Model Vs Ustadz

Model Vs Ustadz
07 - Cinta?


__ADS_3

Atlanta memegangi kepalanya yang masih berdenyut karena terbentur kepala Azam tadi. Ia sempat heran pada suaminya itu. Atlanta saja sampai benjol sementara Azam sudah pergi meninggalkannya keluar rumah tanpa pamit.


Sambil terus mengusap kepalanya, Atlanta menyelonjorkan kakinya di sofa. Tiba-tiba muncul wajah Azam dalam pikirannya. Sifatnya yang dingin membuatnya jarang berbicara. Pernah sehari Azam tidak mengatakan satu patah kata pun dan itu membuat Atlanta heran. Suara Azam mahal dan hanya orang tertentu yang bisa mendengarnya. Aneh. Padahal tanpa Atlanta sadari hanya saat berdebat dengannyalah Azam mau berbicara panjang lebar.


Ada satu hal yang Atlanta inginkan yaitu melihat senyum Azam. Senyum tulusnya. Setiap hari mukanya selalu datar dan menyebalkan. Selama menikah dengan Azam, Atlanta tidak pernah melihat raut berbeda dari wajah suaminya itu. Selalu datar dan menyebalkan.


Dalam sehari ini, ia sudah mendapatkan dua kali ciuman dari Azam dan itu tepat mengenai bibirnya. Walaupun sekilas tapi tetap saja Atlanta masih tidak rela.


Azam Raqnan Saifullah. Suami yang dingin dan irit bicara. Azam dan Atlanta menikah karena suatu hal yang tidak sengaja terjadi. Atlanta memanfaatkan hal itu karena suatu hal. Ia tahu Azam membencinya, tapi akhir-akhir ini entah kenapa ia selalu merasa Azam mempedulikannya.


"Assalamualaikum."


Atlanta mendongak karena mendengar suara Azam dari arah pintu.


Tak!


"Aduh!" ringis Atlanta sambil mengusap keningnya. Benjol tadi saja belum sembuh sekarang sudah dapat sentilan dari Azam. "Sakit."


"Biasain kalau ada yang ngucap salam itu dijawab bukan melongo."


"Waalaikum salam."


"Yang ikhlas biar berkah."


Atlanta menahan nafasnya kesal. "Waalaikum salam Azam suamiku ganteng," ucapnya dengan senyum terpaksa.


Azam menaruh kresek hitam di atas meja lalu menatap Atlanta. "Azam... apa?" tanya Azam entah pura-pura atau memang benar-benar tidak mendengarnya.


Atlanta memutar bola matanya malas. "Azam ganteng. Terganteng se-kandang kambing."


Azam tertawa kecil dan itu mampu membuat Atlanta menahan pandangannya dari Azam. 'Plis biarin Azam kayak gitu. Ya Ampun ganteng beneran nih suami gue,' batin Atlanta. 'Eh, apaan, sih?!'


"Saya emang ganteng. Tapi bukan se-kandang kambing."


Atlanta memalingkan wajahnya. Azam menyebalkan. Apa katanya tadi? Ganteng? Percaya diri banget ya dia. Walaupun memang ganteng sih. Tak berselang lama, Atlanta merasakan sesuatu yang hangat menempel di kepalanya yang tadi terbentur dengan kepala Azam. Ia menatap wajah Azam yang sedang menempelkan sebuah plastik berisi nasi hangat di kepalanya.


"Katanya nasi hangat bisa nyembuhin benjol. Makanya tadi saya keluar buat beli ini. Makanan di dapur, kan, belum jadi," ucap Azam.


Atlanta tetap terpaku pada wajah Azam. Rasanya baru kali ini ia menatap wajah Azam dengan jarak sedekat ini. Jika ia sedang bermimpi, ia berharap tidak cepat-cepat terbangun. Eh, ngawur lagi.


"Maaf," sambung Azam. "Saya nggak bermaksud buat bentak kamu. Maaf juga saya pergi nggak pernah bilang sama kamu."


