
"Atlan, jangan. Jangan pergi." teriak Azam.
Atlanta menggeleng. "Nggak bisa. Aku harus pergi."
"Tapi saya nggak mau pisah sama kamu," lirih Azam.
Atlanta tetap pada pendiriannya. Ia dengan gaun putihnya mulai berjalan menjauhi Azam. Tentu Azam tidak diam saja. Ia berlari sekuat tenaga mengejar Atlanta. Namun anehnya, Atlanta yang berjalan tidak terkejar Azam yang berlari dengan sekuat tenaganya. Air matanya telah mengalir tanpa ia sadari. Azam bertumpu pada lututnya sambil berteriak memanggil nama istrinya itu.
"ATLANTA!!!" teriak Azam.
"Azam! Zam, bangun!" Atlanta menepuk pipi Azam.
Azam membuka matanya. Ia langsung duduk dengan nafas terengah. Melihat Atlanta disampingnya, refleks Azam memeluknya erat.
"Saya mimpi kamu pergi, Atlan," ucap Azam.
"Itu cuma mimpi, Zam. Buktinya aku ada di sini," balas Atlanta sambil mengurai pelukannya. Ia mengusap pipi Azam yang sudah basah oleh air mata.
"Jangan pergi, oke? Saya nggak mau pisah sama kamu."
Atlanta hanya terdiam. Perlakuan Azam membuatnya tambah sulit untuk meninggalkannya. Ditambah lagi perasaan aneh yang ada di hatinya. Atlanta pikir ia akan lebih mudah untuk pergi jika mereka sama-sama tidak saling menyukai. Tapi nyatanya itu salah. Bukankah cinta datang karena kebersamaan?
"Kenapa kamu diem aja?" tanya Azam.
"Karena aku nggak bisa janji."
"Maksud kamu mimpi itu pertanda?"
"Bukan itu, Zam. Nggak ada pertemuan tanpa perpisahan. Kalau aku janji aku takut Allah menginginkan yang sebaliknya. Aku yakin kamu juga tahu kalau di dunia ini nggak ada yang abadi."
"Siapa bilang?"
"Akulah. Aku yang ngomong kok."
"Allah abadi kalau kamu lupa."
Ucapan Azam membuatnya terdiam. Asam selalu mendekatkan dirinya pada Yang Maha Kuasa. Azam tidak pernah lupa untuk mengajaknya shalat berjamaah. Ia jadi teringat ceramah Azam di masjid tempo hari bahwa setiap wanita yang belum menikah tanggung jawabnya berada penuh di tangan ayahnya. Tapi jika wanita itu telah menikah maka suaminyalah yang menggantikan peranan ayahnya.
Atlanta ingat saat ia tengah menyapu halaman hanya memakan tanktop dan hotpants seperti biasanya, Azam langsung menggendongnya masuk kerumah dan memberinya ceramah panjang lebar sampai kepala Atlanta pusing mendengarnya.
"Ada satu lagi yang abadi."
Atlanta masih terdiam menunggu Azam kembali berbicara.
"Cinta saya ke kamu," bisik Azam tepat di samping telinga Atlanta.
...*****...
Atlanta berkali-kali melirik Azam yang tengah tertidur pulas di kasur sementara dirinya duduk di pinggir dan membiarkan lemari bajunya terbuka lebar. Ia harus pergi. Ia tidak ingin Azam dalam bahaya. Kemarin mamanya kembali mengiriminya pesan bahwa ia tahu Atlanta bersembunyi di pesantren. Lalu mamanya mengancam akan menghancurkan tempat itu kalau Atlanta tidak segera pulang.
Atlanta tahu kata-kata mamanya itu bukan sekedar gertakan belaka. Mamanya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia sebenarnya takut tidak bisa melihat wajah Azam lagi. Atlanta tidak menampik bahwa dirinya mencintai Azam. Azamnya yang dingin dan menyebalkan. Namun perhatian dan kata-kata menyebalkannya itu selalu membuat Atlanta tersanjung.
