Model Vs Ustadz

Model Vs Ustadz
15 - Perkenalan pertama


__ADS_3

Di ruang tamu, Azam sedang mengutak atik laptopnya ketika Atlanta menghampirinya dengan membawakannya secangkir kopi.


"Ngapain?" tanyanya sambil duduk di samping Azam.


"Tugas kampus," balas Azam tanpa menoleh.


"Mau dibantu nggak?"


Azam menoleh. "Boleh."


Atlanta lalu mengambil alih laptop Azam.


"Oh ini."


"Bisa?"


"Gampang."


Azam menyesap kopi yang tadi dibawakan Atlanta sambil memperhatikan istrinya itu yang sedang mengambil alih tugasnya.


"Mas, charger dong," pinta Atlanta saat melihat baterai laptop hampir habis.


Azam lalu beranjak menuju kamar untuk mengambil apa yang Atlanta minta. Semenit kemudian Azam kembali lalu menghubungkan charger itu ke laptop. Namun baru saja charger itu tersambung, listrik tiba-tiba mati. Bersamaan dengan itu, laptop pun ikut mati karena baterainya habis, membuat Atlanta berteriak karenanya.


"Aaaa!!! Belum disave."


Azam menyalakan senter di ponselnya. Menyoroti Atlanta yang sudah memanyunkan bibirnya karena kecewa. Ia baru saja selesai mengerjakan tugas Azam dan sekarang semuanya sia-sia.


"Maaf," sesal Atlanta.


"Nggak papa. Bisa bikin lagi kok." Azam mengelus pundak Atlanta. Sementara Atlanta memeluknya dari samping.


"Atlan ...."


Atlanta mendongak. "Hm."


"Perkenalan pertama," bisik Azam tepat di telinga Atlanta.


Atlanta yang mengerti maksud Azam langsung mengangguk. Ia beralih duduk di pangkuan Azam sambil mengalungkan tangannya ke leher suaminya itu. Ditatapnya muka tampan Azam sambil tersenyum. Ia sangat bersyukur dipertemukan dengan Azam. Tangannya yang nakal mulai membuka satu persatu kancing kemeja suaminya itu sampai bawah. Telunjuknya menari-nari di dada Azam. Itu pertanda bahwa ia sedang menggodanya.


Azam yang tak bisa menahannya langsung mencium bibir Atlanta dan memagutnya lembut. Ia ingin Atlanta merasa puas dengan permainannya. Bibir Azam mulai turun menuju leher Atlanta dan meninggalkan jejak di situ. Jejak itu adalah tanda bahwa Atlanta selamanya akan menjadi miliknya seutuhnya.


Ditemani temaram lampu senter ponsel, keduanya sama-sama menikmati permainan yang mereka mainkan. Walaupun tidak sepenuhnya tuntas karena tamu Atlanta, Azam tetap merasa bahagia.


*****


Perjalanan pulang dari kampus kali ini membuat Azam kesal setengah mati. Sepanjang jalan wajah dan tubuh Atlanta terpampang di mana-mana. Walaupun kini penampilan Atlanta jauh berbeda dari sebelumnya, Azam tetap saja tidak bisa melihat itu. Ia seakan tidak rela orang lain ikut menikmati kecantikan Atlanta juga.


Hari ini ia akan berbicara dengan Atlanta untuk memintanya berhenti menjadi model. Ia tidak tahan lagi ketika mendengar orang lain membicarakan tentang istrinya yang begitu terkenal seantero nusantara. Azam hanya ingin Atlanta hanya miliknya walaupun belum seutuhnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Atlanta melihat air muka Azam yang kusut.


Azam duduk di samping Atlanta sambil menatap wajah istrinya. Mengingat Atlanta adalah orang yang keras kepala Azam berniat untuk menahan kekesalannya. Bagaimanapun itu adalah pekerjaan yang sudah lama Atlanta geluti. Ia juga tidak ingin reputasi istrinya itu menjadi buruk karenanya.


"Kenapa?" tanya Atlanta kembali karena Azam hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun.


