MONSTER'S INVASION : HELL

MONSTER'S INVASION : HELL
Episode 1: KEKUATAN ASING; Chapter 2: Solus Aeternum


__ADS_3

Sekolah menengah atas, setiap remaja berusia 17 tahun pasti akan berada di jenjang pendidikan ini saat sudah menyelesaikan sekolah menengah pertamanya, dengan materi pelajaran yang semakin rumit dan cara belajar yang semakin menyenangkan, setiap orang pasti akan mengenang masa ini sebagai masa-masa terbaik di dalam hidup mereka.


Namun aku sama sekali tidak dapat merasakan apa yang mereka sebut sebagai masa-masa terbaik.


BAMM!!


BRUKK!!


Seorang pria bertubuh besar dengan wajah seperti preman memukul wajahku dengan kuat, tubuhku bahkan sampai melayang ke atas dan mendarat di tempat sampah dengan mulus.


Darah mengalir dari sudut bibirku dan wajahku terasa sangat perih. Jadi ini yang disebut masa-masa terbaik? Tak sekalipun terbersit dalam pikiranku jika masa sekolah yang seharusnya indah akan menjadi sangat mengenaskan seperti ini.


"Sampah itu memang sudah seharusnya berada di tempat sampah." Pria bertubuh besar itu tersenyum sinis saat melihatku yang sama sekali tidak bergerak dari tempat sampah.


Teman-temannya yang berdiri tidak jauh darinya pun tertawa ketika mendengar perkataan pria bertubuh besar tersebut.


"Berapa kali aku harus memperingati dirimu kalau Junior Amelia adalah milikku? sudah kubilang untuk tidak dekat-dekat dengannya bukan!" Pria bertubuh besar itu mengangkat kerah bajuku, sambil berteriak-teriak seperti anjing besar yang menggonggong.


Benar, pria bodoh ini menghajar ku hanya karena sebuah peristiwa bodoh yang sama sekali tidak ku sengaja.


Nama pria ini adalah Lukas Harlord, dia seangkatan denganku bahkan juga sekelas denganku, sikapnya adalah yang terburuk di sekolah dan nilainya tidak berbeda jauh dengan perilakunya.


"Tapi aku tidak mendengar dari mulutnya kalau dirinya adalah milikmu." Aku berkata sambil tersenyum mengejek.


Kalian pasti berfikir kalau aku sangat bodoh karena berani memancing emosi pria ini, tapi kalian sama sekali tidak mengenal dirinya, orang ini benar-benar sangatlah bodoh.


"Benarkah?" Ia bertanya dengan wajah polos ke arahku, lihat? betapa lambat otak pria ini berjalan.


"Kau bisa memastikannya sendiri." Ucapku dengan tenang, aku sudah beberapa kali mengalami hal ini, jadi aku sudah terbiasa.


"Akan kubuat kau menyesal jika berani membohongiku!" Pria itu melempar ku ketempat sampah dengan kasar, kemudian berlari menuju kelas 11 A, dimana Amelia berada.


"Lukas! tunggu kami!" Teman-temannya berteriak sambil mengejar Lukas, sungguh sekelompok idiot yang sangat bodoh, hanya dengan satu kalimat aku berhasil lolos dari tragedi ini.

__ADS_1


"Bau sekali."


Perkenalkan nama ku adalah Solus Aeternum, orang paling sial di dunia ini. Setiap hariku selalu dipenuhi oleh masalah yang tidak penting seperti sebelumnya.


Aku berusaha untuk keluar dari tempat sampah, pakaianku sudah sangat kotor dan bau untuk kembali ke kelas, jadi aku segera menghubungi wali kelasku dan mengatakan kalau keadaanku tidak baik, tubuhku lemas serta sedikit panas, dengan alasan tidak jelas seperti itu aku meminta ijin untuk pulang ke rumah.


Dan satu lagi orang idiot yang mudah tertipu, wali kelasku langsung menyetujuinya tanpa menanyakan kondisiku lebih lanjut, ia bahkan tidak menyuruhku ke UKS untuk memeriksa kesehatan, sungguh guru yang sangat tidak kompeten.


Tapi berkat itu aku bisa pulang ke rumah untuk mencuci pakaianku yang sangat kotor, jadi aku sedikit berterima kasih.


Rumahku berjarak 1 kilometer dari sekolah, karena aku memiliki sebuah sepeda, tidak butuh waktu lama bagiku untuk sampai dirumah dengan selamat.


