
~{ Serangkai Kata }~
"Jangan mengaku benar jika memang salah, jangan pula mengaku salah jika memang benar karena sekeras apa pun kamu berusaha mengaku benar jika memang dasarnya sudah salah, maka akan terus salah dan disalahkan. Akhirnya akan tetep terungkap yang sebenarnya."
...
Seketika keduanya terdiam untuk beberapa detik. Muhtaz yang emang menganggapnya wajar hanya bersikap biasa saja, seakan tidak bersalah dan melakukan kesalahan. Lain halnya dengan wanita yang berada di sampingnya, ia terlihat begitu gelisah dan ketakutan.
"Abi, ini semua tidak seperti yang Abi lihat. Zahra tidak berniat untuk berduaan dengannya," ucap Zahra dengan wajah yang gelisah dan keringat dingin mulai membasahi pelipis kepalanya.
"Lalu kenapa kalian bisa berduaan di sini?" tanya Ustaz Hasan dengan atensi mata yang masih sama tajamnya, menatap putrinya bersama seorang laki-laki di sampingnya.
"Sandal Zahra hilang dan belum ketemu, lalu tiba-tiba dia datang. Jadi, Zahra tidak sengaja atau merencanakannya," jawab Zahra diiringi dengan keringat dingin.
"Dianya saja yang sengaja ingin berduaan denganku dan sengaja jatuh tadi, biar aku bantuin. Ya kan?" Muhtaz melirik Zahra diiringi dengan kedipan mata yang membuat gadis itu merinding.
"Apa benar begitu yang diucapkannya, Zahra?" tanya Ustaz Hasan memastikan.
"Eh enggak kok Abi, dia berbohong. Zahra enggak melakukan itu," jawab Zahra disertai dengan gelengan kepala, lalu mendekati abinya.
"Abi percaya kan sama Zahra? Bahwa Zahra enggak mungkin ngelakuin hal seperti itu," ujar Zahra tertunduk.
Ustaz Hasan menatap wajah putrinya dengan penuh perhatian, ia mengangkat wajah Zahra untuk kembali menatapnya.
"Abi percaya sama Zahra. Jangan bersedih ya putriku," jawab Abi Hasan sembari mengulum senyum dan wajah yang kembali terlihat begitu damai.
"Abi serius?" Zahra menatap kedua mata abinya dengan sangat dalam.
Ustaz Hasan pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, pertanda bahwa dia sudah mempercayai ucapan dan penjelasan dari Zahra.
"Terima kasih Abi," kata Zahra sembari memeluk tubuh abinya.
"Eh, enggak bisa gitu ya! Dia salah udah mau deketin aku," ujar Muhtaz dengan mendekati Ustaz Hasan dan Zahra.
"Muhtaz, sekarang kamu bantu sapu halaman masjid dan rumah ya," perintah Ustaz Hasan pada pemuda itu.
"Loh kok jadi aku? Harusnya dia juga dapat hukuman, kan yang salah bukan cuma aku aja," senggah Muhtaz tak terima.
__ADS_1
"Gimana Zahra mau bantu kamu? Sedangkan sandalnya saja hilang entah ke mana," jawab Abi Hasan dengan santainya.
"Eh, i--tu bukan jadi alasan ya! Sandalnya gak hilang, itu ada kok." Kata-kata yang dilontarkan Muhtaz begitu mencurigakan.
"Kalau ada, sekarang di mana coba?" tanya Zahra menelisik.
"Kamu lihat aja tuh di atas eh ...." Muhtaz menghentikan ucapannya karena menyadari bahwa itu sama saja dengan mengungkapkan kesalahannya sendiri.
"Atas mana?" Zahra menatap ke atas dan tidak menemui apa pun. "Gak ada apa-apa tuh," lanjutnya dengan mata yang masih menatap langit.
"E--enggak, enggak jadi," jawab Muhtaz sedikit mencurigakan.
"Heh, kamu jangan bohong ya!" Zahra mendekati Muhtaz dan menatap wajahnya dengan penuh kecurigaan.
"Aku gak bohong kok, emang enggak ada," jawab Muhtaz sembari mentap ke lain arah untuk menghindari kontak mata dengan Zahra.
"Kalau gak bohong, terus mengapa kamu mengatakan tadi sendalnya enggak hilang, padahal udah hilang?" tanya Zahra yang membuat Muhtaz sedikit terusik karena sudah dipastikan akan terbongkar semuanya.
"Itu karena emang enggak hilang, tapi disimpan oleh seseorang," jawab Muhtaz asal.
