
"Huh.. lelahnya, aku sudah pernah mengedit sesuatu yang lebih panjang dari dua video ini tapi, entah mengapa tubuhku terasa sangat lelah padahal hanya dua video pendek" Aku menguap.
Tubuhku terasa sangat lemas sekarang, padahal baru jam 12.00 siang namun aku sudah mengantuk.
Aku harus tetap terjaga dan tidak boleh tertidur karena ini bukan jam yang tepat, biasanya aku akan tidur siang saat jam menunjukkan pukul 14.00 atau 15.00, kalau aku tidak mengikuti alur tidur yang baik maka seluruh tubuhku akan terasa sakit, aku tidak ingin mengulanginya lagi.
Kriinggg...
Terdengar suara notifikasi dari smartphone ku, aku mengambilnya dari saku celana kemudian membuka layar kuncinya.
Disana terlihat sebuah pemberitahuan dari sekolah ku kalau hari ini sampai beberapa bulan ke depan, sekolah akan diliburkan karena pembangunan. Sesekali akan ada pembelajaran daring dan katanya aku harus mengikutinya.
"Merepotkan." Keluhku dengan malas. Jika bukan karena Ibuku yang memaksaku untuk sekolah, aku tidak mungkin pergi ke tempat busuk itu.
Bukan hanya muridnya yang tidak beres, bahkan gurunya juga sangat tidak kompeten serta terlalu serakah.
Sekali disogok dengan uang apapun bisa terjadi dengan nilai rapot teman-teman sekelas ku, nilai sikap mereka juga membaik, serta kelakuan buruk mereka mungkin akan disembunyikan, meskipun aku sebenarnya tidak menganggap mereka sebagai teman.
Kau bertanya tentang kepala sekolahnya? Orang itu juga termasuk tidak becus dan lebih serakah dari seluruh bawahannya.
Intinya seisi sekolah ini sudah busuk sampai ke akar-akarnya, aku tidak peduli dengan murid yang tidak bersalah dan murid yang baik hati serta disiplin, karena pada akhirnya itu tidak mengubah keburukan sekolah ini.
"Besok pelajaran daring pukul 08.30, hanya orang pintar yang akan mengikuti pelajaran ini, sedangkan aku hanya orang bodoh." Aku tertawa kecil, nilai rapotku berada diatas dan dibawah rata-rata, yang berarti normal-normal saja. Tapi bukan berarti aku sengaja membuatnya terlihat seperti itu, karena yang menatanya adalah wali kelasku yang paling idiot sedunia.
Lucas menyogoknya dengan uang dan nilai rapotku pun berubah, yah itu adalah hal yang lumrah disekolah ini jadi aku tidak peduli.
"Membosankan." Aku merebahkan tubuhku diatas sofa panjang pada ruang nonton, tidak ada acara menarik di TV jadi aku menonaktifkan Televisinya.
Aku berjalan ke arah lemari pendingin dan membukanya dengan pelan, di dalam sana hanya ada sekotak daging dan sebotol besar susu. Aku sering menyimpan makanan ringan di dalamnya dan... makanan ringan dan...
"..."
__ADS_1
"Sial, aku lupa kalau kemarin adalah hari belanja kebutuhanku." Ujarku dengan senyum kecut, karena kejadian kemarin aku bahkan sampai melupakan hal penting seperti ini, sungguh menyedihkan.
Aku menutup pintu lemari pendingin dan pergi menuju kamarku untuk mengambil dompet kecilku yang isinya tak seberapa. Bentuk dompetku mirip seperti ombak, karena yang mendesainnya adalah seorang penjahit yang cukup handal aku juga meminta agar dompet tersebut memiliki fungsi seperti Bros.
Itulah alasan kenapa ada jepitan di belakang dompetku, aku menaruhnya disebelah kamera rahasiaku yang berada di dada, kemudian bersiap-siap untuk pergi ke pasar.
Kenapa aku melakukan hal seperti itu? alasannya adalah di kota ini banyak pencuri handal, bahkan bocah sekolah dasar yang kita anggap masih lugu dan baik hati saja bisa menjadi pencuri kelas kakap di tempat ini. Kalau aku menaruhnya di saku celana bisa-bisa nanti aku kecurian.
Cklak...
Aku membuka pintu rumahku, sekarang ada banyak bangunan disekitar rumahku karena aku sudah memindahkannya kemarin.
"Tapi tunggu... apa mungkin aku merasa lebih lelah dari biasanya karena itu?"
