Model Vs Ustadz

Model Vs Ustadz
06 - Baikan


__ADS_3

"Pulang!"


Seseorang tiba-tiba menarik Atlanta pergi tanpa sempat berpamitan pada Charlie.


"Lepas!" Atlanta menghentakkan tangannya hingga lepas dari cekalan Azam.


Azam berbalik dan menatap Atlanta tajam. "Siapa?" tanya Azam ketus.


Saat Azam menyadari Atlanta tidak di sampingnya tadi, ia langsung mencarinya dan menemukan Atlanta sedang berbincang dengan seorang lelaki. Melihatnya membuat amarah Azam memuncak.


"Bukan urusan kamu," balas Atlanta tak acuh.


"Saya tanya siapa?!" tanya Azam lebih tegas.


"Urusannya sama kamu?" Atlanta memalingkan wajahnya. Ia masih kesal karena ia diabaikan tadi.


"Atlanta! Jangan bikin saya marah!"


"Marah aja marah. Kamu tuh selalu maksa, Zam. Kamu sadar nggak, sih? Kamu nggak pernah tanya aku suka atau enggak. Kita nggak saling mencintai bahkan nggak saling kenal. Kita berhak punya privasi masing-masing!"


"Saya tahu yang terbaik untuk kamu. Lagipula kamu yang memulai semua ini. Kamu yang fitnah saya sampai saya harus nikah sama kamu. Kamu yang mulai, Atlanta!"


"Oke, aku yang salah. Semuanya memang aku yang salah! Apa lagi?"


"Kamu yang maksa buat masuk ke dalam hidup saya. Kamu harus tanggung akibatnya."


Atlanta menatap Azam dengan tajam. "Kamu kenapa, sih, Zam? Kamu berduaan dan tatap-tatapan sama Harum aja aku nggak papa. Kenapa kamu harus semarah ini lihat aku sama orang lain yang bahkan aku juga baru kenal sama dia?" Atlanta terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya. "Cukup, Zam. Kamu nggak tahu apa-apa tentang hidup aku."


"Gimana saya mau tahu tentang kamu kalau kamu nggak pernah bilang apa-apa sama saya."


Atlanta menunduk menatap tanah. Azam memang benar. Ia tidak pernah bercerita apapun. Bagaimana ia bisa cerita kalau selama dua bulan ini saja ia dan Azam tidak pernah mengobrol panjang kecuali bertengkar. Ia kesal. Sangat kesal karena menurutnya Azam sangatlah tidak adil.


...*****...


Setelah selesai dengan pengajiannya, Azam dan Atlanta langsung pamit pulang. Sampai di rumah, Atlanta melempar bajunya sembarangan menyisakan tanktop dan hotpants seperti biasanya.


Azam berdecak lalu memungut baju Atlanta di lantai.


"Saya udah bilang sama kamu, kan, kalau jangan lempar baju sembarangan?" tanya Azam. Bukan. Itu bukan sebuah pertanyaan tapi perintah.


"Bodo amat!!!" Sambil masuk ke kamar, Atlanta menutup telinganya dengan kedua tangannya.


"Atlanta!"


Brak!


Atlanta menutup pintu dengan keras. Azam berdecak. Ia melihat jam di arlojinya. Pukul tiga sore. Sebentar lagi salat ashar. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengetuk pintu kamar. Tidak ada jawaban dari dalam. Azam mengetuk pintu dengan keras agar Atlanta cepat membukanya. Namun nihil pintu itu tak kunjung terbuka.


Azam mencoba memutar kenop pintu dan pintu itu pun terbuka. Ia masuk ke kamar dengan langkah perlahan. Matanya lalu melihat Atlanta tertidur dengan posisi nyaman. Azam tersenyum. Atlanta cepat sekali tertidur.


"Atlan--" Azam menghentikan ucapannya. Rasanya tidak tega membangunkan Atlanta yang baru saja teridur pulas. Sepertinya perempuan itu kelelahan.


Azam memutuskan untuk mengganti bajunya dulu. Namun saat ia baru saja selesai membuka kancing terakhirnya, perhatiannya teralihkan oleh Atlanta yang tiba-tiba mengigau.


"Nggak! Aku nggak mau! Pergi!" Tangannya meremas sprai dan kakinya menendang kasur. Ia seperti sedang menahan sesuatu.


Azam duduk di samping Atlanta dan menepuk pipinya pelan. Azam tahu, Atlanta sedang mimpi buruk sekarang.

__ADS_1


"Atlan, bangun!"


Berhasil. Atlanta membuka matanya dan mengatur nafasnya. Namun ia menyadari sesuatu yang janggal. Atlanta membulatkan matanya ketika melihat Azam yang bertelanjang dada. Ia berteriak kencang dan tangannya ia silangkan di depan dada membuat Azam mengerutkan keningnya.


"Ka-kamu ngapain?" tanya Atlanta.


"Bangunin kamu, kan?"


"Enggak! Kamu bohong! Iya, kan? Ngaku!"


Azam mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"


"Jangan sok polos kamu! Buktinya kancing baju kamu copot semua! Pasti kamu mau ngambil kesempatan dalam kesempitan. Iya, kan?"


