
~{ Serangkai Kata }~
"Tidak semua hal bisa dilakukan dengan mudah, apa yang menurut kita mudah belum tentu mudah karena belum mencobanya. Namun sebaiknya, jika sudah mencobanya pasti mudah asalkan belajar."
...
Setelah Muhtaz berhasil mengambil sandal Zahra kembali, ia pun nampak begitu kesal. Lagi-lagi dia kembali kalah dari gadis itu, padahal dia awalnya sengaja ingin membuat Zahra kesusahan dan kebingungan. Namun, hal itu jauh berbeda dari apa yang dia inginkan, malah sebaliknya. Ia sendiri lah yang harus kembali membantunya.
Sampai sekarang pun, wajah kesal Muhtaz masih terlihat jelas oleh Zahra. Bahkan pada saat ini, Muhtaz masih menampakkan wajah kesalnya kepada Zahra sembari memberikan sandalnya kembali.
"Nih, kamu bisanya nyusahin saja," cetus Muhtaz sembari memberikan sendal itu kepada Zahra.
Zahra pun hanya tersenyum lebar dan menahan kekesalannya. "Hem, terima kasih Abang Muhtaz," ucapnya tak sesuai dengan perasaannya saat ini.
"Hah, apa lo bilang? Abang? Gue bukan tukang bakso ya! Sembarangan panggil Abang, ganteng gini dibilang Abang," sahut Muhtaz dengan sombongnya.
"Sombong," kata Zahra yang langsung pergi dari hadapan Muhtaz.
"Biarin, suka-suka gue." Muhtaz pun tersadar kembali bahwa Zahra harus membantunya menyapu, lantas ia pun memanggilnya kembali, "Heh, gadis hijab biru! Tunggu, lo harus bantuin gue nyapu halaman ini!" teriaknya dengan sangat keras.
Zahra pun berhenti dan kembali menatap Muhtaz. "Kerjain aja sendiri, aku masih banyak kerjaan di dapur," ucapnya dengan tersenyum tipis dan sedikit tawa.
"Lah, lo jangan gitu. Bantuin gue heh!" teriak Muhtaz kembali dan Zahra masih tetep menolaknya.
"Gak mau," jawab Zahra yang langsung pergi jauh meninggalkan Muhtaz, sehingga tidak lagi mendengar suara teriakan laki-laki itu.
__ADS_1
"Dasar sialan cewek itu! Kalau bukan anaknya Ustaz Hasan, udah gue jewer tuh anak," gerutu Muhtaz dengan mengambil sapu lidi. Akhirnya Muhtaz pun tetep menyapu halaman masjid dengan terpaksa dan sangat kesal.
Di sisi lain, Zahra terlihat sedang berada di dapur dan membantu umminya memasak makanan untuk sarapan pagi ini. Tanpa disadari oleh Zahra, Ummi Hanum memerhatikannya dengan tidak seperti biasanya. Matanya memang menatap wajah Zahra, tapi pikirannya lain lagi.
Nampaknya Ummi Hanum melihat perubahan dari putrinya itu. DI mana yang biasanya selalu murung dan sering diam, kini sudah kembali menjadi sangat hangat dan banyak tersenyumnya.
"Loh, kok Ummi liahatin aku terus? Emangnya ada apa, Mi? tanya Zahra sudah mulai merasa bahwa umminya sedari tadi memperhatikannya.
"Emm ... enggak kok. Ummi hanya seneng saja lihat Zahra seperti ini," jawab Ummi Hanum tersenyum.
Zahra pun tersenyum, lalu menatap wajah Ummi Hanum dengan penuh perhatian. "Ummi enggak perlu khawatir lagi sama Zahra ya, Zahra sekarang sudah enggak papa," ujar Zahra yang sudah lebih tahu apa-apa yang dipikirkan oleh umminya itu.
"Tetaplah seperti ini ya, Ra. Ummi senang melihatnya," ucap Ummi Hanum dengan sangat gembira.
"Iya, Mi. Insya Allah," jawab Zahra tidak kalah senangnya dari Ummi Hanum. Melihat Umminya yang sangat senang, Zahra pun merasakan hal yang sama.
Tiba waktunya sarapan pagi, Muhtaz kini sudah kembali berada di rumah Ustaz Hasan bersama keluarganya. Ia sengaja dipanggil oleh Ustaz Hasan untuk sarapan karena Muhtaz sudah ia anggap sebagai anaknya dan tanggung jawabnya, makanya ia sangat memerhatikannya.