Ting!
__ADS_1
Bunyi pesan masuk ke ponselnya. Atlanta mengambil benda pipih itu dan melihat siapa yang baru saja mengiriminya pesan.
08XX XXXX XXXX
|Kalau udah siap nanti papa jemput.
Nomer tidak dikenal ini sudah sering mengiriminya pesan setelah kedatangan orang tua Atlanta. Orang itu menyebut dirinya sendiri sebagai papa. Atlanta juga tidak tahu siapa orang itu. Tapi orang itu berjanji akan menyelesaikan semua masalahnya dengan mama dan ayahnya.
08XX XXXX XXXX
|Nanti papa jelaskan semuanya setelah kita bertemu.
|See you.
...*****...
Malam tanpa bintang dan cahaya bulan. Sebuah rumah sederhana di kompleks pesantren tengah diselimuti keheningan yang mencekam. Seorang lelaki menatap wanitanya dengan tatapan tajam di ruang tamu. Sementara yang ditatap hanya menunduk dalam-dalam.
"Ada yang kamu jelasin?" Seperti biasa Azam bertanya dengan nada perintah. "Maksudnya kamu mau pergi tanpa sepengetahuan saya gitu? Iya, Atlanta?"
"JAWAB!!" Melihat Atlanta yang hanya menunduk dan terisak Azam meninggikan volume suaranya membuat Atlanta tersentak.
Azam memijat pelipisnya. Sudah cukup kejujuran Atlanta membuat hatinya terguncang. Sekarang kenyataan kembali menghampirinya. Ia mulai percaya bahwa dunia ini penuh dengan tipuan.
"Zam...."
Atlanta meraih tangan Azam. Namun tanpa disangka, Azam menepis tangannya kasar. Saat Atlanta sedang membereskan baju tadi, Azam bangun dan melihat Atlanta memasukan bajunya ke dalam koper. Bukan hanya itu, Azam juga melihat room chatt Atlanta dengan orang yang menyebut dirinya papa itu.
"Zam--"
"Minggir!" ucap Azam dingin. Bahkan ia tidak melirik Atlanta sedikit pun.
"Dengerin aku ngomong dulu, Zam."
"Saya bilang minggir!"
Atlanta menggeleng dan tetap merentangkan tangannya.
"Dengerin aku ngomong dulu. Kamu nggak bakal ngerti kalau--" Ucapan Atlanta terhenti kala ia merasa kepalanya tiba-tiba berdenyut. Ia memegangi kepalanya. Penglihatannya mulai mengabur. Dunia seakan mulai memutar di matanya.
Azam tetap pada pendiriannya. Ia sebenarnya ingin sekali memeluk Atlanta saat ini. Tapi egonya menolak untuk melakukan itu.
"Azam..."
Azam memutuskan untuk mengenyahkan egonya. Tubuh Atlanta nyaris mencium lantai jika saja Azam tidak segera menahannya. Ia menggendong tubuh Atlanta dan menidurkannya di kasur. Atlanta tidak benar-benar pingsan. Ia hanya merasa tiba-tiba pusing dan lemas.
"Mas...."
Azam menajamkan pendengarannya. Benarkah Atlanta memanggilnya dengan sebutan itu? Sebutan yang selama ini Azam tunggu-tunggu.
"Harusnya aku manggil itu, kan, ke kamu, Mas? Aku juga tahu kamu mau itu dari dulu."
Lalu hening. Hanya terdengar suara detak jarum jam yang terus bergerak tanpa mau berhenti.
__ADS_1
"Atlan." Akhirnya Azam membuka suara setelah lama terdiam.
Atlanta tersenyum. Ia sangat suka ketika Azam memanggilnya dengan sebutan itu karena memang hanya hanya Azam yang memanggilnya Atlan.
"Jangan pergi," lirih Azam.
