Muhasabah Cinta Ilham & Zahra

Muhasabah Cinta Ilham & Zahra
MCIDZ. 32 # Selalu Bertengkar


__ADS_3

~{ Serangkai Kata }~


Tidak ada yang namanya bertengkar tanpa sebab, tapi lain halnya jika terus terulang. Sama halnya dengan hati, yang awalnya tak suka menjadi suka, benci menjadi cinta. Semua itu adalah haliyah yang wajar. Namun, terjadi atas takdir dan kehendak Tuhan.


...


"Enggak pusing, cuman kamu belum bisa mengerti dan memahami. Orang tua kamu mungkin sangat sayang sama kamu, Muhtaz. Makanya meraka sering menasihatimu, menuntutmu menjadi yang diharapkan oleh kedua orang tuamu. Kamu sebagai anak mungkin saja akan merasa tertekan dengan tuntutan dan ocehan dari kedua orang tuamu, tetapi itu semua sengaja orang tuamu lakukan untuk mendidikmu supaya menjadi orang yang berilmu dan sukses." Ustaz Hasan mulai membuka suaranya setelah mendengarkan semua keluhan dari Muhtaz.


"Tapi Ustaz, enggak gitu juga caranya. Aku kan masih muda, perlu kebebasan, masih senang-senangnya menikmati masa muda bersama teman-teman. Bukannya harus dituntut ini itu yang membuat pusing kepala, padahal masih ada Papa yang mengurus kantor," ungkap Muhtaz dengan penuh kesal. Wajahnya menjadi merah padam karena emosi yang mulai membuncah. Namun, Ustaz Hasan langsung menanganinya dengan sangat baik.


"Muhtaz, dengarin Ustaz ya. Kamu itu sengaja dimasukan ke dalam pesantren untuk bisa menjadi pribadi yang berilmu dan sangat cerdas, sehingga tuntutan yang sering dilontarkan itu tidak terasa berat olehmu karena kamu tahu apa yang harusnya kamu lakukan. Meraka ingin kalau kamu yang akan mengelola kantor dengan pola pikir yang cerdas, bukan cuma menguntungkan, tetapi juga mengembangkan kualitas, visi misi, dan tumbuh kembangnya perusahaan. Begitupun ilmu, semakin kamu belajar dan menghafalnya, semakin tinggi juga ilmu yang sudah kamu peroleh."


Muhtaz pun terdiam setelah mendengarkan semua penjelasan yang baru saja Ustaz Hasan lontarkan kepadanya. Nampaknya ia mulai berpikir dan memikirkan semua perkataannya, bawa yang dikatakan Ustaz Hasan itu emang benar adanya.


"Bagaimana Muhtaz? Kamu masih mau menyalahkan orang tuamu atas semua yang terjadi padamu itu?" tanya Ustaz Hasan pada pemuda yang ada di hadapannya itu. Ia sangat yakin bahwa Muhtaz itu bukanlah anak yang bandel, cuman cara pergaulan dan kebebasannya yang cukup memengaruhinya.


"Apa yang dikatakan Ustaz emang ada benarnya, tapi aku merasa semua ini tidak adil karena terlalu mendadak dan mendesak aku akan semuanya, seharusnya minta persetujuan aku terlebih dahulu, bukannya seperti ini," ucap Muhtaz.


"Coba kamu renungi kembali, tidak ada orang tua satu pun yang rela anaknya menderita, meraka sangat berharap bisa menjadikan anaknya yang terbaik, walaupun caranya sedikit berbeda. Ketahuilah, itu cara orang tuamu mendidikmu. Bukan tanpa sebab mereka melakukan itu," ujar Ustaz Hasan yang langsung membuat Muhtaz terdiam seketika.


"Coba pikirkan baik-baik lagi ya, Nak. Ustaz masuk ke dalam dulu," lanjut Ustaz Hasan sembari beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Muhtaz sendiri.


Muhtaz terdiam dan termenung memikirkan semua yang dikatakan oleh Ustaz Hasan barusan. Bahkan, ia sendiri tidak tahu kalau itu sangat mempengaruhi dirinya.


Lama temenung dan sudah memahami maksud dari semua perkataan Ustaz Hasan. Muhtaz pun terperanjat kaget oleh suara Zahra yang datang tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


Gadis cantik itu kini sudah ada di dekatnya dengan membawa secangkir kopi dan itu belum disadari oleh Muhtaz.


