih!”
“Lagian kamu subuh-subuh begini bikin drama,” balas Azam tak kalah sinis.
“Drama kata lo? Gue udah jatuh berdarah kayak gini lo bilang drama? Ini darah asli bukan bohongan kayak di tv. Lagian gue model kalik bukan artis sinetron,” ucap Atlanta menggebu-gebu.
Azam mengangkat bahunya cuek. “Nggak peduli juga sih. Karena yang saya tahu sekarang itu, kamu istri saya dan saya suami ksmu. Saya hanya berharap saya hanya menikah satu kali seumur hidup dan nggak akan ada kata pisah dalam kamus hidup saya.”
Atlanta mendengus.
Azam berdiri karena telah selesai mengobati luka Atlanta. Ia lalu mengulurkan tangannya berharap agar Atlanta mau menyambutnya.
“Ngapain?” tanya Atlanta bingung.
“Saya bantuin kamu berdiri. Kamu shalat sambil duduk aja tapi kita tetep berjamaah. Ayo, keburu siang.”
__ADS_1
“Harus ya shalat?” tanya Atlanta.
Azam membuang nafasnya pelan lalu duduk di samping istrinya itu. “Shalat itu kewajiban. Saking wajibnya banyak banget keringanan kalo kita lagi punya udzur.”
“Contohnya?”
“Kalau kita nggak bisa shalat sambil berdiri, shalat sambil duduk juga boleh. Kalau masih nggak bisa juga sambil tiduran. Malah ada yang shalatnya pakai isyarat kedipan mata,” papar Azam.
“Kalau nggak bisa juga?”
Azam mendengus. “Ya dishalatin.”
“Meninggal dong?”
Azam mengangguk. “Makannya ayo shalat. Nanti keburu dijemput malaikat, kan, nggak bagus. Saya bahkan belum menemukan kata kita diantara saya dan kamu.”
Atlanta menatap Azam. Ia menemukan secercah kepedulian dimata suaminya itu. Azam terlalu baik untuk Atlanta. Ia jadi merasa bersalah telah memanfaatkan kejadian itu hanya untuk melindunginya.
...*****...
Beberapa hari selanjutnya masih tidak ada perubahan antara Atlanta dan Azam. Keduanya masih sering bertengkar karena hal sepele. Sikap Atlanta juga masih sama, keras kepala dan malas. Setiap sarapan, makan siang maupun makan malam selalu Azam yang menyiapkan.
Saat ini keduanya tengah sarapan. Tidak ada percakapan antara keduanya, karena mereka sama-sama sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Setelah sarapan, Azam keluar rumah tanpa izin seperti biasanya. Atlanta juga sudah terbiasa dengan hal itu, toh ia juga tidak peduli dengan kegiatan Azam di luar maupun di dalam rumah.
Hingga dua puluh menit selanjutnya, pintu terbuka dengan lebar diikuti suara berat yang menggema ke seisi rumah.
“Assalamualaikum.” Azam mengedarkan pandangannya mencari istrinya yang menyebalkan itu.
“Atlanta!” panggil Azam lebih keras.
“Iya,” sahut Atlanta dengan tanktop dan hotpants seperti biasanya. Ia menghampiri Azam yang tadi memanggilnya seperti orang kesetanan.
Tak!
“Dateng-dateng main sentil aja, sakit tau,” gerutu Atlanta sambil mengusap dahinya.
Azam tak menjawab. Dengan wajah menyebalkannya, ia menyodorkan sebuah paper bag coklat pada Atlanta.
“Apaan, nih?” tanya Atlanta sambil melihat isi di paper bag itu. Ia lalu mengeluarkan sebuah baju gamis berwarna hitam dengan motif sederhana dan sebuah kerudung syar’i berwarna maroon.
“Ini apa, Zam?” tanyanya sambil membeberkan baju itu di depan Azam yang sedang duduk di kursi.
“Baju,” jawab Azam.
Mendengar jawaban Azam, Atlanta berdecak. “Iya, aku tau ini baju.”
“Terus?”
“Maksudnya buat apa?”
