
"AZAM!!!"
Azam yang tersadar dengan panggilan itu langsung berdiri.
"Astaghfirullah." Azam menunduk.
"Apa-apaan ini?" tanya Kyai Sholeh.
Azam mendongak menatap wajah kyainya yang sudah merah menahan amarah. "Pa-Pak Kyai, ini tidak seperti yang Pak Kyai pikirkan," papar Azam.
"Kamu tidak tahu apa yang saya pikirkan, Azam!"
Azam terdiam. Kyai Sholeh benar, ia memang tidak tau apa yang ada di dalam pikiran Kyainya. Tapi bagaimana ia menjelaskannya? Tadi hanya sebuah ketidaksengajaan. Azam tidak mungkin melakukan itu. Ia berani bersumpah bagaimana mungkin ia... Ah, ini membuatnya gila.
"Tadi hanya sebuah kecelakaan. Saya tidak mungkin melakukan itu."
"Saya kecewa, Azam."
Azam masih terdiam. Baru kali ini ia dimarahi Kyai Sholeh. Ia terus menunduk, tidak mau menatap wajah Kyainya. Ia juga sangat malu pada beberapa santri yang hadir di ruangan itu. Tapi ia benar-benar tidak melakukannya.
"Jadi, apa yang kalian berdua lakukan, Atlanta?" Kyai Sholeh mengabaikan Azam dengan bertanya pada Atlanta.
'Kesempatan bagus', batin Atlanta. Ia berencana memanfaatkan kesempatan ini.
Tanpa diduga, Atlanta menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis.
__ADS_1
"Di-dia maksa masuk, Pak Kyai. Padahal saya udah larang dia masuk," Atlanta menunjuk Azam membuat semua orang menatap ke arah orang yang ditunjuk perempuan itu.
"Bohong! Saya tidak melakukan itu! Saya berani bersumpah! Pak Kyai tolong percaya sama saya, saya cuma bantu dia pasang lampu." Azam membela. " Dasar perempuan medusa! Tarik kata-kata kamu! Saya nggak pernah ngelakuin apa yang kamu bilang. Bukannya tadi kamu yang nyuruh saya pasang lampu? JAWAB!"
"Cukup!" pekik Kyai Sholeh membuat Azam menoleh.
"Pak Kyai percaya sama saya. Saya-"
"Cukup, Azam. Saya benar - benar kecewa sama kamu!" Kyai Sholeh berbalik lalu memanggil salah satu santrinya. "Panggil penghulu biar saya yang jadi wali wanita ini!"
Atlanta tersenyum di balik telapak tangannya. Ia berhasil. Kemenangan berada di pihaknya kalo ini.
"Ta-tapi-"
"Lelaki harus berani bertanggung jawab."
...*****...
Pada akhirnya, Azam dan Atlanta yang tidak saling mengenal itu resmi menjadi pasangan suami istri. Azam tidak bisa menolak lagi karena apa yang diucapkannya itu tidak pernah didengar. Ia pasrah ketika kata qobiltu itu keluar dari mulutnya untuk seseorang seperti Atlanta yang bahkan ia tidak mengenalnya sama sekali.
Mimpinya untuk menjadi menantu kyainya harus ia kubur dalam-dalam. Baginya pernikahan itu hanya dilakukan sekali seumur hidup. Tidak ada perceraian dalam kamusnya. Azam berdoa semoga pernikahan ini membawa berkah untuknya dan masa depannya. Ia juga berjanji untuk mengubah penampilan Atlanta yang menurutnya tidak pantas dilihat itu.
Keduanya masih tinggal di pesantren karena Kyai Sholeh masih berbaik hati memberikan mereka sebuah rumah minimalis dan Azam diizinkan mencari nafkah dengan mengajar di pesantren dan menggantikannya mengisi ceramah di setiap masjid.
Azam dan Atlanta sampai di rumah itu. Letaknya tidak jauh dari asrama. Kesan Atlanta saat pertama kali masuk ke rumah itu adalah kecil, jelek dan sempit. Ia membuka bajunya dan melemparnya ke sembarang arah menyisakan tanktop dan hotpantsnya. Melihat itu Azam langsung mengambil baju Atlanta dan melemparkannya ke wajahnya membuat Atlanta menjerit.
__ADS_1
"Lo tuh apa-apaan sih! Nggak sopan tau nggak!" marah Atlanta menunjuk wajahnya.
Azam tersenyum miring. "Nggak sopan? Kamu yang lebih nggak sopan! Melempar baju sembarangan itu sopan menurut kamu, hah?!"
Atlanta menutup telinganya dan berdesis. "Duh! Udah deh nggak usah banyak omong! Lagian lo tuh siapa sih? Bukan siapa-siapa," ucap Atlanta menekan kalimat terakhirnya.
Mendengar itu urat-urat di lehernya mencuat keluar. Ini menandakan kalau ia sedang marah. Perlahan Azam melangkahkan kakinya mendekati perempuan yang statusnya telah menjadi istrinya itu.
"L-lo mau ngapain?" Atlanta refleks melangkah mundur ketika Azam semakin dekat dengannya. Wajahnya terlihat agak lain kali ini. Berbeda ketika Atlanta menatapnya pertama kali.
Azam tersenyum miring. "Saya siapa? Kamu nanya saya siapa? Saya suami kamu kalo kamu lupa!"
"I-iya tau. Ja-jangan deket-deket."
Azam tidak mendengarkan ucapan Atlanta. Ia terus mendekatkan tubuhnya pada tubuh istrinya sampai punggung Atlanta menubruk tembok di belakangnya.
Tak!
"Takut, huh?"
...*****...
...Makasih udah suka sama ceritanya😊...
...Kalo ada typo atau kesalahan penulisan mohon tegurannya ya🙏🙏...
__ADS_1
...Jangan lupa vote dan commentnya. Mau share juga boleh asal jangan di plagiat....