
~{ Serangkai kata }~
"Setiap saatnya, setiap detik dan waktu yang dilalui. Tersirat sebuah kerinduan yang tiada tara. Bulan yang penuh kerinduan kini telah tiba dan inginku meraih ridhanya bersama hati yang inginku pantaskan."
...
Setelah pulang dari pasar, Zahra mendapatkan kabar bahagia dari Ummi Hanum yang katanya akan mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk menyambut bulan suci ramadhan.
Gadis itu nampak tersenyum bahagia karena ia mempunyai kegiatan lain di hari ini dan Ummi Hanum juga sangat bahagia melihat putrinya yang kembali bersemangat.
"Zahra, nanti sore kamu bagikan makanan ini kepada para jamaah setelah selesai syukuran di masjid ya. Soalnya ummi mau menyambut kedatangan anak dari sahabat abimu yang akan datang ke sini," ujar Ummi Hanum yang kembali fokus membungkus makanan.
Zahra mengangguk. "Baik, Ummi," jawabnya tanpa menanyakan hal lainnya lagi.
Setelah menjelang sore dan adzan ashar berkumandang di masjid dekat rumah Zahra, acara syukuran kecil-kecilan itu dimulai setelah salat ashar dan cukup banyak orang yang ikut serta karena para jamaah di masjid tidak langsung pulang, sehingga Abi Hasan memulainya tanpa harus mengulur waktu.
Setelah satu jam berlalu, acara syukuran itu selesai dan Zahra langsung saja menunggu di luar untuk membagikan makanan kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang ikut dalam syukuran. Sekalian Zahra ingin membagikannya kepada anak-anak kecil yang selalu hadir ke masjid dan belajar bersamanya.
Setelah satu bulan Yafiq pergi meninggalkannya dan itu membuat Zahra lebih memilih berasa di rumah orang tuanya dan tidak kembali mengajar di pesantren bibinya. Dengan begitu, Zahra hanya menghabiskan waktu bersama anak-anak untuk mengajar di masjid setiap sore.
Orang tua Zahra juga tidak keberatan jika putrinya memilih berada di rumah saja karena Alisha juga sudah mempunyai suami dan itu Ilham. Jadi, pesantren peninggalan orang tua Alisha yang tidak lain saudara Abi Hasan dipegang oleh Ilham, maka Zahra memilih untuk tetap tinggal di rumah saja dan tidak mau juga jika mengganggu hubungan Aliasa yang sudah membaik dengan Ilham.
Setelah selesai memberikan makanan ke para ibu-ibu dan bapak-bapak yang hadir, Zahra membagikannya juga kepada muridnya. Namun, tidak lama dari itu Zahra kembali ke dalam rumah dan tatapannya tertuju kepada seorang laki-laki yang bersama dengan ummi dan abinya.
Kedua netra Zahra menatap tidak percaya dengan laki-laki itu, begitu pula dengannya yang langsung menajamkan tatapannya kepada Zahra.
"Kamu, si gadis hijab biru?" Muhtaz menatap Zahra dengan penuh kesal karena kembali bertemu.
"Kak Yafiq," ujar Zahra yang membuat Muhtaz kembali bersuara.
"Saya bukan Yafiq, nama saya Muhtaz," ucap pemuda itu dengan tatapan melemas.
__ADS_1
"Iya, Ra. Dia bukan Yafiq, pemuda ini yang Ummi ceritakan tadi, Muhtaz ini adalah anak dari teman Abi dan dia ke sini mau belajar mengaji," kata Ummi Hanum yang membuat Zahra tercengang.
"Apa, Mi?" tanya Zahra menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ternyata benar pria yang bertemu dengannya tadi di pasar itu bukan Yafiq.
"Apa? Lo jangan ketawain gue, cewe hijab langit! Gue ke sini juga karena orang tua yang menyuruh, kalau enggak disuruh gue juga enggak mau ke sini dan bertemu dengan lo lagi," sahut Muhtaz dengan tidak sopan. Namun, Abi Hasan dan Ummi Hanum hanya melihatnya tanpa menegur.
"Enggak kok, saya tidak ngetawain kamu," jawab Zahra dengan tersenyum, lalu hendak pergi meninggalkan tempat itu. Namun, terhenti seketika umminya mengambil.
"Ra, apa kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Ummi Hanum karena Muhtaz nampaknya sudah mengenal Zahra.
