
~{ Serangkai Kata }~
Entah apa yang akan terjadi di esok hari? Mungkin kali ini aku bisa melihat dan mendengarkan suaranya, tapi esok, entah masih bisa melihatnya, atau sekedar mendengarkan suaranya saja.
...
Malam Sebelum Hari Pernikahan.
Di tepi tempat tidur, nampak seorang perempuan cantik yang tengah terseyum sembari memegang ponselnya. Dia adalah Zahra, wanita itu terlihat sangat senang ketika Yafiq menelponnya kembali di malam itu. Di mana hari esoknya adalah hari yang sedang ditunggu-tunggu oleh keduanya.
Senyum manisnya masih terukir indah di wajahnya yang cantik, tidak perlu dikhawatirkan lagi penyebabnya, karena itu pasti ulah dari calon suaminya yang suka menggodanya dengan kata-kata yang sangat indah. Terdengar seperti rayuan atau gombalan, tapi ini berbeda. Kata-katanya indah, dan sangat menakjubkan.
Hal itu, sengaja Yafiq lakukan agar Zahra bisa lebih tenang di saat berbicara dengannya. Dengan begitu, dia juga dapat mengendalikan kecanggungan diantara keduanya.
Tidak sampai di situ saja, Zahra masih saling berkomunikasi lewat telponnya dengan Yafiq. Seperti pada saat ini, Yafiq berusaha keras untuk menyakinkan Zahra bahwa ia akan segera kembali ke Bandung.
"Besok hari pernikahan kita, Kak." Zahra terlihat sedih, karena Yafiq belum kembali pulang ke Indonesia.
"Kamu jangan khawatir ya, Kak Yafiq akan segera pulang besok. Jadi, jangan terlalu dipikirkan," ujar seorang pemuda yang kini telah berhasil memenangkan hati Zahra kembali.
"Tapi, Kak ... Zahra takut, Kak Yafiq tidak bisa pulang besok, apalagi dengan jarak yang sangat jauh," balas Zahra dengan melemas. Kekhawatirannya ternyata lebih besar dari ucapan Yafiq.
Yafiq tersenyum manis di sebrang sana, setelah mendengarkan suara lembut Zahra yang tengah mengkhawatirkannya.
"Tunggulah, Kak Yafiq akan segera kembali untuk menemuimu. Bukan sebagai orang asing lagi, tapi sebagai seorang suami," ucap Yafiq dengan penuh harapan.
__ADS_1
Zahra tersenyum mendengarnya, dan sedikit merasa tenang dengan ucapan dari Yafiq.
"Baiklah, Zahra tunggu, Kak."
Setelah mematikan ponselnya, Zahra terdiam. Dia masih tidak menyangka bahwa besok ia akan menjadi seorang istri, tapi itulah yang selama ini ia tunggu. Menikah dengan laki-laki yang sangat mencintainya.
***
Berbeda dengan pemuda tampan yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya di Jerman. Dia nampak teseyum menatap layar ponselnya yang terdapat foto seorang wanita cantik dengan senyum yang manis, padahal baru berapa menit ia berbicara lewat telpon dengan wanita itu.
Namun, tidak memupus kemungkinan bahwa kali ini, Yafiq tidak pernah bisa merasa puas, ketika berbicara dengan gadis pujaan hatinya. Lama menunggu, dan akhirnya ia bisa meluluhkan hatinya, bahkan besok pemuda itu akan meminang pujaan hatinya. Seperti mimpi, tapi nyata.
"Semoga kita bisa bersama," ucap Yafiq sebelum kembali menyimpan ponselnya ke dalam jaket tebal yang sedang dikenakannya.
Lantas, Yafiq pun segera mendorong kopernya, karena hari ini ia akan segera pulang ke Indonesia. Oleh karena itu, ia sudah menyiapkan semuanya, sehingga bisa langsung berangkat ke bandara.
Lebih bisa menahan dirinya untuk tetap menjaga hati, dan mendoakan wanita yang sudah membuatnya tidak bisa tenang di luar sana.
Setelah Yafiq berada di pesawat terbang, dia duduk di salah satu kursi yang masih kosong, dengan tersenyum manis, karena sekarang ia bisa kembali lagi ke Indonesia dan menemui calon istrinya.