Azam menghela nafasnya. Mau bagaimana pun ia adalah seorang kepala keluarga dan Atlanta harus menuruti semua keinginannya.


"Saya nggak suka wajah kamu terekspos di mana-mana dan kelihatan sama banyak orang."


Dahi Atlanta membuat lipatan kecil saat mendengar penuturan Azam. "Kamu nyuruh aku pake cadar?"


Azam menggeleng. "Bukan." Azam menghela nafasnya lagi. Kali ini lebih panjang dari sebelumnya. "Saya pengen kamu berhenti jadi model, boleh? Saya nggak suka berbagi, Atlan. Saya nggak mau milik saya terus-terusan jadi pembicaraan orang lain. Milik saya hanya untuk saya ... selamanya." Azam menunduk tapi sepersekian detik berikutnya ia menoleh cepat karena mendengar penuturan Atlanta.

__ADS_1


Atlanta terdiam lalu mengangguk. "Kalau itu yang kamu mau."


Azam seakan tak percaya mendengar jawaban Atlanta. Semudah itu? Tapi itu tak penting sekarang. Yang penting Atlanta setelah ini hanya akan menjadi miliknya saja.


"Makasih, Atlan. Saya senang kamu mau dengerin permintaan saya."


"Udah kewajiban aku, Mas."


*****


Tubuhnya Atlanta banting ke sofa ruang tamu. Punggungnya ia sandarkan di sandaran sofa. Hari ini ia telah mengeluarkan banyak uang untuk membatalkan semua kontrak kerja yang telah ia tanda tangani sebelumnya.


Azam yang melihat itu menjadi merasa bersalah telah meminta Atlanta untuk berhenti dari kebiasaannya.


"Capek?" tanya Azam sambil duduk di samping Atlanta dan mengusap keringat di dahi istrinya.


"Lumayan," balas Atlanta sambil tersenyum.


"Maaf, ya. Pasti banyak banget uang yang udah kamu keluarin buat batalin kontrak-kontrak itu."


"Enggak, Mas. Itu nggak seberapa kok."


Azam mengelus puncak kepala Atlanta  lalu menciumnya.


"Aku harus ke luar pulau, Mas."


"Ngapain?"


"Ada satu kontrak lagi yang belum aku batalin dan katanya aku harus ke sana. Mereka nggak mau kalo cuma Charlie atau manager aku yang ke sana. Mereka bilang mereka bakal nuntut perusahaan papa kalo aku tetep nggak mau nemuin mereka."


Azam terdiam. Ia tidak ingin mengizinkan Atlanta. Tapi semua ini terjadi juga karenanya. Apa boleh buat selain mengizinkan Atlanta.


"Kapan?" tanyanya.


"Besok."


Atlanta mengangguk.


"Kalo lusa aja gimana? Saya ada urusan di kampus besok."


"Nggak, Mas. Aku nggak minta dianter kamu kok. Aku ke sana sama Karin yang udah lama jadi manager aku."


"Berapa hari?"


"Tiga ... mungkin."


"Ya udah gini aja. Kamu duluan ke sana nanti saya nyusul. Sekalian ada yang mau saya kenalin sama kamu. Tempatnya nggak jauh dari tempat kamu kok."


"Siapa?"


"Bukan kejutan kalo saya kasih tahu sekarang."


"Oke."


*****


Hari berikutnya Azam dan Atlanta keluar rumah bersama dengan tujuan yang berbeda. Azam pergi ke kampus sementara Atlanta ke bandara.


Berjam-jam berlalu. Azam sudah uring-uringan karena rindu pada Atlanta. Ia ingin segera menyusul Atlanta saat ini juga.


Azam segera pergi ke bandara setelah urusan kampusnya selesai. Sementara Atlanta sibuk bermain dengan ponselnya dan tidak mendengarkan managernya yang dari tadi menasehatinya. Mereka telah berhasil membatalkan kontrak yang telah terjalin sebelumnya dengan perusahaan besar di tempat itu. Sebelum membatalkan kontrak-kontraknya, Atlanta meminta bantuan pada papanya yang sekarang berada di Jerman untuk membantunya agar pembatalan itu menjadi lebih mudah. Dan daerah ini adalah tempat terakhir yang dikunjungi Atlanta.