"Mas." Atlanta memaksakan dirinya untuk duduk. "Aku pernah bilang, kan, kalau nggak ada pertemuan tanpa perpisahan?"
"Tapi..." Azam melirik Atlanta. "Saya nggak mau pisah sama kamu."
Atlanta menatap manik mata Azam. Mencari kebohongan di situ. Nihil. Tidak ada setitik pun kebohongan terpancar dari mata Azam.
"Kita dipertemukan Allah secara nggak sengaja dan karena kejadian itu aku dan kamu menjadi kita dengan ikatan yang sah. Tapi kata kita itu nggak akan selalu menjadi kita. Kebersamaan juga didampingi dengan perpisahan. Kamu ngerti itu, kan? Aku nggak mau kamu dalam bahaya."
Dahi Azam mengernyit bingung. "Dalam bahaya?"
"Kamu inget waktu ada orang yang badannya besar cari aku?"
Azam mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Aku pernah bilang itu bodyguard mama dan ayah." Atlanta terdiam sejenak. "Dan kamu tahu? Sebenarnya itu bukan ayah kandung aku. Orang yang nyebut papa di chatt itu ayah aku yang sebenarnya."
Azam mendengarkan tanpa berniat memotongnya.
"Katanya mama selingkuh dan selingkuhannya itu supir pribadinya sendiri yang sekarang jadi ayah aku. Papa jarang banget ada di rumah dan temen curhatnya itu cuma supirnya ayah yang sat itu masih jadi supir pribadi mama. Mungkin karena sering bersama mereka berdua jadi ngejalin hubungan di belakang papa." Atlanta terdiam sejenak. "Setelah tahu mama selingkuh, papa sama mama langsung cerai dan papa kembali ke negara asalnya, Jerman."
Azam tidak terkejut saat tahu Atlanta mempunyai darah barat karena ia memang sudah menduganya sejak awal.
Mata Atlanta berkaca-kaca, terlihat menahan tangisnya.
"Mama ngancem aku. Aku takut kamu kenapa-napa. Lagian papa udah janji bakalan selesain masalah aku."
Azam menangkup pipi dan mengarahkan wajah Atlanta ke wajahnya.
"Hei, saya suami kamu. Masalah kamu masalah saya juga. Kamu milik saya apapun yang terjadi. Apapun yang kamu punya berarti punya saya juga. Kamu jangan khawatir. Saya selalu ada di sisi kamu. Jangan pergi.... Saya cinta kamu, Atlan. Saya cinta kamu apapun yang terjadi. Nggak peduli dengan apa kita disatukan. Saya tetap mencintai kamu, Atlan." Azam mengusap air mata Atlanta yang mengalir di pipinya dengan ibu jarinya.
Atlanta menyingkirkan tangan Azam di pipinya lalu memeluknya erat. Menghirup aroma tubuh Azam yang akan selalu ia rindukan.
"Aku juga cinta sama kamu, Mas... Azam."
Azam mempererat pelukannya. Ia sudah lama sekali menantikan kata itu keluar dari mulut Atlanta. Ia lalu teringat sesuatu. Azam mengurai pelukannya lalu berdiri membuka laci lemari. Ia menyodorkan sebuah kotak kecil yang dilapisi kain merah. Azam membuka kotak itu dan terlihatlah sebuah cincin emas tertancap di situ. Cincin tanpa hiasan itu mampu membuat Atlanta terkejut. Ia tidak pernah menyangka Azam akan memberinya benda itu.
Azam mengambil tangan kanan Atlanta lalu memakaikan cincin itu di jari manisnya. "Hutang saya lunas sekarang. Pas," ucapnya lalu mencium punggung tangan Atlanta.
Atlanta tersenyum dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari tadi.
...*****...
...Makasih udah suka sama ceritanya😊...
...Kalo ada typo atau kesalahan penulisan mohon tegurannya ya🙏🙏...
...Jangan lupa vote dan commentnya. Mau share juga boleh asal jangan di plagiat....
__ADS_1