
Beberapa menit kemudian, Alisha bersiap akan keluar dari dalam kamar mandi, dengan menyeka air matanya yang masih tersisa di wajahnya. Setelah dirasa sudah rapih seperti biasanya, ia pun segera membuka pintu kamar mandinya.
Seketika, bola mata cantik milik gadis itu terlihat mencari seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya. Namun, tidak ditemukan keberadaannya sama sekali.
Maka dari itu, ia pun bergegas melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi itu, tetapi hal yang sangat tidak terduga berhasil mengagetkannya.
"Mas!" ucap Alisha, membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.
Terlihat sosok laki-laki yang ia cari sedang bersandar di samping pintu kamar mandi, dengan posisi yang tidak sangat baik, bahkan ia sampai ketiduran di sana.
Namun, tidak lama dari itu, Ilham membuka matanya karena remang-remang mendengar suara Alisha yang cukup membuatnya kembali terbangun dari tidurnya. Dan hal pertama yang dia lihat adalah wajah cantik yang sedang ia nantikan kembali kehadirannya.
Tanpa aba-aba lagi, Ilham berdiri dan memeluk tubuh Alisha dengan sangat erat, seakan takut kehilangannya.
"Maafkan Mas, Alisha ...," lirih Ilham sembari menyandarkan kepalanya di pundak Alisha, dengan masih memeluk tubuhnya.
Alisha terdiam kaku, ia terlihat kebingungan untuk berkata-kata. Akan tetapi, ia tidak tega membiarkan suaminya seperti itu.
Lantas, Alisha pun melepaskan pelukannya dari Ilham dan menatap lekat kedua bola mata suaminya.
"Untuk apa, Mas?" tanyanya.
"Maaf ...," lirih Ilham kembali dengan tertunduk, tidak kuasa melihat wajahnya.
"Mas minta maaf, Alisha. Mas telah lalai menjadi suami yang baik untukmu," lanjutnya dengan nada yang rendah.
Alisha tidak kuasa menahan air matanya untuk kembali keluar, karena tidak menyukai perilaku Ilham yang seperti itu.
__ADS_1
"Jangan terlalu dipaksakan, Mas. Aku tahu, sangat sulit untukmu, maka biarkanlah semuanya berjalan dengan semestinya," ucap Alisha yang membuat Ilham menatapnya.
"Terima kasih," ucap Ilham dan kembali memeluk tubuh Alisha.
Dengan begitu, Alisha hanya diam dan menumpahkan sisa kesedihannya di dalam pelukan Ilham. Namun, sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara, dan membuat Ilham curiga kepadanya.
Setelah beberapa menit, Ilham melepas pelukannya dari Alisha dan melihat wajah istrinya yang teduh. Walaupun demikian, di balik itu semua, Alisha banyak menyembunyikan kesedihannya darinya.
"Berjanjilah bahwa Mas tidak merasa keberatan menjalani hubungan pernikahan ini denganku," ucap Alisha dengan nada suara yang kecil.
Deg, tubuh Ilham menjadi sangat kaku. Bibirnya terasa begitu sulit untuk mengucapakan kata-kata, bahkan menatap wajah istrinya saja sudah membuatnya gelisah.
"Mas tidak merasa keberatan, tapi dengan janji itu. Mas tidak bisa mengucapkannya," jawab Ilham dan Alisha hanya tersenyum kecut, mendengarkan jawaban dari suaminya itu.
"Baiklah, setidaknya Mas bisa menerima aku sebagai istrimu saja, sudah membuatku bahagia." Alisha tersenyum, kemudian mendekati suaminya dan menggenggam kedua belah tangannya.
Ilham hanya diam, menerima perlakuan dari istrinya dan tidak menolaknya sama sekali. Dia tahu, selama ini Alisha telah menyimpan rasa sakit hati yang sudah ditorehkan olehnya semenjak menjadi istrinya. Namun, sesampai detik ini, ia belum bisa mencintainya.
"Mas menyayangimu, Alisha." Ilham merengkuh tubuh istrinya kembali.