"Mana gue tau? Lo cari aja sendiri. Palingan juga enggak bakal jauh dari sekitaran sini," ucap Muhtaz dengen anggkunhnya meminta Zahra mencarinya sendiri.
"Kamu ya!" Zahra mengepalkan kedua tangannya karena geram.
"Aku apa, hah?" tanya balik Muhtaz tidak kalah menghadapi Zahra, dengan terus menjawab semua pertanyaan yang gadis itu lontarkan.
Zahra tidak lagi menjawab Muhtaz, melainkan mengadukannya kepada Ustaz Hasan yang selaku abinya.
"Abi, lihat dia gak mau kasih tau." Tunjuk Zahra pada laki-laki yang ada di hadapannya sekarang dan tidak lain, ia adalah Muhtaz.
Abi Hasan hanya tersenyum dan langsung menanyakannya kepada pemuda itu, "Muhtaz, ayo katakan di mana kamu menyembunyikan sendalnya Zahra?"
"Cari saja sendiri, dia aja yang males jalan kaki, makanya sendalnya hilang," kata Muhtaz diiringi dengan tawanya yang menggema. Di mana hal itu membuat Zahra semakin geram.
"His, kamu ya! Bilang aja gak mau mengakui kesalahanmu," cetus Zahra dengan mata sinis.
"Emang enggak ada yang mau ngakuin kesalahan, aku kan berkata benar." Muhtaz masih membela dirinya untuk biasa mengalahkan Zahra yang terus mengoceh.
__ADS_1
"Udah-udah, jangan gaduh lagi!" ucap Ustaz Hasan melerai percekcokan yang terus terjadi di antara keduanya.
"Lebih baik sekarang kalian diam dulu dan kamu Muhtaz, bantu Zahra untuk mencari sandalnya jika kamu ingin Zahra membantumu, tapi jika kamu benar yang menyembunyikannya, maka segeralah berikan kepada Zahra biar dia tidak kembali mencurigaimu," kata Ustaz Hasan dengan bijaknya.
"Baiklah, lo lihat saja ke atas. Di sana sendalnya," ucap Muhtaz kepada Zahra.
"Hah, atas mana? Gak ada, adanya cuma langit dan awan," jawab Zahra dengan sedikit menyipitkan kedua belah matanya karena cahaya matahari yang kini mulai terbit.
"Aduh, bukan itu. Coba kamu lihat yang warna hijau itu." Muhtaz mengarahkan telunjuk tangganya ke arah sebuah pohon.
"Itu pohon mangga," jawab Zahra dengan lugunya.
"Iya itu di sana," ucap Muhtaz dengan sedikit senyum karena Zahra sedikit susah diajak mengerti.
"Mana? Gak ada tuh," sahut Zahra kembali membuat Muhtaz berdecak kesal.
"Cek, itu lihat ke atasnya. Lo dari tadi lihat apaan sih? Udah jelas gitu masih nanya." Muhtaz menyudutkan Zahra sambil menggerakan kepala gadis itu ke atas pohon mangga, tepatnya sendal itu berada.
"Heh, kamu ya! Sembarangan simpan sendal saya di atas sana? Mana tinggi lagi. Gak mikir kamu, Zahra kan gak bisa panjat pohon setinggi itu," gerutu Zahra sembari memukuli lengan pemuda itu beberapa kali.
"Eh, eh. Apa-apaan ini? Sakit woi, main pukul-pukul aja, emangnya gue ini boneka apa?" keluh Muhtaz sembari menghindari pukulan dari Zahra yang semakin menjadi.
Sejenak Zahra menghentikan gerakan tangannya yang memukuli tangan pemuda itu, kini beralih menatap tajam mata Muhtaz. "Iya, kamu itu perlu dikasih pelajaran karena udah berani-beraninya sembunyiin sandal saya," cetus Zahra yang masih sangat kesal.
"Zahra, sudah hentikan!" tegas Ustaz Hasan kepada putrinya.
"Iya Abi," jawab Zahra yang langsung terdiam seketika karena abinya menegur dirinya.
"Muhtaz, kamu segera ambil kembali sandal Zahra di atas pohon mangga itu," perintah Ustaz Hasan pada laki-laki yang berada di samping putrinya.
Muhtaz hanya diam dan langsung melirik Zahra. "Awas lo ya!" ucapnya dengan tatapan mata yang penuh kekesalan.
"Huh, makannya jangan suka ngeyel." Zahra kembali menjawab Muhtaz.
"Zahra," panggil Abi Hasan memperingati dengan satu jari tangannya yang di angkat sebagai isyarat.
"Iya Abi, maaf." Zahra pun kembali mendekati abinya.
__ADS_1