"Aku ngomong tuh dengerin, Anta."

__ADS_1


Atlanta menoleh. "Iya. Kenapa tadi?"


Karin sebagai manager Atlanta menghela nafas panjang. Wanita berkacamata merah itu akhirnya merebut ponsel Atlanta dari pemiliknya. Ia sangat kesal karena Atlanta masih seperti remaja yang tidak bisa diatur.


"Nanti ada pertemuan pers buat klarifikasi."


"Duh, males banget deh."


"Ketentuannya udah kayak gitu. Kamu nggak bisa nolak."


"Minta pers diundur. Pliss sebentar aja. Kan aku ke sini juga sekalian liburan sama suami. Kan setelah ini nggak akan ada jadwal padat lagi."


Karin memutar bola matanya malas. Sambil membenarkan letak kaca mata merahnya, Karin memberikan ponsel yang dipegangnya pada pemiliknya.


Atlanta bersorak riang menerima ponselnya.


"Suami kamu gimana?"


"Nunggu di hotel."


"Persnya jadi kapan?"


"Nanti." Pesan masuk ke ponselnya, membuat Atlanta tersenyum senang. Pesan itu dari Azam yang memberi tahu dirinya bahwa Azam sedang ada di depan hotel yang sudah Atlanta beri tahu sebelumnya.


"Nanti-nanti mu--"


"Duluan ya, Karin. Suami udah dateng." Tanpa menunggu jawaban Karin, Atlanta langsung pergi untuk menemui Azam.


*****


Sampai di hotel itu, Atlanta mengedarkan pandangannya. Ia tidak menemukan jejak Azam sama sekali. Padahal tadi Azam sudah mengirimnya pesan kalau dirinya sudah menunggu di tempat ini.


"Aaaak!!" teriak Atlanta saat merasakan telinganya ditiup seseorang.


Saat menoleh, Atlanta menemukan Azam yang sedang tertawa terbahak-bahak.


"Jahat banget sih!" Atlanta memukul pundak Azam yang masih tertawa.


Dengan sisa tawanya Azam meminta maaf pada Atlanta. Namun sepertinya Atlanta benar-benar kesal kali ini. Buktinya ia malah membalikan tubuhnya membelakangi Azam.


"Jangan ngambek, Atlan," bujuk Azam.


"Bercanda kamu kelewatan!"


Azam lalu dengan sengaja terdiam. Ia pikir Atlanta akan luluh jika dirinya terdiam. Nyatanya tidak. Atlanta tetap bergeming di tempatnya.


"Ya udah saya pulang lagi kalo kamu ngambek terus."


Tidak ada jawaban.


"Saya pulang lagi, ya."


Masih tak ada jawaban.


"Beneran, nih."


Suatu ide terbesit di otaknya, Azam meninggalkan Atlanta menuju suatu tempat. Merasa tidak ada suara lagi yang terdengar, Atlanta menoleh dan Azam telah menghilang dari tempatnya. Hal itu membuatnya tambah kesal.


"Resek banget sih! Istri ngambek bukannya dibujuk malah--" ucapan Atlanta terhenti kala ia merasakan sesuatu menempel di puncak kepalanya. Saat berbalik, Azam sedang memasangkan Atlanta sebuah mahkota yang ia buat sendiri dari bunga-bunga yang ia temukan di sekitar hotel.


"Cantik," ucap Azam saat mahkota itu telah bertengger manis di kepala Atlanta. "Masih marah, hm?" Jari telunjuk Azam menyentuh dagu Atlanta.


Atlanta tidak bisa lagi menahan senyumnya. Ia menggeleng lalu memeluk Azam erat. Azam yang mendapat serangan mendadak langsung tertawa. Tawa yang sangat candu di telinga Atlanta. Sebabnya tentu saja karena Azam tidak pernah tertawa di depan orang lain.

__ADS_1


"Yuk masuk!" ajak Atlanta.


"Siap, bidadari."


__ADS_2