"Ini kopi untukmu, saya simpan di sini." Zahra pun meletakan secangkir kopi itu di meja, tepat di hadapan pria yang bernama Muhtaz itu duduk.


"Heh, sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Muhtaz yang terperanjat kaget karena suara Zahra yang membuatnya tersadar dari diamnya.


"Baru saja aku ke sini, gak mungkin juga tiba-tiba langsung ada di sini tanpa berjalan terlebih dahulu," jawab Zahra dengan wajah yang tak kalah sebalnya


"Loh kok kamu jadi marah-marah ke aku? Harusnya aku yang marah-marah sama kamu karena kamu juga, aku tadi hampir mau jantungan tau." Muhtaz pun mengeluh dan sangat kesal.


"Kamu juga salah sendiri, melamun terus kayak gitu, tar kesambet baru tahu rasa," ucap Zahra yang hendak ingin meninggalkan tempat itu.


"Eh, enggak gitu ya!" kata Muhtaz sembari memegang tangan Zahra, sehingga membuat gadis itu marah-marah.


"Astaghfirullah, lepasin tangannya!" tegas Zahra dengan emosi yang mulai menggebu.


"Eh, lepasin ya! Sakit tau," keluh Zahra sembari berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan pria itu.


"Kalau kamu enggak memenuhi permintaan aku tadi, maka aku juga enggak bakalan lepasin tangan kamu!" Muhtaz tetep pada pendiriannya yang engan melepaskan tangan Zahra, walaupun gadis itu sudah berulang kali mencoba membujuknya.


"Muhtaz, maafin aku ya. Udah loh lepasin," kata Zahra pada Muhtaz karena tidak memiliki cara lain untuk membujuk pemuda itu.


"Enggak bakal aku lepasin!" tegas Muhtaz yang langsung membuat Zahra mengerutkan kedua alisnya.


"Kan aku sudah minta maaf berusan, masa enggak kamu lepasin?" ujar Zahra dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"Ya salah kamu juga minta maafnya gak iklhas, makanya gak bakal aku lepasin!" Muhtaz menatap Zahra dengan sangat puas karena gadis itu terlihat sangat kesal, sehingga membuat Muhtaz senang melihatnya.


Zahra kembali emosi dan sangat geram terhadap sikap Muhtaz yang seakan membuatnya tidak nyaman. Bahkan menyebalkan menurutnya.


"Ih, dasar kamu ya!" Zahra mengatur emosinya supaya tidak berkepanjangan. Namun, hal itu membuat Muhtaz tertawa, sehingga membuatnya harus lebih sabar lagi menghadapi pria ini.


"Apa? Ayo bilang aja kali, kalau kamu gak mau juga gak papa. Mungkin aku gak bakal ngelepasin genggaman tangannya," kata Muhtaz dengan santainya.


"Huh sabar Zahra," kata Zahra pelan sembari mengatur nafasnya yang awalnya dipenuhi dengan gejolak emosi.


"Hah, kamu bicara apa?" tanya Muhtaz dengan sedikit mendekati Zahra.


"Eh, enggak ada kok," senggah Zahra yang sedikit menjauh supaya tidak terlalu dekat.


"Ya udah, ayo mana? Katanya mau minta maaf," ujar Muhtaz dangan santainya.


"Iya-iya bentar." Zahra pun tersenyum dan berkata, "Maafin aku ya Tuan Muhtaz."


"Nah gitu dong, kan gak kepaksa," ucap Muhtaz yang kemudian melepaskan tangannya dari Zahra.


"Emang udah kepaksa juga," kata Zahra pelan.


"Kamu bicara apa, hah?"


"Eh, enggak bicara apa-apa kok. Aku pergi dulu," ucap Zahra yang langsung pergi meninggalkan Muhtaz, sembari menghindari pria itu yang sering kali membuatnya emosi dan berdebat.

__ADS_1


"Hem, gadis yang menarik dan cukup menggemaskan," gumam Muhtaz setelah Zahra pergi dari hadapannya.


Pria yang bertubuh tinggi itu pun kembali duduk di kursi depan rumah Ustaz Hasan sembari menikmati kopi buatan Zahra yang sempat membuatnya sedikit terhibur tadi, walaupun dengan berdebat.


__ADS_2