"Hah?"


"Kamu pasti mau--"


Cup.


Azam dengan cepat mencium bibir Atlanta sekilas membuat sang empu terdiam seperti patung. Azam lalu berdiri dan membuka lemari baju.


"Saya mau ganti baju. Lagian kita udah sah. Nggak papa kalo saling lihat. Bukannya dosa kita malah dapet pahala."


'Second kiss gue' batin Atlanta. 'Nggak bener nih orang. Apa katanya? Pahala? Pahala matamu! Aah! Nggak suci lagi nih mata gue'


"Atlanta. Bangun, sebentar ashar." Azam membuyarkan lamunan Atlanta.


"Iya, iya, ini bangun."


Usai salat ashar, Azam berbalik menatap Atlanta yang juga menatapnya.


"Buat?" tanya Atlanta.


"Tadi siang."


"Oh, oke. Udah aku lupain kok." Atlanta tersenyum. Tersenyum karena ia merasa menang kali ini.


"Kamu nggak mau minta maaf sama saya?"


Atlanta mengernyit bingung. "Enggak. Kan aku nggak salah apa-apa."


Azam memutar bola matanya malas. "Kamu juga marah-marah sama saya. Itu dosa, Atlanta. Seorang istri itu nggak boleh ngebentak suaminya."


"Loh? Kan kamu yang mulai. Aku juga nggak bakal marah kalo kamu nggak pancing-pancing aku."


Sepertinya Azam memang salah berharap pada perempuan seperti Atlanta.


"Setelah menikah, surga perempuan itu ada pada suaminya. Kalau kamu masih ngebantah ucapan saya, saya nggak mau ajak kamu ke surga."


Atlanta menggelengkan kepalanya. "Belum tentu kamu masuk surga, Zam. Udahlah, begini aja diributin."


Azam menghela nafasnya pasrah. Ia memang tidak selalu menang berdebat dengan Atlanta.


Setelah membereskan perlengkapan sholatnya, Azam pergi ke luar rumah tanpa pamit seperti biasanya. Sementara Atlanta duduk di sofa dan tidak melakukan apapun. Ia tidak pernah peduli ke mana Azam pergi.


Selang beberapa menit, Atlanta merasa bosan. Ia pergi ke dapur dan mencari sesuatu, berharap ia akan menemukan makanan untuk cemilan. Ternyata tidak ada apa-apa di dapur. Ia mengerucutkan bibirnya. Mau pergi keluar tapi ia takut seseorang menemukannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


Atlanta membalikan badannya berjalan dengan cepat ke arah ruang tamu. Ia melihat Azam menenteng sebuah kresek hitam yang Atlanta yakini itu adalah makanan.


"Pinjam." Atlanta langsung merebut kresek hitam di tangan Azam lalu mengintip apa yang ada di dalamnya.


Ternyata ada sepotong tempe, sayuran, dan bahan masakan lainnya.


"Ini buat apa?" tanya Atlanta mendongak menatap Azam.


"Makan," balas Azam.


"Mentahan?"


"Iya."


"Zam, serius."


Azam berdecak. "Saya seribu rius. Balikin." Azam merebut kresek itu dari Atlanta lalu melangkah menuju dapur. Sementara Atlanta mengekor di belakangnya.


"Kamu ngapain sih, Zam?"


Azam menghentikan langkahnya membuat Atlanta juga melakukan hal yang sama. Azam lalu berbalik dan menatap istrinya itu dengan muka datar andalannya.


"Menurut kamu kalau orang bawa bahan makanan ke dapur itu mau ngapain?"


Atlanta mengangkat bahunya. "Mana aku tahu?"


Azam memutar bola matanya malas. Ia memilih tidak meladeni Atlanta. Azam berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Ia mengeluarkan bahan tadi dan Atlanta tetap memperhatikannya sambil bersandar di pintu.


"Ngapain berdiri di situ?" tanya Azam.


"Nafas."


Azam berdecak. "Iyalah, kan, makhluk hidup."


"Terus?"


Azam tidak menjawab. Ia tahu berdebat dengan Atlanta tidak akan menyelesaikan pekerjaannya.


"Nafas sambil bekerja lebih baik dari pada diem aja. Buang-buang waktu."


"Bilang dong kalo butuh bantuan. Pake kode-kode segala. Untung paham."


Atlanta menghampiri Azam lalu mengambil plastik wortel. Namun saat Atlanta mengangkatnya, semua wortelnya terjatuh ke lantai karena plastiknya sobek.


Atlanta berdecak lalu memungut wortel itu satu persatu. Azam yang melihat itu berniat membantu Atlanta. Namun saat Azam menunduk, Atlanta yang  telah selesai memunguti wortel  itu berdiri.


Duk!


"Aww!"


...*****...


...Makasih udah suka sama ceritanya😊...


...Kalo ada typo atau kesalahan penulisan mohon tegurannya ya🙏🙏...

__ADS_1


...Jangan lupa vote dan commentnya. Mau share juga boleh asal jangan di plagiat....


__ADS_2