"Tadi itu ...." Belum selesai menjawab, Muhtaz langsung menghentikannya.
"Tidak! Saya tidak kenal dia," sahut Muhtaz dengan wajah yang di palingkan ke arah lain.
Zahra hanya diam saja dan langsung pamit ke dapur karena harus membereskan dan mencuci wadah-wadah yang kotor.
"Ummi, Zahra ke dapur dulu," ucap Zahra yang langsung dibalas dengan anggukan kepala dari Ummi Hanum.
Malamnya adalah malam pertama tarawih karena besok sudah masuk bulan ramadhan. Tidak lupa juga seorang gadis cantik yang sudah siap dengan pakaian gamisnya, membawa mukena dan sajadah di tangganya.
Zahra keluar dari dalam kamar dan pada saat ia membuka pintu luar rumah, seorang laki-laki yang tadi masih berada di luar rumah dan suaranya mengejutkan Zahra.
"Hei, biru lengit. Mau ke mana malam-malam gini?" tanya Muhtaz sembari menyondongkan tubuhnya kepada Zahra.
"Astaghfirullahaladzim!" ucap Zahra karena kaget tiba-tiba saja ada seorang laki-laki di depan rumahnya.
"Lo kenapa?" tanya Muhtaz melihat Zahra heran.
"Enggak papa, tapi kenapa kamu bisa ada di sini?" Zahra menatap Muhtaz dengan sedikit meneliti.
"Harusnya gue yang tanya, bukannya malah tanya balik," ketus Muhtaz yang selalu kesal jika berbincang dengan Zahra.
__ADS_1
"Baiklah, saya mau pergi ke masjid," ucap Zahra sembari menahan tawanya karena melihat tingkah Muhtaz.
"Mau apa? Ini sudah malam," ujar Muhtaz yang langsung menatap wajah Zahra.
"Salat tarawih, mau ikut?" tanya Zahra dengan menatap Muhtaz yang masih berada di hadapanya.
"Gak! Tarawih itu lama. Males juga, mendingan tidur," jawab Muhtaz yang kembali duduk di kursi depan rumah Zahra.
"Ya udah, kalau enggak mau, saya pergi duluan. Anak kecil juga datang ke mesjid, masa orang yang sudah dewasa enggak? Malu-maluin dong," sindir Zahra dengan melangkahkan kakinya, satu langkah dari Muhtaz.
"Hey, biru langit. Apa kata lo barusan?" Muhtaz berdiri dari kursi yang didudukinya.
"Enggak papa," jawab Zahra dengan senyuman yang ditahan.
"Lo jangan coba nyindir gue ya! Gue juga bisa pergi ke masjid," ujar Muhtaz merasa tertantang.
"Coba aja," ucap Zahra dengan satu alis yang dinaikkan sebelah.
Muhtaz mulai kesal dan segera mendahului Zahra. "Lihat nih," kata Muhtaz yang berjalan mendahului Zahra.
Zahra hanya terkekeh melihat Muhtaz yang sangat kesal dan pergi ke masjid. Dilihat dari penampilan dan sikapnya saja sudah sangat berbeda dengan Yafiq. Pria yang bernama Muhtaz itu gampang emosi dan penampilannya juga sudah kayak anak pembalap, sedangkan Yafiq lebih sopan dan sabar.
Setelah berada di depan mesjid, Muhtaz melangkahkan sepatunya ke masjid. Namun, hal itu dihentikan oleh bapak-bapak yang baru saja datang bersamaan dengan Muhtaz.
"Heh, buka itu sepatunya! Tuh lihat batas sucinya dan di larang memakai sepatu ataupun sandal masuk ke dalam masjid," tegur bapak itu dengan menunjuk batas suci.
"Cek! Susah amat, main ngatur-ngatur aja," keluh Muhtaz yang kemudian membuka sepatunya.
"Makanya kalau mau ke masjid itu berpakaian yang sopan," ucap Zahra yang tiba-tiba saja berada di belakangnya.
Mendengar suara Zahra, Muhtaz langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat gadis itu. "Diam lo, gadis berkerudung biru langit! Ini juga gara-gara lo, kalau lo enggak bikin gue kesel. Gue juga enggak akan bakalan mau ke sini," sahutnya dengan wajah yang emosi.
__ADS_1