MONSTER'S INVASION : HELL

MONSTER'S INVASION : HELL
Episode 2: MASALAH INTERNAL; Chapter 3: Penjahat Lainnya


__ADS_3

Mungkin, sekarang aku sudah menetapkan tujuan baru ku. Setelah mengetahui kebenaran tentang pemilik kekuatan lainnya, tidak mungkin aku diam saja bukan? tentu saja aku harus berbuat sesuatu, dan pilihan yang aku ambil adalah...


Menjauhi orang-orang seperti itu sejauh mungkin sampai tidak akan pernah bertemu untuk selamanya meski ajal menjemput.


Yah, aku tidak segila itu untuk mencari masalah dengan makhluk superior, dibanding dengan mereka aku hanya semut diantara sekumpulan gajah.


Dari bekas tebasan pada monster Type 17 kemarin aku sudah mengetahui, kalau orang yang mengalahkan Monster tersebut hanya membutuhkan satu tebasan untuk membunuh pembawa bencana seperti itu! Sedangkan aku? hanya untuk lari dari laser merahnya saja harus sampai berusaha sekuat tenaga! Jarak kami terlalu jauh!


"Kek, hari ini aku akan pergi ke kota lain untuk mencari keluargaku, ini uang sewa selama 3 harinya..."


Kakek tua tersebut melihat uang yang aku berikan kemudian mengambilnya dengan sopan sambil tersenyum puas. "Semoga beruntung anak muda." Katanya dengan tenang.


"Ya, tentu saja." kataku sambil keluar dari bangunan tersebut.


Kota yang akan ku datangi adalah sebuah kota besar yang terletak cukup jauh dari kota yang aku tempati sekarang, disana ada Ibu serta kakakku yang menjalani kehidupan dengan damai.


Untuk Ayah... aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang, entah dia bisa selamat dari tempat itu atau tidak, sama sekali bukan urusanku, sejak dulu pria itu bahkan tidak pernah memperhatikanku dan selalu memanjakan kakak perempuan ku yang sangat jenius.


Aku menaiki bus yang cukup padat, tujuan mereka sama seperti ku untuk pergi ke kota tersebut, dan bus ini adalah transportasi umum khusus untuk pergi ke kota itu secara langsung.


Duduk tepat dibelakang supir, aku melihat jalanan lurus dan berliku di sepanjang perjalanan dengan bosan, tidak ada yang menarik dari menaiki bus selain untuk melihat pemandangan bergerak dari kaca besar dan jernih.


Namun aku sudah bosan melihatnya sehingga perjalanan ini sungguh sangat membosankan.


Disaat aku hampir saja masuk kedalam dunia mimpi, bus itu berhenti secara mendadak yang membuatku terbangun dengan suasana hati yang jelek.


"Kali ini ada apa lagi?" Gumam ku dengan kesal.


Entah mengapa tidak satupun hari di hidupku yang berjalan dengan tenang tanpa masalah meski sekecil apapun itu.


"Supir sialan, apa kau tidak bisa berhenti dengan perlahan? makananku jadi tumpah semua!" Terdengar suara teriakan dari belakang.


Aku mengerti betapa kesalnya pria itu, bahkan mungkin saja rasa kesalnya melebihi kekesalan yang ku rasakan sebab ia kehilangan makan siangnya.


"Mohon maaf pak, tapi entah mengapa sekelompok orang menghalangi bus bersama dua truk kecil untuk menutup jalan, jika saya tidak berhenti maka kita pasti sudah menabrak, mohon dimengerti. Saya akan berbicara dengan mereka jadi mohon bersabar." Supir itu berkata dengan panik.


"Cih.. buang-buang makanan saja.." Gumam pria tersebut menahan rasa kesalnya.

__ADS_1


Supir tersebut tersenyum kecut mendengar gumaman pria itu, perlahan ia membuka pintu bus kemudian berjalan keluar menuju sekelompok orang yang berdiri tepat ditengah jalan dengan pakaian hitam.


Aku memperhatikannya dengan seksama, namun setelah supir itu berbincang dengan mereka selama beberapa detik...


Dorr!!


Ia ditembak tepat di kepalanya, seketika semua orang didalam truk berteriak histeris, baru saja terjadi pembunuhan tepat didepan mata kepala mereka sendiri.


Hanya aku dan beberapa orang didalam bus saja yang tidak berteriak, perbedaannya mereka diam karena terlalu syok sementara aku diam karena tidak terlalu peduli. Lagi pula itu kebodohannya sendiri yang keluar sembarangan setelah melihat sekelompok mencurigakan seperti itu.


Seseorang di antara orang-orang itu memberi tanda dengan gerakan tangannya, segera setengah dari anggota kelompok aneh itu memasuki bus dan menodongkan senjata kepada setiap orang didalam sana, aku pun tak terkecuali.


