
~{ Serangkai Kata }~
"Belajar mengaji bukanlah tentang masalah usia, kalangan, atau keturunan. Tidak ada halangan dan batasan untuk seseorang belajar mengaji, mau tua ataupun muda tidak masalah karena ilmu itu akan terus mengalir dan tidak ada batasnya."
...
"Betul tuh kata Nengnya, kalau berpakaian itu yang sopan biar enak dilihat," sahut seorang bapak yang tadi sempat menegurnya.
"Pa, jangan ikut campur. Ini urusan gue sama perempuan itu!" Muhtaz menatap tajam wajah Zahra yang masih berdiri tegak tidak jauh dari tempatnya.
"Astaghfirullahaladzim! Anak zaman sekarang emang susah diberi tahu," ucap bapak itu, lalu pergi masuk ke dalam masjid.
Zahra yang melihatnya hanya tersenyum dan perbuatannya itu berhasil membuat Muhtaz semakin kesal. "Apa lo senyum-senyum?" ucap Muhtaz kesal.
"Enggak papa, saya hanya mengingatkan saja. Jangan sampai lupa dibuka sepatunya," kata Zahra yang langsung pergi meninggalkannya sendiri.
"Dasar wanita hijab biru langit! Gue enggak bakalan maafin lo karena udah bikin gue kayak gini," ujar Muhtaz yang remang-remang masih terdengar oleh Zahra.
Zahra membalikkan tubuhnya dan berkata, "Jangan mengungpat seseorang karena itu dosa dan besok sudah masuk bulan puasa, harus perbanyak belajar bersabar."
Setelah mengatakan itu, Zahra segera masuk ke dalam masjid dan benar-benar meninggalkan Muhtaz dengan kekesalannya.
__ADS_1
"Woy! Gue enggak bakalan maafin lo!" teriak Muhtaz sedikit keras yang diabaikan oleh Zahra.
Dengan suara kerasnya itu, berhasil membuat salah satu jamaah masjid keluar dari dalam masjid tersebut dan menatap tajam laki-laki yang berbicara keras itu, tidak lain ia adalah
Muhtaz.
"Mas, jangan teriak-teriak! Tidak baik dan sebentar lagi adzan isya berkumandang. Lebih baik Masnya segera masuk dan tidak membuat jamaah lainnya terganggu," kata bapak yang tadi kembali memperingatinya.
Muhtaz hanya bisa mengepalkan kedua tangannya kesal dan menjawab, "Iya-iya, sebentar lagi saya masuk."
"Bagus kalau begitu, Bapak duluan," ucapnya dan kembali masuk ke dalam masjid.
Dengan perasa kesal, Muhtaz membuka sepatunya dan mengambil air wudhu, lalu masuk ke dalam masjid.
"Loh, kok kamu masih ada di sini?" tanya Ustaz Hasan sembari duduk di depannya.
"Gue mau pulang aja dari sini! Belum setengah hari saja, gue udah ngerasa kesel dan diminta melakukan banyak hal. Terus shalatnya lama bener, bikin kaki gue pegel. Bisa-bisa kalau gue tinggal di sini, kaki gue sakit karena tiap hari harus ke sini dan melakukan shalat satu jam lebih." Muhtaz menatap malas wajah Ustaz Hasan, dia juga sangat kesal pada anak Ustaz Hasan yang tidak lain adalah Zahra.
"Astaghfirullahaladzim! Muhtaz, sini dengerin Ustaz sebentar," ucap Ustaz Hasan sembari mengusap pelan pundaknya.
"Mau ngomong apa? Sudahlah, pasti ujung-ujungnya minta gue tetep tinggal di sini," jawab Muhtaz males.
__ADS_1
"Bukan begitu, makanya dengerin dulu." Ustaz Hasan menarik napas dalam karena melihat sikap Muhtaz yang tidak bisa ditolerir lagi kesopanannya.
"Niat awal kamu ke mari untuk apa?" tanya Ustaz Hasan kemudian Muhtaz menatapnya.
"Ya ngaji lah, kalau enggak disuruh nyokap, gue enggak bakalan mau ke sini." Muhtaz menjawabnya dengan penuh kekesalan yang kini bersemayam di dalam dirinya.
"Terus, apa yang kamu dapat saat ini jika pulang dalam keadaan tanpa membawa hasil? Kedua orang tuamu sudah mengatakan kepada Ustaz jika dalam satu minggu kamu pulang ke rumah, maka Ayahmu tidak akan memberikan warisan sepeserpun padamu dan akan diberikan kepada anak yatim dan juga pesantren," ucap Ustaz Hasan.
"Sett, sialan! Terpaksa gue harus tinggal di sini," ucapnya sebal dengan ucapan Ustaz Hasan barusan.
"Ya udah, Ustaz sekarang saja ajarin gue ngajinya biar bisa cepet-cepet pulang dari sini," ucap Muhtaz kemudian yang membuat Ustaz Hasan tersenyum lebar.
"Besok saja, sekarang sudah malam. Lebih baik, kamu tidur dulu sekarang. Baru besok kita belajar bareng-bareng dengan yang lainnya," jawab Ustaz Hasan.
"Kelamaan Ustaz, sekarang aja karena gue udah terlanjur tua jika harus ngaji bareng anak kecil kayak tadi sore. Yang ada gue diledek habis-habisan sama mereka," pintanya yang membuat Ustaz Hasan kembali menatapnya.
"Iya-iya, sabar dulu. Kata siapa kamu udah tua? Seharusnya bagus kalau kamu masih mau belajar mengaji, sehingga nantinya kamu bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anak yang juga masih belajar," ucap Ustaz Hasan sembari mengulas senyum di bibirnya.
"Mau bagaimana memberi contoh kepada anak-anak jika saya saja enggak bisa ngaji?" kata Muhtaz dengan sebal.
"Maka dari itu, Muhtaz belajar ngaji dulu." Ustaz Hasan kembali mengajak Muhtaz mengaji.
__ADS_1
"Baik, tapi gue mau sendiri dan tidak sama anak kecil karena gue tidak mau diledekin sama mereka karena terlalu tua untuk belajar mengaji," pinta Muhtaz sembari menatap tajam wajah Ustaz Hasan.
"Oke, kalau itu maumu. Ustaz akan mengajarimu besok," jawab Ustaz Hasan dan kembali berkata, "Muhtaz, ingat baik-baik ya! Mau tua ataupun muda, tidak ada larangan atau batasan untuk belajar mengaji karena ilmu akan terus mengalir seperti air yang tidak pernah ada batasnya. Maka, semakin dewasa semakin banyak dan besar pula ilmu yang akan didapatkan."