Model Vs Ustadz

Model Vs Ustadz
13 - Kembali


__ADS_3

"ATLANTA!!!"


"Mas Azam."


Azam mematung. Seseorang tiba-tiba memanggilnya dari belakang. Suaranya sangat familiar di telinga Azam. Ia menoleh dengan perlahan. Dan apa yang dilihatnya begitu mengejutkan hatinya. Ia mengusap air matanya yang sudah mengalir entah sejak kapan.


"Atlanta." Azam masih diam di tempatnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Namun beberapa detik berikutnya Azam berlari dan langsung memeluk Atlanta erat.


Perlahan Atlanta membalas pelukan Azam. Ia tersenyum. Atlanta sangat merindukan Azamnya.


"Tolong, jangan pergi," lirih Azam.


Ekhem.


Suara dehaman seseorang membuat Azam dan Atlanta mengurai pelukannya. Azam menatap orang di samping Atlanta dengan sengit.


" H-hai," sapa orang itu canggung.


"Kamu--"


"Dia Charlie yang ngaku-ngaku sebagai fotografer waktu itu. Dan sebenarnya, Charlie adalah mata-mata papa. Bukan fotografer. Aku juga baru tahu pas aku ketemu papa waktu itu," papar Atlanta.


Charlie masih tersenyum walaupun ia tahu Azam tidak menyukainya.


"Kamu tenang aja, Azam. Aku nggak pernah menyentuh Atlanta kok selama aku bersamanya. Aku cuma disuruh untuk menjaganya. Nggak lebih. Sekarang ayo, aku antar kalian ke apartemen."


Azam masih menatap Charlie tidak suka. Namun elusan di tangannya membuatnya menghela nafas panjang. Sekarang bukan waktunya untuk posesif.


Ketiganya lalu pergi meninggalkan bandara menuju apartemen Atlanta. Sampai di sana, Charlie langsung pergi entah kemana, sedangkan Azam dan Atlanta langsung masuk ke kamar.


Azam duduk di kasur. Ia lalu menarik Atlanta agar duduk di sampingnya.


Tak.

__ADS_1


"Aww!" ringis Atlanta saat keningnya disentil oleh Azam.


"Kamu memang dari dulu belum berubah ya," ucap Azam.


Ia lalu mengedarkan pandangannya. Baju dan barang-barang Atlanta berserakan di mana-mana membuatnya geleng-geleng kepala.


"Nanti juga aku beresin. Nggak usah sentil-sentil dong. Sakit, nih."


"Palingan saya juga nih yang beresin."


"Hehe." Lelehan terdengar dari mulut mungil Atlanta.


Lalu hening. Keduanya sama-sama diam. Hanya suara detik jarum jam yang terdengar di ruangan itu.


"Mas."


"Atlan."


Keduanya berbicara secara bersamaan. Cukup lama mereka bertatapan lalu akhirnya Atlanta yang memutuskan kontak mata itu terlebih dahulu. Ia menatap lantai kosong di bawahnya.


Azam berkali-kali menghela nafasnya. Terlihat sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan apa yang akan disampaikannya pada Atlanta. Ia lalu mengeluarkan benda kotak berwarna merah dan menyodorkan isinya pada perempuan bermanik hazel itu.


"Perasaan kamu sama saya masih sama, kan?" tanya Azam.


Atlanta melirik Azam dan cincin itu bergantian. Ia ingin sekali menerima cincin itu lagi, tapi egonya malah menyuruhnya untuk tetap terdiam.


"Atlan ...." Kini posisi Azam berubah. Ia berlutut di hadapan Atlanta, berharap Atlanta mau menerimanya kembali.


"Mas ..., Aku pikir kamu ke sini bakalan nyuruh aku buat tanda tangan surat cerai kita."


Azam menggeleng. "Nggak mungkin, Atlan. Tolong jangan sebutkan lagi kata itu. Karena kita nggak akan pernah berpisah sampai kapanpun. Saya minta maaf, Atlan. Saya sadar belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Tapi saya janji akan memperbaiki semuanya. Demi kamu." Azam terdiam sejenak sambil menatap wajah Atlanta lekat. "Saya cinta kamu. Ana uhibbuki, Atlanta."


Air mata Atlanta turun. Ia tidak bisa membendungnya lagi. Atlanta tidak percaya kata-kata yang diucapkan Azam membuatnya terharu.

__ADS_1


"Kamu mau, kan, kembali sama saya?"


Sambil terisak Atlanta mengangguk. Ia tersenyum. Atlanta sangat bahagia saat ini. Azam pun ikut tersenyum. Ia mengambil tangan kanan Atlanta dan memasangkan cincin itu di jari manisnya lalu Azam mencium punggung tangan Atlanta cukup lama.


Azam memeluk Atlanta. Ia juga bahagia karena dirinya dan Atlanta kini kembali bersama.


Azam mengurai pelukannya lalu menangkup pipi Atlanta dan mencium keningnya lembut, melepas rindu yang selama ini ia pendam.


"Oh, iya. Saya ada pertanyaan untuk kamu."


Atlanta menghapus air matanya lalu menatap Azam. Menunggu suaminya itu melanjutkan kata-katanya.


"Kamu nggak jadi berangkat ke Jerman karena saya, kan?" tanya Azam dengan percaya dirinya.


"Jadi kamu kira aku berangkat ke Jerman?"


Azam mengangguk. "Saya lihat berita tadi pagi."


Atlanta tertawa. Dan itu berhasil membuat dahi Azam berkerut bingung.


"Bukan aku yang berangkat, Mas. Tapi papa. Papa pulang ke Jerman karena mengurus pekerjaannya di sana. Kamu ge-er banget sih."


Cup.


Tawa Atlanta terhenti. Ia terkejut. Azam tiba-tiba mencium bibirnya sekilas. Kini Azam yang tersenyum. Senyum yang menandakan bahwa ia telah menang.


"Rasanya masih sama." Azam mengusap bibir Atlanta dengan ibu jari kanannya. "Itu hukuman karena kamu ngetawain saya tadi."


...*****...


...Terima kasih sudah menyukai ceritanya😊...


...Jika ada typo atau kesalahan penulisan, mohon tegurannya ya🙏🙏...

__ADS_1


...Jangan lupa vote dan commentnya. Bagi-bagi juga boleh asal jangan plagiat....


__ADS_2