"Aku pulang." Saut ku dengan malas , tidak ada orang di rumah dan aku malah bertingkah seakan ada orang disana.


Ranselku ku letakkan di atas meja belajar, sepatu ku simpan diatas lemari, dan seragam sekolahku langsung masuk ke pencucian otomatis.


Tanganku menyentuh remote televisi dan menekan tombol nomor 5 diatasnya.



"PAX, organisasi yang kita kenal sebagai penyelamat dunia kali ini telah membawa pencapaian yang sangat besar dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita. Siang tadi tepatnya pukul 13.47 ratusan ribu monster dari benua Amerika muncul di tepi pantai Hiresi, dan membawa kehancuran yang sangat besar disana."


"Beruntungnya Kapten PAX negara Libratum Denis Forger, telah mengambil langkah cepat dan mengarahkan pasukan besar EVE untuk menyelesaikan masalah, sama sekali tidak ada korban di pihak kita dan para monster di pantai telah berhasil dimusnahkan."



Aku menonton berita tersebut sambil menikmati sebungkus keripik kentang.


PAX, sudah sering sekali aku mendengar nama ini, bagaimanapun mereka adalah salah satu organisasi di dunia ini yang dengan berani melawan para monster demi kedamaian, jadi sudah sewajarnya reporter meliput mereka sebagai berita utama.


Banyak anak muda di sekolahku yang sangat ingin bergabung dengan organisasi tersebut dengan alasan untuk melindungi negaranya, padahal tujuan asli mereka adalah demi menjadi terkenal.


Setiap pilot EVE yang berprestasi pasti akan diliput oleh berita, mereka yang diliput pun sudah pasti akan menjadi terkenal dan memiliki banyak penggemar, itulah yang diincar anak-anak ini.

__ADS_1


Mereka sama sekali tidak tahu kalau peperangan dengan monster ini sama sekali bukanlah permainan, lengah sedikit saja di medan pertempuran maka nyawa akan melayang, sudah banyak pilot terkenal yang mengalami hal tersebut, namun para anak-anak ini tidak memperdulikannya.


"Sungguh orang-orang yang sangat aneh dan merepotkan." Ucapku dengan acuh saat mengingat mereka semua yang berteriak dikelas seperti anak kecil.


Aku sendiri tentu tidak ingin menjadi pilot EVE dan bergabung dengan organisasi PAX, alasannya? tentu karena itu sangat merepotkan, setiap hari berada di Medan perang, setiap hari harus menghadapi media, dan setiap hari harus berlatih.


Semua itu adalah tiga hal yang paling ku benci, karena mereka dapat merebut waktu tidur siang ku yang berharga.


Beruntungnya PAX sama sekali tidak menerima anggota dengan nilai akademik yang rendah, jadi aku hanya perlu membuat nilai ku tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, agar kehidupan sekolahku tetap aman, dan tidur siang ku yang berharga juga terjaga.


Itulah yang ku pikirkan sebelumnya tapi...


DUARR!!!


Terdengar suara ledakan yang sangat keras dari luar rumah, dari getarannya aku dapat mengetahui kalau jarak pusat ledakan dengan rumahku itu cukup jauh, jadi aku tidak terlalu khawatir dan hanya berjalan dengan santai menuju kasurku kemudian berbaring disana sambil menutup mata.


"Selamat tidur."


DUARR!!!


Seluruh perabotan dirumah ku jatuh berserakan, kamarku berubah menjadi seperti kapal pecah yang diterjang oleh ombak besar.


Aku sendiri sudah terpental dan jatuh dari tempat tidur kesayanganku dengan kasar, punggungku benar-benar sakit saat ini.


"Sialan, apa yang sedang terjadi diluar sana?!" Teriakku dengan marah, aku benar-benar sangat kesal jika ada yang berani mengganggu waktu tidurku yang berharga.


Dengan langkah yang berat, aku berjalan menuju pintu rumah dan membukanya dengan kasar.


Sungguh aku tidak bisa berkata apa lagi ketika melihat keluar sana dengan kedua mataku, ada monster raksasa yang berkeliaran di banyak tempat, gedung setinggi 50 lantai roboh dan memakan banyak korban.


Kehancuran terjadi dimana-mana yang membuatku semakin kesal saja.


"Sialan!"

__ADS_1


...—To Be Continued—...


__ADS_2