Model Vs Ustadz

Model Vs Ustadz
14 - Tamu bulanan


__ADS_3

Sebulan berlalu. Azam belum tinggal di apartemen bersama Atlanta. Ia masih bolak-balik antara apartemen dan asrama. Entahlah, belum ada niatan di hatinya untuk tinggal bersama dengan Atlanta. Ia juga belum bicara apa-apa soal ini pada Gilang. Azam merasa ia tidak perlu menceritakannya. Toh, ia juga belum kenal lama dengan teman sekamarnya itu.


Azam melangkahkan kakinya menuju lift lalu menekan password di pintu apartemen yang Atlanta tinggali. Ia berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Berkali-kali ia menasehati Atlanta untuk membereskan apartemennya tapi Atlanta tidak pernah mendengarnya. Keadaan apartemen saat ini masih sama seperti sebelumnya. Berantakan.


Tangan Azam mulai terulur untuk membereskan baju-baju Atlanta yang berserakan di lantai lalu memasukannya ke keranjang pakaian yang ada di pojok ruangan. Saat matanya terarah ke atas kasur Azam berdesis kesal. Kejadian ini sudah berkali-kali terulang dan Azam sudah bosan untuk memperingati istrinya itu.


"Atlanta!" teriak Azam.


"Aku di kamar mandi!" balas Atlanta.


"Keluar!"


Atlanta dengan segera membuka pintu kamar mandi. Ia mendapati suaminya tengah menunjukkan wajah kesalnya sambil menunjuk sesuatu di atas kasur dengan jari telunjuknya. Sebuah benda segitiga berwarna merah yang mampu membuat Azam kesal setengah mati.  Atlanta menggaruk dahinya yang tidak gatal lalu menunjukkan cengiran kudanya. Ia lupa memasukan ****** ******** itu ke tempat cucian kotor.


"I-itu ..., hehe ...."


Benda sakti itu Azam pindahkan ke keranjang pakaian. Ia duduk di kasur dengan wajah yang masih ditekuk kesal.


"Mas ...." Atlanta duduk di samping Azam sambil memeluk tangan suaminya berharap Azam akan memaafkannya.


"Saya nggak mau benda itu tergeletak lagi. Paham."


Atlanta tersenyum sambil mengangguk paham. Walaupun mungkin ia akan mengulanginya lagi nanti.


Azam berdiri menuju nakas yang selalu tersedia air minum dan menenggak segelas air hingga tandas tak bersisa. Menetralkan rasa kesalnya, Azam menatap Atlanta yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias. Rambut Atlanta begitu lurus dan terawat. Azam sampai tidak pernah bosan memandanginya. Kakinya ia langkahkan untuk menghampiri istrinya itu lalu memeluknya dari belakang.


"Kok bisa sih," ucap Azam mengalungkan tangannya di leher Atlanta sambil menatap refleksi keduanya di cermin.


"Apa, Mas?"


"Kok bisa kamu cantik terus sampai saya nggak pernah bisa berhenti kagum sama kamu."


"Hah?!"


"Pernah operasi plastik?"


"Operasi plastik? Ya enggaklah. Ngaco."


"Berarti bener."


"Apa?" Atlanta menatap Azam dari cermin di hadapannya.


"Bidadari baru aja turun dari langit."


"Hah?"


Azam mencium puncak kepala Atlanta. Menghirup aromanya yang selalu wangi dalam-dalam. "Kamu itu bidadari. Bidadarinya saya."


Atlanta tidak bisa lagi menyembunyikan senyumnya. Ia tidak menyangka Azam bisa mengatakan hal yang membuat pipinya jadi merona.


"Gombal," ucapnya menatap ke arah lain. Ia tidak sanggup Agi menatap mata Azam yang selalu membuatnya terhipnotis.


Azam mambalikan tubuh Atlanta hingga menghadap ke arahnya, lalu menangkup kedua pipi perempuan itu..


"Saya nggak gombal. Saya mencoba untuk berkata jujur sama bidadari saya."


Cukup. Atlanta harus mencari topik baru untuk mengalihkan pembicaraan. Kalau tidak ia tidak bisa menjamin kalau dirinya akan tetap berada pada posisinya.


"Nggak demam," ucap Azam sambil memegang dahi Atlanta. "Tapi kenapa wajah kamu merah? Kamu kepanasan?"


Atlanta tidak menjawab. Sebelum dirinya benar-benar terbang karena mendengar ucapan Azam, ia cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Kuliah kamu lancar?"


Azam menghela nafas  lalu duduk di atas kasur yang tidak jauh dari tempat duduk Atlanta.


"Biasa aja."


"Kok gitu?"