Nama kota ini adalah Iratus, sebuah kota besar di negara Libratum barat. Kota ini termasuk dalam jajaran kota terbesar sekaligus termakmur di dunia karena populasi penduduk yang berkualitas sangat banyak, serta jumlah pengangguran yang sangat sedikit.
"Jarak dari rumahku ke pasar itu cukup jauh, apa aku harus berlari?" Aku bertanya dalam pikiranku sambil menutup pintu rumah.
Aku berjalan ke pasar dengan perasaan tidak tenang, aku selalu bertanya apakah aku harus berlari atau melompat untuk pergi ke pasar? Aku memikirkan banyak hal sambil berjalan hingga akhirnya di saat aku tidak fokus, secara tidak sengaja aku menabrak pria bertubuh besar yang terlihat garang.
"Ku kembalikan pertanyaanmu, apa kau tidak punya mata sehingga tidak bisa melihat kalau aku memiliki mata?" Jawabku dengan acuh, aku berjalan melewatinya dengan perasaan kesal namun siapa sangka ia malah menahan bahu ku.
"Sepertinya kau anak yang emosian ya. Sayangnya aku bukan orang baik-baik, jadi karena kau sudah menggangguku maka akan aku beri kau sedikit pelajaran." Pria itu tersenyum jahat.
Sepertinya pria ini sedikit di takuti oleh orang-orang disekitar, faktanya tidak ada satupun orang yang mau membantuku saat ini.
"Bukan hanya kurang hajar kau juga berani mengabaikan ku ya, apa kau ketakutan huh? mau pulang ke pelukan mama? Ahahaha!!" Pria itu tertawa lepas.
"Aku akan mengantarmu." Balasku dengan dingin.
"Huh? apa yang kau bicarakan?" Pria itu menatap diriku.
__ADS_1
"Kau mau pulang ke rumah mama mu bukan? aku akan mengantarmu, berterima kasihlah karena orang sepertiku mau menemani orang busuk sepertimu hanya untuk pulang ke rumah MAMA mu." Ujarku dengan kesal sambil meninggikan suaraku pada kata 'mama'.
Seketika orang-orang disekitar tertawa kecil, bahkan ada yang tidak bisa menahan tawanya sampai membuat pria dibelakang ku malu dan tidak berani melihat ke sekelilingnya.
Setelah aku mengatakan hal itu pria bertubuh besar tersebut langsung mengeratkan pegangannya pada bahu ku, kemudian menatapku dengan marah.
"Bocah, aku akan menghajar mu!" Teriaknya.
Ia semakin mengeratkan pegangannya pada bahuku seperti berniat menghancurkannya, tapi setelah beberapa detik berlalu tidak ada teriakan kesakitan dari mulutku yang membuat pria itu kebingungan.
"Hei, otakmu ternyata tidak sebesar tubuhmu ya."
Aku meraih tangan yang memegang bahuku, kemudian mengangkatnya ke atas. Dengan sedikit tenaga aku langsung membanting pria itu ke tanah dengan sangat kuat hingga menghasilkan retakan besar seperti jaring laba-laba disana.
BAMM!!
Semua orang disekitar terdiam tanpa berani mengucap sepatah katapun, tak seorangpun yang dapat mempercayai penglihatan mereka saat itu.
Tanpa mereka sadari aku sudah pergi dari sana secepatnya karena tidak ingin wajahku terekspos, beruntung saat ada seseorang yang berniat mengambil gambar dengan kamera tadi aku langsung pergi.
Kalian bertanya bagaimana aku kabur dari kerumunan itu? caranya mudah, karena saat itu semua orang sedang menatap pria itu tanpa menoleh ke arahku, aku langsung melompat ke salah satu atap rumah kemudian berlari menjauh dengan melompat dari satu atap rumah ke rumah lainnya.
Setelah sedikit jauh dari kerumunan itu, aku langsung turun dari atas atap dan kembali berjalan di trotoar dengan tenang. Meskipun wajahku datar sebenarnya saat ini aku sudah super kesal, kenapa setiap hari aku selalu mendapat masalah? Apakah aku ditakdirkan untuk bertemu masalah setiap harinya?
BAMM!!!
Disaat itu, ada seekor Monster Type 25 setinggi 70 meter turun dari langit dan mendarat tepat di depanku dalam jarak 1 kilometer.
"GRROOOAAHHH!!"
Kepanikan pun terjadi dimana-mana, bahkan kerumunan tadi langsung berpecah dan lari terbirit-birit ke segala arah tanpa tujuan termasuk pria tadi.
__ADS_1
"Aku sungguh membenci dunia yang sudah rusak ini."
...—To Be Continued—...