Lalu hening. Atlanta tidak percaya apa yang baru saja didengarnya tadi.


"Atlan.... " Suara Azam membuyarkan lamunan Atlanta. "Kamu mau, kan maafin saya?"


Cukup lama Atlanta terdiam namun tanpa sadar ia mengangguk. Azam tersenyum. Senyumnya yang mahal kini ia tunjukan pada Atlanta, perempuan yang terpaksa ia nikahi. Seolah menular, Atlanta ikut tersenyum.


"Masih sakit?" tanya Azam sambil merapikan rambut Atlanta yang menutup keningnya.


Atlanta menggeleng. "Makasih."


"Sama-sama."


...*****...


"Zam, ini hujan loh. Yakin mau maksa pergi?" tanya Atlanta pada Azam yang sedang bersiap untuk berangkat ke pengajian padahal di luar sedang hujan lebat.

__ADS_1


Suara rintik-rintik hujan di luar mengalun indah bagai tangga nada. Namun melodi-melodi indah itu malah membuat Atlanta semakin khawatir.


"Saya bawa jas hujan kok. Kasihan nanti para jama'ah nungguin saya. Saya, kan, harus amanah. Lagian kamu tumben perhatian sama saya."


Atlanta terdiam. Iya juga ya. Ngapain Atlanta peduli pada Azam?


"Takut kehilangan saya, hm?" Azam menatap Atlanta sambil tersenyum penuh arti. Sementara yang ditatap hanya terdiam tanpa melirik lawan bicaranya.


Banyak yang terjadi setelah insiden baikan itu. Azam tidak sedingin dulu pada Atlanta. Ia juga selalu meminta izin dari Atlanta sebelum ia keluar rumah. Atlanta juga sama, ia banyak berubah. Atlanta tidak pernah melempar baju sembarangan lagi. Ia rajin membantu Azam membereskan rumah dan menyiapkan makanan.


"Kok diem?"


Atlanta tersadar. Ia menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku nggak takut kehilangan kamu kok. Emang kamu mau kemana? Kayak yang pergi jauh aja." Atlanta melipat tangannya di depan dada dan memalingkan wajahnya.


"Kirain."


"Kirain apa?" tanya Atlanta.


"Nggak."


Setelah memakai jas hujannya, Azam menyodorkan tangannya. Atlanta tentu sudah mengerti sekarang. Ia langsung menyambut tangan Azam dan mencium punggung tangan suaminya itu. Azam mendekatkan kepala Atlanta lalu mencium keningnya lembut.


"Saya pergi," pamit Azam. "Assalamualaikum."


"Wa-waalaikum salam."


Atlanta menatap kepergian Azam dari jendela yang basah karena ciptaran air hujan. Entah kenapa perasaanya jadi tak menentu sekarang.


Ting!


Mom


//Mom send a photo//


|Jangan main-main sama mama


...*****...


Malam yang dingin tanpa cahaya bulan dan bintang. Ditemani gemericik air hujan, Atlanta dengan telaten mengganti kompresan di dahi Azam. Sepulang dari pengajian tadi sore, Azam langsung mandi dan ambruk di sofa. Badannya menggigil dan suhu tubuhnya tinggi. Atlanta berkali-kali memaksa Azam untuk bertukar tempat tidur tapi Azam selalu menolaknya.


"Saya mau ke kamar mandi," ucap Azam dengan lemah.


Atlanta mengangguk lalu membantu Azam ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi Atlanta sengaja membelokan tubuh Azam ke kamar agar suaminya itu bisa tidur dengan nyaman di kasur. Azam tidak bisa membantah sekarang. Ia menurut saja saat Atlanta menidurkannya di kasur.


"Mau ke mana?" tanya Azam melihat Atlanta beranjak.


"Keluar. Biar kamu bisa istirahat."


Azam menggeleng. "Temani saya sebentar."


