Muhasabah Cinta Ilham & Zahra

Muhasabah Cinta Ilham & Zahra
MCIDZ. 26 # Wajah Yang Mirip


__ADS_3

~{ Serangkai Kata }~


"Waktu itu terus bergulir dan di setiap saatnya ada sebuah cerita, begitu pula dengan kehidupan yang terus berjalan. Menciptakan sebuah kenangan yang sangat melekat di dalam hati, sampai suatu ketika seseorang datang untuk kembali membuka pintu hati yang sudah terkunci."


...


Satu bulan sudah berlalu dari semenjak Yafiq meninggalkan Zahra, gadis itu nampak mulai lebih baik lagi. Dan ia juga sangat senang dengan kabar baik dari Alisha yang sedang mengandung, sedangkan Zahra sudah bisa menerima semua yang terjadi kepadanya dan sudah melupakan Ilham.


Zahra menyadari bahwa menyimpan rasa kepada laki-laki yang sudah beristri itu tidaklah baik, maka iya pun lebih memilih mundur. Namun, jika menyangkut Yafiq, Zahra belum bisa melupakannya.


Di tengah-tengah riuhnya panas kota, Iklima berjalan kaki untuk mencari angkutan umum. Ia baru saja membeli bahan dapur yang kebetulan sudah pada habis, sehingga Zahra memutuskan untuk pergi ke pasar dan membelinya.


Gadis itu membawa kantong belanjaan yang cukup banyak. Zahra tidak mengeluh dan terus berjalan karena jarak antara pasar dan pangkalan angkot lumayan jauh sehingga membuat Zahra harus berjalan kaki untuk menghampirinya.


Tanpa disengaja, seorang laki-laki tiba-tiba saja menubruk tubuh Zahra sehingga membuat gadis itu terhuyung ke belakang dan terjatuh dengan barang belanjaannya. Namun, syukurnya barang belanjaan Zahra tidak berserakan dan masih utuh di dalam kantong belanjaan yang sengaja Zahra ikat supaya tidak terbuka.


"Ahgg!" keluh Zahra merasa kesakitan karena tubuhnya cukup keras membentur permukaan tanah.


"Cek! Makanya kalau jalan itu lihat-lihat dulu. Jangan main nyelonong aja," tegur laki-laki yang baru saja menubruk tubuh Zahra.

__ADS_1


Pria yang bertubuh tinggi dan putih itu melepas kaca mata hitamnya, lalu menyodorkan satu tangannya kepada Zahra yang masih tertunduk di bawah. "Sini saya bantu, sangat merepotkan saja," ucap laki-laki itu dengan tampang kesalnya.


"Maaf, saya bisa sendiri," ucap Zahra menolak bantuan dari pemuda tersebut.


"Baiklah, coba saja." Pria itu menatap Zahra yang mencoba berdiri.


Namun, pada saat Zahra ingin berdiri tegak, kain bawah baju Zahra yang panjang terinjak oleh kakinya sendiri sehingga membuat Zahra kembali kehilangan keseimbangannya dan terhuyung ke belakang.


Laki-laki yang berada di sampingnya itu langsung menangkap tubuh Zahra yang akan kembali terjatuh. Hal itu berhasil membuat keduanya saling beradu pandang.


Zahra yang masih ketakutan malah semakin syok melihat wajah laki-laki yang menolongnya pada saat ini.


Pria yang dipanggil Yafiq olehnya itu langsung membantu Zahra berdiri dan berhadapan dengan gadis berhijab biru langit itu.


"Bukanya berterima kasih malah panggil gue nama orang lain. Dasar wanita keras kepala! Sudah dikasih bantuan masih aja nolak. Jadi, kena rasanya sendiri," ujar pria itu dengan menatap lekat wajah Zahra.


"Astaghfirullahaladzim. Kak Yafiq kenapa marah-marah sama Zahra?" tanya Zahra yang masih mengira bahwa laki-laki yang ada di hadapannya itu adalah Yafiq, mantan calon suaminya.


"Yafiq, siapa dia? Lo salah orang kali," kata pria tampan itu.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim. Sadar Zahra, Kak Yafiq sudah pergi," ucap Zahra pelan sembari menundukkan kepalanya.


"Lo kenapa? Ngatain gue ya? Awas lo ya jika ketemu lagi," sahut Muhtaz—laki-laki yang dipanggil Yafiq oleh Zahra.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Zahra yang masih terkejut melihat laki-laki yang sangat mirip dengan Yafiq.


"Sudahlah, lupakan saja," ujar Muhtaz dengan nada yang masih kesal.


"Terima kasih sudah membantu saya," ucap Zahra kembali dan hal itu membuat Muhtaz menatapnya.


"Telat," sahut Muhtaz dan pergi meninggalkan Zahra yang masih mematung kaget.


Gadis yang menggunakan jilbab biru langit itu tertegun dan masih tidak menyangka melihat sosok laki-laki yang memiliki wajah sangat mirip dengan Yafiq, dari irisan wajahnya saja tidak ada yang berbeda. Bahkan sangat mirip, dari tatapan matanya juga Zahra sangat mengenalnya jika itu adalah Yafiq, tapi ternyata bukan.


"Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Kak Yafiq? Tapi, kenapa dia sangat berbeda?" Timbul banyak pertanyaan di benak Zahra.


Akan tetapi, tidak lama dari itu Zahra kembali teringat dengan belanjaannya dan harus segera pulang, takut kedua orang tuanya khawatir.


__ADS_1


__ADS_2