Selebihnya lagi, wajah pemuda itu sudah sangat mirip dengan calon suami Zahra yang dikabarkan meninggal dunia. Namun, sampai sekarang belum ada kabar lagi tentang kepastian pemuda itu, padahal sudah lebih dari tiga bulan dari semenjak kepergiannya.
"Emm, Ustaz masakan istri Ustaz enak sekali. Pinter masak, pas dilidah," puji Muhtaz sewaktu ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Ustaz Hasan dan Ummi Hanum pun tersenyum, sedangkan Zahra hanya terdiam saja. Namun, setelah itu Ustaz Hasan tidak diam saja, ia menjawab pujian dari Muhtaz.
"Iya, istriku pintar masak. Namun, kali ini yang masak adalah Zahra, istriku hanya membantunya saja," ujar Ustaz Hasan yang seketika membuat Muhtaz melongo, tidak percaya dan sangat terkejut.
__ADS_1
"Benarkah itu Ustaz? Wanita hijab biru itu yang masak?" Muhtaz menatap Zahra dan gadis itu hanya menundukkan kepalanya saja.
"Iya, Nak. Zahra yang masak hari ini, Ummi cuma bantu sedikit. Kan Zahra juga yang katanya mau masak hari ini," sahut Ummi Hanum yang semakin membuat Muhtaz terkejut. Bahkan, dia pun sampai tersedak makanannya.
"Uhuk, uhuk. Air-air," pinta Muhtaz yang langsung diberikan oleh Ustaz Hasan.
"Hah, terima kasih Ustaz." Muhtaz pun kembali menyantap makanannya dengan sangat lahap. Selain itu juga dia ingin menghindar dari rasa malunya yang sudah salah mengira dan bisa-bisa Zahra terbang akan pujiannya, itu pikirnya.
"Sama-sama, lain kali hati-hati ya. Jangan terburu-buru makannya, kan masih banyak. Tinggal nambah lagi kalau mau, tidak perlu terburu-buru." Ustaz Hasan tersenyum kepada Muhtaz, jawabannya itu pun malah semakin membuat Muhtaz malu.
"Iya Ustaz," jawabnya dengan bersikap biasa-biasa, padahal dia udah sangat malu.
Lain halnya dengan Zahra, ia hanya tersenyum melihat tingkah Muhtaz yang seperti itu. Seorang laki-laki yang selalu menganggap benar dan percaya diri, kini terlihat malu-malu seperti orang yang sedang malu. Iya kan lagi malu.
Beberapa menit kemudian, acara sarapan pagi pun selesai dan Zahra langsung membereskannya. Dilanjutkan mencuci pusing yang kotor, sedangkan Muhtaz ikut keluar bersama Ustaz Hasan. Menikmati udara pagi di kursi depan rumah.
Seketika Muhtaz merasakan ketenangan berada di sana, seakan semuanya pernah ia rasakan dan alami. Entah kenapa juga Muhtaz merasa bahwa dirinya itu sudah sangat hafal dengan tempat yang sekarang dia berada, yaitu rumah Ustaz Hasan. Semuanya serasa tidak lagi asing.
"Muhtaz," panggil Ustaz Hasan yang berada di sampingnya.
"Apa kamu sudah mulai nyaman berada di sini? Apa Ustaz membuatmu tertekan?" tanya Ustaz Hasan hati-hati.
Muhtaz yang sedang menikmati suasana pagi sembari memejamkan matanya, seketika membuka matanya kembali dan menjawab pertanyaan dari Ustaz Hasan.
"Enggak kok Ustaz, malahan aku rasa di sini itu lebih nyaman dari pada di kota. Suasananya adem dan tenteram, damai tanpa banyak pikiran. Coba saja kalau di rumah, tiap hari harus dengerin omelan Mama, terus lagi-lagi Papa sering nasehatin aku. Tambah pusing dah," jawab Muhtaz dengan sejujurnya.
__ADS_1
Dengan sadar juga dia mengatakan itu semua kepada Ustaz Hasan, padahal itu bersifat pribadi, masalah keluarga. Namun, Ustaz Hasan pun enggak begitu saja membantah atau berlaku seperti apa kepeda Muhtaz, karena dia juga tahu bahwa Muhtaz sedang bercerita masalah hidupnya dan itu tidak main-main.