
~{ Serangkai Kata }~
Seberat apa pun ujian itu, tidak akan membuatmu jatuh, karena masih ada Allah yang membantu kita untuk kembali tangguh.
...
"Tersenyumlah dulu sebelum mendengarkanku." Suara Yafiq terdengar begitu jelas di telinga Zahra yang sedang berjuang untuk bangkit.
Zahra langsung tersenyum lebar sembari melihat wajah Yafiq dari layar leptop.
Untaian kata mulai terdengar oleh gadis itu yang Yafiq ungkapkan semua pesan terakhirnya untuk Zahra. Wanita itu hanya menangis, dan kadang tertawa jika Yafiq mulai memberikan lolucon.
Namun, setelah vidio itu hampir selesai. Zahra menangis mendengar kata terakhir yang Yafiq ungkapkan.
"Dengan izin Allah, aku meminangmu, dan atas karunianya pula aku mencintaimu. Semoga dengan ridha darinya, kita dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Namun, jika kita tidak bersama, jangan bersedih karena Allah ada bersamamu. Dia akan memberikan yang terbaik untuk kita berdua," ucap Yafiq yang seketika membuat Zahra meneteskan air mata untuk ke sekian kalinya.
"Kak, Zahra rindu. Andai waktu itu Kak Yafiq tidak pergi, mungkin kita sudah bahagia sekarang," ucap Zahra lirih dengan air mata yang masih menetes dari pelupuk mata indahnya.
"Namun, semua itu sudah tinggal kenangan dan harapan yang pupus." Zahra masih menatap layar leptopnya dan kembali berucap, "Kita sudah tidak bersama, tapi Zahra akan selalu ingat kata terakhir dari Kak Yafiq. Zahra akan mendoakan Kakak."
Ditutupnya leptop itu, dan Zahra berjalan ke arah meja rias yang terdapat kaca besar di sana, sehingga terlihlah pantulan wajahnya dari sana.
Zahra mengambil hujab yang ada di dekat sana. Lantas, ia pun segera memakai hijab itu dengan rapih. Setelah selesai menggunakannya, Zahra menatap kembali penampilannya yang sudah rapih.
Wajah cantik itu nampak semakin cantik dengan hijabnya. Dan Zahra kembali melangkahkan kakinya, berjalan keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
"Mungkin ini sakit, tapi Zahra herus kuat. Semua sudah menjadi takdir, dan tidak mungkin bisa kembali diubah seperti kata Mama," batin' Zahra berucap sembari berjalan menuju dapur.
Di dapur, Ummi Hanum terlihat sedang sibuk memasak makanan untuk keluarganya. Tanpa disadari olehnya, Zahra melihat Ummi Hanum dan segera menghampirinya.
"Ummi, biar Zahra saja yang kerjakan," ucap Zahra soraya mengambil alih wortel yang berada dari tangan Ummi Hanum.
"Biar Ummi saja, Ra." Ummi Hanum menolak tawaran dari putrinya.
Namun, seketika Ummi Hanum terperanggah melihat penampilan Zahra yang mulai seperti biasa lagi. Dengan senyum yang manis, dan wajah terlihat bahagia sudah membuat Ummi Hanum senang, karena putrinya mulai menerima semua yang menimpa kepadanya dalam waktu singkat ini.
"Masya Allah, Ra. Ummi senang lihatnya," ujar Ummi Hanum sembari mentap Zahra dengan mata yang berbinar.
"Kenapa, Mi? Ada yang berbeda ya dari Zahra?" tanya Zahra dengan kening yang berkerut.
"Enggak kok, Ra. Kali ini kamu terlihat sangat cantik," jawab Ummi Hamun, dan Zahra tersenyum mendengarnya.
Ummi Hanum seketika ikut tersenyum melihat Zahra yang sudah tidak sedih lagi. Meskipun begitu, Zahra belum sepenuhnya bisa melupakan semua yang terjadi kepadanya.
...****************...
Satu minggu kemudian.
Di rumah Alisha, terdengar suara muntah dirinya dari dalam kamar mandi. Ilham yang mendengarkan suara istrinya yang sedang tidak baik-baik saja, lantas bergegas menghampirinya.
"Alisha, kamu kenapa? Kurang sehat ya?" tanya Ihlam dengan sangat khawatir.
__ADS_1
"Iya, Mas. Kayaknya aku masuk angin deh," jawab Alisha sembari bersandar di tubuh Ilham.
Wajah Alisha terlihat begitu pucat, dan tubuhnya sangat lemas. Bahkan, terus-terusan memuntahkan isi perutnya sehingga membuat Ilham sangat khawatir.
"Kita ke rumah sakit saja ya, Mas takut terjadi apa-apa pada dirimu." Iham membujuk istrinya untuk memperiksakan tubuhnya, karena tidak tenang melihat Alisha terus-terusan mengeluarkan isi perutnya, padahal masih pagi.
"Jangan Mas! Aku baik-baik saja, mungkin masuk angin makanya begini," tolak Alisha dan kembali mumuntahkan isi perutnya.
"Tapi, Mas tidak tenang melihat kamu seperti ini. Mas takut terhadi apa-apa kepadamu," seru Ilham sembari mengusap pundak istrinya dengan penuh kasih sayang.
Alisha membalikan tubuhnya, menghadap kepada Ilham sembari menampakkan senyum manisnya.
"Mas tidak perlu khawatir ya. Insya Allah, aku baik-baik saja, percaya deh," kata Alisha. Ia mencoba menyakinkan suaminya supaya tenang.
"Tidak bisa, Alisha! Mas sangat mengkhawatirkan dirimu," lirih Ilham sembari membawa istrinya keluar dari dalam kamar mandi.
"Mas, Alisha takut," ucap Alisha semakin erat memeluk suaminya.
"Kenapa harus takut, Sha? Kan ada Mas yang selalu ada di samping dirimu. Mas tiadak akan membuatmu ketakutan lagi, apalagi bersedih." Ilham mengusap pelan kepala Alisha.
"Aku takut teringat kembali kepada Ayah, Mas. Alisha tidak kuat jika harus pervi ke rumah sakit, karena bayangan Ayah selalu kembali berputar di pikiran aku," jawab Alisha dengan menyandarkan kepalanya di pundak Ilham yamg kini menjadi tempat bersandar paling nyaman bagi Alisha.
"Jangan takut, Sha. Mas ada bersamamu. Biar Mas panggil dokternya saja ke sini," ujar Ilham soraya mencium pucuk kening Alisha supaya istrinya bisa lebih tenang lagi.
Mendengar itu, Alisha menyetujuinya dan tetep bersandar di pundak Ilham yang kini suaminya sudah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Usaha Alisha untuk mendapatkan cinta suaminya kini sudah tercapai, dan Ilham sangat menyanyanginya.
__ADS_1