Atlanta sempat terdiam tapi kemudian ia mengangguk kaku. Perempuan itu duduk di pinggir kasur. Tatapannya tak henti-hentinya menatap Azam yang mulai memejamkan matanya. Ia mengusap keringat yang mengucur di dahi Azam dengan pelan karena takut membangunkannya.


'Siapapun jodoh kamu nanti, dia pasti beruntung banget dapetin kamu. Makasih, Zam. Kamu udah banyak ngerubah aku. Aku nggak sadar sekarang aku mulai terbiasa sama panggilan aku-kamu. Aku juga nggak tahu sejak kapan aku jadi rajin salat. Yang aku tahu semua itu berkat kamu. Makasih. Kamu terlalu baik buat aku yang jahat ini. Aku egois. Aku cuma mikirin diri aku sendiri tanpa mau mikirin kamu yang tersiksa hidup sama aku,' batin Atlanta.


Tubuhnya lalu ia geserkan agar lebih dekat dengan Azam. Atlanta mencium kening Azam dengan lembut. Entahlah. Mungkin rasa itu mulai tumbuh di hatinya. Bukankah cinta itu bisa hadir karena kebersamaan? Tapi Atlanta tidak yakin kalau yang dirasakannya adalah rasa cinta.

__ADS_1


Setelah mengecup kening Azam, Atlanta hendak beranjak, tapi sebuah suara menghentikannya.


"Nggak sopan," ucap Azam sambil menunjukkan wajah datarnya.


Atlanta membulatkan matanya melihat Azam tiba-tiba membuka matanya. Ia segera beranjak dari kasur. Jujur ia malu sekali kepergok sedang mencium Azam. Kalau bisa ia ingin memindahkan wajahnya sekarang juga.


"Zam lepas!" Atlanta berusaha melepaskan cekalan Azam di tangannya.


"Mencuri kesempatan dalam kesempitan, hm?"


Atlanta tetap berontak. "Zam lepas!"


Azam tersenyum melihat Atlanta yang berusaha menjauhinya. Ia lalu menarik tubuh Atlanta hingga Atlanta jatuh tepat di atas tubuhnya.


"Kenapa merem?" tanya Azam melihat Atlanta memejamkan matanya. "Takut?"


Cup.


"Ini baru bener," ucap Azam setelah mencium bibir Atlanta.


"Zam lepas!" Atlanta masih saja berontak. "Badan kamu panas."


Azam mengabaikan Atlanta. Ia malah memeluk istrinya itu dengan erat.


"Azam, lepas! Aku berat, kamu lagi sakit."


"Berarti kalau saya udah sembuh--"


"Azam!"


Azam tertawa kecil. Ia berbalik dan menjatuhkan Atlanta tepat di sampingnya. Keduanya tidur berhadapan sekarang.


"Tidur di sini aja temenin saya."


"Hah?!"


"Temenin saya," ulang Azam.


"Te-temenin?" beo Atlanta yang dibalas anggukan oleh Azam.


"Ta-tapi-"


"Ssstt...."


Azam menempelkan jari telunjuknya di bibir Atlanta. Ia lalu memeluk Atlanta erat.


'Saya nggak tahu apa yang terjadi sama saya, Atlan. Saya ngerasa akan kehilangan kamu kalau saya nggak meluk kamu hari ini. Saya juga nggak tahu kenapa saya selalu ngerasa bahagia kalau ada di dekat kamu,' batin Azam.


Nafas Atlanta mulai teratur dan Azam mendengar dengkuran halus yang menandakan Atlanta sudah terlelap. Atlanta memang cepat sekali tertidur.


Azam mencium kening Atlanta. "Benci dan cinta itu selalu berdampingan. Mungkin sekarang benci itu udah benar-benar tergeser. Saya berharap kita selalu bersama, Atlan. Selamanya."


...*****...


...Makasih udah suka sama ceritanya😊...


...Kalo ada typo atau kesalahan penulisan mohon tegurannya ya🙏🙏...

__ADS_1


...Jangan lupa vote dan commentnya. Mau share juga boleh asal jangan di plagiat....


__ADS_2