"Aku akan langsung ke intinya, serahkan harta maka nyawa pun selamat, tidak ada pengulangan." Seorang dari kelompok itu berkata dengan dingin.


"JANGAN BERCAN..."


Dorr!!


Kepala pria paruh baya itu meledak, semua orang didalam bus seketika tidak dapat bergerak bahkan hanya untuk berkedip secara normal karena sangking takutnya.


"Menyerah pada harta, maka nyawa pun selamat." Ucap pembunuh pria paruh baya barusan.


"Hei, bongkar tas mereka." Ucap nya yang bermasker hitam.


Kemudian semua penjahat itu mulai membongkar tas para penumpang, membuang yang tidak perlu dan mengambil semua yang berharga.


"Hei, dimana tas mu?" Dia yang menodongkan senjatanya kepadaku bertanya.


Aku menatapnya dalam diam, apa aku perlu membunuh mereka semua? aku memiliki banyak pilihan tentang cara memperlakukan para idiot ini.


"Aku tidak membawa tas." Ucapku seadaanya.


"Hah?" Ia menatapku dengan lekat.


Ia menoleh ke arah temannya, kemudian temannya memberikan tanda dengan tangan membentuk pistol. Pria dihadapan ku kemudian mengangguk dan menodongkan pistolnya lebih dekat ke dahi ku.


"Kalau begitu mati saja."

__ADS_1


Sesaat sebelum ia menekan pelatuk pistol dengan jarinya, tanganku lebih dahulu membentuk sebilah pisau putih kemudian menusuk dadanya dengan akurat, tepat pada jantungnya.


"Kau–"


Pria itu menatapku dengan tatapan tak percaya, pegangannya pada pistol melonggar dan aku segera merebut pistol tersebut kemudian menembak tepat pada kepalanya.


Dorr!!


kepala itu meledak dengan meriah, darah berserakan dimana-mana dan membasahi lantai dengan cepat. Namun tak satupun yang mengenai ku akibat energi aneh yang ku manipulasi untuk menyelimuti seluruh tubuh setiap saat.


Tubuh pria itu jatuh ke lantai dengan keras dan menimbulkan sedikit guncangan akibat tubuhnya yang besar.


Aku mengambil masker, kemudian memakainya bersamaan dengan kacamata hitam yang menggantung di saku dadaku.


Aku berdiri dari tempat duduk, kemudian melihat semua penjahat yang sepertinya tidak menoleh kepadaku saat pria itu mati tertembak oleh senjata nya sendiri.


"Mereka berfikir kalau aku yang mati yah.." Gumam ku dengan suara yang sangat kecil.


Karena mereka tidak menyadarinya pekerjaanku menjadi lebih mudah, aku berjalan santai sambil menembakkan pistol berkali-kali, mengambil pistol lainnya setelah pelurunya habis dan kembali menembak lagi secara terus menerus.


Pria bermasker yang berdiri ditengah-tengah menyadari hal aneh dari suara tembakan tersebut, kemudian menatap ke arahku dengan sangat terkejut.


Ia segera mengambil MP4 di punggungnya kemudian mengarahkannya kepadaku, namun pada saat ia akan menekan pelatuk, aku sudah terlebih dahulu menusukkan sebuah pedang besar ke tubuhnya.


Pria itu memuntahkan banyak sekali darah, yang membasahi seluruh wajahnya akibat memakai masker.


Tubuhnya bergetar, ia akan segera terjatuh namun aku menahannya menggunakan pedang tersebut, kemudian berbisik ke telinganya.


"Sepertinya nyawa orang tidak terlalu berarti bagimu, jadi tidak masalah kalau aku membunuhmu bukan? karena nyawamu juga tidak terlalu penting bagiku–"


Pria itu mendengarnya dengan jelas, ia ingin membalas namun tidak ada tenaga yang tersisa untuk melakukannya, semua sudah ia curahkan untuk menahan rasa sakit di perutnya.


Ia memuntahkan darah sekali lagi, dan hal tersebut membuat maskernya terlepas kemudian menampakkan wajah pucat yang sangat tersiksa, tatapan matanya seakan menyiratkan bahwa situasi ini sangat tidak adil baginya, dan hal tersebut tidak membuatku merasa kasihan melainkan jijik.


"Inilah sebabnya aku membenci penjahat, mereka menyimpang karena keinginan diri sendiri, kemudian merasa tidak adil saat tertangkap atau dalam keadaan sekarat, apa kau pikir mereka yang mati ditangan mu merasa adil saat kau bunuh? betapa menjijikkannya kalian semua." Ujarku dengan kesal.


Aku melepaskan pedang tersebut dari perutnya dengan sangat kasar, hal tersebut membuat pria yang sudah bersusah payah untuk hidupnya langsung mati tanpa sempat memberikan kata-kata terakhir.

__ADS_1


Yah, sejak awal aku tidak berniat untuk membiarkannya hidup sih..


...—To Be Continued —...


__ADS_2