Muhasabah Cinta Ilham & Zahra

Muhasabah Cinta Ilham & Zahra
MCIDZ. 21 # Kembali Menata Hati


__ADS_3

~{ Serangkai Kata }~


Terkadang melupakan itu jalan terbaik untuk kembali menata hati. Namun, untuk menghilangkan sepenuhnya itu tidak akan bisa, karena terlalu banyak waktu dan kenangan yang menjadikan cinta itu bersemi.


....


Seorang wanita cantik terlihat sedang memandangi wajahnya sendiri dari balik pantulan cermin yang ada di hadapannya. Tidak henti-hentinya ia tersenyum penuh arti, tapi di balik senyumannya itu masih tersimpan rasa sakit yang amat dalam yang mungkin sudah dibuang jauh olehnya.


Hari yang sedang gadis itu nantikan, kini telah tiba. Di mana, ia akan menjadi seorang istri dari laki-laki yang kali ini sudah berhasil meluluhkan hatinya, walaupun belum sepenuhnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Yafiq meluluhkan hati sang kekasih impian, karena Zahra sudah membuka lebar pintu hatinya sehingga, ia bisa mengisinya dengan sejuta cinta yang tidak pernah Zahra dapatkan dari laki-laki yang sudah lama mengunci hati sang kekasihnya itu.


"Akhirnya, hari ini telah tiba. Semoga keputusan yang aku ambil ini adalah yang terbaik," gumam gadis itu dengan penuh harap dan keyakinannya.


Di halaman yang cukup luas itu sudah dipenuhi oleh para tamu undangan yang mulai berdatangan, tidak luput dari itu. Ilham dan Alisha juga hadir di acara pernikahan Zahra, bahkan laki-laki itu sudah menyiapkan mental yang kokoh untuk menerima kenyataan pahit di dalam hidupnya.


Di mana, ia akan menyaksikan sendiri akad pernikahan wanita yang dicintainya dengan laki-laki lain, bahkan dengan kedua bola matanya sendiri.


Namun, sanpai sakerang belum ada tanda-tanda kedatangan mempelai pria, dan itu membuat keluarga Zahra sangat mengkhawatirkannya. Akan tetapi, Ilham tidak menyadarinya karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tidak lama dari itu, kedua orang tua Yafiq datang ke rumah Abi Hasan dengan wajah yang terlihat sedih. Dengan tergesa-gesa, mereka menemui Abi Hasan yang katanya ada di dalam rumah, tanpa menghiraukan tatapan banyak orang yang melihat mereka dengan heran.


Baru saja Ustaz Hasan merasa senang dengan kedatangan kedua orang tua dari calon menantunya, tapi semua itu musnah setelah mereka menceritakan semua yang terjadi kepada Yafiq, bahkan belum sampai di pernikahan mereka.


Dengan begitu, Ummi Hanum segera memanggil Zahra karena ada sesuatu yang ingin diberikan oleh orang tua Yafiq kepada putrinya itu.


"Zahra," ucap Ummi Hanum yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak bersedih dihadapan putrinya.


Zahra pun menoleh ke arah umminya sembari tersenyum, karena ia mengira bahwa calon suaminya sudah datang.

__ADS_1


"Iya, Mi. Apa Kak Yafiq sudah datang ke mari?" tanya gadis itu dengan mata yang berbinar.


Ummi Hanum dibuat sangat tidak berdaya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Zahra, tetapi dia tidak ada pilihan lain dan harus mengatakan semuanya.


"Mari ikut Ummi, Ra. Ada sesuatu yang perlu kamu ketahui," kata Ummi Hanum dan Zahra menatap wajah umminya dengan heran.


Namun, Zahra tidak mengatakan apa pun dan menuruti perkataan umminya, sampai ia berada di ruang tamu yang sudah ada kedua orang tua dari calon suaminya itu.


Zahra pun duduk di di kursi yang masih kosong, dan hatinya sudah merasa tidak karuan pada saat melihat kedatangan kedua orang tua Yafiq.


"Nak Zahra, ini ada titipan surat dari Yafiq untukmu," ujar ayah dari Yafiq.


Zahra tertegun, ia merasa heran dengan apa yang terjadi kali ini, dan bukanya sekarang hari pernikahannya, tapi mengapa bukan Yafiq sendirinya yang memberikannya? Zahra merasa bingung kali ini.


"Itu apa, Yah? Kenapa bukan Kak Yafiq sendiri yang memberikannya kepadaku? Lalu di mana, Kak Yafiq sekarang?" tanya Zahra dan itu berhasil membuat kedua orangtuanya dan orang tua Yafiq terdiam, karena tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada gadis cantik itu.