"Karena yang luar biasa ada di depan saya."


Blus.


Azam kembali membuat pipi Atlanta merona dengan kata-katanya. Atlanta yang mengerti apa dimaksud langsung mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


"Apaan sih. Basi tau nggak?!" Atlanta memilih berbalik menghadap kaca.


"Iya. Obrolan kita basi. Tapi untungnya kecantikan kamu nggak pernah basi."


"Nggak jelas sih kamu, Mas!"


"Emang. Karena yang jelas di sini cuma hubungan kita." Azam menatap Atlanta dari pantulan cermin sambil tertawa kecil.


"Makin ngaco nih kamu." Atlanta menghampiri Azam lalu mencubit hidungnya.


Azam membalasnya dengan ciuman di bibir dengan sekilas. Semenjak mengenal Atlanta hal itu menjadi candu untuk Azam.


"Saya nggak ngaco. Kamunya aja yang bingung mau jawab apa, kan?"


Tepat sasaran. Azam memang selalu membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.


"Aku baru tahu kamu bisa ngomong kayak gitu."


Azam tersenyum. "Tetap sama saya apapun yang terjadi. Oke?"


*****


Saat ini Atlanta dan Azam sedang menonton TV bersama dengan kepala Azam berada di pangkuan Atlanta. Tidak ada jadwal kesibukan bagi keduanya hingga membuat mereka bisa bersantai dan memulai obrolan randomnya.


"Mas," panggil Atlanta


"Hm," balas Azam bergumam.


"Kamu pengen punya anak berapa?"


"Seratus."


"Serius."


Azam menatap wajah Atlanta. "Empat."


"Banyak banget."


"Banyak anak banyak rezeki, Atlan. Saya pengen punya satu anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Boleh, kan?"


Atlanta mengangguk. "Boleh."


Azam bangun lalu memegang dagu Atlanta. "Kalau sekarang aja gimana?"


"Apanya?"


"Bikinnya."

__ADS_1


"Hah?! Ka-kamu ... beneran? Sekarang?"


Azam mengangguk. "Nggak papa, kan?"


Azam mengatakan hal itu tanpa ada beban sama sekali. Sementara Atlanta yang paham akan ucapan suaminya terlihat gugup. Ia memegang perutnya lalu meminta izin ke kamar mandi terlebih dahulu.


"Bentar. Aku mau ke kamar mandi dulu."


Atlanta beranjak lalu masuk ke kamar mandi. Sepersekian detik berikutnya terdengar jeritan nyaring dari dalam sana. Azam yang menyadari itu suara Atlanta langsung beranjak dan menggedor pintu kamar mandi dengan keras.


"Atlan! Atlanta kamu kenapa?!" teriak Azam panik.


Tidak ada jawaban dari dalam sana. Saat Azam akan mendobrak pintu itu, pintunya sudah terbuka dari dalam. Menampakan Atlanta dengan raut wajah lesu.


"Mas ...."


"Ada apa, Atlan?" Azam memegang kedua pundak Atlanta.


"Tamunya ... dateng."


*****


Asrama universitas. Gilang memperhatikan Azam yang tengah sibuk membereskan baju-bajunya. Azam memutuskan untuk pindah ke apartemen Atlanta agar bisa lebih leluasa melakukan apapun di sana. Sampai saat ini pun Azam belum mengatakan apapun soal ia dan Atlanta pada Gilang.


"Mau ke mana, Zam?" tanya Gilang.


"Pindah." balas Azam seadanya.


"Pindah kemana?"


"Apartemen,"


"Apartemen siapa?"


"Istri."


Gilang terlihat terkejut mendengar ucapan Azam. " Loh, istri? Sejak kapan kamu punya istri?"


"Udah lama."


"Siapa istri kamu? Kok, kamu belum pernah cerita."


"Atlanta."


"Hah?! Model terkenal itu? Yang tiba-tiba ngubah penampilannya setelah hil--"


"Duh, berisik! Ceritanya panjang pokoknya. Kamu tenang aja, kita masih bisa ketemu kalo Allah ngizinin."


"Jangan lupa sama aku, Zam."


"Insya Allah."


Selesai membereskan pakaiannya, Azam mengulurkan tangannya untuk mengajak Gilang bersalaman yang tentu saja langsung disambut hangat olehnya.


"Saya pamit. Assalamualaikum."


Gilang mengangguk. "Waalaikum salam. Hati-hati."


*****


Makasih udah suka sama ceritanya😊

__ADS_1


Kalo ada typo atau kesalahan penulisan mohon tegurannya ya🙏🙏


Jangan lupa vote dan commentnya. Mau share juga boleh asal jangan di plagiat.


__ADS_2