Mendengar itu, Alisha hanya tersenyum dan berucap, "Mungkin untuk kali ini sayang, kedepannya kata cinta akan kamu ucapakan, Mas. Meskipun begitu, semua itu hanyalah mimpi yang jauh menjadi kenyataan."
Ilham semakin mengeratkan pelukannya kepada Alisha, ia tidak mau menyakiti hati istrinya lagi. Cukup sampai saat ini, ia mendapati Alisha dengan kerapuhanya. Kedepannya, ia tidak mau melihatnya kembali.
...****************...
Tiga munggu kemudian.
__ADS_1
Kini Alisha dan Ilham sudah mulai menjalin kehidupannya dengan saling terbuka, dan saling mencintai. Dan selama itu pula, Ilham mulai menjalankan kewajibannya untuk mencintai Alisha, bukan hanya sebagai seorang istri saja, tetapi sebagai kekasih halal.
Begitu pula dengan Zahra, dia sedang dihadapkan dengan kenyataan yang sangat menyakinkan pilihannya.
Di ruangan yang cukup luas itu, Zahra mempersiapkan diri untuk menjawab lamaran dari Yafiq. Ya, pemuda itu tidak menyerah untuk mendapatkan hati Zahra, dan menjadikannya miliknya.
Maka dari itu, Yafiq bersedia menerima semuanya, mau itu masa lalu Zahra, ataupun keputusan calon istrinya itu. Dia sudah siap menerima semuanya.
Suasana yang di nanti-nantikan itu, berubah menjadi sangat tegang karena Zahra akan memberikan jawabannya.
Gadis itu menghembuskan napasnya pelan. "Zahra menerima lamaran dari Kak Yafiq. Zahra harap, Kak Yafiq bisa menerimaku dengan sepenuh hati, tanpa paksaan sama sekali," ucap Zahra dengan penuh yakin.
Yafiq terlihat sangat bahagia dan puas dengan jawaban yang diberikan oleh Zahra, bahkan ia mengucapkan syukur di dalam hatinya karena perjuangan dan usahanya itu tidak sia-sia.
"Alhamdulillah, terima kasih, Zahra. Kamu sudah percaya sama aku," ujar Yafiq sembari tersenyum bahagia.
Tidak lama dari itu, ibu dari Yafiq memasangkan cincin di jari tangan Zahra dengan sempurna. Terlihat sangat indah, dan pas di tangannya.
Zahra menatap tangannya yang sudah dipasangkan cincin yang indah itu dengan sendu, ia menyadari bahwa kini dia sudah terikat dengan laki-laki yang akan menjadi suaminya dalam beberapa hari lagi.
Sudah beberapa kali, Zahra menyakinkan dirinya untuk kembali menata hatinya bersama dengan Yafiq—seorang laki-laki yang datang ke dalam kehidupannya, dengan membawa sebuah kepastian.
Maka dari itu, tidak ada alasan lagi baginya untuk menerima Yafiq sebagai pendamping hidupnya. Bagaimanapun, ia berhak memilih dan menerima siapa saja yang pantas untuknya. Dan kali ini, ia sudah yakin dengan pilihannya kali ini adalah yang terbaik.
"Zahra, Abi harap kamu bahagia dengan pilihanmu itu. Setelah ini, Zahra sudah harus percaya dan menerima semua yang akan terjadi kedepannya karena itu pilihanmu," ucap Abi Hasan kepada putrinya.
Untuk itu, Zahra hanya mengangguk mengerti dengan ucapan abinya. Dia juga tahu, setelah ini. Bukan cuma dirinya yang akan menjalani, tetapi kedua orangtuanya juga sudah terlibat dalam keputusannya.
__ADS_1
Hanya beberapa hari lagi, Zahra akan segera menjadi seorang istri dari pemuda pilihannya itu. Selama itu, ia harus sudah bisa melupakan Ilham. Tidak baik juga, masih menyimpan rasa kepada laki-laki yang sudah berstatus sebagai seorang suami dari perempuan lain.
Sebisa mungkin, Zahra menepis semua masa lalunya dan kembali menata masa depan yang indah. Cincin yang sudah terlingkar indah di jemari tangannya, menjadi saksi bahwa ia sudah menerima Yafiq dengan sepenuh hati, dan melupakan Ilham dengan sekuat hati.