Akan tetapi, setelah Zahra membaca surat itu. Mimik wajah gadis itu tiba-tiba saja berubah menjadi sedih, dan perlahan air matanya mengalir begitu saja. Seiring dengan untaian kata yang masih Zahra baca di selembar kertas itu.


Sampai di penghujung kata, ia mendapatkan kata-kata yang indah dan ungkapan cinta yang romantis. Namun, hal itu tidak bisa Zahra dapatkan satu kali lagi, karena seseorang yang amat mencintainya sudah lebih dulu meninggalnya, bahkan sebelum janji suci pernikahannya diucapkan.


"Kak, kenapa kamu meninggalkan Zahra? Mana janji ucapan kamu yang katanya ingin menjadikan cinta kita halal? Dan baru saja semalam, Kak Yafiq memintaku untuk segera mengunggu hari esok agar bisa bertemu kembali dengan Kakak yang sudah menjadi suamiku, tapi nyatanya Kak Yafiq tidak datang ke sini. Sakit hati Zahra, Kak," ucap Zahra dengan isak tangis yang masih terdengar di setiap katanya.


Hati gadis itu seakan hancur berkeping-keping untuk yang kedua kalinya, dan kali ini ia merasakan kembali sakit hati yang sangat dalam, mungkin setelah ini dia tidak akan sanggup lagi untuk membuka pintu hatinya.


Baru kali ini Zahra menerima seorang laki-laki yang begitu tulus mencintai, sampai ia pun masuk ke dalam hidupnya dan mengambil alih ruang yang sudah tertutup rapih itu.


Namun, baru saja ia merasakan kembali disayangi dan dicintai dengan tulus. Akan tetapi, semua itu hanya dapat ia rasakan cuma sebentar. Kini pria itu sudah lebih dulu mengucapkan selamat tinggal, bukan kata ijab qobul di hari yang seharusnya menjadi yang paling berharga untuk kedua pasangan itu, tapi Allah telah berkehendak lain, dengan mengambil lebih dulu Yafiq darinya.


***

__ADS_1


Fleshbeck, Tiga Hari Sebelum Kejadian.


Dringg! Suara ponsel Zahra terus berdering di atas meja riasnya. Dengan segera, gadis cantik itu menjawab telpon dari sang pujaan hati, dan meletakkannya di telinga yang sudah dibaluti dengan jilbab berwarna abu muda, senada dengan pakainya yang panjang dan anggun seperti biasanya.


"Assalamualaikum, calon istriku." Suara dari sebrang sana sudah berhasil membuat rona merah di wajah gadis cantik dan lugu itu.


"Wa'alaikumsalam. Kak, ada apa telpon Zahra?" tanya gadis itu yang masih menstabilkan detak jantungnya.


"Coba lihat wajahmu di depan cermin besar, di sana ada seorang bidadari cantik yang selama ini menghantui pikiran serta mengisi ruang di dalam hati seorang pemuda yang bernama Yafiq Hadwan Bramasta. Ya, dia wanita yang sering kali membuat seorang Yafiq merindukannya," ucap Yafiq dengan penuh penghayatan.


Lantas, Zahra pun menuruti ucapan pemuda itu, dan akhirnya dia tersenyum tersipu malu, menyadari bahwa dialah wanita yang dimaksud oleh Yafiq.


"Bagaimana? Apa sudah tahu siapa bidadari cantik itu?" tanya Yafiq dengan teletan.


Zahra masih tersipu malu, dan menutup wajahnya dengan ujung jilbabnya yang panjang.


"Jangan begitu, suatu saat nanti, kata-kata ini akan sering kamu dengar. Tunggu bebarapa hari lagi, sampai kita terikat dengan janji suci pernikahan, dan kamu halal untukku," ucap Yafiq kemudian.


"Aamiin, semoga kita bisa bersama," ucap Zahra yang masih terbuai dengan cinta seorang Yafiq terhadapnya.


"Zahra, Kakak mau kasih tahu kamu bahwa hari ini Kakak akan pergi ke Jerman untuk urusan bisnis, tapi tidak akan lama kok, tiga dia hari saja. Setelah itu, Kakak akan kembali lagi untuk mengucapakan ijab qobul pernikahan yang nantinya akan mempersatukan kita," ucap Yafiq sembari tersenyum.


Wajah Zahra terlihat sedih, ia sepertinya tidak mau Yafiq pergi, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi tugasnya. Maka dari itu, Zahra hanya bisa mendoakan untuk keselamatan dan kelancaran calon suaminya itu.


"Baiklah, Zahra tunggu Kak Yafiq di sini," balas Zahra dengan tersenyum manis.


"Terima kasih, calon istriku. Assalamualaikum," ucap Yafiq yang diakhiri dengan salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zahra dan kembali menyimpan hendphone-nya di meja.

__ADS_1


__ADS_2