“Ya buat dipake. Saya ada pengajian hari ini, Kiyai Sholeh minta saya buat ajak kamu. Nggak mungkin kalo saya ajak kamu terus kamu pake baju kamu itu. Ngerusak mata.”
“Aku pake baju ini?”
Azam mengangguk.
“Tapi ini kegedean, nggak mungkin muat di badan aku.”
“Muat.”
“Tapi--“
“Saya lagi nggak mau debat sama kamu. Sekarang kamu masuk kamar terus keluar pake baju itu. Dua menit.”
__ADS_1
Atlanta menghentakan kakinya sambil terus menggerutu. Ia masuk kamar dan mentup pintu dengan kencang. Ia sangat kesal. Azam selalu saja memaksa. Apapun yang Azam katakan tidak pernah bisa ia tolak.
Lima menit berlalu. Atlanta keluar kamar dengan mengunakan gamis dan kerudung pemberian Azam juga make up tipis yang menghiasi wajahnya. Azam menatap istrinya itu dari bawah ke atas. Benar perkiraan Azam, baju itu sangat pas di tubuh Atlanta. Apalagi warna baju itu kontras dengan kulit putihnya. Atlanta memang lebih cantik dari pada perempuan pada umumnya. Wajahnya blasteran antara Indonesia-Eropa, Azam yakin salah satu orang tuanya adalah keturunan bangsa barat sana.
“Azam!” Suara Atlanta membuyarkan lamunan Azam. “Nggak nyaman, ih, pake baju ini. Kegedean banget. Nih, liat.” Atlanta memutarkan tubuhnya agar Azam bisa melihat seluruhnya.
“Enggak.” Azam beranjak.
Merasa ada yang aneh, Azam menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang.
“Astaghfirullah. Angkatnya jangan tinggi-tinggi, Atlan,” ucap Azam melihat Atlanta mengangkat gamisnya sebatas paha.
“Nanti kalo keinjek aku jatuh, Zam. Ini kerudungnya sampe bokong gini. Panjang banget, berat.” Lagi-lagi Atlanta menggerutu.
Azam mengabaikan Atlanta. Ia lanjut membuka pintu dan menghidupkan sebuah motor yang sudah terparkir di depan rumah. Motor Supra x berwarna hitam bersuara bising ketika dihidupkan.
“Ini motor siapa, sih, Zam? Jelek banget,” maki Atlanta.
Azam tak menjawab. Ia memberikan kunci rumah pada Atlanta.
“Kunci pintunya.”
Atlanta berdecak tapi tak urung menuruti perintah Azam.
“Ini beneran kita naik motor ini? Malu, Zam. Ntar banyak yang lihat pasti."
“Naik!” Lagi-lagi Azam mengabaikan Atlanta.
“Enggak!”
“Naik!” Suruh Azam lebih keras.
Atlanta mendengus lalu naik ke motor butut itu dengan sangat terpaksa.
Saat di perjalanan, keduanya hanya terdiam tanpa ada yang mau memulai pembicaraan. Sampai di jalanan yang agak sepi, Atlanta baru membuka suara.
“Tempat pengajian kamu masih jauh, Zam?”
Azam tidak menjawab. Ia fokus terhadap jalanan di hadapannya.
“Azam jawab.”
“Azam!”
Atlanta terus-terusan berbicara sampai Azam jengah.
“Jangan bicara di dekat tengkuk saya,” ucap Azam membuat dahi Atlanta berkerut.
“Kenapa?”
“Kalo saya bilang jangan, ya, jangan.”
“Iya, tapi kenapa dulu?”
Azam tidak menjawab membuat Atlanta merasa heran. Bukannya setiap larangan adalah perintah? Maka dari itu Atlanta malah sengaja mengendus tengkuk Azam. Awalnya Azam terdiam karena masih bisa memahannya. Namun lama kelamaan ia tidak tahan lagi. Azam menghentikan motornya di tengah jalanan yang sepi itu lalu...
Cup.
...*****...
...Makasih udah suka sama ceritanya😊...
...Kalo ada typo atau kesalahan penulisan mohon tegurannya ya🙏🙏...
__ADS_1
...Jangan lupa vote dan commentnya. Mau share juga boleh asal jangan di plagiat....