Pada awalnya semua terasa baik-baik saja, tidak ada yang janggal. Akan tetapi, detik kemudian, terdengar suara yang membuat semua orang tegang, dan mengubah suasana.
Begitu pula dengan Yafiq, dia menjadi sangat tegang, takut terjadi sesuatu yang akan membuatnya tidak bisa menepati perkataanya kepada Zahra. Takut tidak bisa kembali lagi kepada keluarganya.
"Kepada seluruh penumpang, tolong mempersiapkan diri, karena pesawat mengalami sedikit masalah. Harap tenang, jangan gelisah!"
__ADS_1
Suara yang menggelegar itu, membuat semua penumpang menjadi panik, tapi karena arahan dari petugas pengamanan di pesawat membuat suasananya tidak terlalu panik. Walaupun demikian, tidak bisa dipingkiri bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Namun, berbeda dengan laki-laki yang satu ini. Dia masih merasa tenang, dengan terus mengucap doa dan salawat selama pesawat itu mengalami masalah. Sebelum itu juga, Yafiq sudah mengabari keluarganya dan mengirimkan vidio untuk Zahra yang sempat dibuatnya sewaktu masih berada di Jerman.
Pemuda itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya. Akan tetapi, jika masih diberi kesempatan untuk hidup. Yafiq akan menepati janjinya kepada Zahra dan menikah dengannya, tapi jika maut lebih dulu memangilnya, maka ia sudah pasrah dengan semuanya.
Ternyata pesawat tidak bisa mengendalikan kerusakannya, dan pada akhirnya pesawat itu kehilangan kendali. Kecelakaan pun terjadi, harapan Yafiq pupus, semua telah berakhir. Tidak ada yang menyangka bahwa semua ini akan terjadi, tapi takdir lebih menghendaki.
Tidak berapa lama dari kejadian pesawat jatuh yang ditumpangi Yafiq, beritanya sudah menyebar di televisi, radio, dan media sosial lainnya.
Namun, berita itu mulai menyebar luas ke Indonesia setelah pukul tujuh pagi, maka belum ada satu orang pun yang tahu dari keluarga Zahra. Terlebih lagi, kesibukan di pagi hari untuk persiapan pernikahan yang membuat Zahra dan kedua orangtuanya tidak ada waktu untuk menonton televisi, karena saking sibuknya.
Maka dari itu, setelah mengetahuinya, Zahra dan kedua orangtuanya sangat terpukul dengan kepergian Yafiq yang tanpa disadari membawa duka dan air mata, terlebih lagi bagi seorang gadis yang menantinya.
...****************...
Kembali lagi kepada Zahra, dia terlihat lebih banyak diam sembari memandangi surat yang sempat Yafiq tuliskan, sebelum berangkat ke Jerman. Dan itu sangat menyayat hatinya, ditambah lagi dengan video yang belum sempat Zahra tonton, karena masih belum siap melihatnya.
Setelah melihat reaksi dan keadaan Zahra, Abi Hasan, Ummi Hanum, dan kedua orang tua dari Yafiq tidak ada yang berani mengatakan apa pun, karena Zahra sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Walaupun demikian, jasad dari Yafiq belum ditemukan dan masih dalam pencarian. Namun, hal itu sudah membuat harapan Zahra runtuh, hatinya rapuh, dan lebih menyendiri.
Banyaknya tamu di luar yang sedang menunggu, dan saling membicarakan tentang pernikahan yang belum juga diselenggarakan itu, tidak membuat Zahra risau. Dia masih memikirkan Yafiq yang sudah tidak dapat kembali lagi.
Rasa takut akan ucapan dan perkataan yang akan timbul dari para tamu, tidak lagi Zahra pikirkan, karena sekarang dia masih terpuruk. Bukan cuma itu, pernikahannya tidak bisa dilanjutkan, dan impiannya untuk hidup bersama dengan Yafiq musnah.
__ADS_1
"Jika saja Zahra tahu kalau malam itu adalah hari terakhir mendengarkan suaramu, dan tiga hari sebelum kepergianmu itu adalah pertemuan terakhir kita, maka Zahra tidak akan membiarkan Kak Yafiq pergi, tapi maut lebih dulu mengambilmu dariku, Kak." Zahra menatap surat yang diberikan oleh Yafiq, dengan linangan air mata yang masih merembes keluar dari pelupuk mata indahnya.